Dark
Light
Dark
Light

Mengembalikan Martabat Bahasa dan Sastra: Antara Penjurusan, Inovasi Pengajaran, dan Etika Digital

Mengembalikan Martabat Bahasa dan Sastra: Antara Penjurusan, Inovasi Pengajaran, dan Etika Digital

Di tengah arus deras perubahan zaman, bahasa dan sastra Indonesia menghadapi tantangan besar. Dalam laporan media, misalnya Kompas (25 Mei 2025), tergambar kenyataan getir: sastrawan-sastrawan senior, meski telah menyumbangkan karya-karya agung bagi negeri, harus menjalani masa tua dalam penderitaan, tanpa jaminan sosial yang layak. Sebuah ironi di tengah bangsa yang sering mengutip puisi Chairil Anwar dalam pidato-pidato kenegaraan.

Namun masalah ini hanyalah puncak dari gunung es. Ada persoalan mendasar lain yang tengah mencuat di dunia pendidikan dan kebudayaan kita.

Penjurusan dan Ancaman terhadap Ilmu Humaniora
Baru-baru ini, keputusan Pemerintah mengembalikan kebijakan penjurusan IPA–IPS di jenjang SMA menjadi bahan diskusi hangat. Sebagian menyambut baik langkah ini, namun tak sedikit yang menyuarakan kekhawatiran bahwa hal ini akan semakin mempersempit ruang minat siswa pada bidang bahasa dan sastra. Dalam sistem pendidikan sebelumnya, jurusan Bahasa yang sudah langka makin sulit ditemukan. Kini, dengan pengembalian penjurusan ke pola lama, nasib pelajaran bahasa dan sastra terancam semakin terpinggirkan, hanya menjadi pelengkap kurikulum tanpa penghargaan memadai terhadap kedalaman dan kekayaan ilmu yang dikandungnya.

Di era 1990-an hingga awal 2000-an, jurusan Bahasa masih lazim ditemukan di SMA, berdampingan dengan IPA dan IPS. Namun, setelah diberlakukannya Kurikulum 2013 yang lebih fleksibel, banyak sekolah memilih menghapus jurusan ini karena dianggap tidak populer secara pasar kerja. Data dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan menunjukkan bahwa dalam satu dekade terakhir, jumlah SMA yang masih membuka jurusan Bahasa turun lebih dari 60 persen. Padahal, keberadaan jurusan ini penting untuk membentuk calon guru, penulis, editor, dan profesi kebahasaan lain yang sangat dibutuhkan bangsa.

Bahasa dan Sastra: Pilar Nalar dan Karakter Bangsa
Padahal, bahasa bukan semata alat komunikasi. Bahasa adalah pembentuk nalar, identitas, dan karakter. Melalui bahasa, manusia mengenali dunia, mengungkapkan gagasan, dan menjalin peradaban. Demikian pula sastra: ia bukan sekadar hiburan estetik, tetapi sarana refleksi kultural, kritik sosial, dan penanaman nilai-nilai kemanusiaan. Mengabaikan keduanya sama artinya dengan membiarkan generasi muda tumbuh tanpa akar budaya dan arah moral yang kokoh.

Inovasi Pengajaran yang Menghidupkan Sastra
Kondisi ini diperparah oleh minimnya inovasi dalam pengajaran bahasa dan sastra. Banyak siswa menganggap pelajaran ini membosankan karena metode pengajarannya terpaku pada pola hafalan dan tata bahasa kaku. Padahal, jika dikembangkan melalui pendekatan kreatif—seperti menulis puisi, membuat podcast sastra, pementasan drama, atau debat sastra—pelajaran ini bisa membangkitkan daya cipta, empati, dan keterampilan berpikir kritis siswa.

Di beberapa sekolah dan komunitas, muncul terobosan menarik dalam pengajaran sastra. Misalnya, guru di SMA Negeri 1 Sewon, Bantul, mengintegrasikan karya sastra dalam bentuk vlog dan serial mini di TikTok. Siswa mementaskan cerpen dalam bentuk video pendek, menulis ulang puisi menjadi lagu, atau membuat resensi sastra dalam format podcast. Inovasi semacam ini membuktikan bahwa sastra tidak mati—ia hanya butuh medium baru untuk berbicara.

Etika Digital: Tantangan Baru Pengajaran Bahasa
Belum lagi tantangan etika berbahasa di ruang digital. Generasi muda kini berinteraksi lebih banyak melalui media sosial dibandingkan percakapan lisan langsung. Sayangnya, banyak yang belum memiliki kesadaran berbahasa yang santun dan bertanggung jawab di ruang publik. Ujaran kebencian, hoaks, dan bahasa kasar menyebar cepat karena minimnya literasi digital dan etika berkomunikasi. Dalam konteks ini, pengajaran bahasa harus mampu menjangkau wilayah digital, bukan hanya sebagai alat teknis, tetapi juga sebagai wahana pendidikan karakter.

Seperti dikemukakan oleh sastrawan Kenya, Ngũgĩ wa Thiong’o, dalam Decolonising the Mind (1986): “Language carries culture, and culture carries, particularly through orature and literature, the entire body of values by which we come to perceive ourselves and our place in the world.” (Bahasa membawa kebudayaan, dan kebudayaan membawa seluruh nilai yang membentuk cara kita memandang diri dan tempat kita di dunia).

Belajar dari Negara-Negara Lain
Di negara-negara lain, posisi bahasa dan sastra justru diperkuat. Di Jepang, pembacaan puisi haiku masih menjadi bagian kurikulum nasional untuk membentuk kepekaan dan empati sejak usia dini. Di Finlandia, literasi dan sastra diajarkan secara kontekstual dan beragam genre, dari mitologi hingga cerpen kontemporer. Bahkan di universitas-universitas besar dunia, jurusan linguistik dan sastra tetap menjadi pusat unggulan, apalagi dengan berkembangnya teknologi berbasis pemrosesan bahasa alami (natural language processing) yang sangat membutuhkan keahlian bahasa dan sastra.

Menumbuhkan Ekosistem Sastra yang Kuat
Maka, krisis bahasa dan sastra yang kita alami hari ini bukan sekadar soal kurikulum atau insentif profesi, melainkan soal bagaimana kita memperlakukan jati diri kita sendiri sebagai bangsa. Jika bahasa dan sastra terus dikesampingkan, kita sedang kehilangan kompas budaya yang menuntun generasi muda dalam berpikir, berempati, dan bermoral.

Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah konkret dari berbagai pihak. Pemerintah seharusnya tak hanya fokus pada “efisiensi kurikulum”, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan yang seimbang antara ilmu eksakta, sosial, dan humaniora. Penjurusan jangan dijadikan cara membatasi minat, melainkan jalan memperkuat pilihan. Guru-guru bahasa dan sastra harus diberi ruang dan pelatihan agar dapat mengembangkan metode ajar yang kontekstual dan kreatif.

Pemerintah juga dapat mengalokasikan dana khusus untuk festival sastra pelajar, beasiswa bidang humaniora, atau membentuk pusat literasi digital berbasis bahasa dan sastra. Di sisi lain, masyarakat sipil, termasuk komunitas sastra, pesantren, rumah baca, dan media alternatif, harus memperkuat peranannya sebagai penjaga ruh kebudayaan. Sastra harus mendekat kepada kehidupan, hadir di ruang-ruang dialog, dan menjangkau platform digital. Media sosial, jika digunakan secara arif, justru bisa menjadi medium baru untuk menyemai nilai-nilai sastra yang mendalam.

Menangkap Jiwa Kata dan Jiwa Bangsa
Jangan sampai generasi muda tumbuh dalam kemajuan teknologi tanpa disertai kedalaman makna hidup. Bahasa dan sastra adalah penjaga jiwa bangsa, dan dalam suasana disrupsi seperti sekarang, mereka justru semakin dibutuhkan. Seperti kata Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed: “Reading is not walking on the words; it’s grasping the soul of them.” (Membaca bukan sekadar melangkahi kata-kata, tetapi menangkap jiwanya).

Mari bersama mengembalikan martabat bahasa dan sastra sebagai pilar utama dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo