Dark
Light
Dark
Light

Kemenangan dan Kekalahan di Hari Raya Idul Fitri

Kemenangan dan Kekalahan di Hari Raya Idul Fitri

Idul Fitri dikenal dengan hari kemenangan. Lebaran dirayakan sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan umat islam karena menang melawan haus dan lapar serta menjaga diri dari segala macam hawa nafsu selama sebulan lamanya. Anak-anak hingga orang dewasa bersuka cita lewat makanan, gema takbir, pakaian, gaya rambut, hingga sandal. Semua itu tampak indah dan menyenangkan dilihat, tetapi pada sisi-sisi terdalamnya ada kekalahan yang diam-diam merasuk dalam budaya perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Lebaran membuka pintu gerbang dan rumah-rumah yang sepanjang tahun lebih banyak tertutup. Orang-orang untuk sementara melupakan segala hiruk-pikuk masalah pekerjaan dan personal yang biasanya selalu memenuhi isi kepala. Semua orang berupaya untuk tersenyum, mengalunkan kata maaf sambil membagikan sebagian harta pada orang lain. Bahkan, sebelum hari H datang, bagi-bagi rezeki dalam bentuk uang tunai maupun sembako banyak dilakukan. 

Melihat hal ini, muncul pertanyaan dalam kepala: Mengapa saat lebaran–juga hari sebelumnya– banyak orang bermurah hati berbagi pada orang lain dalam skala sangat besar? Andai, lebaran setiap hari, mungkin rakyat kecil akan selalu merasa bahagia dan tenang. Uang-uang tidak disimpan dan dibiarkan diam, tetapi berputar, diperuntukan untuk membantu satu sama lain. 

Fenomena ini agaknya bisa dibaca menggunakan teori pertukaran sosial atau social exchange theory. Teori pertukaran sosial merupakan salah satu teori dalam sosiologi dan psikologi sosial yang menjelaskan interaksi manusia sebagai bentuk pertukaran sumber daya (baik materi maupun non-materi). Intinya, setiap tindakan sosial dipandang sebagai upaya untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan kerugian.

Dalam peristiwa meningkatnya jumlah sedekah atau berbagi di bulan Ramadhan dan Idul Fitri dibandingkan dengan hari lain, terjadi karena imbalan atau rewards yang ditawarkan. Seorang Muslim yang bersedekah di Ramadhan menimbang bahwa “biaya” berupa uang yang dikeluarkan akan terbayar dengan “imbal balik” berupa pahala berlipat, rasa bahagia, dan citra sosial yang baik. 

Imbalan spiritual lebih besar bisa muncul sebagai sebuah dorongan karena ada banyak teks dan nasihat yang mengungkapkan bahwa amal ibadah di bulan Ramadhan diyakini mendapat pahala lebih besar dibandingkan hari lainnya. Keyakinan bahwa pahala dilipatgandakan membuat reward lebih tinggi dibanding hari biasa. 

Norma sosial dalam masyarakat secara tidak langsung juga memberi reward pada seseorang yang  berbagi di bulan Ramadhan. Hal tersebut meningkatkan status sosial dan penerimaan dalam kelompok. Selain itu, biaya juga akan terasa lebih ringan karena ada suasana kolektif berbagi, pengeluaran untuk sedekah tidak dianggap beban, melainkan bagian dari ibadah. 

Sisi lain yang juga bisa diulik dari Lebaran adalah persoalan pangan. Biasanya, makanan dalam jumlah banyak hanya bisa ditemui di warung masakan Padang. Lebaran menyulap keadaan itu. Di setiap meja rumah akan tersedia mangkuk-mangkuk berisi makanan spesial; ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng ati, dan sayur labu siam. Selain itu, meja di ruang tamu juga akan dipenuhi kue kering: nastar, kastengel, putri salju, wajik, dan lainnya. 

Bagi orang-orang berkelimpahan uang, mungkin ini momentum yang sangat biasa. Mereka akrab dengan makanan tersebut setiap harinya. Tak perlu menunggu hingga Hari Raya.  Tapi, bagi rakyat kecil, makanan yang dihidangkan saat lebaran bisa jadi sebuah hal yang langka. Kehadirannya ditunggu satu tahun sekali. Terwujudnya pun sering kali hasil dari menabung, atau menyisihkan sebagian penghasilan. Jika tak cukup, nekat untuk berhutang. Lebaran secara tidak langsung membuka tabir menyoal ketimpangan ekonomi yang terjadi di Indonesia. 

Ketimpangan pangan memang terjadi di Indonesia. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi bisa dinikmati oleh semua masyarakat agaknya hanya terjadi di Hari Raya. Di luar dari itu, piring-piring rakyat kecil kerap lebih banyak kosong. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat 43,5 persen penduduk Indonesia tidak mampu membeli pangan sehat. Akses yang terbatas dan biaya yang mahal menjadi kendala utama. 

Kompas (11/11/2025) menyoroti masalah ini lewat pandangan Guru Besar Bidang Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, Sri Raharjo. Dia mengakui bahwa kebutuhan pangan sehat di Indonesia masih relatif mahal harganya. Dengan harga pasar sekarang, setiap orang membutuhkan Rp40 ribu untuk tiga kali makan sehat dengan asupan protein nabati dan protein hewani. 

Idealnya, menurut Sri, setiap orang mengkonsumsi 2.150 kkal untuk tiga kali makan dalam sehari. Jumlah kalori sebanyak itu terbagi menjadi beberapa komponen yang menjadi kebutuhan gizi manusia, yaitu karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin. Tetapi tidak semua masyarakat dapat memenuhi komponen gizi tersebut, terutama komponen protein hewani dan cenderung mahal harganya.

Hari Raya Idul Fitri sah untuk dimaknai sebagai hari kemenangan, tetapi barangkali juga bisa menjadi cermin melihat kekalahan sebagian masyarakat yang dibuat hidup dalam sistem yang memiskinkan. Kekalahan itu tidak hanya bisa dilihat dari persoalan pangan, tetapi juga bisa ditelisik hingga pakaian, gaya rambut, hingga sandal. 


 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo