Jika dilihat secara saksama, perkembangan sains kealaman kita cenderung bergerak dengan kehadiran buku-buku yang diterjemahkan oleh sederet nama penerbit. Penerjemahan yang secara periode waktu berselang, bisa menunjukkan bukti bahwa terhadap sains kita mudah tertinggal. Alih-alih demikian, dalam wacana-wacana yang berhembus di publik, tak sedikit pejabat menjadikan sains sebagai slogan penuh klise.
Wacana sains kealaman salah satunya berhubungan dengan krisis iklim. Terdapat buku penting garapan Elizabeth Kolbert, Kepunahan Keenam: Sebuah Sejarah Tak Alami (Gramedia Pustaka Utama, 2020). Terjemahan bahasa Indonesia berselang enam tahun dari terbit untuk pertama kalinya. Buku itu memberi pembabakan penting akan masa kepunahan yang dihadapi oleh makhluk hidup di Bumi.
Di sana kita mendapatkan pengisahan mengenai kepunahan keenam dalam konteks sejarah dan perubahan yang terjadi pada lingkungan hidup dengan biodiversitasnya. Dalam sejarah, kepunahan berjalan mengikuti konsep paradigma ala Thomas Samuel Kuhn. Keterlibatan Homo sapiens menjadi kelompok yang turut andil menyebabkannya. Di sanalah kemudian kita mengenal konsep antroposen.
Kolbert mengatakan bahwa antroposen biasanya dikatakan berawal dari revolusi industri, atau barangkali belakangan, dengan ledakan populasi manusia sesudah Perang Dunia II. Kemunculan teknologi menjadi modal kekuatan bahwa yang dipikirkan manusia itu pada penguasaan alam. Cara pandang itulah yang menjadikan manusia tak berpeluang besar dalam merajut akan hubungan selaras terhadap alam.
Kerusakan lingkungan, ketamakan terhadap sumber daya alam, dan eksploitasi kemudian menjadi fakta yang tak dapat ditampik. Hal yang sama kemudian ditegaskan oleh Karen Armstrong dalam buku terbarunya, Sacred Nature: Bagaimana Memulihkan Keakraban dengan Alam (Mizan, 2022). Revolusi industri sedemikian rupa yang menjadikan watak manusia senantiasa terhubung dalam percakapan tanpa jeda menjadi biang munculnya kerusakan terhadap alam.
Saat banyak kota besar kelimpungan dengan perkara polusi, kerusakan lingkungan, dan pencemaran, kita baru sadar akan pentingnya memikirkan keberlanjutan hidup. Hanya saja, realitas tersebut dalam perbincangan publik tidak menitikkan bagaimana membangun percakapan yang intim akan masa depan lingkungan hidup. Ternyata yang kita saksikan bukan refleksi akan kepunahan masa depan. Kita tahu, yang terjadi adalah sengkarut perdebatan tak bertuan.
Celakanya, hal itu kemudian berujung pada politisasi sains. Berkaca dari Jakarta, kita tahu di sana ada perebutan hasrat di antara keberadaan pengelolaan batu bara dengan industri kendaraan listrik. Perdebatan itu bukanlah realitas dalam dunia akademis, walakin sebatas pengedepanan klaim dan tafsir sepihak. Barangkali benar, konsep antroposen yang dalam pandangan umum itu terdiri atas klaim humanisme universal itu perlu diubah.
Itu sebagaimana diungkapkan Siti Murtiningsih melalui esai “Manusia dan Perubahan Iklim” (Kompas, 8 Agustus 2023). Wacana humanisme universal mengaburkan pada konsep antroposentrisme yang kenyataannya menggeneralisir tiap manusia pasti memikul salah. Padahal ada kenyataan lain yang mesti dipahami. Tidak semua manusia itu merusak. Paling dominan dalam hal itu adalah korporasi dengan modal besar.
Tegas Murtiningsih berupa: “Manusia yang bertanggung jawab atas perubahan iklim ini adalah manusia spesifik, bukan manusia keseluruhan. Demikian juga manusia yang paling terdampak perubahan iklim ini manusia spesifik, bukan manusia secara universal.” Pernyataan tersebut sekaligus mengingatkan ungkapan seorang astronom perempuan Amerika Serikat, Ann Druyan dalam buku Kosmos: Aneka Ragam Dunia (Gramedia Pustaka Utama, 2020):
“Ada masa depan yang berbeda, dunia lain yang mungkin. Antroposen dapat menjadi zaman kebangkitan manusia, ketika kita menanggapi tantangan dari kemampuan baru kita serta belajar menggunakan sains dan teknologi canggih namun selaras dengan alam.” Sains sebagai hal yang terus memiliki watak paradoks bagaikan pedang bermata dua. Ia dalam keberadannya menjadi tumpuan manusia yang sudah seharusnya perlu direfleksikan pada keberlanjutan alam.
Barangkali benar, dengan kritik yang diungkapkan sebagaimana di atas, Karen Armstrong melalui buku tersebut mengajak kita untuk menilik sejarah panjang akan ajaran, nilai, dan prinsip yang diajarkan pada tiap agama. Itu tak terlepas bagaimana sains telah lama menyerabut makna akan mitologi itu sendiri—dengan diidentikkan sebagai hal yang tak rasional dan tak masuk akal. Padahal mitos itu memiliki peranan tersendiri dalam kehidupan manusia, tak tekecuali pada upaya menjalin relasi terhadap alam.
Saya jadi teringat dengan kampung halaman saya di Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali. Dalam situasi musim kemarau, selalu menghadapi kekeringan air. Di banyak tempat, khususnya menjadi sumber air, selalu ada mitos yang diwariskan turun temurun. Mitos itu memiliki makna penting agar kawasan sumber air tersebut tidak dirusak dan menjadikan kesadaran banyak orang untuk memikirkan keberlanjutan hidup. Pada akhirnya, dalam konteks perubahan iklim, mereka tak perlu harus diajak berbicara target penurunan emisi karbon maupun batasan kenaikan suhu Bumi.
Justru, yang terpenting adalah mereka dilibatkan dengan kebudayaan pengetahuan yang berkembang di kelompok masyarakat. Ini menegaskan setiap individu memiliki peran dengan porsi masing-masing dalam menyikapi krisis iklim dan masalah lingkungan hidup. Sayangnya, ada hal terlihat lucu saat kita mudah terpukau, bertepuk tangan, dan memberikan apresiasi ketika muncul sekelompok anak muda dalam sebuah komunitas melakukan aksi membersihkan sampah di pelbagai tempat.
Namun, ada sebuah kecurigaan di sana bahwa seakan perbuatan seperti itu adalah tindakan yang langka. Sama halnya ketika ada petugas bandara menemukan uang dan kemudian mengembalikan ke pemiliknya, banyak orang memberi apresiasi. Mungkin, di negeri ini benar, berbuat baik itu perlu viral terlebih dahulu. Berbuat baik belum menjadi kebudayaan. Tak terkecuali respons terhadap permasalahan lingkungan. Kita patut merenungi dan memeriksa batin sedalam mungkin.
Joko Priyono
Fisikawan Partikelir. Penulis “Buku Bersandar pada Sains” (2022)
Editor: Muhammad Zunus


