Dark
Light
Dark
Light

Komik dan Kampanye Moderasi Beragama

Komik dan Kampanye Moderasi Beragama

Dalam sebuah pameran buku-buku islam di Istora Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu, terlihat sebuah pemandangan yang menarik. Para remaja, yang tampaknya murid madrasah, menyerbu sebuah stan penerbit.  

Di sana mereka memburu komik. Masing-masing dari mereka membawa 2 hingga 3 komik, umumnya adalah komik pahlawan Islam. Antrean di kasir cukup panjang saat itu.  

Pemandangan itu mungkin tidak menggambarkan secara utuh lanskap komik Islami di Indonesia saat ini. Namun setidaknya menjadi pertanda bahwa komik masih punya pembaca. Industri komik (Islami) pun masih berdenyut.

Di ranah yang lain, di dunia digital, komik tetap memiliki penggemar. Data menunjukkan, pada April 2015 Indonesia menjadi negara dengan pembaca komik digital terbanyak dengan sekitar 6 juta pengguna aktif. Jumlah yang cukup besar dan sangat mungkin terus bertumbuh.

Komik tampaknya menjadi medium yang mampu melintas batas waktu. Ia masih dianggap efektif dan digunakan sebagai peranti untuk menyampaikan beragam pesan kepada khalayak.

Sebagai sebuah karya, komik tentu merepresentasikan banyak hal. Mulai dari identitas, ideologi, dan gagasan tertentu, bukan semata hiburan belaka. Komik-yang umumnya dibaca oleh kaum belia -- anak-anak dan remaja, menjadi asupan sehari-hari dan boleh jadi turut memengaruhi pola pikir dan cara pandang. Komik bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan.

Hal itu yang dimanfaatkan Kementerian Agama (Kemenag) untuk menggaungkan moderasi beragama. Berkolaborasi dengan komikus dari Institut Seni Indonesia Surakarta, Kemenag meluncurkan komik bertajuk “Kampung Sukaraya” dan menggelar pameran komik moderasi beragama bertajuk “Modeart”. Sebanyak 60 karya komik dipamerkan di Galeri MUI Jawa Tengah.

Komik juga dipakai oleh pendakwah Habib Husein Ja’far dan media islami.co. Fakta itu cukup untuk mengatakan komik (Islami) masih menarik dan relevan. Pemanfaatan media populer seperti komik acapkali memang lebih berhasil dalam menebarkan pesan-pesan keagamaan kepada kelompok milenial dan Z.

Komik dan Nalar Moderat

Namun, dengan bertebaran komik-komik Islami di Indonesia apakah telah memuat ajaran-ajaran yang moderat dan toleran? Tentu perlu riset yang panjang untuk menjawabnya. Lantaran lanskap komik Islami di Indonesia merentang teramat panjang, yakni harus diurut perkembangannya mulai dari dekade 1960-an.

Meski demikian, Nikmah Lubis (2021) menyebut dalam risetnya jika komik Islami justru menjadi sarana persebaran konservatisme Islam. Temuan itu boleh jadi tidak begitu mengejutkan. Tak bisa dipungkiri, dalam iklim demokratis di Indonesia, berbagai kelompok cukup bebas membuat sejumlah terbitan, dan tentu dengan ideologi serta gagasan masing-masing.  

Upaya Kemenag dengan menerbitkan komik “Kampung Sukaraya” patut diapresiasi. Komik yang diterbitkan Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama ini memuat cerita-cerita ringan yang mudah ditemui dalam keseharian.

Dalam tiga jilidnya, “Kampung Sukaraya” bergelimang simbol-simbol yang memantik nalar moderat pembaca. Misalnya saja pada salah satu adegan serah terima kunci pembelian rumah baru dari Haji Alim kepada Koh Liem.

Imajinasi pembaca digiring pada hubungan harmonis dua keluarga yang berasal dari dua agama berbeda, bahkan juga suku yang berbeda. Pilihan nama, Haji Alim dan Koh Liem, sudah memberi pesan tersendiri.

Sosok dua orang itu juga digambarkan begitu berbeda, yang satu berpeci dan berjenggot dan satunya lagi bermata sipit. Pilihan sadar pembuat cerita dan komikus seperti itu patut diduga dalam rangka meneguhkan semboyan “berbeda-beda tapi tetap satu jua.”

Tak berhenti di situ, anak Haji Alim dan Koh Liem juga digambarkan langsung akrab meski baru pertama bertemu dan segera saling membantu. Salah satu dari mereka bahkan mengajak berangkat sekolah bersama setelah tahu sekolah mereka berdekatan.

Cerita tentang hubungan harmonis dua orang yang beda agama dan beda suku tersebut dapat dibaca sebagai kritik atas cara hidup sebagian masyarakat kita yang tertutup. Saat ini masih banyak temui orang tua yang secara tegas melarang anaknya bergaul dengan teman yang berbeda agama. Cara pandang yang eksklusif itu lahir dari pemahaman agama yang tidak jembar.  

Komik “Kampung Sukaraya” juga mengajak pembaca berdiskusi tentang banyak hal, di antaranya adalah mengenai tradisi. Salah satu dialog yang menarik adalah mengenai pemasangan lampu hias.

Salah seorang tokoh menolak memasang lampu hias karena takut murtad dan menganggap lampu hias bukan tradisi Islam. Ia mengatakan “menirukan gaya agama lain sama juga dengan mengimani agama itu”. Temannya menjawab bijak bahwa baju koko yang dikenakan berasal dari tradisi Cina, serta kayu yang dipakai untuk membaca tasbih juga dipakai umat Budha.

Dialog-dialog semacam itu akan mudah kita temukan dalam komik  ini. Waljhasil, pembaca tidak hanya dimanjakan dengan visual yang keren, namun juga berbagai “puncline” yang segar.

Kiranya, komik “Kampung Sukaraya” perlu diproduksi lebih banyak lagi agar menjumpai lebih banyak pembaca. Sifat komik yang lentur dan ringan membuat pembacanya merasa tidak digurui, sehingga pesan-pesan jadi lebih mudah diterima.

Kampanye moderasi beragama harus memaksimalkan komik dan media-media populer lain sebagai sarana penyampai gagasan. Sebab, alat menyampaikan pesan seringkali lebih penting dari pesan itu sendiri.

 

=============         
Liputan ini terbit atas kerja sama Arina.id dengan LTN PBNU dan Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTKI) Kementerian Agama RI.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abraham Zakky Zulhazmi
Pengajar di UIN Raden Mas Said Surakarta, mahasiswa S3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Editor: Fajar WH
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo