Dark
Light
Dark
Light

Diplomasi Orang-orang Indonesia di Timur Tengah ketika Proklamasi RI

Diplomasi Orang-orang Indonesia di Timur Tengah ketika Proklamasi RI

Hingga tahun 1940-an, sejumlah kecil orang Indonesia sudah berdiaspora di banyak negara di seluruh dunia. Sebagian dari mereka adalah mahasiswa, pedagang, aktivis, atau pekerja. Perihal ini berarti, tatkala Revolusi Indonesia berkobar, ada individu-individu di luar negeri yang dengan kunjung menunjuk diri sebagai perwakilan dari perjuangan Indonesia. Seperti yang terjadi di Australia, orang-orang Indonesia yang sudah mengasingkan diri di negara itu mendapatkan dukungan dari gerakan buruh secara keseluruhan.

Orang-orang Indonesia juga menggarap perjuangan negara baru itu di Amerika Serikat, Republik Ceko, dan Timur Tengah. Jumlah orang Indonesia di Timur Tengah lebih besar tinimbang di wilayah-wilayah lain. Meningkatnya keterkaitan Dunia Islam pada periode ini turut memfasilitasi kenaikan pesat jumlah orang Indonesia yang berangkat haji ke Makkah atau belajar di Hijaz, Kairo, dan majelis-majelis belajar liyan.

Walakin, meski berada nun jauh dari kampung halaman, hubungan mereka tidak terputus. Tahun 1920-an dan 1930-an, para mahasiswa Indonesia di Kairo sangat aktif dalam organisasi-organisasi nasionalis dan menerbitkan jurnal-jurnal berbahasa Melayu tentang agama dan isu-isu politik.

Dengan fondasi ini, tidak mengejutkan bahwa orang-orang Indonesia di Dunia Arab sangat aktif mempromosikan Indonesia selama masa revolusi. Tema kunci yang mereka gunakan untuk pelbagai upaya diplomatik Indonesia ialah ukhuwah islamiah (persaudaraan Islam).

Kelompok masyarakat yang memelopori perjuangan Indonesia di Timur Tengah adalah para mahasiswa. Walaupun banyak di antara kelompok ini sudah aktif dalam organisasi kesejahteraan atau keilmuan si pusat-pusat pembelajaran penting sebelum Perang Dunia II, peran mereka bertransformasi kunjung menjadi organisasi-organisasi lobi tahun 1945. 

Islam menjadi elemen penting dalam kelompok-kelompok itu, membangun solidaritas di antara anggotanya dan memberi basis teologis bagi semangat untuk membebaskan Indonesia dari kekuasaan kolonial non muslim. 

Islam juga penting untuk memperkuat diri bagi anggota di luar kelompok-kelompok mereka, yaitu kepada masyarakat muslim di Timur Tengah.

Sejarawan Kevin W. Fogg dalam bukunya Indonesia’s Islamic Revolution (2020: 208-10) meneroka bahwa tahun 1945, ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, organisasi-organisasi muslim Asia Tenggara aktif di seluruh Timur Tengah. Di Mesir, kelompok yang menonjol adalah Persatuan Pemuda Indonesia-Malaya (Perpindom), yang dibentuk di kalangan mahasiswa, tapi juga memasukkan para sarjana yang masih tinggal di negara itu. 

Menurut sebuah catatan surat kabar pada Juli 1946, ada sekira tujuh puluh mahasiswa Indonesia di Mesir yang sudah tinggal di sana saat Perang Dunia II, berjuang menghadapi kekurangan pangan dan tidak ada komunikasi dengan kampung halaman mereka (Laffan 2003).

Populasi Indonesia terbesar di Timur Tengah ada di Arab Saudi–antara 3.500 sampai 4.000 saat permulaan revolusi–dan mana perkumpulannya adalah Persatuan Talabah Indonesia-Melayu (Pertindom). 
Irak menjadi pos terdepan yang jauh lebih kecil, tapi di sana tetap punya kelompok sendiri, yaitu Majlis Kebangsaan Indonesia-Malaya (Makindom, Dewan Nasional Indonesia-Malaya), yang berpusat di Bagdad.

Salah satu aktivis di Kairo membandingkan kelompok-kelompok mahasiswa dengan pusparagam latar belakang ini dengan milisi-milisi yang marak membela kemerdekaan Indonesia di kampung halaman. Kampanye penyiaran di Kairo langsung dimulai pasca berita proklamasi kemerdekaan sampai ke mereka pada September 1945 (hampir sebulan setelah proklamasi karena sensor Sekutu mengenai isu ini). Orang-orang Indonesia di sana menyebar ke mana-mana untuk menyampaikan informasi perihal perjuangan kemerdekaan negaranya sekalipun mereka belum punya informasi saksama. 

Hal ihwal ini menyebabkan sebuah buku dalam bahasa Arab dengan judul Indonesia ath-Thawrah (Indonesia dalam Revolusi) terbit, yang sebagian episodenya dikarang-karang, seperti proklamasi kemerdekaan oleh Sukarno di depan massa di lapangan pusat Jakarta (faktanya, proklamasi terjadi di hadapan sekelompok kecil di sebuah rumah di pinggir jalan raya besar).

Koordinasi perdana antar-berbagai organisasi Indonesia di seluruh Timur Tengah terjadi pada November 1945. Dengan memanfaatkan musim haji, para tokoh Perpindom, Pertindom, dan Makindom bertemu di Makkah titimangsa 13 November untuk mengoordinasikan pelbagai upaya mereka. Mereka semua mufakat mengikuti program politik yang ditetapkan di Kairo karena mereka melihat Kairo sebagai pusat diplomatik Dunia Arab.

Setelah kontak tatap muka ini, organisasi-organisasi dapat saling berkomunikasi dengan bantuan duta besar Irak di Kairo, yang membolehkan orang-orang Indonesia menggunakan keamanan pos diplomatiknya untuk bertukar informasi secara jenjam dari mata-mata Belanda.

Ketika memulai upaya-upaya untuk meningkatkan profil perjuangan nasional mereka, kelompok-kelompok ini kerap menggunakan simbol-simbol Islam. Contohnya, dalam bulan-bulan terakhir 1945, masyarakat Indonesia di seluruh wilayah itu meyakinkan masjid-masjid di negara-negara Arab mendirikan sembahyang-sembahyang khusus untuk “arwah syuhada Indonesia di Surabaya,” setelah pertempuran besar.

Muslihat serupa dijalankan belakangan, saat kematian ulama Islam terkemuka di Surabaya, seorang tokoh Muhammadiyah, KH Mas Mansur. Komite Kairo menjadikannya poin propaganda “merendahkan perikemanusiaan Belanda dan sekutunya Inggris” bahwa korban semacam itu terjadi di bawah pengawasan mereka.

Para mahasiswa dalam organisasi itu dilaporkan “menulis di surat kabar lokal Mesir, menghadiri pertemuan-pertemuan politik di Kairo, dan menemui tokoh-tokoh politik penting untuk meminta dukungan mereka bagi kemerdekaan Indonesia (Abaza 1994: 82).

Dengan sungguh-sungguh, mereka menggunakan Islam sebagai faktor mobilisasi. Saat menyampaikan pesan ke para menteri luar negeri Arab ketika revolusi dimulai, para mahasiswa Indonesia dengan sengaja menyebut Islam dalam melukiskan negara mereka: tokoh mahasiswa M. Zein Hassan berwicara tentang Indonesia sebagai negara “70 milyun di antara 90% tersusun dari kaum muslimin,” atau setara dengan “negara Islam timur ini”.

Dalam rangka mendukung pelbagai upaya penyiaran mereka sendiri, seperti dikisahkan M. Zein Hassan dalam bukunya, Diplomasi Revolusi Indonesia di luar Negeri (1980: 275), orang-orang Indonesia di Kairo membentuk organisasi untuk memobilisasi suara Arab pendukung kemerdekaan Indonesia. Kelompok ini dibentuk pada Oktober 1945, dinamai Komite Pembela Indonesia (Lajnatud Difa’i ‘an Indonesia). Anggota-anggotanya meliputi para tokoh dari masyarakat Arab, seperti ‘Abd Al-Rahman ‘Azzam (kerap disebut dengan nama Azzam Pasha dalam catatan-catatan Indonesia), sekretaris jenderal Liga Arab, dan Habib Bourguiba, yang kelak menjadi presiden Tunisia.

Untuk menyebarkan tujuan-tujuan komite ke pemerintah-pemerintah, ketua kehormatan, Jenderal Saleh Harb Pasha, berkali-kali menyebut “ukhuwah islamiah” sebagai tujuan motivasinya, dengan menunjukkan pentingnya ide ini bagi hubungan-hubungan diplomatik.

Demikian halnya, seorang bekas duta besar Mesir di London, Dr. Hafiz Afifi Pasha, setuju membantu lobi atas nama Indonesia di sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Inggris tahun 1946, yang dilaporkan karena terinspirasi fakta bahwa orang-orang Mesir dan Indonesia memiliki agama, tradisi, dan tujuan yang sama. Strategi ini terbukti efektif di Mesir. 

Orang-orang Mesir berpartisipasi dalam memboikot kapal-kapal Belanda, dan bahkan memperdaya serta mengerubungi kapal-kapal Belanda yang sedang melewati Terusan Suez untuk mencegah mereka mengangkut muatan-muatan baru. Pada akhir September 1946, surat kabar Ichwanoel Moeslimin menayangkan editorial mendukung pengakuan Republik Indonesia. 

Para mahasiswa Indonesia melaporkan bahwa partai-partai politik Mesir dari lintas pandangan politik, dari partai nasionalis Wafd sampai partai sosialis Misral-Fatah dan bahkan komunis bekerja bersama mereka untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Meskipun bekerja dengan berbagai lapisan masyarakat, simpati di kalangan mahasiswa Indonesia paling banyak diberikan kepada organisasi persaudaraan muslim itu, sebuah lukisan yang dapat mendedahkan mengapa mereka fokus pada ukhuwah islamiah dalam diplomasi publik mereka.

Arkian, ketika negara Indonesia sebagian besar menjauhi nasionalisme Islam, dan perkembangan utama di antara politikus Islam terjadi di antara lembaga-lembaga Islam, bukan di pusat pemerintahan anyar, diplomasi adalah tanah istimewa di mana Islam memainkan peranan hakiki–meskipun jarang diakui–dalam pembentukan Indonesia merdeka.

============ 
Baca artikel terkait PERSPEKTIF atau kumpulan tulisan dari MUHAMMAD IQBAL
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo