Karim Shaheen, redaktur media New Frame, menulis sebuah artikel dengan judul yang menggembirakan bagi sebagian anak muda muslim milenial, “The Danger of Hagiography as History”. Di dalamnya Shaheen menceritakan tentang bagaimana umat Islam memiliki hobi: menyangka mitologi atau legenda sebagai sejarah. Dari awal paragraf Shaheen sudah nge-gas menyerang pandangan kaum muslimin yang hobi mengimani para sahabat, para pengikut sahabat dan ulama di masa lalu sebagai manusia yang bebas dari egoisme, tanpa kepentingan duniawiah dan semata mencari kemurahan Allah SWT. “Terkadang hubungan muslim modern dengan masa lalu umat Islam terasa kental aspek hagiografisnya,” lanjutnya sambil mengutip Talha Ahsan, seorang muslim mantan-penganut ideologi jihadis. “Jalan yang benar ke depan adalah jalan sejarah, bukan hagiografi.”
Pernyataan asertif Shaheen mengingatkan pada penelitian beberapa antropolog yang meneliti masalah kesalehan umat Islam dalam kehiduapan sehari-hari dengan mengandalkan teknologi berupa pita kaset yang berisi ceramah agama. Di mana Islam cenderung digambarkan sebagai pranata supra-sejarah, mengejar lajur keberislaman yang murni dan tanpa debu sejarah. Walaupun sangat ortodoks dan anti-sejarah, para antropolog itu menemukan aspek kesalehan yang terawat dalam proses pergulatan umat Islam dengan modernitas dan sekularitas dengan kasus kaset pengajian.
Sebutan hagiografi dalam tulisan Shaheen juga menunjukan pada pengertian hagiografi dalam tradisi keagamaan tertentu sebagai biografi khusus orang-orang istimewa, orang-orang suci yang di Barat disebut sebagai “saint” dan di Indonesia disebut sebagi wali (dari bahasa Arab), yaitu orang suci yang mendapatkan kemurahan Allah SWT. Hagiografi sendiri adalah suatu genre penulisan tentang tokoh suci di dalam tradisi di luar Islam. Biasanya berisi sejarah singkat yang disertai dengan keramat atau kemampuan supranatural. Penting ditegaskan bahwa dinamika dari genre tabaqat tidak sejajar dengan dinamika hagiografi, walaupun kemudian karena sejak abad sebelas Masehi genre thabaqat shufiyah berkembang luas dengan memiliki karakter penulisan yang dekat dengan gendre hagiografi, maka sekarang ada kecendrungan mensejajarkan antara genre tabaqat dengan hagiografi.
Jawid A. Mojaddedi dalam The Biographical Tradition in Sufism: The Thabaqat genre from al-Sulami to Jami’ (2011), bahwa kitab-kitab thabaqat itu ‘it seem etanable the immediate equivalence of word and world’. Kitab thabaqat dalam tradisi kelimuwan Islam cenderung tidak sepadan “antara kata dengan dunia”, tidak sepadan antara siapa yang digambarkan dengan konteks duniawiahnya. Mojaddedi melanjutkan bahwa genre thabaqat harus lebih dilihat kembali pada fungsinya di masa penyusunannya, dan jika dilihat dalam sudut pandang penulisan biografi modern dan sejarah modern sangat memerlukan redefinisi dan restrukturisasi yang merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Hal senada disampaikan oleh Hamid Algar dan pakar lainnya di bidang penulisan sufisme Islam.
Jangankan disejajarkan dengan penulisan sejarah, genre thabaqat tidak masuk ke dalam klausul penulisan biografi dalam pemahaman modern. Genre thabaqat merupakan percampuran dari upaya mengumpulkan ingatan dan mengambil pelajaran dari kehidupan seorang tokoh penting dalam sejarah Islam. Di mana ada apek faktul histioris tidak menjadi orientasi utama, tapi lebih pada pendekatan cerita sebagai upaya menangkap pelajaran dari kehidupan seorang tokoh suci di masa lalu. Dan terpenting, penulisan kitab dengan genre thabaqat di masa lalu merupakan pekerjaan pakar sastra dalam pengertian sejatinya (sastra tinggi dalam pembagian modern) dan menunjukkan adanya stablitas sosial ekonomi di tengah umat Islam. Suburnya penulisan kitab thabaqat terjadi pada masa desentralisasi kekuasaan Islam menjadi berbagai kekuasaan dinastik yang tersebar dan relatif stabil secara politik sehingga setiap sentra kekuasaan memiliki gaya intelektual yang berbeda satu sama lainnya.
Dalam tradisi intelektual Islam di masa lalu, umat Islam mengenal genre penulisan biografi khusus tentang tokoh-tokoh penting dalam berbagai bidang ilmu-ilmu agama, seperti ilmu tasawuf, aqidah dan fikih. Kitab-kitab biografi khusus ini dikenal sebagai kutubut-thabaqaat: kitab-kitab thabaqat shufiyah atau thabaqat fiqhiyah. Di mana thabaqat sendiri merupakan penulisan tentang biografi khusus tentang seseorang yang berpengaruh dalam bidang keilmuan dan ruhani yang perkembangannya sebagai genre penulisan biogarfi khusus lebih kental dipengaruhi oleh genre penulisan yang berkembang di tengah umat Islam di masa lalu, terutama perkembang ekstensif dari ilmu-ilmu hadis yang mengandalkan keakuratan mata rantai pelaporan atau transmisi hadis di masa lalu.
Di luar kesarjanaan hadis, kitab-kitab thabaqat sangat dipengaruhi oleh genre penulisan sejarah dari kehidupan Rasulullah SAW yang menjadi poros dari pergulatan sejarah umat Islam. Kesarjanaan hadis memberikan bentuk dari genre thabaqat, sementara penulisan sejarah kehidupan Rasulullah memberikan matra kerendahatian dalam menulis figur besar dalam sejarah Islam. Hal inilah yang ditegaskan oleh Annamrie Schimmel ketika menulis persona Rasululllah SAW dalam bukunya, And Muhammad is His Mesengger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety (1985), “ …Tak perlu diperdebatkan lagi bahwa banyak sekali legenda-legenda yang diciptakan di seputar intisari bahan faktualnya, tetapi kharisma seorang pemimpin keagamaan yang sejati dapat dilihat dengan lebih baik dari legenda-legenda semacam itu dari pada fakta-fakta kering mengenai kehidupannya, fakta-fakta yang selalu cenderung untuk ditafsirkan oleh penulis biografi sesuai dengan sudut pandang tertentu yang dipilihnya.”
Menurut Schimmel, pencarian aspek-aspek faktual-historis tentang tokoh penting, dalam kasus ini adalah Rasulullah SAW, dalam sejarah Islam tidak perlu terganggu oleh legenda-legenda yang terbentuk di seputarnya. Schimmel menyebutkan bahwa “pencarian akan Muhammad yang historikal” adalah, sebagaimana dibuktikan oleh telaah-telaah tentang kehidupan Rasulullah SAW yang tidak terhitung jumlahnya, suatu pekerjaan yang mustahil. Legenda-legenda itu berhimpun di seputar persona seorang tokoh tidak karena semangat historis dalam cita rasa modern. Schimmel hanya mengingatkan bahwa terkait penulisan sejarah tokoh penting dalam agama Islam tidak perlu memiliki tendensi sejarah an-sich karena hal itu tidak mampu menangkap aspek imajinatif lain dari aspek kehidupan sang tokoh tersebut. Dan penulis sejarah modern tidak perlu terganggu dengan aspek-aspek mitologis (dalam pengertian dongeng dan legenda) yang berkembang di suatu komunitas muslim karena genre ini memiliki alasan keberadaanya sendiri. Tumpukan kitab-kitab thabaqat, mu’jam dan tarikh dalam sejarah Islam hampir terkesan merupakan kumpulan atau antologi yang tersusun beragam yang lebih menunjukkan alasan sejarah yang memungkinkan proses kehadirannya dalam sejarah umat Islam, yakni ada stabilitas politik dan ekonomi yang relatif. Dengan adanya stabilitas ekonomi dan politik di masa lalu, para intelektual muslim pada masa mengisi ‘waktu luang’ dan ‘hidup santai’ mererka dengan menulis apa saja yang mereka anggap penting.
Di sini kita akan fokus dengan genre thabaqat shufiyah yang umum dikenal dalam masyarakat Islam. Di antara yang termasuk awal adalah dua kitab thabaqat shufiyah yang disusun oleh Syaikh Abdurrahman Sulami (w. 412/102i M) yang dari kota Nisapur (bagian Afgahnistan dan Iran hari ini). Sulami menulis satu thabaqat shufiyah dari kalangan laki-laki, sebanyak 104 guru sufi generasi pertama sampai generasi ketiga. Kitab thabaqat shufiyah Sulami disertai dengan kitab zikru an-niswatil muta’abiddaatis shufiyah: sebuah thabaqat shufiyah tentang guru sufi dari kalangan perempuan sebanyak 84 guru sufi perempuan.
Sulami sendiri adalah seorang guru sufi aliran Khurasan yang merupakan putra dari seorang tokoh Malamatiya Khurasan. Memiliki latar belakang keluarga berpengarauh, mapan secara politik dari jalur ibunya. Kitab Thabaqat Shufiyah Sulami menceritatakan kelahiran para sufi awal, disertai gelar dan gambaran pengaruh sang guru sufi pada zamannya berdasarkan sumber pelaporan riwayat yang bisa dipertanggungjawabkan. Sulami menyertakan juga satu atau dua hadis yang diriwayatkan oleh setiap guru sufi di generasi awal. Kemudian diikuti dengan untaian kalimat yang merupakan pendaran dari capaian ruhani setiap tokoh yang ditulisnya. Sulami menggambarkan bagaimana para guru tokoh sufi awal adalah manusia biasa, bukan dari nasab penting, tapi memiliki semangat keilmuan dan perhatian estorik yang kuat sehingga bisa mencapai level guru sufi (syaikh).
Setelah thabaqat Sulami, umat Islam mengenal kitab hilyatul abdal karya Abu Nu’aim al-Isfahani (w. 430 H/ 1038 M). Kitab Al-Isfahani ini terdiri dari berapa jilid dan menjadi salah satu rujukan dan bacaan utama dalam kajian tasawuf, termasuk di Indonesia. Pendapat-pendapat para guru sufi tentang ajaran estorik banyak bersumber dari kitab ini. Keduanya dalam bahasa Arab.
Pada masa yang sama di kalangan umat Islam Persia berkembang penulisan thabaqat shufiyah yang sama, di antaranya sebuah thabaqat shufiyah dalam bahasa Persia yang ditulis oleh Abdullah al-Anshari (w. 481 H/1189M) dan Kasyful Mahjub yang ditulis oleh Abul Hasan al-Hujwiri (w. 465-69H/1072-77 M). Kitab thabaqat shufiyah yang ditulis al-Anshari ini karena dalam waktu yang agak lama tidak terawat, maka di kemudian abad ditulis ulang oleh Mulla Abudrrahaman Jami’ (1414-1492 M) menjadi kitab thabaqat shufiyah yang dikenal sebagai kitab Nafahatul Uns min Hadrat Quds. Jami menulis urutan para guru sufi angkatan pertama sampai angkat ketiga dengan jumlah yang sangat banyak dan ditulisan sangat singkat.
Satu-satunya kitab thabaqat shufiyah yang sedikit lebih diskursif adalah kitab Tazkiraatul Auliya, karya dari guru sufi yang merupakan murid dari Sulami sendiri dan suami dari cucu perempuan Sayyidut Thaaifa Shufiyah, Imam Junaid al-Baghdadi, yakni Abul Qosim al-Qusyairi. Ditulis dalam bahasa Persia yang indah dan memaparkan secara ekstensif tentang para guru sufi, memberikan komentar diskursif tentang ajaran sufisme secara teperinci dan dengan bahasa yang indah.
Dalam pengantar takziraatul auliya, Imam Qusyairi mengingatkan bahwa penulisan tentang para sufi dimaksudkan untuk mengambil berkah ruhani para guru sufi. Bukan untuk tujuan atau orientasi sejarah. Dimulai dengan entri dari guru sufi dari kalangan ahlul bait, yakni Imam Jakfar Shadiq (w. 148 H/765M) dan ditutup dengan kalangan ahlul bait yang merupakan ayah dari Imam Jakfar Shadiq sendiri, yakni Imam al-Baqir bin Imam Zainal Abdin bin Sayyidina Husien. Tazkiratul Auliya tidak disusun secara berurutan, generasi per-generasi, tapi lebih mengutamakan diskursus ajaran dan pelajaran hidup para guru sufi. Dari kalangan ahlul-bait, menurut Imam Qusyairi, mengambil berkah karena perpaduan nasab yang mulia dan akhlak sosial yang mulia pula. Dari para guru sufi lainnya mengambil pelajaran dan berkah karena kemurnian penghambaan kepada Allah SWT.
Apa yang disampaikan oleh Qusyairi dalam pengantar Takzirah bersejajar dengan valuasi dari John Renard dalam pengantar bukunya, Friends of God: Islamic Images of Piety, Commitment and Servanthood (2008), bahwa imajinasi dalam hagiografi Islam (maksudnya kitab thabaqat shufiyah) adalah kunci penting untuk membiarkan kisah-kisah kecil (minor narratives/stories) mengungkap narasi yang lebih besar.
Dilihat dari latar belakang penulisnya, genre thabaqat shufiyah ditulis oleh para sastrawan. Di dalamnya dipersyaratkan soal keindahan bahasa, para penulisnya menuliskan setiap guru sufi dalam bahasa yang indah dan gaya yang personal dan sangat padat.
Banyak tulisan tentang kiai-kiai atau tokoh Islam di Indonesia belakangan tidak disertai cita rasa sejarah dan ketekunan pencarian data walaupun mengklaim sebagai buku biografi dan tidak seperti genre thabaqat karena tidak memenuhi standar penulisan sastra. Apakah ini dampak dari tidak tercapainya ritme-hidup lamban karena belum adanya stabilitas ekonomi-politik umat Islam? Wallahu’alam bishawab.
Hasan Basri Marwah
Kreator Digital, Tinggal di Yogyakarta
Editor: Muhammad Zunus


