Dark
Light
Dark
Light

Haji, Keragaman, dan Tata Kelola

Haji, Keragaman, dan Tata Kelola

Oleh: Noorhaidi Hasan
Haji, sebagai rukun Islam kelima, merupakan perjalanan spiritual yang mendalam bagi umat Muslim. Ini adalah ziarah ke kota suci Makkah, yang diwajibkan bagi semua Muslim yang mampu secara fisik dan finansial untuk melaksanakannya setidaknya sekali seumur hidup. Tahun ini, lebih dari 1,5 juta Muslim dari seluruh belahan dunia melaksanakan ibadah haji, yang berpuncak pada pelaksanaan wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah atau Sabtu 15 Juni 2024 lalu. Menjadi satu di antara jutaan Muslim yang melaksanakannya, saya turut merasakan kemeriahan dan kekhidmatan haji tahun ini, sekaligus menyaksikan keragaman luar biasa dalam Islam.    

Keragaman Ekspresi
Meskipun ritual inti haji bersifat seragam dan telah ditentukan syarat rukunnya, cara berbagai umat Muslim mengekspresikan iman mereka selama ziarah ini mencerminkan keragaman budaya, bahasa, identitas dan teologi dalam Islam. Berbeda-beda dalam ras, kebangsaan, kesukuan, bahasa dan berbagai identitas lainnya, mereka datang mengenakan corak pakaian dan atribut nasional masing-masing. Semua terlihat riang gembira walaupun melawati hari-hari panjang di bawah terik matahari yang menyengat. 

Jika jemaah haji laki-laki harus mengenakan pakaian ihram selama prosesi inti haji, jemaah haji perempuan mengenakan pakaian yang sangat bervariasi, mencerminkan norma budaya dari negara asal mereka dan persentuhannya dengan tren kekinian. Misalnya, perempuan Indonesia mengenakan stelan baju Muslimah dengan bahan modern yang nyaman dan ringan plus kerudung bermotif sulaman tertentu, sementara perempuan Nigeria mengenakan buba dan iro tradisional mereka. 

Di samping itu, tindakan mengelilingi Ka’bah atau tawaf dilakukan oleh semua jemaah, tetapi doa dan permohonan yang menyertainya bisa berbeda-beda. Kelompok budaya yang berbeda memiliki nyanyian, lagu, atau gaya pembacaan yang unik. Dalam beribadah pun, mereka mengikuti mazhab masing-masing. Misalnya, jemaah dari Asia Selatan mengikuti tradisi Hanafi, sementara jemaah dari Maroko mengikuti praktik Maliki, dan jemaah Asia Tenggara mengikuti Syafi’i. Namun ketika melaksanakan salat berjamaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi semuanya makmum kepada imam sholat berkebangsaan Saudi Arabia yang menggunakan referensi Hanbali. Tidak pernah terlihat adanya perselisihan terkait soal ini.  

Interaksi Antarbudaya
Jemaah haji berkomunikasi dalam berbagai bahasa, dari Arab, Persia, Urdu hingga Swahili, Inggris dan Bahasa Indonesia. Menariknya, Bahasa Indonesia berkembang menjadi lingua franca di pusat-pusat perbelanjaan souvenir dan keramaian lainnya. Para penjaga toko cukup fasih menawarkan dagangan mereka dengan Bahasa Indonesia, diselingi sapaan-sapaan akrab gaya anak muda, misalnya "Apa kabar Besti?" Jangan tanya soal kefasihan mereka menyebut 5, 10, 20, 50 riyal dan seterusnya, seperti di Tanah Abang saja. Di sini, mata uang rupiah pun diterima dengan sangat baik. Mereka menyebutnya sebagai uang Jokowi. Keberagaman dan pertukaran akrab bahasa ini adalah bukti dari sifat global haji.    

Selama haji, makanan yang dikonsumsi jemaah mencerminkan latar belakang mereka yang beragam. Banyak di antara mereka membawa makanan tradisional masing-masing dan memperkenalkannya kepada jemaah lain; menciptakan campuran tradisi kuliner. Para penyedia catering pun berusaha keras menawarkan kuliner khas yang diakrabi masing-masing kelompok jemaah, walaupun warna percampuran internasional selalu terlihat menonjol. Bagi banyak jemaah, bersentuhan dengan kuliner yang memiliki warna percampuran internasional merupakan pengalaman pertama yang akan mereka kenang setelah pulang ke Tanah Air.     

Jemaah sering bepergian dalam kelompok yang diorganisir berdasarkan afiliasi nasional atau budaya. Kelompok-kelompok ini menyediakan jaringan dukungan yang mencerminkan struktur sosial dari negara asal mereka. Mereka datang dari berbagai latar belakang pendidikan dan ekonomi, dari pengusaha kaya dari negara-negara Teluk hingga petani dari perdesaan Afrika. Terlihat potret menonjol tentang solidaritas sekaligus kesenjangan di dunia Islam dalam hal pembangunan dan kemajuan, yang menuntut kerjasama lebih luas Selatan-Selatan, terlebih antarnegara Muslim.    

Tata Kelola Haji
Penggunaan smartphone, aplikasi, dan media sosial oleh jemaah bukan saja mencerminkan integrasi teknologi modern dalam ritual haji, tapi juga menunjukkan bagaimana globalisasi memengaruhi pengalaman haji. Apalagi pemerintah Saudi Arabia memperkenalkan aplikasi nusuk yang, antara lain, memudahkan pendaftaran jemaah haji secara online, menyediakan informasi dan panduan lengkap mengenai ritual haji, mengatur serta mengelola logistik, dan menyediakan layanan komunikasi antara jemaah dan pihak berwenang. Jemaah juga diberikan Smart Card yang menyimpan informasi personal untuk memudahkan pengaturan dan bantuan dalam situasi darurat.  

Cara haji dikelola dipengaruhi oleh kebijakan nasional dan struktur organisasi dari negara asal jemaah. Misalnya, beberapa negara memiliki sistem yang sangat terorganisir untuk pendaftaran dan perjalanan haji, sementara yang lain lebih ad-hoc. Indonesia memiliki organisasi yang tampak paling terstruktur di bawah Kementrian Agama, yang didukung lembaga-lembaga dan kementerian lainnya plus ratusan petugas haji yang mewakili berbagai segmen masyarakat. Menteri Agama sendiri bertindak sebagai Amirul Hajj dalam pelaksanaan haji tahun ini. Beberapa tokoh dari berbagai organisasi dan lembaga keislaman turut mendampingi.  

Jemaah haji Indonesia merupakan jemaah haji terbesar. Jumlahnya mencapai 241.000 orang, dengan rincian 213.320 reguler dan 27.680 haji khusus. Besarnya jumlah jamaah haji Indonesia menghadirkan tantangan tersendiri bagi Kementerian Agama. Namun melalui berbagai kebijakan inovatif dan langkah-langkah antisipatif, semuanya bisa dikelola dengan baik. Jamaah mendapatkan akomodasi dan dapat menjalani ibadah haji dengan khidmat. Berbeda dengan jamaah haji dari negara lain, tidak ditemukan satupun jemaah haji Indonesia yang terlantar di pinggiran toko ataupun lorong-lorong jalan. 

Selama di Makkah, jemaah haji reguler mendapat fasilitas hotel yang cukup nyaman dalam jarak antara 1,5 sampai 8 km dari Masjid al-Haram. Jarak ini bisa ditempuh menggunakan sarana transportasi massal yang disediakan Pemerintah Saudi. Di Madinah situasinya bahkan lebih baik, dengan jarak cukup dekat yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki ke Masjid Nabawi. Begitu juga selama di Arafah dan Mina. Tenda yang ditempati jemaah haji Indonesia dilengkapi AC dan peralatan modern lainnya sehingga cukup nyaman. Problem keterlambatan pengangkutan jemaah dari Arafah ke Muzdalifah dan balik lagi dari Muzdalifah ke Mina tidak dijumpai lagi berkat kebijakan murur yang diterapkan Pemerintah tahun ini.

Petugas-petugas haji Indonesia menyebar di tempat-tempat strategis dengan seragam yang khas. Mereka sigap melayani jemaah, mulai memberi layanan informasi, memandu, sampai menggendong para jemaah haji, terutama lansia atau yang memiliki kondisi fisik dan kesehatan kurang baik. Mereka harus siap setiap saat untuk berganti-ganti tugas, dari pelayanan lansia, misalnya, menjadi pelayanan konsumsi. Para dokter yang menjadi petugas haji juga sigap memberikan layanan kesehatan kepada jemaah. Mereka rutin membuka praktik dan konsultasi kesehatan di hotel-hotel tempat mereka ditugaskan. Dedikasi semua petugas haji Indonesia luar biasa. Secara berkala mereka berkumpul di Daker untuk mengevaluasi dan mengantisipasi situasi yang yang berkembang di lapangan, termasuk mempelajari semua laporan, keluhan dan informasi yang masuk ke Kawal Haji, sistem online inovatif yang bisa diunduh di Playstore atau Appstore.    

Kendala yang Tersisa
Namun sejumlah kendala tetap saja ada. Hal ini terutama karena jumlah jemaah yang datang jauh melebihi daya tampung situs-situs utama pelaksanaan haji. Sebagian mereka mungkin datang bukan dengan visa haji dan izin resmi dari Pemerintah Saudi. Hal ini sering menimbulkan kesemrawutan di beberapa titik, terutama di Masjid al-Haram, Arafah, Muzdalifah dan Mina. Usaha Pemerintah Saudi untuk terus memperluas area Masjidil Haram tampak kalah cepat dengan pertumbuhan jumlah jemaah haji. Di Arafah dan Mina beberapa maktab yang ditempati jemaah haji, termasuk jemaah haji khusus, terlihat overloaded. Kamar mandi dan WC tersedia dalam jumlah terbatas jika dibandingkan dengan jumlah jemaah yang ada. Ada juga beberapa tenda yang mengalami mati listrik sehingga AC tidak berfungsi. 

Namun semua ini merupakan problem yang terkait dengan pengelolaan maktab oleh Mashaer yang ditunjuk oleh Pemerintah Saudi. Ranah penyelesaian persoalan semacam ini juga sebenarnya ada di Pemerintah Saudi. Indonesia atau negara mana pun sering hanya bisa menyampaikan keluhan-keluhan dan protes kepada pihak Mashaer tanpa ada solusi yang tuntas. Problemnya berulang dari tahun ke tahun. Pihak Mashaer mungkin tahu psikologi jemaah haji yang dituntut untuk menahan rasa kecewa dan marah jika menghadapi situasi yang kurang nyaman. Di sinilah usaha-usaha yang dilakukan Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Agama, untuk terus memperbaiki pelaksanaan dan pelayanan haji dengan berbagai inovasi dan terobosan, sekaligus membangun komunikasi yang intensif dengan Pemerintah Saudi patut diapresiasi. 

Noorhaidi Hasan, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
  


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo