Dark
Light
Dark
Light

After Hajj

After Hajj

Oleh Akh. Muzakki 

Judul di atas berarti “Usai Berhaji”. Substansinya langsung menunjuk kepada sebuah pertanyaan: Bagaimanakah hidup seseorang sepulang haji? Pertanyaan seperti ini juga pernah dikaji oleh Kholoud Al-Ajarma melalui karyanya yang berjudul After Hajj: Muslim Pilgrims Refashioning Themselves (pada jurnal Religions, vol. 12, no. 36 [2021]). Dia adalah akademisi dari Fakultas Teologi dan Studi Agama, Universitas Groningen, Belanda. Kasus yang dijadikan materi pembahasan adalah Muslim Maroko usai melaksanakan ibadah haji. 

Dalam kajian itu, Kholoud Al-Ajarma secara spesifik menganalisis keterikatan dimensi sosio-kultural ibadah haji dalam kehidupan umat Islam di Maroko dalam masa perkembangan terakhir. Datanya didasarkan pada kerja lapangan multi-lokasi (multi-site fieldwork) yang ekstensif mulai Juli 2015 hingga Januari 2017. Ini artinya, persoalan mengenai keterikatan dimensi sosio-kultural ibadah haji dalam kehidupan keseharian jemaah haji usai menyelesaikan ibadah haji di Tanah Suci dan sekembalinya ke tanah air sendiri menjadi perhatian tersendiri sebagai sebuah kajian akademik dari para ilmuwan studi agama. 

Kholoud Al-Ajarma mengajukan sejumlah pertanyaan penting. Diantaranya: Bagaimanakah para jamaah haji menghadapi berbagai harapan dan tuntutan setelah menunaikan ibadah haji mereka, dan bagaimana pula upaya mereka diterima oleh anggota komunitas mereka? Bagaimana mereka membentuk perilaku sosial dan keagamaan sebagai jemaah haji yang telah kembali ke kampung halaman? Bagaimana pula mereka menyikapi ketegangan antara cita-cita haji (the ideals of Hajj) dan kenyataan hidup sehari-hari (the realities of daily life)? Singkatnya, Kholoud Al-Ajarma berkehendak untuk mengkaji konsekuensi agama, sosial dan pribadi bagi jamaah haji seusai melaksanakan haji dan kembali ke komunitasnya di kampung halaman. 

Pertanyaan-pertanyaan itu juga sepatutnya menjadi refleksi diri para jemaah haji Indonesia sekembali dari Tanah Suci. Tantangannya memang, bagaimana menjaga dan sekaligus merespon konsekuensi agama, sosial dan pribadi sepulang haji dan sekembalinya ke komunitas sehari-hari di tanah air sendiri. Masing-masing memang memberikan tantangan dan konsekuensinya. Dan itu berlaku baik untuk aspek agama, pribadi, dan sosial. Juga yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana keterkaitan antara ketiganya dalam praktik hidup sehari-hari mereka sepulang dari haji. 

Pada aspek agama, sebagai misal, haji memberikan tantangan dan konsekuensi kepada mereka yang telah menjalaninya di Arab Saudi dan lalu kembali ke kampung halaman sendiri. Agama dalam konteks ini lebih mengarah kepada persoalan ketaatan diri kepada Tuhannya. Dan hal itu menjadi pertanyaan, tantangan, dan konsekuensi penting dari haji. Tentu semua merasakan bahwa selama di Tanah Suci, tak ada aktivitas yang mengikat keseharian jemaah haji selain ritual haji. Tidak pagi, tidak siang dan juga tidak malam, semua dari jemaah haji terkondisikan untuk berada dalam alam pikiran dan tindakan beribadah haji dalam bentuk melaksanakan ritual-ritual wajib maupun sunnah. 

Artinya, ada proses conditioning yang mengantarkan alam pikiran dan tindakan jemaah haji untuk tertuju kepada satu fokus: ritual ibadah kepada Allah SWT. Pikiran diikat selalu dengan penunaian ritual-ritual dalam kerangka haji. Dalam kondisi itu, pikiran dilepaskan dari rutinitas dan kesibukan keseharian pekerjaan sebagaimana terjadi selama berada di tanah air. Apalagi, dengan ketentuan yang sangat ketat dalam praktik pelaksanaan ritual-ritual itu, haji mengkondisikan perilaku setiap pribadi pelakunya untuk terikat kuat dengan ritual-ritual peribadatan kepada Sang Khalik. Sebagaimana terjadi pada pikirannya yang disebut sebelumnya. 

Karena itu, seusai haji, pengalaman berhaji dengan serangkaian ritual yang membuat mereka terikat kuat dengan Sang Khalik tak selayaknya membuat diri berhenti melaksanakan ritual-ritual peribadatan kepada Allah SWT, sebagaimana di antaranya berkaitan dengan ibadah haji di atas, begitu pulang dari Tanah Suci. Alih-alih, terus berlanjut dalam keseharian di tanah air. Bahkan, sudah sepatutnya, pengalaman untuk selalu terkondisikan dengan ritual ibadah selama berhaji itu harusnya mengantarkan jemaah haji untuk mengimplementasikan pengalaman-pengalaman spiritual itu ke dalam kehidupan keagamaannya sepulang ke tanah air. 

Apa yang lebih dikenal dengan istilah kesalehen diri atau personal piety atau al-ta’abbud a-fardi (lihat Michela Luiselli, Personal Piety, dalam UCLA Encyclopedia of Egyptology, 2008:1-9) lalu menjadi titik destinasi dari proses implementasi pengalaman berhaji itu. Ada pergerakan yang pasti usai melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci untuk membuat diri terikat kuat kepada pembentukan kesalehan diri sebagai titik destinasi aktivitas pasca-berhaji. Pergerakan yang demikian menjadi penanda penguatan kesalehan diri dimaksud.

Sebagai contoh, jika saja ada tantangan dan perasaan berat saat menempuh perjalanan dari Mina ke Jamarat, selayaknya perjalanan itu memberikan inspirasi dan pemaknaan tersendiri tentang perjuangan besar Rasulullah Muhammad SAW dalam melaksanakan ibadah haji kala itu. Ya, kala jalanan sudah barang tentu tak semulus saat ini. Kala pemandangan sudah pasti tak seterang saat ini. Kala situasi sosial tentu tak seramai dan seramah saat ini. 

Maka, pengalaman perjalanan haji dari Mina ke Jamarat ini sepatutnya membangkitkan kesadaran bahwa sepulang ke tanah air, cara dan besaran ibadah yang dilakukan oleh jemaah haji harusnya semakin meningkat. Sebab, tantangan beribadah di tanah air Indonesia, termasuk dalam perkembangan terkini, tak memiliki tantangan berat sebagaimana yang dialami Rasulullah Muhammad SAW saat menjalankan perintah ibadah haji kala itu. 

Munculnya perasaan malu jika malas menjalankan ibadah kepada Allah Sang Maha Agung adalah sebuah kondisi yang sangat bisa jadi muncul jika dalam diri seorang jemaah haji sudah muncul kesadaran untuk meningkatkan ibadah sepulang dari berhaji di Tanah Suci. Lalu, perasaan malu ini mendorongnya untuk bukan menurunkan gerak pelaksanaan ibadahnya, melainkan semakin meningkatkannya secara lebih meyakinkan. Intinya, indeks keberagamaan jemaah haji dalam bentuk pelaksanaan ibadahnya kepada Sang Khalik semakin meningkat sepulang berhaji dari Tanah Suci. 

Pada aspek pribadi, pengalaman berhaji di Tanah Suci juga sepatutnya membawa dampak positif pada kepribadian jemaah haji setibanya di kampung halaman. Apa yang oleh orang modern dicirikan dengan istilah active character (karakter aktif) dan passive character (karakter pasif) sepatutnya sangat bisa dirasakan bedanya pada diri jemaah haji. Sepulang berhaji di Tanah Suci, jemaah haji akan semakin kuat karakter aktifnya daripada karakter pasifnya. Dia akan lebih menunjukkan nilai kebermanfaatan dirinya keluar daripada menyimpannya ke dalam diri sendiri. 

Dengan kekuatan karakter aktif itu, jemaah haji seusainya menjalankan ibadah haji di Tanah Suci akan semakin aktif untuk mengambil tindakan (taking action) kebajikan. Mereka akan lebih menunjukkan karakter aktifnya ke luar dirinya, dan bukan justru berdiam dengan kediriannya sendiri. Nilai kebermanfaatan selalu mendasari sikap dan tindakannya. Bentuknya, jemaah haji akan semakin kuat mewujudkan nilai kebermanfaatan dirinya itu ke luar. Bukan malah menunggu undangan dari pihak luar untuk merealisasikannya. Mereka lebih proaktif daripada reaktif dalam mewujudkan nilai kebermanfaatan dirinya ke sesama.

Bayangkanlah sedang terjadi makan bareng di warung. Di situ ada dua jemaah haji sepulang dari berhaji yang memiliki karakter aktif dan pasif, dan mereka hadir bersama untuk duduk dan ikut makan bareng bersama lainnya. Jemaah haji yang memiliki karakter aktif akan menunjukkan nilai kebermanfaatan dirinya dengan mendorong dirinya ke posisi lebih depan dibanding lainnya dalam membayar biaya makan bareng itu. Lain halnya dengan jemaah haji yang memiliki karakter pasif. Dia lebih memilih diam dan tidak mengambil insiatif kecuali diminta kesediaannya oleh yang rekan-rekannya yang lainnya untuk membayar biaya makan bareng itu.

Aspek sosial juga tak ketinggalan dari peningkatan indeks keberagamaan usai berhaji di Tanah Suci, sebagaimana pada urusan ibadah dan pribadi di atas. Dampak haji tak terbatas pada persoalan ibadah dan juga pribadi semata. Ia juga menunjuk kepada munculnya perbaikan pada urusan hubungan sosial. Sikap untuk selalu berbagi dan bertenggang rasa dalam setiap pelaksanaan bagian dari ibadah haji sepatutnya memberikan dampak tersendiri ke dalam cara menjalani hidup di tanah air bersama warga masyarakat lainnya. Sederhana sekali alasannya. Perbaikan hubungan diri dengan sesamanya adalah bagian dari buah saja dari proses perbaikan indeks keberagamaan dalam bentuk ibadah selama berhaji di Tanah Suci. 

Dampak sosial di atas tak lain adalah bagian dari nilai kemabruran haji. Warga masyarakat tentu tak selalu akan bisa tahu tentang indeks peningkatan ibadah privat yang terjadi pada keseharian jemaah haji. Yang mereka tahu dan rasakan adalah dampak sosial dari ibadah haji yang sudah dijalani oleh jemaah haji selama berada di Tanah Suci. Melalui apa? Ya, melalui praktik sosial kewargaan jemaah haji sepulangnya dan sekembalinya dia ke tengah masyarakat di kampung halaman. 

Solidaritas sosial yang semakin tinggi adalah salah satu bukti konkret dari peningkatan indeks praktik sosial kewargaan. Jemaah haji sepulang dari Tanah Suci akan semakin kuat perhatiannya kepada sesamanya. Lebih-lebih pada penderitaan dan kemalangan yang dialami oleh warga sekitarnya. Dia tak akan menempatkan dirinya jauh-jauh dari apa yang dialami dalam kehidupan keseharian warga sesamanya. Keterikatan dia pada solidaritas sosialnya makin menguat sepulang dari berhaji di Arab Saudi. 

Contoh lain dari bukti peningkatan ibadah sosial yang bisa dirasakan langsung oleh warga sesamanya adalah perhatian terhadap sesama yang makin meningkat melalui praktik berbagi rizki. Wujudnya, hidup jemaah haji sepulang dari Tanah Suci makin tidak pelit. Alih-alih, mereka makin sensitif terhadap pengalaman pahit yang dirasakan oleh warga sekitarnya. Publik di sekelilingnya tentu tak pernah akan bisa mengerti persoalan peribadatan jemaah haji dalam keseharian di kampung halaman usai berhaji di Tanah Suci. Yang mereka bisa temui adalah bagaimana dampak berhaji para jemaah haji itu pada kehidupan sosial bersama warga sesamanya.  

Itulah uraian tentang aspek agama, pribadi, dan sosial dan dari dampak berhaji sepulang dari Tanah Suci. Hanya, yang jauh lebih penting lagi adalah bagaimana tantangan dan konsekuensi dari tiga aspek dimaksud bisa mengait satu sama lain dan mengejawantah dalam diri jemaah haji sepulang dari melaksanakan ibadah haji itu. Indeks keberagamaan kepada Sang Khalik naik, personalities atau kepribadian diri juga makin membaik, serta kesalehan sosial pun juga mendaki tinggi. Saat peningkatan terjadi secara kait-mengait antara satu dan lainnya pada ketiga aspek di atas, tentu nilai kemabruran haji makin tinggi. Wujudnya adalah meningkatnya indeks peribadatan yang diiringi pada saat yang sama dengan membaiknya nilai kepribadian aktif diri serta naiknya tingkat kesalehan sosial. 

Itulah kira-kira gambaran yang ada dalam Hadits Nabi tentang kondisi kehidupan usai melaksanakan ibadah haji:

 مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya: "Barang siapa yang berhaji dan tidak berkata jorok serta berbuat fasik, maka akan keluar dosa-dosanya seperti hari dilahirkannya dia dari ibunya"

Inilah yang oleh orang modern disebut dengan life after hajj. Kehidupan usai berhaji. Tentu, yang dimaksudkan sebagai substansi dari konsep ini berkaitan dengan pertambahan nilai positif dalam kehidupan keseharian jemaah haji usai melaksanakan ibadah rukun kelima dalam Islam di Tanah Suci.

Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Anggota Tim Monitoring dan Evaluasi Haji 2024


$data['detail']->authorKontri->kontri

Prof. Akh Muzakki
Penulis adalah Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo