Dark
Light
Dark
Light

Saat Literasi Kesehatan Haji Tak Bisa Ditawar Lagi

Saat Literasi Kesehatan Haji Tak Bisa Ditawar Lagi

“Inna lillahi wa inna illaihi raji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah Hj Faridah Binti Ali Adek jemaah haji BTJ-04, hari ini Jumat tanggal 12 Juli 2024 jam 11.30 WAS di KKHI Madinah. Mohon doa semoga Allah terima amal ibadah dan ampunkan segala dosanya. Amin ya Rabbal alamin.”

Begitu pesan beredar di kalangan jemaah dan petugas haji Indonesia di Arab Saudi. Pesan berantai itu pertama kali dikirim dan disampaikan Ketua Kloter 04-BTJ, Taharuddin, kepada Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) Embarkasi Aceh, Azhari, melalui aplikasi percakapan maya. 

Pesan duka semacam di atas kerap kali diterima oleh banyak jemaah haji Indonesia. Tidak saja menjelang mereka pulang ke Indonesia, melainkan juga sejak awal kedatangan mereka di Bandara Madinah maupun Jeddah. Bahkan juga selama mereka berada di Makkah, Madinah, dan sekitarnya. Dan, setiap pesan duka itu beredar, setiap kali itu pula, semua jemaah ikut merasakan sedih dan duka lara. Tak harus apakah yang meninggal itu keluarga atau bukan. Atau bahkan tak ada hubungan sekalipun sebagai sanak saudara. Tetap saja, berita kematian itu meninggalkan duka tiada tara. 

Itulah yang menjadi latar belakang di antaranya. Bahwa kesehatan jemaah haji menjadi perhatian besar pemerintah. Termasuk petugas teknis haji di lapangan. Angka kematian jemaah haji Indonesia yang mengalami kenaikan cukup signifikan, usai puncak ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) dibanding sebelum Armuzna dari tahun ke tahun, menjadi bukti kesekian kali bahwa kesehatan jemaah haji membutuhkan atensi yang tinggi. Apalagi, gambar besar tentang usia jemaah haji beserta rekam jejak kesehatannya sangat variatif. Sementara di ujung lainnya, haji adalah ibadah fisik. Maka, wajar jika kesehatan jemaah haji membutuhkan perhatian yang besar.

Bahkan, di awal sekali kedatangan di Arab Saudi dalam musim haji 1445 H/2024 M, kesehatan jemaah haji Indonesia selalu menjadi pembicaraan dan atensi petugas haji Indonesia di Tanah Suci itu. Tak henti-hentinya laporan tentang kesehatan jemaah haji Indonesia dipantau. Baik di kantor Daerah Kerja (Daker), Makkah dan Madinah, maupun di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daker Makkah. Setiap kali ada laporan, setiap kali dibahas dengan seriusnya. Termasuk solusi atasnya. 

“Semalam ditemukan ada jamaah yang sudah berumrah sunnah tujuh kali. Padahal lansia. Usianya sudah mencapai 95 tahun.” Begitu laporan Prof Martin Kustanti seorang anggota Tim Monitoring dan Evaluasi Haji 2024, pada pemetaan kerja monitoring dan evaluasi di kantor Daker Mekkah (29 Mei 2024). Dia mendapati jemaah dengan laporan ibadah umrah sunnah sebanyak itu pada pelaksanaan ibadah sa’i satu malam sebelumnya. Padahal, itu baru di awal-awal minggu kedatangan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi.  

Mendengar laporan itu, anggota tim manajemen Daker Makkah buru-buru menyahut: “Bukan hanya tujuh kali saja. Malah ada yang sudah mencapai duapuluh kali.” Demikian temuan Syarif Rahman, Kepala Seksi Transportasi Kantor Daker Makkah itu.

Intinya, jamaah sangat bersemangat untuk beribadah lebih dari yang wajib atau rukun saja. Padahal puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna) masih tiga minggu berikutnya, yakni 15-17 Juni 2024. Artinya, sejak awal kedatangan di Arab Saudi jauh-jauh hari sebelum puncak ibadah haji, jemaah haji Indonesia sudah bergegas sekali untuk melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, termasuk umrah sekalipun. 

Padahal, sekali pelaksanaan umrah membutuhkan waktu yang cukup panjang, dari miqat hingga tahallul. Selain perjalanan yang panjang, kegiatan ibadah umrah itu semuanya fisik. Maka bisa dibayangkan berapa besar energi yang harus dikeluarkan oleh masing-masing jemaah haji Indonesia untuk sekadar satu kali ibadah umrah sunnah. Ditambah lagi waktunya yang cukup panjang untuk sekali ibadah umrah sunnah itu. Maka, kelelahan adalah risiko dan tantangan, untuk tidak mengatakan ancaman, kesehatan yang harus ditanggung oleh jemaah haji pengamal umrah sunnah itu.  

Mendengar laporan dan sekaligus pembahasannya yang cukup detail dan saling melengkapi di atas, seluruh komponen yang terkait dengan penyelenggaraan ibadah haji, mulai PPIH hingga Pengdali Pertugas (Dalgas), sepakat pada satu hal: Kesehatan jemaah haji harus dijaga. Jangan sampai umrah sunnah dikencengin. Tapi saat tiba waktu umrah wajib, mereka kelelahan. Apalagi hingga jatuh sakit. Tentu semua itu tak dikehendaki oleh siapapun. Tentu semua jemaah haji Indonesia tak mau mengalami musibah itu. Keluarganya pun juga begitu. Bahkan, pemerintah sendiri pun juga demikian. Karena itu, petugas haji Indonesia di Arab Saudi selalu memonitor perkembangan kesehatan jemaah haji Indonesia selama musim haji. 

Hanya saja, melihat antusiasme yang tetap tinggi dari jemaah haji Indonesia untuk melaksanakan serangkaian ibadah-ibadah sunnah di Arab Saudi sebelum puncak ibadah haji di Armuzna, kegelisahan pun menggelayuti pikiran para petugas haji. Jangan sampai ada jemaah haji yang mengalami kelelahan. Sebab urusannya dengan puncak ibadah haji di Armuzna yang waktunya masih cukup lama. Kalau kelelahan menimpa dan kemudian memperburuk kondisi kesehatan jemaah haji Indonesia, terutama sebelum puncak ibadah di Armuzna, yang rugi juga jemaah haji Indonesia sendiri. Pasti kekhusyukan ibadah haji terganggu. Minimal tidak maksimal. 

Kegelisahan para petugas haji Indonesia di Arab Saudi atas kesehatan jemaah tak pernah usai. Tak pernah menyusut. Sebab, bukan saja saat pra-Armuzna para jemaah haji Indonesia diingatkan untuk menjaga kesehatan. Bahkan pasca-Armuzna pun, perhatian terhadap kesehatan jemaah haji Indonesia tetap besar. Para jemaah itu terus diingatkan untuk tak lupa menjaga kebugaran diri dan menghindari kelelahan hebat. Para petugas haji selalu memberi perhatian soal kesehatan jemaah haji itu. Sebab, tren kenaikan angka kematian haji pasca-Armuzna masih terus tinggi. Dari tahun ke tahun.   

Atas alasan itu, literasi kesehatan haji sudah tak bisa ditawar-tawar lagi. Harus dimulai sejak dari dini. Sudah sangat mendesak bahwa manasik haji memasukkan materi literasi kesehatan haji secara terintegrasi. Bisa saja dibuatkan pelatihan tersendiri. Tapi, kegiatan manasik haji tetap saja menarik dan strategis untuk pengembangan literasi kesehatan haji. Mengapa begitu? Karena manasik haji merupakan kegiatan yang sudah lama menyatu dengan proses penyelenggaraan haji. Keberadaannya masif, terstruktur dan sistemik. Maka penting program manasik haji menjadi instrumen integrasi literasi peribadatan dan kesehatan haji.

Masalah lanjutan yang harus dituntaskan adalah bahwa model integrasi itu harus dipastikan terlaksana di lapangan. Bagaimana caranya? Usai modul literasi kesehatan haji dituntaskan, dibutuhkan instrumen untuk mengukur keterlaksanaan modul literasi kesehatan haji itu dalam model baru penyelenggaraan manasik haji. Dibutuhkan semacam kertas kendali kerja. Kepentingannya untuk memastikan bahwa seluruh materi strategis literasi kesehatan haji tersampaikan secara tuntas kepada seluruh calon jemaah haji Indonesia. 

Pada titik inilah, kelompok bimbingan ibadah haji dam umrah (KBIHU) penting dicolek. Mereka harus dilibatkan dalam model baru penyelenggaraan manasik haji dengan menyertakan kompetensi literasi haji secara terintegrasi ke dalam materi manasik haji. Mengapa KBIHU begitu penting dicolek? Simak pernyataan pasangan jemaah haji Indonesia  bernama Puryantono dan isterinya Nuro. Keduanya dari Serang Banten. Pernyataan keduanya disampaikan saat ketemu dengan saya bersama anggota Tim Monitoting haji dan Umrah 2024 Mahmud Syaltyut, Ph.D dan Prof. Masnun Tahir di lintasan keluar area Gua Hira, Makkah (25 Juni 2024).

“Ada mungkin lima belas kali!” ujar Puryantono didampingi sang istri, Nuro. Kalimat itu dia utarakan untuk menjelaskan bahwa manasik haji yang dia ikuti di KBIHU tempat dia bergabung dilaksanakan sebanyak itu. Manasik sebanyak itu dilaksanakan baik oleh KBIHU itu sendiri maupun oleh Kementerian Agama setempat.

Pernyataan Puryantono ini tentu mewakili gambar besar penyelenggaraan manasik haji. Sebab, penyelengaraan manasik haji serupa juga dilakukan secara masif, terstruktur dan sistemik di hampir seluruh titik daerah di Indonesia, sesuai dengan keberadaan kantor Kementarian Agama dengan seluruh jajaran Kantor Urusan Agama (KUA) yang dimiliki dan keberadaan KBIHU dimaksud.  

Pernyataan jemaah haji bernama Puryantono ini harus dimaknai sebagai bukti strategisnya posisi penyelenggaraan manasik haji untuk kepentingan strategis haji. Termasuk dalam hal ini adalah penguatan literasi kesehatan haji. Maka, sungguh sangat disayangkan jika instrumen manasik haji itu tidak dimanfaatkan untuk kepentingan penguatan integrasi literasi kesehatan haji ke dalam proses pengembangan literasi dan kompetensi peribadatan haji. Kata “integrasi” di sini mendorong agar pelaksanaan literasi peribadatan haji melalui penyelenggaraan manasik haji mengikutsertakan materi literasi kesehatan haji ke dalamnya.

Lepas dari penguatan integrasi ini, edukasi kesehatan haji penting menyertakan juga unsur keluarga calon jemaah haji. Bagaimana caranya? Memutar tampaknya adalah strategi yang efektif. Strategi memutar di sini dalam pengertian bahwa literasi kesehatan haji tidak langsung dilaksanakan dengan mengandalkan edukasi kepada calon jemaah haji itu sendiri semata. Melainkan juga melalui keluarga mereka di rumah. 

Produksi konten sehat tentang haji aman adalah teknisnya. Kepentingannya, agar selama pelaksanaan ibadah haji calon jemaah haji memegangi prinsip berikut ini: Energi jemaah haji terus terkelola dengan baik selama proses pelaksanaan ibadah haji. Indikatornya sederhana. Tidak kehabisan di tengah perjalanan. Tak kelelahan sebelum puncak ibadah haji di Armuzna. Dan terjaga sehat hingga selesainya seluruh rangkaian ritual ibadah hingga kembali bertemu keluarga di kampung halaman.

Penulis adalah Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Anggota Tim Monitoring dan Evaluasi Haji 2024


$data['detail']->authorKontri->kontri

Prof. Akh Muzakki
Penulis adalah Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo