Dark
Light
Dark
Light

Kita Butuh Reinkarnasi Inul untuk Meruntuhkan Dominasi Blackpink di Indonesia

Kita Butuh Reinkarnasi Inul untuk Meruntuhkan Dominasi Blackpink di Indonesia

Arina.id-- Saya terlambat lahir. Saat Inul Daratista sedang menjadi primadona pers, usia saya baru menginjak empat-lima tahun. Mata dan telinga belum sanggup dan ngeh menikmati badai Inul yang menggelora. Baru di usia 25 tahun ini, saya asik membayangkan perdebatan pro-kontra tentang politik tubuh Inul melalui buku Inul (Bentang, 2003), kumpulan tulisan dari banyak tokoh. Menarik! Ada yang mengapresiasi, mendukung, mencibir, hingga boikot.

Pada waktu itu, orang-orang yang banyak kontra dan memboikot Inul berasumsi kalau goyangan penyanyi dangdut itu akan membawa banyak mudarat dan mengancam moralitas bangsa. Sebenarnya saya heran, tidak ada Inul, moralitas bangsa juga pada saat itu anjlok, bahkan hingga sekarang. Artinya, ada beragam faktor yang memicu persoalan moral bangsa, bukan sekadar karena ‘goyangan’.

Konon, dalam meraih keberhasilan kariernya, Inul melesat bak roket yang bergerak cepat mengobrak-abrik beragam tatanan industri hiburan yang saat itu kaku dan politis. Inul melaju dengan modal suaranya yang apik, goyangannya yang aduhai, dan parasnya yang penuh percaya diri. Ia menaklukan industri hiburan Indonesia dan terus merambat hingga ke luar negeri. Namun sayangnya, ketenaran Inul lekas dihadapkan dengan nilai agama, moralitas, tata krama dan lain sebagainya. Kaku dan amat konservatif!

Orang-orang yang mencekal, memboikot, dan melarang fenomena Inul hanya melihat dari satu sisi, mereka tidak menengok sisi lain dari sosok Inul, misalnya dari ruang politik, ekonomi, dan kebudayaan. Ruang-ruang tersebut sebenarnya amat berpotensi menjadi sumber income dan kendaraan bagi negara untuk menembus hiburan global. Namun, fakta-fakta itu mungkin tertutup oleh riuhnya perdebatan soal moralitas.

Hanya segelintir orang yang menyadari potensi besar dari fenomena Inul untuk kebaikan bangsa dan negara. Beberapa di antaranya adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Gus Mus, dan Gadis Arivia. Bentuk perhatian Gus Dur adalah ikut melindungi dan membela Inul dari serangan MUI, FBR dan Rhoma Irama. Lukisan bertajuk Berdzikir Bersama Inul (2003) karya Gus Mus juga mengandung hal serupa.

Gadis Arivia dalam sebuah acara seminar di UGM, turut bersuara bahwa Inul telah mendapatkan subjektifitas atas tubuhnya (goyangannya), terutama ketika Inul diwawancarai oleh Times saat goyangan ngebornya dicekal oleh para agamawan dan tokoh agama, Inul menjawab bahwa kenapa saya yang harus malu, seharusnya mereka yang malu karena punya pikiran jorok.

Hadirnya Era Blackpink
Saya menjadi saksi kehadiran Blackpink, girlband Korea Selatan yang pertama kali muncul pada tahun 2016, kurang lebih sepuluh tahun setelah Inul menguasai panggung hiburan Indonesia. Kelompok ini beranggotakan Lisa, Rose, Jennie Kim, dan Kim Ji-soo. Konon, mereka melalui karantina yang panjang, sekitar enam tahun, sebelum benar-benar siap terjun ke dunia industri hiburan.

Penggemar Blackpink tumbuh subur di berbagai negara. Melintang antar usia dan status sosial. Saya termasuk bagian di dalamnya. Siapa yang tidak suka melihat wajah mereka yang bening, gerakan tubuh yang sangat enerjik (bisa meliuk-meliuk bagai ular) dan ditopang suara yang merdu. Mereka adalah paket komplit dalam dunia industri hiburan. Tapi, ditengah kesenangan itu, saya juga menyempatkan untuk berpikir sejenak

Blackpink telah melahirkan efek yang dampaknya tidak main-main. Mereka tidak hanya sekadar girlband yang bergoyang dan bernyanyi di atas panggung. Dalam tubuh Blackpink mengandung misi penyebaran bahasa, teknologi, dominasi fashion, standar kecantikan, dan kebudayaan negara asal.

Dalam ruang bahasa, hampir kebanyakan bahasa Korea Selatan memenuhi isi lagu-lagu mereka. Anak-anak, remaja, dan orang tua yang gandrung terhadap girlband itu kerap lebih fasih dan bergairah melafalkan bahasa negeri gingseng ketimbang bahasa ibu sendiri. Jumlah ketertarikan masyarakat untuk mempelajari bahasa Korea juga semakin meningkat seiring merebaknya tren hiburan Korea.

Blackpink juga membawa misi teknologi dalam setiap penampilannya. Tubuh mereka memikul Samsung. Brand Samsung adalah salah satu produk hasil tangan Korea Selatan. Mereka mendongkrak perekonomian negara melalui panggung demi panggung.

Beberapa tahun setelah debut pertamanya, keempat member Blackpink juga memonopoli selera masyarakat global. Sejumlah merek yang menguasai fesyen dunia tunduk di wajah dan pesona tubuh mereka, sebut saja Dior (Jisoo), Jennie (Chanel), Lisa (Celine), Rose (Saint Laurent) dan beberapa merek lainnya. Ini belum ditambah dengan tren kecantikan yang makin mengukuhkan Korea Selatan sebagai kiblat. Masih sangat panjang daftar Blackpink effect bagi dunia yang memberikan keuntungan melimpah bagi Korea Selatan baik dari sisi kebudayaan maupun ekonomi.

Sekarang kita akan kembali ke Inul. Saya tidak begitu menemukan banyak perbedaan antara Inul dan member Blackpink. Mereka sama-sama memiliki kekuatan untuk menarik dan menyihir penonton dengan paras, suara, dan tubuhnya. Hanya bedanya, Korea Selatan sangat paham potensi yang bisa terus diperas hingga tetes terakhir. Sementara Indonesia, sayangnya terlalu cepat menggunakan standar moralitas, menutup mata dari segala kemungkinan lain.  

Negara kita gagal mengambil kesempatan untuk ikut membersamai ketenaran Inul sebagaimana Korea Selatan menggandeng Blackpink. Nasi kini terlanjur menjadi bubur, sejarah pernah menolak Inul di rumahnya sendiri. Namun kini, ratusan Inul Impor dengan berbagai misi tumbuh subur di Indonesia, dan negara tidak bisa berbuat apa-apa.

Semoga segera muncul kembali Inul Indonesia, yang memiliki daya saing tak kalah dari girlband-girlband Korea Selatan. Traumatik sejarah akibat pandangan yang begitu kolot dan kaku mudah-mudahan tidak mengubur sosok-sosok lokal yang memiliki potensi besar untuk tumbuh dan memberikan keharuman bagi rumah asalnya. 
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo