Dark
Light
Dark
Light

'Mengapa?': Filsafat, AI, dan Pertanyaan yang Ditertawakan Ferry Irwandi

'Mengapa?': Filsafat, AI, dan Pertanyaan yang Ditertawakan Ferry Irwandi

Pernahkah Anda duduk di bangku kota nan sepi, lalu terdengar tawa yang datang bukan dari mulut manusia yang sedang bicara, melainkan dari speaker ponsel yang memutar video tujuh menit: “Inilah Mengapa Hidup Itu Tak Perlu Dipikirkan Terlalu Dalam”? 

Wajah Ferry Irwandi muncul di layar, tertawa setengah mengejek, seperti sedang mengusir keheningan dari otak Anda. Di kolom komentarnya, emoji tertawa menari, disusul oleh teriakan digital: “FILSAFAT GABUT!” atau “PILOSOPI CUMA BUAT YANG GAK ADA KERJAAN!”

Itulah zaman kita: zaman di mana berpikir dianggap gangguan; di mana kontemplasi dikubur di bawah banjir notifikasi, dan ‘mengapa’ dipotong sebelum kalimatnya selesai. Kita hidup dalam dunia yang cepat, dan lebih lata lagi: dunia yang mencemooh lambat.

Ferry Irwandi, selebriti algoritma, menyatakan dalam satu videonya, “Ilmu filsafat sudah tidak relevan di era AI.” Pernyataan ini laksana peluru yang dilapisi gula. Terasa manis bagi penonton yang kehausan akan jawaban cepat. Namun di dalamnya tersembunyi virus yang lebih berbahaya dari kebodohan: ketidakpedulian terhadap makna. Pertanyaan besarnya bukan lagi: “Apakah filsafat berguna?” melainkan: “Apakah kita masih mau bertanya tentang apa pun yang tidak bisa diuangkan?”

AI dan Keangkuhan yang Kosong

‘Berguna’ berarti viral di dunia Ferry Irwandi. ‘Benar’ berarti sesuai dengan suara mayoritas di kolom komentar. Dan pertanyaan-pertanyaan seperti “Siapakah aku?” atau “Apa arti keadilan?” dikubur seperti bangkai zaman kuno yang tak sempat dikremasi. Dunia ini percaya bahwa semua hal ihwal bisa dipetakan selama datanya cukup.

Namun Philippe Huneman, dalam bukunya Why? The Philosophy Behind the Question (2023), mengingatkan kita bahwa “mengapa” bukan sekadar alat untuk menemukan sebab, tapi juga nyanyian keheningan yang lahir dari kegelisahan akan makna. “Pertanyaan ‘mengapa’ adalah bentuk keberanian untuk hidup tidak hanya dengan jawaban, tapi juga dengan kemungkinan tidak ada jawaban.”

Barangkali, di sanalah letak kehancuran peradaban yang diam-diam kita peringati dalam setiap klik: ketika ‘tidak tahu’ tidak lagi diterima, dan ketidaktahuan harus segera disingkirkan oleh video penjelas tujuh langkah atau podcast motivasi. Ketika semua harus terjawab, kita kehilangan kebebasan untuk kelesah.

Ketika Filsafat Menjadi Gangguan

Filsafat bukan sekadar tumpukan istilah Yunani yang menyulitkan anak Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia adalah ruang di mana kita bisa menangis tanpa harus segera sembuh, di mana ‘mengapa’ bisa bergema tanpa tuntutan untuk segera berhenti. Ia adalah upaya manusia untuk mengerti luka yang tidak bisa dijahit oleh dokter, dan kehilangan yang tidak bisa dihitung oleh algoritma. Akan tetapi dalam dunia yang digerakkan oleh data dan logika praktis, pelbagai pertanyaan seperti itu dianggap mengganggu. Bahkan disebut “tidak relevan."

Huneman mengingatkan bahwa ketika kita bertanya “mengapa?”, kita sedang membangun jembatan antara sebab dan makna, antara fakta dan rasa. Filsafat tidak menawarkan solusi cepat; ia tidak menjanjikan cuan. Namun ia menolak tunduk pada ketergesaan. Dalam dunia yang ingin menyederhanakan segalanya menjadi angka, filsafat mempertahankan ruang gelap yang penuh ambiguitas dan justru karena itu manusiawi.

Bayangkan Akal Imitasi yang bisa memetakan seluruh pikiran Anda, mengenali kecemasan Anda dari nada suara, dan menganalisis kesedihan Anda dari aktivitas media sosial. Namun ia tetap tidak tahu mengapa Anda menangis saat mendengar suara ayah Anda dalam mimpi. Ia tahu segalanya, tapi tak mengerti apa-apa.

Ferry Irwandi, dan semua yang menyembah kepraktisan, percaya bahwa jika kita bisa menjelaskan segala sesuatu, maka dunia akan menjadi lebih baik. Tapi mereka lupa: penjelasan tanpa pengertian adalah kekosongan paling menyiksa.

Sebagaimana ditulis Huneman: “Pertanyaan seperti ‘mengapa aku adalah aku?’ tidak memiliki sebab yang dapat ditelusuri, melainkan hanya mengungkapkan keterkejutan akan fakta keberadaan kita.” AI tidak bisa merasakan keterkejutan itu. Ia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi manusia yang bingung, yang rindu, yang salah. Oleh sebab itu, meskipun ia mampu menjawab, ia tidak pernah benar-benar bisa menjawab.

Tatkala seorang ibu ditanya oleh anaknya, “Kenapa Ayah tidak pulang lagi?”, jawabannya tidak datang dari data statistik, tapi dari luka, kenangan, rasa bersalah, dan cinta. Sementara jawaban AI mungkin benar secara semantik, tapi ia kosong secara etis. Ia tidak punya tanggung jawab.

Huneman menyebut bahwa pertanyaan “mengapa” melibatkan tanggung jawab. Kita tidak hanya ingin tahu sebab, tapi ingin tahu siapa yang bertanggung jawab. AI tidak bisa bertanggung jawab. Ia hanya menjawab. Maka dunia yang menyerahkan semua jawabannya pada mesin adalah dunia yang sedang melepaskan hak untuk mempertanyakan, dan dengan itu hak untuk menjadi manusia.

Filsafat mengajarkan bahwa jawaban bukanlah akhir. Ia hanyalah pintu ke pertanyaan baru. Ketika Ferry Irwandi menyuruh kita menyerahkan urusan berpikir kepada AI, ia bukan sedang membebaskan kita dari kebingungan. Ia sedang membungkam suara kita.

Satu bangsa tidak pernah runtuh hanya karena kehilangan teknologi. Ia runtuh ketika kehilangan cerita. Ketika tidak ada lagi yang bisa menjawab: “Kenapa kita harus peduli?” Dunia Ferry Irwandi menganggap cerita sebagai gangguan. Akan tetapi manusia tidak hidup dari data. Manusia hidup dari narasi. Dari pertanyaan yang dijawab oleh kisah, bukan oleh statistik.

Huneman menulis bahwa pertanyaan “mengapa” adalah “naratif”. Ia membutuhkan cerita agar dapat dimengerti. Kita tidak ingin tahu sekadar sebab; kita ingin tahu bagaimana semuanya saling terkait dalam alur yang masuk akal secara manusiawi. Tatkala kita bertanya: “Mengapa Holocaust terjadi?”, kita tidak hanya meminta data, kita meminta peringatan. Kita tidak hanya ingin tahu bagaimana, kita ingin tahu “kenapa itu tak boleh terjadi lagi.”

Filsafat: Seni Bertahan sebagai Manusia

Filsafat bukan jawaban. Ia adalah keberanian untuk tetap bertanya, bahkan ketika dunia memaksa kita diam. Ia adalah tindakan subversif terakhir di tengah zaman yang menuntut semua hal harus cepat, jelas, dan bisa disebar dalam video berdurasi enam menit.

Huneman menulis: “Pertanyaan ‘mengapa’ adalah bentuk dari penolakan terhadap kekuasaan yang tak terbantah.” Dalam dunia yang ingin semua orang patuh kepada logika, pasar, dan sistem, mempertanyakan segalanya adalah bentuk keberanian tertinggi.

Filsafat tidak akan menyelamatkan kita dari krisis. Akan tetapi ia akan menemani kita di dalamnya. Ia akan duduk di samping kita dalam gelap, tidak untuk memberi solusi, tapi untuk berkata: “Kau tidak sendiri."

Bayangkan dunia yang bisa menyembuhkan semua penyakit, memperpanjang usia manusia hingga seratus lima puluh tahun, dan membebaskan kita dari kelelahan fisik. Tapi ketika seorang anak bertanya, “Mengapa aku dilahirkan?” tidak ada yang menjawab. Itulah dunia tanpa filsafat: terang secara teknologi, tapi gelap secara batiniah.

Ferry Irwandi boleh terus mengumpulkan view dan subscriber. Namun satu hal yang tak bisa ditiru oleh mesin, dan tak bisa disponsori oleh iklan, adalah keberanian untuk tidak tahu, dan tetap bertanya.

Huneman menulis: “Berpikir itu sendiri adalah bentuk perlawanan terhadap kehampaan.” Maka barangkali, saat dunia semakin cepat dan bising, filsafat bukan lagi kemewahan. Ia adalah satu-satunya yang tersisa untuk menjaga agar kita tidak sepenuhnya menjadi mesin.

Andai hari ini filsafat terdengar seperti suara janda tua yang terpinggirkan, mari kita duduk bersamanya. Sebab dalam kerut wajahnya, barangkali kita menemukan satu hal yang tak bisa ditawarkan oleh algoritma mana pun: keberanian untuk tidak berhenti bertanya, meskipun kita tahu jawabannya mungkin tidak akan pernah datang.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo