Dark
Light
Dark
Light

Sambernyawa: Pangeran yang Menertawakan Kolonialisme

Sambernyawa: Pangeran yang Menertawakan Kolonialisme

Tidak semua tokoh sejarah lahir sebagai pahlawan. Sebagian hanya muncul sebagai anak kecil yang tidak diharapkan siapa pun, lalu perlahan berubah menjadi sosok yang memaksa zaman untuk memperhatikannya. Mangkunegara I adalah salah satu dari sedikit tokoh yang menapaki jalan semacam itu. Ia datang dari dunia yang porak poranda, tumbuh dalam suasana ketakutan yang tidak pernah reda, lalu merangkai hidupnya menjadi cerita yang silang selimpat dilepaskan dari ingatan kolektif masyarakat Jawa. Kisahnya lebih mirip novel epik yang diselubungi asap dupa, penuh pergerakan diam yang tak tersentuh oleh mata Eropa yang percaya aturan baku perang dan diplomasi.

Sejarawan Merle Calvin Ricklefs (1943-2019) membuka bukunya Soul Catcher: Java’s Fiery Prince Mangkunagara I, 1726-1795 (NUS Press, 2018) dengan kejujuran yang mengundang renungan. Ia menulis bahwa penelitian tentang tokoh Jawa dari masa abad delapan belas nyaris musykil dilakukan pada masa awal kariernya. Banyak naskah tidak terdata. Sebagian hilang terbawa umur panjang perang. Arsip Verenigde Oostindie Compagnie terlalu penuh dengan laporan yang mengutamakan kelancaran dagang. Babad Tanah Jawi sering ditulis untuk menjaga martabat dinasti. 

Akan tetapi perlahan situasi berubah. Manuskrip muncul dari berbagai simpanan. Arsip terbuka bagi peneliti. Bahasa lama dapat dibaca dengan lebih cermat. Pada saat itu, sosok Mangkunegara I (Raden Mas Said) muncul sebagai figur yang justru paling terang tinimbang tokoh lain pada masa itu. Ricklefs menyebutnya sebagai salah satu tokoh yang paling banyak meninggalkan jejak tertulis setelah Diponegoro. Catatan itu menjadi pintu masuk bagi perjalanan panjang memahami seorang manusia yang tumbuh dari reruntuhan kota yang hampir tidak pernah tidur dari kecemasan politik (Ricklefs, 2018, hlm. 3).

Dunia yang menyambut kelahirannya tidak sedang bersantai. Kartasura adalah kota yang kelelahan tetapi bangga akan tradisinya. Sebuah pusat kekuasaan yang dikelilingi pasukan, pendeta, bangsawan, pedagang dan intrik yang bisa muncul setiap pagi. Di sana tidak ada pemisahan jelas antara politik dan spiritualitas. Segala bentuk kekuasaan diselimuti tafsir mimpi, pertanda langit dan naskah mistik yang disalin dengan tekun oleh pujangga. Ricklefs menjelaskan bahwa Ratu Pakubuwana memiliki peranan besar dalam membentuk suasana ini. Ia menulis sejumlah karya yang memberi bobot spiritual bagi cucunya yang kelak menjadi raja. Naskah itu juga menegaskan pandangan bahwa kepemimpinan Jawa berpijak pada visi suci yang tidak dapat dipisahkan dari dunia gaib (Ricklefs, 2018, hlm. 18).

Di dalam rumah seperti itu, Mangkunegara lahir sebagai Mas Said. Ibunya meninggal beberapa bulan setelah melahirkannya. Ayahnya dibuang VOC ke Batavia lalu Sri Lanka sebagai bagian dari manuver politik yang memadamkan potensi persaingan istana. Anak kecil itu tidak hanya kehilangan orangtua. Ia kehilangan rumah yang semestinya memberinya perlindungan. Ricklefs melukiskan masa kecilnya dengan nada yang membuat pembaca merasakan sunyi yang terbungkus ritual sehari-hari. Ia diasuh oleh seorang abdi yang menjaga kesehatan dan keselamatannya dengan ketelitian seorang penjaga gunung. Dari situ, ia belajar bahwa hidup membutuhkan kewaspadaan dan kecerdikan sejak usia sangat muda (Ricklefs, 2018, hlm. 16).

Perang kemudian membuka pintu besar bagi perjalanan hidupnya. Jawa abad delapan belas tidak pernah bebas dari konflik internal. Ketika Mangkunegara mulai beranjak remaja, Perang Suksesi Jawa kembali membesar. Ia melihat pasukan keluar masuk desa. Ia menyaksikan keraton dipenuhi kabar perihal serangan dan perundingan yang tidak pasti. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa politik tidak selalu ditentukan di ruang pertemuan. Banyak keputusan lahir di medan terbuka ketika pasukan bergerak dan pemimpin harus menentukan langkah tanpa waktu panjang untuk berkonsultasi.

Dalam situasi seperti ini bakatnya muncul. Ia memimpin pasukan kecil yang sangat cerkas. Ia membangun hubungan dengan masyarakat desa yang menganggapnya sebagai pemuda dengan keberanian tidak biasa. Catatan VOC memperlihatkan rasa frustrasi tatkala mereka mencoba menangkapnya. Mereka tidak memahami cara perang yang tidak mengikuti pola baku. Mangkunegara bergerak cepat. Terkadang menghilang ke lembah. Terkadang muncul di tepi sungai dengan strategi yang mengacaukan perhitungan musuh. Ricklefs menulis bahwa pasukan mungil inilah yang membuatnya dihormati sekaligus ditakuti. Taktiknya melampaui ukuran formal perang Eropa pada masa itu. Para pejabat VOC mendapati bahwa mengejar anak muda itu sama sulitnya dengan mengejar bayang-bayang di senja hari (Ricklefs, 2018, hlm. 57).

Perjalanan politiknya tidak hanya berlangsung di medan perang. Ia juga hidup dalam labirin hubungan keluarga yang rumit. Persaingannya dengan Pangeran Mangkubumi adalah cerita panjang yang penuh lika-liku. Mereka pernah bersekutu. Mereka pernah terlibat dalam perundingan yang menjanjikan masa depan cerah. Namun sejarah tidak menempatkan keduanya dalam kapal yang sama. Perjanjian Giyanti tahun 1755 membagi Mataram menjadi dua kekuasaan besar. Mangkunegara tidak dilibatkan dalam perundingan itu meskipun kontribusinya terhadap jalannya perang sangat besar. Ia justru berada di posisi terasing. Ricklefs menunjukkan bahwa penyingkiran itu bukan karena kekurangannya. Keberanian dan pengaruhnya justru dianggap terlalu besar untuk diterima dalam struktur politik yang sedang dibangun ulang (Ricklefs, 2018, hlm. 120).

Penolakan itu tidak membuatnya berhenti. Ia kembali memimpin pasukan. Kali ini langkahnya lebih terukur. Ia telah belajar banyak ihwal diplomasi. Ia memahami bahwa kekuasaan tidak selalu ditentukan oleh kemenangan dalam satu pertempuran. Ia juga memahami bahwa masyarakat Jawa melihat kepemimpinan sebagai kemampuan menjalin keseimbangan antara keberanian dan kebijaksanaan. Dengan pendekatan itu ia membangun reputasi sebagai pemimpin yang tidak mudah ditaklukkan. Tekanan demi tekanan akhirnya membuat VOC dan Surakarta memilih jalan damai. Pada 1757 ia diakui sebagai penguasa Mangkunegaran. Pengakuan itu adalah hasil dari ketekunan panjang yang tidak dibangun dalam satu malam. Ricklefs menulis bahwa proses ini adalah pembuktian bahwa strategi yang matang bisa lahir dari pengalaman hidup yang keras (Ricklefs, 2018, hlm. 145).

Sebagai penguasa, Mangkunegara tidak mengubah karakter aslinya. Ia tetap menjadi pribadi yang bergerak seimbang antara spiritualitas dan disiplin pemerintahan. Ia membangun ekonomi kadipaten dengan ketekunan. Ia membina pasukan khusus yang memiliki identitas sendiri. Ia menjadi patron seni yang menghargai wayang dan tari. Ia juga masyhur sebagai penghayat laku keagamaan yang dalam. Pada masa inilah citranya sebagai Sambernyawa berkembang ke arah yang lebih luas. Tidak hanya sebagai pemimpin perang, tetapi juga sebagai penjaga rasa di wilayah budaya. Ia menyentuh banyak lapisan kehidupan masyarakat dengan pendekatan yang berpijak pada etika dan keteladanan.

Ricklefs meneroka bahwa masa pemerintahan Mangkunegara adalah bukti bahwa seorang pemimpin dapat merawat rasa aman sekaligus menjaga dinamika budaya. Ia tidak memosisikan seni sebagai hiburan. Ia melihat seni sebagai jembatan jiwa. Ia tidak memosisikan agama sebagai pembatas. Ia menjadikannya sumber keselarasan batin. Ia menghubungkan keduanya sehingga Mangkunegaran tumbuh sebagai pusat budaya yang terus dikenang sampai kiwari. Gaya kepemimpinannya tidak terjebak pada pembagian tegas antara dunia sekuler dan spiritual. Semua ia satukan sebagai bagian dari laku hidup nan lestari (Ricklefs, 2018, hlm. 230).

Arkian, apa yang membuat kisah Mangkunegara begitu menarik bukan hanya prestasi politiknya. Lebih dari itu, ia adalah contoh manusia yang memahami luka sebagai ruang tempat bertumbuh. Ia kehilangan ibu pada masa bayi. Ia kehilangan ayah ketika belum mampu mengenali dunia. Ia kehilangan hak politiknya pada usia remaja. Namun ia terus melangkah. Ia membangun ulang posisinya bukan dengan amarah yang membakar rumah. Ia membangunnya dengan keyakinan bahwa hidup masih menyisakan ruang bagi orang orang yang berani menyusun masa depan sendiri.

VOC datang dan pergi. Para pejabat yang mengawasinya diganti berkali-kali. Sultan-sultan silih berganti memimpin Jawa. Walakin nama Mangkunegara tetap muncul di banyak catatan. Kisahnya bertahan karena ia tidak pernah berhenti membaca arah zaman. Ia menjalankan taktik pada masa perang. Ia membangun administrasi pada masa damai. Ia mendekati kaum spiritual dengan ketulusan. Ia menata kaum prajurit dengan disiplin. Semua itu dilakukan tanpa melepaskan akar identitasnya sebagai pribadi yang ditempa oleh pergolakan sejak kanak kanak.

Membaca kisahnya terasa seperti melihat bayangan seseorang yang berjalan di tepi hutan. Kadang tampak jelas. Kadang hanya terdengar langkahnya. Namun kehadirannya tidak pernah benar-benar hilang. Ia berdiri di ruang yang menghubungkan masa silam dan masa kini. Ia menyentuh budaya Jawa dengan caranya yang khas. Ia juga mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh pihak yang paling kuat. Sejarah sering lahir dari tindakan kecil seseorang yang memilih untuk tetap berdiri ketika angin terus bertiup.

Ricklefs menutup pembahasan tentang Mangkunegara dengan nada penghormatan yang lembut. Ia melihat tokoh ini sebagai figur yang berhasil merangkum semangat zaman yang sedang berubah. Ia melihatnya sebagai pemimpin yang memadukan kecakapan praktis dan visi batin. Oleh sebab itu, Mangkunegara tetap dikenang bukan semata sebagai prajurit. Ia dikenang sebagai manusia yang memahami bahwa hidup adalah medan tempur dan sekaligus medan perenungan. Inti kekuatan Mangkunegara ada pada kemampuannya menjaga keseimbangan keduanya (Ricklefs, 2018, hlm. 265).

Di akhir kehidupan, ia tidak hanya meninggalkan kadipaten yang berdiri kokoh. Ia meninggalkan warisan cara pandang. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan memerlukan kombinasi keberanian, ketelatenan, dan kepekaan. Ia juga memberi contoh bahwa manusia yang paling berharga bukan yang tidak pernah jatuh. Manusia yang paling berharga adalah mereka yang mampu bangkit dengan penuh hormat.

Ketika kita membaca kembali langkah-langkah Mangkunegara, kita akan menemukan bahwa hidupnya adalah rangkaian perjumpaan bentuk bencana dan berkah yang saling bertaut. Ia menunjukkan bahwa sejarah selalu bergerak melalui tindakan manusia yang tidak pernah sempurna. Ia memberi pelajaran penting bahwa dunia dapat berubah melalui langkah seseorang yang memelihara kesadaran akan harga diri, kehormatan, dan kemanusiaan.

Kisahnya membuat kita percaya bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal dan peristiwa. Sejarah adalah kisah tentang manusia yang berusaha menemukan tempatnya di dunia. Dalam hal ihwal ini, Mangkunegara telah memberikan teladan. Ia menjadi suara yang tidak mudah padam. Ia menjadi ingatan yang melampaui nama dan gelar. Ia menjadi bagian dari lanskap batin Jawa yang terus memanggil generasi berikutnya untuk memahami arti keberanian yang lila.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo