Dark
Light
Dark
Light

Banjir yang Datang dengan Ingatan Lama

Banjir yang Datang dengan Ingatan Lama

Bencana ekologis di Sumatra selalu muncul dengan cara yang langsung menggetarkan. Hujan jatuh seperti pesan yang belum sempat disusun. Tanah bergerak perlahan laksana seseorang yang akhirnya berbicara setelah lama diam. Sungai yang tenang berubah menjadi suara yang menuntut perhatian. Pulau ini tampak seperti sosok yang terus mencari titik seimbang dalam dirinya. Ada saat ketika tanahnya terasa lembut. Ada saat tatkala tanahnya berbicara lebih keras. Air yang meluap menjadi kalimat perdana dari percakapan itu.

Banjir di banyak desa diterima laksana tamu lama yang selalu menemukan pintu terbuka. Warga tidak terkejut. Mereka hanya lelah. Mereka tahu banjir bukan datang untuk menghancurkan. Banjir datang untuk menunjukkan akibat dari banyak hal yang dibiarkan berjalan tanpa penjagaan. 

Sungai tidak pernah berbicara tanpa sejarah panjang. Tanah tidak pernah runtuh tanpa jejak yang memicu perubahan. Bencana yang muncul di halaman berita hanyalah ujung dari kisah yang telah ditulis jauh sebelumnya. Sungai-sungai Sumatra sedang memperbarui riwayatnya dengan air yang mengandung ingatan yang tidak dapat kita hapus.

Antropolog James C. Scott (1936-2024) dalam karya pamungkasnya In Praise of Floods: The Untamed River and the Life It Brings (Yale University Press, 2025) meneroka bahwa sungai memiliki kehidupan panjang nan jauh melampaui logika manusia. Sungai lahir, tumbuh, berubah arah, dan kadang mati. Manusia hanya salah satu dari banyak spesies yang menumpang hidup di tepian sungai. Kita sering lupa bahwa sungai adalah rumah bagi jutaan makhluk lain yang tidak pernah ikut rapat atau konferensi pers. 

Scott menjelaskan bahwa sungai adalah himpunan kehidupan yang saling bergantung, bukan sekadar jalur air yang bisa ditertibkan seperti lalu lintas kota modern. Sungai memiliki biografi dan kehendak. Sungai adalah organisme yang bergerak dalam skala waktu yang tidak mengikuti kalender politik manusia. Ia hidup dalam ritme panjang yang mengatur kelahiran dan kerusakan sekaligus. Menurut Scott, sungai adalah dunia yang tidak bisa dipahami hanya dengan memandang permukaannya dari peta atau jendela mobil. Kita perlu mendengarnya dari dekat dan dalam waktu yang cukup lama untuk mengerti bahasanya. 

Pemahaman ini membuka cara baru melihat banjir di Sumatra. Banjir bukan gangguan. Banjir adalah bahasa yang sedang berbicara kembali kepada manusia dengan penuh kesabaran. Tatkala hujan deras merendam Sumatra, kita melihat sesuatu yang lebih dalam. Kita melihat sungai yang ingin mengingatkan manusia bahwa alurnya tidak pernah bisa digambarkan dengan stabil. Air menghafal semua jejak yang dihapus manusia. Air tahu jalan pulang. Dalam setiap bencana ekologis, ada lapisan cerita yang harus dibaca ulang.

Beton yang Angkuh

Ada satu kebiasaan manusia modern yang sulit dihilangkan. Kita sering membayangkan diri sebagai satu-satunya penghuni penting di muka bumi. Ras Homo sapiens memiliki kecenderungan ganjil untuk menulis dirinya sebagai pemeran utama dalam semua drama ekologis. Dalam rapat-rapat perencanaan pembangunan, sungai selalu dibahas seperti objek yang harus disesuaikan dengan ambisi manusia. Air dianggap sekadar bahan baku. Banjir dianggap ancaman. Hutan dianggap aset. Tidak ada ruang untuk memahami sungai sebagai entitas hidup yang juga memiliki kepentingan. 

Scott mencatat bahwa kesalahan ini sudah berlangsung sangat lama. Manusia merasa sungai seharusnya mengalir di tempat yang kita tentukan. Kita merasa air adalah komoditas yang harus dioptimalkan. Tidak ada anggapan bahwa sungai memiliki kehendak yang bertolak dari logika manusia. Sungai kita perlakukan seperti staf proyek yang tidak boleh salah langkah.

Sikap ini muncul di Sumatra dalam bentuk tanggul yang dibangun sepanjang bantaran sungai. Tanggul dianggap jawaban modern untuk menjinakkan air. Kita menaruh keyakinan besar pada beton. Beton memberi rasa aman yang semu. Ketika sungai melampaui batasnya, beton itu runtuh tanpa memperlihatkan rasa bersalah. Beton tidak memahami ekosistem. Beton hanya memahami perintah manusia. 

Scott menjelaskan bahwa dorongan untuk menahan sungai dalam satu alur adalah bentuk arogansi yang tidak memahami irama alam. Sungai tidak bergerak dalam garis lurus. Sungai mencari jalannya sendiri sesuai dengan kebutuhan ekologisnya. Ketika manusia memaksakan bentuk tertentu kepada sungai, air akan mencari cara untuk memprotes. Cara itu sering datang dalam bentuk banjir yang kita anggap bencana tetapi sebenarnya adalah konsekuensi dari pemaksaan.

Pejabat kemudian tampil di depan kamera. Mereka mengumumkan keadaan darurat. Mereka menyebut curah hujan sebagai biang keladi. Mereka jarang menyebut deforestasi atau pembangunan di kawasan rawan banjir. Kata-kata mereka mengabaikan kenyataan bahwa sungai tidak pernah salah. Sungai hanya kembali pada alurnya yang lama. Sungai sedang mengingatkan manusia bahwa tubuh air tidak bisa ditertibkan. Sikap manusia yang terus-menerus menyalahkan alam justru menambah ironi. Kita lupa bahwa alam tidak pernah mengajarkan dendam. Alam hanya mengajarkan konsekuensi.

Sungai yang Terluka

Scott menggambarkan sungai sebagai makhluk hidup yang bergerak dalam waktu panjang. Sungai di Sumatra termasuk dalam kategori itu. Sungai Batanghari yang membelah Jambi adalah tempat hidup ribuan spesies ikan yang tidak pernah disebut dalam laporan bencana. Sungai Musi yang mengalir melintasi Palembang membawa sejarah panjang kerajaan dan perdagangan. Sungai Krueng Aceh menyimpan kisah konflik dan perdamaian. Namun sungai-sungai ini kiwari bergerak dengan tubuh yang semakin sakit.

Tebing yang dulu ditumbuhi akar kiwari berubah menjadi dinding tanah rapuh. Sedimen yang terbawa dari hulu meningkat akibat pembukaan hutan. Alur sungai berubah lebih cepat dari sebelumnya. Scott menegaskan bahwa sungai akan selalu bergerak. Pergerakan itu normal. Yang tidak normal adalah percepatan kerusakan akibat tindakan manusia yang tidak memahami ritme alam. Tatkala hutan hilang, air kehilangan penyangga. Sungai kehilangan pelindung. Tubuhnya menjadi luka yang terus menganga. Banjir bukan kemarahan. Banjir adalah gejala sakit yang tidak tertangani.

Manusia mulai menyalahkan curah hujan. Padahal hujan hanya menjalankan perannya. Tanpa pohon, tidak ada yang memegang air. Tanpa akar, tidak ada yang menahan tanah. Sungai kemudian membawa semua yang lepas. Ia mengalir bersama beban yang tidak ingin dibawanya. Dalam gerakannya, sungai mencoba menyampaikan pesan. Pesan itu sering muncul dalam bentuk debit yang meluap. Manusia membaca pesan itu sebagai bencana. Padahal sungai ingin menegaskan bahwa hidup yang seimbang membutuhkan ruang.

Nafas Lama yang Dilupakan

Dalam banyak budaya sungai, banjir dianggap sebagai bagian sehat dari siklus kehidupan. Banjir membawa nutrisi. Banjir menyuburkan tanah. Banjir menghidupkan kembali vegetasi yang menunggu aliran baru. Scott mengatakan bahwa banjir adalah cara sungai bernapas. Ketika air melimpas dari batas alurnya, sungai sedang memberi kehidupan kepada dataran sekitarnya. 

Dataran banjir adalah wilayah subur yang terbentuk dari limpahan air. Tanah tempat pertanian dijalankan di banyak tempat dibangun dari hasil banjir ribuan tahun. Walakin kita modern menganggap banjir sebagai kegagalan infrastruktur. Kita lupa bahwa dataran rendah Sumatra terbentuk dari banjir yang sama yang kini kita anggap sebagai musuh.

Ada ironi dalam peradaban kita. Kita menginginkan tanah subur tetapi menolak cara tanah itu disuburkan. Kita memanen padi dari lahan yang dibentuk oleh siklus banjir tahunan. Kita menanam sawit di atas bekas rawa yang dulu menjadi rumah bagi ekosistem air tawar. Ketika banjir datang, kita terkejut. Padahal banjir sedang menjalankan fungsi yang telah berlangsung sejak sebelum manusia mengenal tulisan.

Sumatra adalah pulau yang kaya air. Air yang melimpah menjadi berkah bagi petani dan nelayan. Namun ketika air itu melampaui batas yang kita tetapkan, kita menyebutnya bencana. Sikap ini lahir dari cara pandang yang tidak mau mendengar suara sungai. Scott menyebutnya sebagai kesalahan yang berulang. Manusia menginginkan alam mengikuti logikanya sendiri. Padahal logika alam jauh lebih kompleks. Banjir adalah bagian dari kompleksitas itu. Ia tidak bisa dihilangkan tanpa menghilangkan kehidupan yang mendukung manusia.

Mengurung Sungai

Sungai tidak suka dipenjara. Scott menjelaskan bahwa mengurung sungai adalah tindakan yang hanya menunda masalah. Sungai Kuning di Cina bergerak liar selama ribuan tahun. Ia mengubah alurnya puluhan kali. Ia mengubur kota kota lama. Ia melahirkan kota kota baru. Tatkala manusia mencoba mengurungnya dengan tanggul, sungai itu justru menjadi lebih berbahaya. Tanggul membuat dasar sungai terangkat akibat sedimen yang menumpuk. Ketika tanggul jebol, banjir datang jauh lebih besar. 

Scott menyebutnya sebagai jebakan teknologi. Manusia membangun struktur yang memberi rasa aman sementara tetapi merusak dalam jangka panjang. Fenomena yang sama kiwari terjadi di Sumatra. Sungai-sungai yang dulu mencari jalannya secara alami kini dipaksa mengikuti jalur yang ditentukan.

Bantaran sungai di banyak kota dijadikan lokasi perumahan. Rawa diuruk. Alur dialihkan. Hutan bakau ditebang. Semua dilakukan demi pembangunan yang dianggap penting. Sumatra bergerak cepat menjadi pulau yang dipenuhi beton. Beton itu memantulkan air. Air yang tidak bisa meresap akan mencari tempat lain untuk menetap. Tempat itu seringkali adalah rumah rumah yang dibangun terlalu dekat dengan sungai.

Banjir kemudian datang dan kita menyebutnya sebagai bencana alam. Padahal bencana itu muncul dari pilihan manusia yang mengabaikan fungsi alam. Ketika sungai mencoba meluaskan tubuhnya, kita menyebutnya sebagai pelanggaran. Padahal sungai hanya sedang mengembalikan ruang yang dirampas.

Multi Spesies yang Mengungsi

Scott melukiskan sungai sebagai ruang hidup bagi banyak spesies. Setiap sungai memiliki parlemen alam. Di dalamnya terdapat ikan, burung, serangga, reptil, dan tumbuhan yang saling berinteraksi. Manusia hanya sebagian kecil dari komposisi itu. Ketika sungai rusak, semua anggota parlemen ini kehilangan suaranya. Ikan-ikan di Sumatra mulai berkurang. Burung-burung kehilangan tempat bersarang. Satwa air yang dulunya melimpah kini seperti bisikan yang mulai menghilang.

Tidak ada konferensi pers yang membahas penderitaan mereka. Tak ada anggaran pemulihan bagi satwa liar. Scott mengingatkan bahwa ekosistem sungai adalah organisme kolektif. Ketika satu bagian terganggu, seluruh tubuh akan merasakan dampaknya. Banjir adalah indikator bahwa organisme itu sedang sakit. Namun penderitaan utama justru dirasakan spesies lain yang tidak pernah disebut dalam laporan resmi.

Dalam ironi ekologis, manusia sering menyebut dirinya sebagai penjaga alam. Namun tindakan manusia lebih sering menjadi sumber kerusakan. Sungai tidak membutuhkan penjaga. Sungai membutuhkan penghormatan. Alam tidak meminta manusia menjadi pemimpin. Alam hanya meminta manusia memahami tempatnya.

Efek Samping

Scott menyebut efek iatrogenik sebagai kerusakan yang muncul dari upaya yang awalnya dimaksudkan untuk memperbaiki kondisi. Intervensi manusia terhadap sungai sering menciptakan bencana baru yang lebih besar dibandingkan masalah awal. Pembukaan lahan di Sumatra untuk perkebunan besar meningkatkan sedimentasi. Sedimen itu memenuhi sungai. Tatkala hujan turun, air tidak bisa mengalir dengan lancar. Sungai menjadi berat. Banjir menjadi cepat. Tanah longsor menjadi sering.

Tambang yang masuk ke hulu sungai memecah struktur tanah. Lumpur masuk ke alur sungai. Sungai yang dulu jernih kini keruh sepanjang tahun. Ketika air keruh itu mengalir ke hilir, ikan ikan mati. Petani di hilir mulai mengeluhkan menurunnya kualitas air. Efek iatrogenik muncul seperti barisan panjang yang tidak terlihat tetapi berdampak untuk waktu lama.

Scott mengingatkan bahwa sungai adalah sistem yang terhubung dari hulu hingga hilir. Setiap tindakan di hulu akan berdampak pada hilir. Setiap pembukaan hutan akan berpengaruh pada sungai. Setiap tanggul akan berdampak pada aliran. Sistem ini bekerja seperti tubuh manusia. Kerusakan pada satu organ akan memengaruhi organ lainnya. Akan tetapi manusia sering memperlakukan sungai seperti entitas yang bisa dipisahkan dari tanah dan udara. Padahal sungai adalah garis kehidupan.

Tetap Menemukan Jalannya

Sungai tidak bisa dikendalikan sepenuhnya. Scott mendedah bahwa sungai memiliki pola gerak yang kompleks. Sungai berbelok. Sungai membentuk meander. Sungai berubah arah. Dalam waktu yang panjang, sungai akan selalu mencari jalannya sendiri. Ketika sungai dihalangi, ia akan menemukan celah. Ketika celah ditutup, ia akan menciptakan jalur anyar. Air adalah pelajar terbaik bagi kesabaran. Air menunggu. Air bergerak pelan. Air merembes. Air mengingat semua jalan lama dan semua jalur baru. Ketika saatnya tiba, air akan kembali ke jalur yang dipilihnya sendiri.

Sungai-sungai di Sumatra akhirnya kembali memetakan ulang tubuhnya. Banjir bukan hanya naiknya permukaan air. Banjir adalah revisi dari keputusan alam terhadap keputusan manusia. Sungai menghapus garis-garis lurus yang dibuat manusia. Sungai mengoreksi bentuk bentuk yang salah. Ada kebenaran ekologis yang sedang bekerja di balik kerusakan yang kita lihat.

Mencari Nafas Segar

Arkian, bencana ekologis di Pulau Sumatra bukan cerita ihwal kemarahan alam. Ini adalah cerita tentang kesabaran alam. Sungai-sungai di Sumatra telah menunggu manusia kembali mengingat bahwa alam tidak bekerja untuk kita. Alam bekerja bersama kita. 

Sungai adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dipisahkan dari makhluk hidup lainnya. Sungai membentuk kehidupan. Sungai memelihara kehidupan. Sungai juga dapat mengakhiri kehidupan bila dipaksa keluar dari ritmenya.

Dalam dunia yang bergerak cepat, kita sering melupakan ritme lama alam. Kita percaya teknologi bisa mengatasi semuanya. Kita percaya beton bisa menahan air. Kita percaya hutan bukan bagian dari sistem air. Kita lupa bahwa Sumatra dibentuk oleh aliran air yang sangat panjang. Ketika kita mengubah aliran itu, kita mengubah keseimbangan pulau.

Tidak ada satir yang lebih tajam dari banjir yang merendam kota. Tidak ada ironi yang lebih pahit dari hujan yang turun di atas tanah yang dulu bisa menampung air. Tidak ada kritik yang lebih keras dari sungai yang kembali menghapus batas kota. Dalam diamnya, sungai sedang mengajarkan pelajaran lama. Pelajaran itu semenjana. Alam tidak pernah berhenti berbicara. Kita yang berhenti mendengar.

Sungai di Sumatra sedang menunggu manusia kembali menjadi bagian dari ekosistem. Mereka tidak meminta pengabdian. Mereka hanya meminta pengertian. Bila kita memberikan itu, barangkali bencana ekologis tidak lagi menjadi tamu yang datang tanpa mengetuk pintu.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo