100 hari jelang pemilihan presiden, publik Amerika Serikat tiba-tiba dikejutkan upaya pembunuhan terhadap calon presiden Partai Republik, Donald Trump. Presiden Amerika periode 2016-2020 itu hampir saja tewas ketika ia sedang kampanye di Butler, Pennsylvania, 13 Juli 2024.
Beruntung bagi Trump, peluru yang dilepaskan pemuda berusia 20 tahun bernama Thomas Matthew Crooks itu meleset. Tembakan Crooks hanya menyerempet kuping Trump. Ia berdarah di bagian telinga kanan. Namun Trump bangkit, mengepalkan tangan. Sementara Crooks tewas di tempat oleh peluru agen secret service.
Belum reda gonjang-ganjing yang timbul akibat peristiwa penembakan Trump, publik Amerika kembali terhenyak ketika kandidat presiden terkuat Partai Demokrat, Joe Biden mendadak mengundurkan diri.
Usulan supaya Biden mengurungkan niatnya maju dalam pilpres sebenarnya telah lama menggelinding sebelum keputusan tersebut resmi diambilnya pada 21 Juli 2024 ini. Sejumlah tokoh internal Demokrat seperti Nancy Felosy, Hakeem Jeffries dan Chuck Schumer sejak beberapa waktu terakhir secara terbuka menyampaikan keraguannya kepada Biden untuk maju kembali bersaing November mendatang. Faktor kesehatan dan usia menjadi penyebab mengapa keraguan kepada Presiden AS ke 46 ini muncul.
Keraguan terhadap kemampuan Biden tidak hanya berkembang dalam diri elite Partai Demokrat. Publik Amerika secara luas pun nyatanya ikut meragukan performa Biden. Brian Bennett dan Philip Elliott dalam “Why Joe Biden Dropped Out?” yang dimuat di Time menulis bahwa mayoritas warga AS merasa kalau Biden terlalu tua untuk ikut berkontestasi dalam pemilu dan menjalankan pemerintahan ke depannya. Keraguan ini makin mengkristal setelah Biden dalam beberapa penampilan publiknya, secara mencolok memperlihatkan berbagai tindakan yang keliru, seperti menyebut Vladimir Putin sebagai Presiden Ukraina, mengatakan Kamala Harris sebagai Wakil Presiden Donald Trump, dan terlihat kebingungan ketika menghadiri acara di sebuah gereja di Harrisburg, Pennsylvania.
Berangkat dari performa minor Biden tersebut, desakan kepadanya untuk mundur dari pencalonan menjadi semakin menguat. Desakan ini kemudian mendapat momentum ketika tragedi penembakan terhadap Donald Trump terjadi. Meskipun Biden tidak terbukti sebagai dalang penembakan, namun opini publik yang berkembang di AS secara tersirat menempatkan Biden sebagai sasaran tembak atas peristiwa itu.
Situasi demikian berdampak pada elektabilitas Trump yang semakin populer. Terbukti dari polling yang dilakukan Associated Press di hari yang sama dengan hari saat Trump tertembak di Butler. Dari survei yang dilakukan, terungkap bahwa 7 dari 10 voters berpendapat kalau Biden seharusnya mundur dari pencalonan presiden. Survei juga mengemukakan kalau 65% anggota Partai Demokrat berpikiran bahwa Biden sebaiknya mundur dari kontestasi presiden AS.
Pengunduran diri Biden, secara tidak langsung mereset ulang peta politik dalam pemilu AS. Donald Trump dan tim suksesnya yang selama beberapa waktu terakhir menyerang Biden, kini mulai harus mengkalkulasi ulang strategi politik yang akan digunakan, karena Joe Biden yang selama ini menjadi rival justru keluar dari gelanggang pertempuran.
Persebaran Capres Republik dan Demokrat
Sebelum Donald Trump ditetapkan secara resmi sebagai kandidat presiden dari Partai Republik, sebenarnya ada tujuh orang yang secara serius menyatakan kesediannya untuk menjadi calon presiden, yaitu mantan Gubernur Florida, Ron DeSantis; Nikki Haley, mantan Dubes Amerika untuk PBB; pengusaha bioteknologi Vivek Ramaswamy; mantan Gubernur Arkansas, Asa Hutchinson; dan mantan Gubernur New Jersey, Chris Christie, di samping Donald Trump sendiri.
Dari ketujuh nominator, konvensi grand old party (GOP)—sebutan lain dari Partai Republik—yang diadakan di Milwaukee, Witconsin pada 13-15 Juli 2024, secara bulat menetapkan Donald Trump sebagai perwakilan resmi Partai Republik. Trump sendiri juga telah menunjuk Senator Ohio, JD Vance untuk mendampinginya sebagai calon wakil presiden dalam pemilu mendatang.
Sedangkan di kubu Partai Demokrat, belum ada nama resmi yang akan diusung sebagai kandidat presiden dalam pilpres akhir tahun ini. Keputusan siapa yang bakal dicalonkan baru akan diumumkan dalam Konvensi Partai Demokrat 19 Agustus mendatang di Chicago. Menuju hari-H konvensi, prediksi mengenai siapa tokoh yang bakal diusung Demokrat terus berjalan dinamis. Kamala Harris digadang-gadang menjadi calon terkuat setelah Joe Biden mengundurkan diri. Biden sendiri memang telah mengatakan kalau Kamala Harris adalah calon terbaik untuk menggantikan dirinya.
Tapi pada realitasnya, di internal Partai Demokrat, Kamala Harris bukan satu-satunya nominator presiden yang berpeluang mewakili Demokrat. Ana Faguy dan Madeline Halpert menulis dalam reportase di bbc berjudul, “Who could be Kamala Harris's running mate?” bahwa setidaknya terdapat empat kandidat lain yang juga berpeluang menjadi calon presiden mewakili Demokrat, yaitu Gubernur Michigan dua periode, Gretchen Whitmer, Gubernur California, Gavin Newsom, Menteri Perhubungan di pemerintahan Biden saat ini, Pete Buttigieg, dan Gubernur Pennsylvania, Josh Shapiro.
Pasca pengunduran diri Biden, seluruh kandidat di atas memiliki kans yang sama untuk menjadi kandidat presiden dari Partai Demokrat. Namun banyak pengamat berspekulasi bahwa Kamala Harris adalah kandidat terkuat dari seluruh tokoh Demokrat yang berniat maju dalam pilpres AS 2024. Apabila Kamala Harris pada akhirnya ditetapkan sebagai calon presiden dari Demokrat, maka pemilu Amerika secara resmi akan diikuti oleh Trump dan Harris.
Donald Trump Vs Kamala Harris
Sebelum tragedi penembakan terhadap dirinya di Pennsylvania, Donald Trump oleh para pengamat dinilai memiliki kesempatan menang pemilu lebih besar daripada Biden. Trump dianggap unggul ketika debat melawan Biden, yang sebagaimana diketahui terlihat kebingungan menangkis serangan-serangan Trump. Ketika terjadi upaya pembunuhan kepada Trump, hal itu makin menguatkan prediksi banyak kalangan kalau Trump sangat berpotensi memenangkan pemilu.
Pasalnya, penembakan Pennsylvania ternyata menghasilkan efek domino yang tidak terduga. Tragedi Pennsylvania berdampak positif pada elektabilitas Trump. Simpati publik muncul sebagai buntut peristiwa tersebut. Simpati ini tidak hanya berasal dari internal kubu Republik atau barisan pendukung Trump, melainkan dari para warga AS yang secara background adalah pendukung Demokrat. Mereka yang selama ini tidak suka dengan Trump, karena penembakan itu kemudian cenderung bisa bersimpati kepadanya. Simpati publik ini modal penting untuk meraup suara karena pada faktanya jumlah swing voters atau pemilih yang belum menentukan pilihan cukup besar. Dengan peristiwa penembakan di Pennsylvania, hal itu menjadi keuntungan bagi Trump guna menarik suara mereka.
Selain itu, peluang Trump menang dalam pemilu juga dipengaruhi oleh kekecewaan publik terhadap berbagai kebijakan kontroversial yang diambil pemerintahan Biden beberapa waktu terakhir, seperti dukungan terhadap Israel atas agresi di Gaza dan alokasi anggaran yang sangat besar untuk menyokong Ukraina dalam perang melawan Rusia di saat tingkat pengangguran di AS meningkat, atau kegagalan pemerintah mengelola permasalahan imigran.
Kekecewaan-kekecewaan itu dieksploitasi dengan baik oleh Trump dalam berbagai kritiknya terhadap kebijakan Biden. Trump misalnya pernah mengatakan apabila ia terpilih menjadi presiden, maka perang Ukraina-Rusia akan selesai. Trump juga pernah menyebut kalau dia jadi presiden, dia berjanji akan membatasi para imigran untuk masuk ke AS.
Janji-janji ini cenderung mendapat respons positif karena pada kenyataannya pemerintahan Biden memang mengeluarkan kebijakan-kebijakan kontroversial tersebut. Itulah sebabnya suara-suara yang meminta Biden mundur sebagai calon presiden cukup santer terdengar, jauh sebelum Biden memutuskan untuk benar-benar mundur dari pencalonan. Hal itu belum lagi ditambah oleh kasus percobaan pembunuhan terhadap Trump yang membuat publik makin bersimpati kepadanya. Biden dan Demokrat bisa dikatakan berada pada posisi yang sangat lemah jika dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya.
Namun, jalan Trump untuk menduduki White House tidak semulus yang dibayangkan. Trump masih menemui hambatan yang menghalangi jalannya menjadi presiden kembali. Trump, sebagaimana diketahui terjerat banyak kasus hukum, seperti tuduhan melakukan pemberontakan karena menolak hasil pemilu 2020, konspirasi melawan negara, atau penyuapan. Apa yang dialami Trump, menjadi peristiwa pertama dalam sejarah AS di mana ada calon presiden yang didakwa oleh banyak kasus hukum. Trump masih harus bekerja keras meyakinkan publik bahwa track record yang demikian tidak akan mengganggu kinerjanya ke depan.
Di kubu Partai Demokrat, jika Kamala Harris yang bakal bertarung melawan Trump, hal itu diprediksi bakal membawa angin segar bagi Demokrat. Harris dianggap lebih baik dari Biden dalam urusan menangkis serangan Trump dan pihak Republik. Harris juga dinilai bisa membawa ide-ide baru Demokrat secara lebih populis kepada masyarakat. Hal ini adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh Biden mengingat faktor kesehatannya yang belakangan menurun.
Kamala Harris adalah representasi sempurna dari identitas dan orientasi politik yang selama ini menjadi karakter Partai Demokrat. Harris lahir dari keluarga yang multikultural dan multietnis. Ayahnya berasal dari Jamaika, sedangkan ibunya berasal dari India. Hal itu membuat Harris akan menjadi perempuan kulit hitam pertama yang didaulat sebagai calon presiden apabila nanti terpilih dalam Konvensi Partai Demokrat.
Alex Waddan, peneliti University of Leicester dan Clodagh Harrington (University College Cork) menulis esai di theconversation.com berjudul, “Could Kamala Harris shift the swing states to the Democrats?” Menurut mereka, Kamala Harris punya kemampuan lebih untuk mengurangi pergeseran suara di kalangan swing voters, khususnya mereka yang berasal dari kelompok minoritas.
Kamala Harris dipercayai lebih kuat daripada Biden. Visi politik Demokrat yang selama ini bertendensi punya keberpihakan pada kelompok minoritas dan rentan, terwakili dengan baik oleh Harris yang bisa dikatakan juga berasal dari kelompok tersebut. Selain itu, rekam jejak Harris yang pernah menjadi asisten jaksa wilayah yang berfokus pada isu-isu kejahatan seksual di Oakland, membuat dirinya diyakini punya sensitifitas lebih terhadap persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kelompok rentan saat ini, sekaligus menjadi fokus Partai Demokrat sejak lama.
Itulah sebabnya banyak pengamat menilai bahwa Kamala Harris punya potensi besar untuk memenangkan pemilu nanti dibanding Trump. Pengalaman kerja, kemampuan menyampaikan gagasan, dan latar sosio-historis yang dimilikinya menjadi nilai lebih yang bisa dipakai menarik suara. Apalagi Harris juga bisa dianggap sebagai perwakilan generasi muda dalam dinamika politik AS. Pasalnya 10 tahun terakhir, politik AS didominasi oleh para politisi-politisi yang sudah berumur. Donald Trump walau hari ini terlihat bugar dan energik, nyatanya sudah 78 tahun. Berbanding terbalik dengan Kamala Harris yang berusia 59 tahun.
Jalan Kamala Harris untuk menjadi presiden ke-47 Amerika masih panjang. Ia harus meyakinkan pemilih Partai Demokrat terlebih dahulu bahwa dirinya memang layak diusung dalam pemilu nanti. Semisal nanti benar terpilih sebagai calon presiden, pekerjaan berat telah menanti Harris. Ia harus mengejar ketertinggalan dari Trump dalam berbagai aspek. Ia harus bisa meraih suara para swing voters dan kelompok minoritas yang mulai condong ke kubu Republik supaya memilihnya dalam pemilu. Selain itu, Harris juga harus bisa menjelaskan kepada publik mengenai berbagai program atau kebijakan kontroversial di era Biden yang memantik kekecewaan sebagian masyarakat. Jika ia bisa melakukan itu, bukan tidak mungkin Kamala Harris akan menjadi wanita kulit hitam pertama yang menjadi Presiden AS.
Willy Vebriandy
Alumni UIN Sunan Kalijaga. Penulis lepas. Salah satu penulis dalam Antologi Esai berjudul, Menatap Lukisan Gus Dur (Yogyakarta: 2021).
Editor: Muhammad Zunus


