“Kebencian tidak akan pernah berakhir dengan kebencian, tetapi hanya dengan cinta kasih.”
(Dhammapada)
Arina.id - Setiap kali lilin menyala dalam perayaan Waisak, umat Buddha di seluruh dunia merenungkan kembali tiga peristiwa suci: kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Siddhartha Gautama. Di Indonesia, terutama di Candi Borobudur, peringatan ini menjadi lebih dari sekadar ritual keagamaan. Ia menjadi simbol spiritual lintas zaman, tempat umat Buddha — dan siapa pun yang mencintai damai — menyulam kembali cinta kasih yang universal.
Namun simbol tak selalu bersuara. Ia hanya bisa “dibaca” oleh yang hati dan pikirannya terbuka. Dan Gus Dur adalah salah satu pembaca simbol paling jernih yang pernah kita miliki. Ia tidak hanya datang ke perayaan Waisak sebagai tamu kehormatan, tetapi sebagai manusia yang percaya bahwa agama sejati adalah yang menghadirkan kedamaian, bukan dominasi.
Borobudur bukan hanya mahakarya arsitektur Buddha Mahayana dari abad ke-8, tapi juga pusaka spiritual Indonesia yang mengandung narasi keheningan, kesadaran, dan pembebasan. Sejak era Orde Baru, perayaan Waisak secara nasional dipusatkan kembali di Borobudur melalui prosesi dari Candi Mendut dan Pawon, membentuk tradisi modern yang memperkuat warisan spiritual ini.
Dalam beberapa tradisi Buddhis, seperti Mahayana dan Vajrayana, umat melakukan fang sheng (pelepasan makhluk hidup seperti burung atau ikan) sebagai simbol kasih sayang terhadap semua makhluk. Meski tidak dilakukan dalam semua aliran, makna universalnya menyentuh siapa pun: melepaskan ego, memberi kebebasan, dan hidup dengan welas asih.
Simbol-simbol ini berbicara dalam bahasa yang hanya bisa dibaca dengan hati. Dalam pendekatan semiotik Roland Barthes, mereka tidak hanya menyampaikan pesan literal, tetapi juga membangun makna budaya yang mendalam: tentang damai, tentang melepaskan, tentang cinta.
Dalam semiotika sosial, Gus Dur bukan hanya pribadi, tetapi tanda. Ia adalah “mitos hidup” (dalam istilah Barthes) yang mewakili keberanian untuk menjembatani yang tak bersua. Kehadirannya dalam forum lintas iman, termasuk Waisak, adalah tafsir atas simbol-simbol itu sendiri: bahwa agama tidak boleh membatasi cinta kasih.
Ia tidak mengutip kitab Dhammapada, tapi hidup dalam semangatnya: bahwa kebencian tidak bisa dihadapi dengan benci. Maka ketika Gus Dur duduk di antara umat Buddha, ia sedang menghidupkan simbol: bahwa perbedaan bukanlah ancaman, tapi jembatan. Bahwa kedekatan batin bisa lebih penting dari kesamaan doktrin.
Dalam kacamata Peirce, Gus Dur adalah indeks sosial: menunjuk langsung pada realitas yang lebih luas—bahwa toleransi bukan sekadar wacana, tapi tindakan nyata.
Jika kita menoleh ke sejarah, kerukunan bukanlah konsep baru di bumi Nusantara. Sriwijaya di abad ke-7 menjadi pusat pembelajaran Buddha Mahayana yang mendunia. Majapahit merangkul keragaman Hindu-Buddha dengan narasi persatuan. Bahkan para wali dalam tradisi Islam Jawa membawa pendekatan akulturatif, bukan konfrontatif.
Gus Dur, dalam banyak hal, mewarisi semangat ini. Bagi Gus Dur, pluralisme bukanlah kompromi, melainkan kenyataan luhur yang harus dirayakan.
Waisak mengajarkan kita bahwa simbol bukan hanya bentuk, tapi gema dari nilai-nilai yang lebih dalam. Lilin yang menyala bukan sekadar cahaya, tapi pertanda bahwa harapan masih ada di tengah gelapnya zaman. Burung yang dilepaskan bukan sekadar ritual, tapi pengingat bahwa hidup sejatinya adalah tentang melepaskan: melepaskan kemelekatan, kebencian, dan ego diri.
Dalam dunia yang gemar memelihara dinding, Waisak menghadirkan ruang untuk jeda. Ia tidak datang dengan suara keras, tapi dengan keheningan yang meneduhkan. Di sinilah kita belajar bahwa spiritualitas tidak selalu bicara dalam khutbah panjang, kadang justru berbisik lembut lewat simbol.
Gus Dur menangkap bisikan itu. Ia memahami bahwa simbol keagamaan bukan untuk dikultuskan, tapi untuk dijadikan jembatan antarhati. Maka ia hadir dalam perayaan Waisak bukan untuk pencitraan, tapi untuk menyampaikan pesan:
Bahwa damai itu nyata, bila kita berani hadir bersama dalam keheningan yang saling menghormati.
Hari-hari ini, dunia sedang terluka. Di belahan barat, perang antara Rusia dan Ukraina terus menelan korban dan menumpuk dendam generasi. Di Asia Selatan, ketegangan India dan Pakistan menyisakan luka antaragama yang belum selesai. Dan di Timur Tengah, Israel dan Palestina terus berputar dalam siklus kekerasan yang tak kunjung berhenti. Ribuan jiwa melayang, jutaan kehilangan rumah—dan kita, menyaksikannya dalam diam yang sering kali terlalu nyaman.
Di tengah kegaduhan itu, Waisak datang membawa pesan sunyi: bahwa dunia tidak butuh lebih banyak suara yang berteriak, tapi hati yang mau mendengarkan.
Bahwa agama tidak perlu dipertarungkan, tetapi dipeluk bersama dalam ruang kemanusiaan yang saling merawat.
Indonesia, dengan segala keberagamannya, punya kesempatan untuk menjadi taman dari damai yang tak bisa tumbuh di tempat lain. Tapi itu hanya mungkin jika kita mau menyalakan simbol-simbol damai itu dari sekarang—di ruang kelas, rumah ibadah, dan meja makan. Mulai dari diri sendiri.
Simbol yang menyala adalah kesaksian. Kesaksian bahwa cinta kasih tidak mengenal batas agama, ras, atau golongan. Dan jika simbol itu terus dinyalakan, maka harapan itu tidak akan padam.
Maka, di tengah dunia yang mudah tersulut oleh perbedaan, kita diajak untuk menjadi penjaga api kecil itu. Bukan dengan teriakan, tapi dengan tindakan. Bukan dengan doktrin, tapi dengan ketulusan.
Sebab di balik setiap simbol yang hening, ada cinta yang sedang berbicara. Di balik setiap perjumpaan lintas iman, ada harapan yang sedang dibangun bersama. Untuk dunia yang lebih damai dan Indonesia yang lebih manusiawi. (*)
Riski Gunawan
Dosen Bahasa Arab dan Kepala Pusat Moderasi Beragama di UIN Raden Intan Lampung. Aktif menulis isu lintas iman, pendidikan, dan budaya spiritualitas Nusantara.
Editor: Muhammad Faizin


