Dark
Light
Dark
Light

Silaturahmi Bani, Ikhtiar Menjaga Trah dan Indentitas Keluarga

Silaturahmi Bani, Ikhtiar Menjaga Trah dan Indentitas Keluarga

Idul Fitri selalu menjadi perayaan spesial bagi masyarakat Muslim di Indonesia. Tak hanya untuk berkumpul dengan keluarga dan orang terdekat, tetapi juga sebagai momentum tepat untuk mempererat tali silaturahmi antargenerasi. 

Menjelang era milenium baru tahun 2000, marak fenomena pertemuan keluarga atau bani atau trah keturunan tertentu. Pertemuan ini bukan sekadar reuni keluarga besar, melainkan kesempatan untuk merajut kembali benang sejarah leluhur yang tercerai berai.

Seiring kesadaran membangun ikatan keluarga yang lebih kuat, pertemuan bani, trah dan sejenisnya terus lestari hingga kini. Jika awalnya istilah Bani hampir selalu disandingkan dengan nama islami seperti Bani Romli, Ahmad, Mustofa dan sejenisnya, kini nama Bani meluas dalam keluarga bernuansa nama Jawa seperti Bani Tarnuji, Watun, Sanasum, atau Bani Madarsa.

Menyatukan ‘Balung Pisah’
Setiap pertemuan bani atau trah keturunan memiliki makna lebih dari sekadar ajang berkumpul. Ini adalah ruang untuk memperkuat hubungan antara generasi tua dan muda. Dalam pertemuan itu, kisah-kisah tentang leluhur dan tradisi keluarga sering dibagikan oleh orang yang dituakan dalam keluarga dan punya pengetahuan yang memadai. Mereka memberikan pemahaman tentang asal-usul keluarga dan nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Pertemuan bani memberikan kesempatan untuk mengingatkan semua anggota keluarga tentang pentingnya menjaga hubungan antar-generasi, serta melestarikan nilai-nilai tradisional yang bisa menjadi kekuatan bersama.

Menurut Casum, anggota Bani Tarnuji dari Banyumas, pertemuan bani lebih dari sekadar reuni keluarga.

"Ini adalah ikhtiar menyatukan balung pisah,” ujarnya penuh kias. Balung pisah dimaknai sebagai individu yang tercerai berai, tak saling kenal karena tidak ada orang tua yang mendekatkan.

Kuis Keluarga
Lelaki yang juga perangkat desa itu menjelaskan, jumlah anggota keluarga Bani Tarnuji terus bertambah. Pada line keempat (Canggah) anggotanya sudah mencapai 2000 orang lebih. Untuk keluarga besar Casum sendiri pada tahun 2024 ada 73 orang, di tahun ini menjadi 77 orang.

“Dari anak, cucu, buyut, canggah wareng terus bertambah. Mereka harus dikenalkan satu sama lain. Aja nganti ilang obore,” kata Casum dalam istilah Jawa yang artinya ‘jangan sampai hilang obar atau jejaknya’.

Puak Bani Tarnuji menyebar dan menetap di berbagai daerah seperti Jakarta, Magelang, dan berbagai desa di wilayah Banyumas Raya. 

“Alhamdulillah, kedelapan saudara kami masih sehat. Dalam setiap pertemuan, kita adakan kuis dengan pertanyaan seputar nama orang tua dan leluhur kami. Yang boleh menjawab adalah anak, cucu dan menantu. Ini berhadiah, ya buat lucu-lucuan,” ujar Pak Casum sembari tertawa renyah.

Pertemuan Bani Tarnuji digelar pada hari ketiga lebaran setiap tahunnya. Lokasinya bergantian. Dari rumah anak mbarep (sulung) sampai bontot (bungsu). Setelah kebagian semua, akan diulang dari awal lagi.

Semua acara diurus oleh keluarga sendiri. Dari MC, sound system, hiburan, hingga dokumentasi. Acaranya meliputi sambutan tuan rumah, pengajian, hingga wejangan dari orang yang dituakan. Tak ketinggalan, sesi perkenalan dari anak nomor 1 sampai 8, menantu dan anak keturunannya.

Jumpa Darat Lebih Berkesan
Sementara itu Bani Sanasum pada Idul Fitri tahun 2025 menggelar silaturahmi pada 4 Syawal. Arina.id berkesempatan menengok silaturahmi Bani Sanasum di Desa Cikembulan Banyumas. Di sinilah puak keturunan disatukan dalam kebersamaan. Semua tumpah ruah dalam kebahagiaan sembari bercengkrama menikmati bermacam panganan dan kudapan seperti: pecel, bakso, soto, dan aneka minuman segar.

Ada hikmah yang bisa dipetik dalam ceramah yang disampaikan sesepuh keluarga. Antara lain ikrar untuk menjaga keturunan tetap rukun harmonis dan tidak tercerai berai. Keluarga besar bani Sanasum harus bisa mikul dhuwuer mendhem jero, menjaga harkat dan martabat keluarga dalam harmoni kehidupan.

Tony Riamukti, seorang akademisi berpendapat, pertemuan keluarga sangat penting bukan hanya sebagai wahana mengenal satu sama lain, tapi juga untuk membangun rasa kebanggaan terhadap identitas keluarga. 

“Hubungan keluarga sering kali terabaikan karena mobilitas yang tinggi dan kesibukan masing-masing orang. Disinilah pentingnya silaturahmi secara langsung, bukan hanya lewat sarana komunikasi dan media sosial. Jumpa darat pasti lebih berkesan,” ujar pria yang tengah menempuh pendidikan Doktor dari Universitas Jenderal Soedirman ini.

Merawat Tradisi di Tengah Arus Perubahan
Selain mempererat ikatan emosional, sambung Tony, pertemuan bani juga bisa memperkuat jaringan sosial dan ekonomi. Di dalam komunitas yang lebih besar, akan diketahui anggota keluarga yang sedang mengalami musibah, sakit ataupun butuh bantuan, sehingga keluarga yang mampu tergerak membantu. 

“Ini baik sekali untuk mengetuk kepedulian sosial. Jadi pertemuan keluarga ini tidak hanya berfokus pada aspek rekreasi, tetapi juga berdampak positif bagi sesama dan lingkungan kita,” pungkas Tony.

Pertemuan bani keluarga, meski sederhana, memberikan ruang untuk menjaga dan merawat tradisi yang diwariskan para leluhur. Ini adalah kesempatan untuk mengenalkan generasi muda tentang pentingnya menghargai sejarah keluarganya, yang pada gilirannya akan menumbuhkan tanggung jawab untuk melanjutkan warisan dan cita-cita mulia keluarga, Tanpa ikhtiar seperti ini, bukan mustahil trah dan indentitas keluarga perlahan hilang jejaknya, padam ditelan zaman.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo