Dark
Light
Dark
Light

Gen Z dan Sumpah Pemuda: dari Ikrar Persatuan ke Tantangan Kebermaknaan

Gen Z dan Sumpah Pemuda: dari Ikrar Persatuan ke Tantangan Kebermaknaan

Dari nasionalisme simbolik menuju nasionalisme solutif, dari kebanggaan identitas menuju keberanian memberi dampak, dan dari “Kami Putra dan Putri Indonesia” menuju “Kami Generasi Indonesia yang Bertanggung Jawab.”

***

Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah peristiwa monumental yang menyalakan kesadaran nasional, bahwa Indonesia hanya bisa berdiri kokoh di atas semangat persatuan dan cita-cita bersama.

Para pemuda kala itu menembus sekat kedaerahan dan kolonialisme dengan tekad sederhana: “Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.”

96 tahun kemudian, kita bertemu generasi baru, Generasi Z, yang oleh Hasanuddin Ali dalam whitepaper “Gen Z Indonesia: The Game Changer” disebut sebagai generasi digital-native yang kini menjadi poros sosial, ekonomi, dan kultural Indonesia.

Jika pemuda 1928 berjuang melawan penjajahan fisik, maka pemuda 2025 berjuang melawan kolonialisme bentuk baru: arus informasi yang tak terkendali, polarisasi digital, tekanan sosial, dan kehilangan arah makna.

Mereka hidup dalam zaman yang serba cepat, di mana jari lebih dulu bergerak sebelum pikiran sempat berhenti.

Dan justru di sinilah tantangan besar itu lahir: bagaimana semangat Sumpah Pemuda bisa tetap hidup dalam generasi yang terbiasa dengan kecepatan, tetapi sering kehilangan kedalaman.

Generasi Z dalam Cermin Kritis Bangsa

1. Antara Konektivitas dan Kehampaan

Dalam whitepaper-nya Hasanuddin Ali, dijelaskan bahwa Generasi Z kini mencakup hampir 28 persen dari total penduduk Indonesia, sekitar 75 juta jiwa. Mereka tumbuh dalam dunia yang sudah terhubung sejak lahir: belajar lewat layar, berinteraksi lewat jaringan, dan mencari nafkah lewat platform digital.

Dunia mereka tanpa sekat dan tanpa jeda. Namun, di balik konektivitas yang nyaris sempurna itu, ada sisi lain yang sering luput dilihat: kerapuhan emosional yang diam-diam tumbuh bersama derasnya arus informasi.

Generasi ini bisa menjangkau seluruh dunia hanya dengan ujung jarinya, tetapi kadang kehilangan arah di tanah airnya sendiri. Mereka bisa menyerap ribuan opini dalam hitungan menit, namun kesulitan menentukan suara hati yang paling jujur.

Apa yang tampak sebagai kemudahan sebenarnya membawa beban baru yakni kelelahan mental, kebingungan identitas, dan pencarian makna yang tak pernah selesai. Ini bukan sekadar soal perilaku digital, melainkan krisis kemanusiaan di tengah banjir informasi dan kelangkaan refleksi.

Jika pada 1928 para pemuda bersatu karena idealisme dan cita-cita kemerdekaan, maka pemuda hari ini bersatu karena algoritma, disatukan bukan oleh mimpi yang sama, tetapi oleh logika mesin yang menentukan apa yang harus mereka lihat, sukai, dan pikirkan.

Keduanya sama-sama berjuang untuk menemukan identitas dan arah hidup, tetapi medan perjuangannya berubah. Dulu melawan penjajahan fisik, kini melawan penjajahan algoritmik.

2. Pergeseran Nilai dan Identitas

Dalam analisis Hasanuddin Ali Generasi Z digambarkan sebagai generasi yang membawa nilai-nilai progresif yakni terbuka, inklusif, dan menolak segala bentuk diskriminasi. Mereka berani berbicara tentang isu-isu yang dulu sering dihindari seperti perubahan iklim, kesetaraan gender, keadilan sosial. Suara mereka keras dan jernih, tapi di balik keberanian itu, ada benturan halus yang terus terjadi yakni antara kebebasan berekspresi dan ketahanan sosial.

Keterbukaan yang mereka perjuangkan kadang bertemu tembok tradisi. Keberanian menyuarakan pendapat kadang menyingkirkan etika dalam berdialog. Di ruang maya, mereka bebas berbicara, tapi juga mudah terseret arus perdebatan tanpa ujung.

Jika pemuda 1928 berjuang menyatukan bahasa agar bisa saling memahami, maka pemuda hari ini justru hidup di tengah kebisingan ribuan bahasa digital. Setiap unggahan berlomba mencari perhatian, setiap suara ingin menjadi yang paling didengar.

Media sosial menjadi gelanggang baru, tempat solidaritas dan kompetisi berjalan beriringan. Akibatnya, generasi yang paling vokal ini juga menjadi generasi yang paling mudah terluka oleh tekanan sosial.

Sebagaimana dijelaskan dalam whitepaper tersebut, Hasanuddin Ali juga melihat sisi spiritual Gen Z yang unik. Mereka masih religius, tapi cara mereka beriman berbeda. Mereka lebih mencari makna ketimbang mengikuti bentuk; lebih spiritual daripada ritualistik.

Ibadah tidak lagi hanya di masjid atau gereja, tapi juga hadir dalam tindakan kecil: membantu sesama, berbagi kebaikan, atau menenangkan diri di tengah hiruk-pikuk dunia digital.

Namun, ketika spiritualitas bertemu budaya pop dan budaya instan, nilai transendensi sering kali berubah menjadi sekadar tren. Di sinilah tantangan terbesar Gen Z yakni bagaimana tetap menjadi generasi yang bebas, kritis, dan kreatif, tanpa kehilangan akar nilai dan kedalaman makna dalam hidup.

3. Tantangan Nyata: Dari Keterampilan ke Kebermaknaan

Dalam laporan Alvara Research Center yang dikutip Hasanuddin Ali dalam whitepaper “Gen Z Indonesia: The Game Changer”, disebutkan bahwa sekitar 20 persen pemuda usia 15–24 tahun di Indonesia tergolong dalam kelompok NEET (not in education, employment, or training). Angka ini menunjukkan bahwa masih banyak anak muda yang berdiri di persimpangan antara pendidikan, pekerjaan, dan masa depan yang belum pasti.

Mereka lahir di zaman dengan begitu banyak peluang digital, tapi tidak semuanya punya akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas, pelatihan yang relevan, atau jejaring yang membuka kesempatan.

Kondisi ini kontras dengan generasi Sumpah Pemuda 1928 yang menjadikan pendidikan sebagai senjata untuk memerdekakan diri. Saat itu, belajar berarti membangun kesadaran dan perlawanan. Kini, banyak anak muda justru tenggelam dalam perangkap konten, terhubung ke segala arah, tetapi kehilangan arah untuk tumbuh.

Mereka sibuk menonton dan membagikan “tutorial sukses”, namun sering lupa belajar tentang makna perjuangan dan proses yang sesungguhnya.

Hasanuddin Ali menegaskan bahwa Gen Z adalah generasi yang paling sadar akan pentingnya kesehatan mental, tapi juga yang paling rentan mengalaminya. Di balik semangat mereka yang dinamis, tersimpan tekanan besar yakni ekspektasi untuk selalu produktif, citra sempurna yang harus dijaga di media sosial, dan standar kesuksesan yang kadang tidak manusiawi.

Kita tidak sedang melihat generasi yang malas. Kita sedang menyaksikan generasi yang lelah karena terlalu banyak menanggung beban ekspektasi zaman.

4. Dari Sumpah ke Tindakan

Di titik inilah, semangat Sumpah Pemuda perlu dibaca ulang. Persatuan di era digital bukan lagi tentang menyatukan pulau dan bahasa, melainkan menyatukan kesadaran antara dunia nyata dan dunia maya. Sumpah hari ini bukan sekadar diucapkan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata—berintegritas, berpikir kritis, dan berani menolak ketidakadilan.

Generasi Z tidak membutuhkan jargon nasionalisme yang baru. Mereka membutuhkan ekosistem kebangsaan yang memanusiakan. Mereka butuh pendidikan yang membebaskan cara berpikir, ruang digital yang sehat, dan kepemimpinan yang jujur serta inspiratif. Tanpa itu semua, energi besar mereka hanya akan menjadi bahan bakar tren sesaat, bukan tenaga penggerak perubahan peradaban.

Menemukan Kembali Makna Sumpah di Era Gen Z

Dalam penutup whitepaper “Gen Z Indonesia: The Game Changer”, Hasanuddin Ali mengungkapkan bahwa memahami Generasi Z bukan sekadar kebutuhan akademis, melainkan investasi strategis untuk masa depan bangsa. Mereka bukan hanya pewaris masa depan, tetapi penulis babak baru sejarah Indonesia, dengan bahasa, alat, dan tantangan yang tak lagi sama seperti generasi sebelumnya.

Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah deklarasi keberanian, sebuah janji untuk menyalakan api persatuan di tengah penjajahan dan keterbelakangan. Tapi Sumpah Generasi Z tahun 2025 adalah ujian kebermaknaan, bagaimana menjaga api itu agar tidak padam di tengah badai disrupsi digital, fragmentasi sosial, dan banjir informasi yang tak bertepi.

Kini, semangat kebangsaan tidak lagi cukup jika hanya menjadi simbol. Ia menuntut bentuk baru: dari nasionalisme simbolik menuju nasionalisme solutif, dari kebanggaan identitas menuju keberanian memberi dampak, dan dari “Kami Putra dan Putri Indonesia” menuju “Kami Generasi Indonesia yang Bertanggung Jawab.”

Sebagaimana diingatkan Hasanuddin Ali dalam risetnya, siapa pun yang ingin membangun masa depan Indonesia harus bersedia mendengar, memahami, dan berjalan bersama generasi ini, bukan untuk mengendalikan mereka, tetapi untuk menumbuhkannya. Sebab Generasi Z tidak ingin diarahkan, mereka ingin diajak berkolaborasi; tidak ingin diatur dari atas, tetapi ingin diberi ruang untuk berkreasi dan berkontribusi.

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda bukan hanya kenangan yang dibacakan setiap Oktober. Ia adalah kesadaran yang terus diperbarui, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi.

Dan hari ini, di tangan Generasi Z, api itu masih menyala. Bukan lagi di ruang kongres, tapi di ruang digital, di komunitas kecil, di ide-ide yang lahir dari keresahan dan harapan. Bentuknya boleh berubah, tapi jiwanya tetap sama: satu jiwa, satu tekad, satu Indonesia yang bermakna.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Puji Raharjo Soekarno
Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Lampung


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo