Dark
Light
Dark
Light

Analisis Debat Keempat: Blunder Gibran, Cak Imin Melejit & Konsistensi Mahfud

Analisis Debat Keempat: Blunder Gibran, Cak Imin Melejit & Konsistensi Mahfud

Debat keempat calon wakil presiden membahas banyak soal. Meski masih bertabur gimik, dua pasangan calon tampil baik. Hanya Gibran yang banyak mendapat kritik. 

***

Mahfud MD baru saja menyelesaikan kalimat terakhirnya. Mendengar jawaban itu, di podium lain yang terletak di hadapannya, Gibran Rakabuming Raka malah memeragakan gerakan orang yang seperti mencari sesuatu. 

Rupanya itulah gaya calon wakil presiden nomor 02 menanggapi Mahfud yang disebutnya tidak menjawab pertanyaan yang disampaikannya dengan tepat. Setelah celingak-celinguk, dia pun berucap, “Saya bertanya tentang greenflation malah dijawab green economy.” 

Tak ada gelak tawa dari penonton di Jakarta Convention Center, Ahad malam itu. Yang terjadi, suasananya berubah menjadi tak nyaman. Di panggung  Mahfud MD tak bisa menyembunyikan kekesalannya atas respons Gibran tersebut.

Mahfud lalu membalas Gibran dengan menyatakan jawaban Gibran juga ngawur. Bahkan dia pun menyebut jawaban paslon nomor 02 itu hanya mengarang. “Enggak keruan dan mengkaitkan dengan sesuatu yang tidak ada," katanya sambil tak lupa menirukan gestur yang dibuat Gibran. 

Dia pun ogah menjawab pertanyaan Gibran karena dinilai ‘receh’ sehingga tidak layak dijawab. Bukan hanya Mahfud yang dibikin kesal. Cak Imin yang dalam beberapa sesi tanya jawab juga diserang oleh Gibran lewat hal-hal yang semestinya tidak perlu dilontarkan. 

Gibran sepertinya sukses memancing emosi Mahfud dan Cak Imin dalam debat. Namun sikapnya, terutama pada Mahfud MD, menggambarkan sikap yang tidak menghargai lawan bicara. 

Saat tidak sependapat dengan jawaban Mahfud, ia sesungguhnya punya pilihan untuk menyanggah dengan jauh lebih bermartabat tanpa perlu melakukan gestur tidak perlu. Alangkah baiknya Gibran membalas serangan itu lewat cara yang jauh lebih elegan. Misalnya dengan mempersoalkan posisi politik Cak Imin dan Mahfud yang masih sama-sama menjadi bagian dari pemerintahan sekarang.

Bila saja Gibran melontarkan hal semacam ini, diskusi akan menjadi lebih bermutu karena memaksa publik untuk menilai etika politik dari semua kandidat yang sedang bertarung. Sayangnya Gibran tidak melakukan itu. Ia malah membuat gimik yang tidak perlu. 

Padahal penampilan Gibran di awal debat sebenarnya cukup menjanjikan. Ia mampu mengartikulasikan gagasannya dengan baik. Tapi karena gimik itu, ia justru mencoreng penampilannya. Gibran melakukan tindakan blunder.

Cak Imin Lebih Baik dan Konsistensi Mahfud

Dalam debat kedua bagi para cawapres, mereka harus beradu kehebatan dalam penguasaan materi tentang energi, sumber daya alam, sumber daya manusia, pajak karbon, lingkungan hidup, agraria, dan masyarakat adat. Tidak mudah, tentu saja. 

Namun berbeda dengan Gibran, penampilan Cak Imin justru tampil lebih baik dibanding dengan debat pertamanya. Dia terlihat mempersiapkan debat dengan jauh lebih matang. Penampilannya jauh lebih percaya diri ketika menyampaikan visi-misi dan menjawab pertanyaan atau sanggahan dari kandidat lain. 

Pemaparan Cak Imin juga lebih sistematis dan to the point dibanding debat sebelumnya. Pasangan Anies Baswedan ini juga mampu menjelaskan positioning dirinya sebagai bagian dari kelompok yang menginginkan perubahan atas jalannya pemerintahan ke depan. 

Sejak awal, dia pun langsung senggol sana-sini. Dia menyindir tentang seseorang yang memiliki tanah hingga 500 ribu hektar, meski tidak menyebut nama namun publik tahu bahwa yang dimaksudnya adalah Prabowo, capres nomor 02, pasangan Gibran. 

Dia juga menyentil pemerintahan saat ini dalam berbagai sektor. Soal hilirisasi yang menurutnya berjalan ugal-ugalan karena tidak mempertimbangkan dampak lingkungan dan keadilan bagi masyarakat banyak.

Cak Imin juga memiliki daya “refleks” yang luar biasa. Ketika disenggol Gibran karena membaca catatan ketika menjawab pertanyaan dari moderator, dia lantas membalas telak dengan menyebutkan bahwa catatan itu bukan dari Mahkamah Konstitusi. Sindiran yang kena sasaran. Gibran sejak awal pencalonannya sebagai cawapres Prabowo Subianto terseret kontroversi di Mahkamah Konstitusi.

Malam itu, Muhaimin tampil berbeda dengan debat sebelumnya. Cak Imin yang berdiri di tengah-tengah dua peserta lainnya, benar-benar menunjukkan kapasitasnya sebagai politisi ulung yang cerdik dan mampu berkelit dari berbagai serangan kepadanya. 

Sepertinya, dia sadar betul bahwa debat ini menjadi kesempatan terakhir baginya untuk unjuk gigi secara terbuka guna meyakinkan publik akan kompetensinya. Kalau dalam debat pamungkas ini ia kembali tampil underperform, peluang memperbaiki citra dirinya makin menipis. Itulah sebabnya Cak Imin tampil all out ketika debat.

Catatan lain adalah penampilan Mahfud MD, yang dibanding debat pertama, dia tampil jauh lebih luwes saat menyampaikan gagasan dan menjawab pertanyaan atau sanggahan. Mahfud juga lebih kaya dalam memaparkan gagasannya. 

Ketika menjelaskan pentingnya menjaga lingkungan, Mahfud mengutip dalil dari Al-Quran, mengutip filosofi Tri Hita Karana, yang merupakan filosofi Hindu yang berlaku di Pulau Bali, dan mengutip filosofi Tri Tangtu pada masyarakat Sunda di Jawa Barat. Hal ini menunjukkan keluasan wawasan yang ia miliki untuk menguatkan gagasan dan visi misinya.

Mahfud bisa mempertahankan kualitasnya seperti ketika debat pertama. Malah untuk debat cawapres kedua, Mahfud selain tampil baik dalam menyampaikan gagasan dan menjawab pertanyaan, ia juga tampil berani karena secara terbuka mengkritik pemerintahan saat ini, seperti kritik untuk food estate dan impor komoditi yang menurutnya tidak sesuai dengan janji kampanye di tahun 2019.

Lantas Siapa yang Unggul?

Mari kita tengok X atau yang dulu bernama Twitter. Di platform media sosial lainnya, di X para netizen berkicau paling banyak selama acara debat berlangsung. Merujuk pada data analisis Drone Emprit terhadap percakapan netizen X/twitter, terangkum hasil yang tidak beda dengan pengamatan kebanyakan orang.

Cak Imin, yang dalam debat kedua ini lebih siap, mendapat sentimen positif paling tinggi dari seluruh kandidat, yaitu 80% percakapan mengenai dirinya mengarah ke arah yang baik. Hanya 6% percakapan mengarah negatif. 

Sedangkan Gibran mendapat sentimen yang berbeda. Sebanyak 60% percakapan warganet tentang penampilannya adalah negatif, dan hanya 33% yang positif. Lalu Mahfud meskipun angka percakapan mengenai dirinya lebih sedikit dari Cak Imin dan Gibran, tapi sebanyak 79% percakapan tentangnya cenderung positif dan hanya 12% yang negatif.

Data Drone Emprit menunjukkan bahwa Mahfud tampil sama baiknya dengan debat cawapres pertama dan mampu mempertahankan kemampuannya ketika debat kedua. Hal ini menandakan bahwa Mahfud memang konsisten dalam penampilannya. 

Namun apakah konsistensi yang ditampilkan Mahfud mampu membawanya memenangkan pemilu? Hanya waktu yang bisa menjawab. Satu hal yang pasti, debat hanyalah salah satu sarana untuk meyakinkan publik supaya memilih salah satu kandidat. 

Tidak semua pemilih mendasari pilihannya hanya lewat penampilan selama debat. Oleh sebab itu, semua kandidat perlu terus bergerak menarik suara sebesar-besarnya di masa-masa yang semakin mendekati hari pemilihan. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Willy Vebriandy
Alumni UIN Sunan Kalijaga. Penulis lepas. Salah satu penulis dalam Antologi Esai berjudul, Menatap Lukisan Gus Dur (Yogyakarta: 2021).


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo