Dark
Light
Dark
Light

Silaturahmi Kebangsaan untuk Indonesia Raya

Silaturahmi Kebangsaan untuk Indonesia Raya

Oleh: Zaenal Mustakim

Masih dalam momen Idul Fitri, salah satu aspek penting yang tidak bisa dilepaskan di dalamnya adalah silaturahmi. Merayakan Idul Fitri-- khususnya di Indonesia--satu paket dengan tradisi berkumpulnya sanak saudara, kerabat, hingga mengadakan perkumpulan komunitas (halal bi halal) dengan berbagai latar belakang yang ada. 

Doktrin agama selalu beradaptasi dengan tradisi masyarakat yang ada. Itulah sebabnya, agama (termasuk Islam), menyajikan warna yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya (Geertz 1968). Tradisi mudik, sekaligus halal bi halal, merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia, yang menunjukkan masih kuatnya kohesi sosial, di tengah gempuran modernisasi yang seringkali melahirkan sikap individualisme (Zygmunt Bauman, 2000).

Cukup banyak ulasan tentang hikmah Idul Fitri dan silaturahmi. Tulisan ini mencoba mengaitkannya dengan kehidupan demokrasi di Indonesia. Salah satu sarjana yang cukup terkenal mengaitkan pentingnya silaturahmi dengan kehidupan demokrasi adalah Habermas. Dalam salah satu karyanya berjudul: The Theory of Communicative Action, dia mengatakan:  

“Only if the communication structures of the public sphere are kept intact can the deliberative form of democracy function properly. A rational discourse is essential for legitimacy in a democratic society” (Habermas, 1981).

Pada kutipan tersebut, Habermas menyerukan, bahwa demokrasi yang berhasil mensyaratkan komunikasi yang utuh pada ruang publik. Komunikasi yang dimaksud juga tidak berhenti pada ritual tanpa makna, tapi dilakukan dengan rasional. Berbagai persoalan kehidupan sosial, bahkan bernegara, dapat diselesaikan melalui komunikasi yang rasional, terbuka dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Dalam kehidupan sosial, banyak sekali persoalan yang menuntut untuk diselesaikan melalui komunikasi. Dari persoalan skala kecil seperti penanganan sampah, saluran air, hingga persoalan besar seperti kebijakan Negara. Berbagai persoalan itu menuntut adanya pola komunikasi yang rasional dan transparan, agar mendatangkan kebaikan untuk semua.

Tidak jarang program dari pemerintah sebenarnya dilakukan dengan niat baik, tapi akhirnya gagal karena persoalan komunikasi. Kegagalan ini bisa disebabkan karena kurangnya pemahaman perangkat dalam menjalankannya, atau kurangnya dukungan masyarakat yang tidak memahami dengan utuh.

Komunikasi yang rasional juga secara otomatis memberi pendidikan bagi masyarakat. Meminjam istilah Freire, komunikasi rasional bisa membawa transformasi masyarakat, dari kesadaran magis, menuju kesadaran na’if, bahkan kesadaran kritis (Paulo Freire 1970). 

Pemahaman keagamaan tradisional, tanpa menggunakan rasionalitas, berpotensi membentuk kesadaran magis. Bentuk kesadaran ini berupa pemahaman, bahwa keadaan masyarakat, merupakan sesuatu yang sudah ditakdirkan tanpa mempertanyakannya. Kesadaran ini membuat masyarakat cenderung pasif, menganggap segala hal terjadi sebagai takdir yang harus diterima, karena sudah didesain oleh kekuatan di luar dirinya yang memiliki kekuatan memaksa, atau sering disebut sebagai Tuhan.

Modernitas yang membawa mazhab rasionalitas sedikit banyak mempengaruhi pola pikir manusia. Dampaknya, tidak sedikit masyarakat religious yang bertransformasi dari kesadaran magis, menuju kesadaran na’if. Pada kesadaran na’if, masyarakat mulai memiliki kesadaran tentang masalah sosial, tapi masih dilihat dengan sederhana. Mereka mulai mempertanyakan keadaan yang ada, tapi masih terjebak dalam pola pikir yang tidak kritis dan mudah dipengaruhi oleh otoritas atau propaganda. Dalam kehidupan bernegara, dugaan maraknya penggunaan buzzer dalam proses pemilu terjadi, karena masyarakat masih mudah terjebak pada berbagai propaganda. Pemenang pemilu bukan bergantung pada program yang rasional, tapi siapaSiapa yang pandai memproduksi isu dialah yang akan menjadi pemenang.

Komunikasi yang rasional, diharapkan dapat membentuk kesadaran kritis masyarakat. Masyarakat dengan kesadaran kritis mampu memahami realitas sosial secara mendalam, menganalisis struktur yang menindas, dan bertindak untuk mengubah keadaan. Mereka tidak hanya menerima atau mengeluhkan keadaan, tetapi juga mencari solusi berbasis pemahaman rasional dan kolektif.

Saat ini, banyak persoalan sosial di sekitar kita. Berbagai persoalan tersebut saling berkelindan, menciptakan persoalan lainnya. Ketimpangan ekonomi menyebabkan kemiskinan, mendorong maraknya kejahatan, rendahnya literasi dan pendidikan, stunting dst. Masyarakat, dari skala yang paling kecil (Rukun Tetangga/RT) hingga paling besar (Negara), dapat menggunakan komunikasi rasional, dalam mengatasi berbagai persoalan tersebut. 

Islam, sejatinya adalah agama yang rasional. Agama ini memiliki semangat mendorong umatnya, untuk memiliki keperdulian, sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Misalnya, QS. Al-Ma'un (107:1-3), QS. Al-Baqarah (2:177) dan QS. Al-'Asr (103:1-3) memiliki kandungan bahwa keberislaman tidak cukup dengan ibadah ritual, tapi juga harus dilengkapi dengan ibadah sosial. Bahkan, dalam salah satu Hadis yang diriwayatkan Thabrani, Rasul bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam hati seorang Muslim, atau engkau menghilangkan kesulitannya, atau membayarkan utangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan sungguh, aku berjalan bersama saudaraku untuk menunaikan kebutuhannya lebih aku cintai daripada beriktikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan.” (H.R. Thabrani, dalam alam Al-Mu'jam Al-Awsath, no. 6192)    

Silaturahmi dalam Idul Fitri, sebaiknya tidak berhenti pada ritual tanpa makna. Bagaimanapun, silaturahmi dan komunikasi tetap baik, tapi dampaknya akan jauh lebih hebat jika dilakukan dengan rasional, untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial bersama. Silaturahmi tidak sekedar pamer kekayaan, kesuksesan dalam berkarier.

 

Penulis adalah Rektor UIN KH Abdurrahman Wahid, Pekalongan
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo