Bandung pagi, April 1955, di luar Gedung Merdeka orang-orang berkerumun tanpa benar-benar tahu apa yang sedang dibicarakan di dalam. Mereka hanya tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi. Mobil-mobil hitam datang silih berganti, membawa delegasi dari negara yang namanya bahkan belum lama dikenal dunia. Di dalam ruangan, percakapan berlangsung dalam berbagai bahasa, dengan latar belakang yang saling berbeda, bahkan sering kali saling bertentangan. Tidak ada kepastian bahwa pertemuan itu akan menghasilkan kesepakatan. Yang ada justru kegelisahan yang sama, bagaimana mempertahankan kemerdekaan di dunia yang belum sepenuhnya berubah.
Dari kegelisahan itulah Konferensi Asia-Afrika menemukan maknanya. Bandung bukan sekadar forum diplomasi. Bandung adalah momen ketika bangsa-bangsa yang baru merdeka berhenti menunggu pengakuan dan mulai menegaskan posisi. Christopher J. Lee dalam Making a World after Empire melihat konferensi ini sebagai usaha sadar untuk membangun dunia setelah kolonialisme. Dunia yang tidak lagi ditentukan sepenuhnya oleh kekuatan lama. Imajinasi itu tidak lahir dalam kondisi yang stabil. Ia lahir dalam ketegangan, dalam perbedaan, dalam ketidakpastian. Justru dari situ, keberanian politik mulai terbentuk.
George McTurnan Kahin dalam The Asian-African Conference Bandung, Indonesia, April 1955 mencatat bahwa Bandung jauh dari kesan romantis yang sering dibayangkan hari ini. Perdebatan terjadi, kepentingan saling berbenturan, dan posisi tidak selalu sejalan. Kesepakatan yang lahir bukan hasil dari harmoni, melainkan dari kesadaran bersama bahwa dominasi harus ditolak. Dari proses itu muncul prinsip-prinsip yang kemudian dikenal sebagai Dasasila Bandung. Prinsip-prinsip tersebut menegaskan penghormatan terhadap kedaulatan, penolakan terhadap intervensi, penolakan terhadap agresi, serta komitmen untuk menyelesaikan sengketa secara damai. Prinsip-prinsip itu bukan sekadar norma. Prinsip itu adalah garis politik melawan penjajahan dalam bentuk baru.
Vijay Prashad dalam The Darker Nations: A People’s History of the Third World membawa pembacaan yang lebih tajam. Bandung tidak hanya tentang solidaritas. Bandung adalah proyek politik yang berusaha membangun kekuatan dunia ke tiga sebagai alternatif terhadap dominasi global. Negara-negara Asia dan Afrika tidak ingin sekadar menjadi penonton dalam percaturan internasional. Mereka ingin menjadi penentu arah. Dalam kerangka ini, politik bebas aktif tidak bisa dipisahkan dari semangat anti-neokolonialisme atau kolonialisme baru (nekolim) dan anti-imperialisme. Bebas aktif bukan posisi netral. Bebas aktif adalah posisi politik.
Semangat itu tercermin dalam cara Sukarno membayangkan Indonesia di panggung dunia. Politik luar negeri tidak pernah dilihat sebagai urusan teknokratis. Politik luar negeri adalah bagian dari perjuangan. Sukarno berbicara tentang nekolim bukan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai realitas yang terus berubah bentuk. Kolonialisme tidak selalu datang dengan kapal perang. Ia bisa datang melalui ekonomi, melalui pengaruh politik, melalui ketergantungan yang perlahan membatasi ruang gerak sebuah negara. Bebas aktif dalam kerangka ini adalah upaya untuk menolak semua bentuk dominasi tersebut.
Masalah muncul ketika prinsip ini dihadapkan pada realitas global hari ini. Dunia memang berubah. Relasi antarnegara menjadi lebih kompleks. Teknologi, energi, perdagangan, dan keamanan saling terhubung dalam jaringan yang sulit dipisahkan. Kompleksitas ini sering dijadikan alasan untuk bersikap lebih hati-hati. Kehati-hatian memang bagian dari diplomasi. Dalam praktiknya, kehati-hatian sering berubah menjadi kecenderungan untuk menghindari posisi yang tegas.
Gejala ini dapat dilihat dalam praktik politik luar negeri Indonesia saat ini. Aktivitas diplomatik meningkat. Kunjungan luar negeri bertambah. Keterlibatan dalam berbagai forum internasional semakin intens. Semua ini menciptakan kesan bahwa Indonesia semakin aktif di panggung global. Aktivitas tersebut tidak selalu mencerminkan kejelasan arah. Banyak bergerak tidak selalu berarti memiliki posisi. Dalam beberapa kasus, aktivitas justru menjadi pengganti dari keberanian untuk menentukan sikap.
Bandung dulu tidak dibangun di atas kebutuhan untuk terlihat aktif. Bandung lahir dari kebutuhan untuk menentukan posisi dalam dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi negara-negara baru merdeka. Negara-negara Asia dan Afrika memahami bahwa tanpa posisi yang jelas, mereka akan kembali terseret dalam orbit kekuatan besar. Christopher J Lee menunjukkan bahwa Bandung adalah momen ketika negara-negara tersebut mencoba keluar dari posisi sebagai objek sejarah dan mulai menulis peran mereka sendiri.
Dalam konteks itu, bebas aktif tidak pernah dimaksudkan sebagai ruang aman. Bebas aktif adalah alat untuk menentukan keberpihakan. Keberpihakan pada kemerdekaan, keberpihakan pada penolakan dominasi, keberpihakan pada upaya membangun tatanan dunia yang lebih adil. Jika prinsip ini dilepaskan dari semangat anti-nekolim, maka bebas aktif kehilangan inti ideologisnya.
Realitas hari ini menunjukkan adanya pergeseran yang tidak bisa diabaikan. Kedekatan yang semakin intens dengan kekuatan besar tertentu membawa implikasi politik yang serius. Dalam logika Bandung, mendekat tanpa batas pada satu kekuatan besar bukan sekadar pilihan pragmatis. Pilihan tersebut membawa konsekuensi ideologis. Dalam perspektif Sukarno, kedekatan yang tidak disertai dengan kejelasan posisi berpotensi menyeret Indonesia kembali ke dalam orbit neokolonialisme, meskipun dalam bentuk yang lebih modern.
Neokolonialisme hari ini tidak hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Ia tidak selalu datang melalui pendudukan militer. Ia hadir melalui ketergantungan teknologi, melalui tekanan ekonomi, melalui pengaruh dalam pengambilan keputusan strategis. Prashad menunjukkan bahwa proyek Dunia Ketiga gagal bertahan bukan karena ideologinya salah, tetapi karena tekanan struktural global yang terus menggerus kemandirian negara-negara berkembang. Dalam konteks ini, bebas aktif seharusnya menjadi alat untuk melawan tekanan tersebut. Jika praktik politik luar negeri justru memperdalam ketergantungan, maka prinsip bebas aktif sedang kehilangan maknanya.
Pilihan untuk tidak memilih sering kali dianggap sebagai bentuk kecermatan. Dalam dunia yang penuh persaingan, pilihan untuk tidak memilih justru membuka ruang bagi pihak lain untuk menentukan posisi Indonesia. Ketidaktegasan akan dibaca sebagai keraguan. Dalam jangka panjang, hal ini akan mengurangi daya tawar dan mempersempit ruang gerak Indonesia dalam percaturan global.
Bandung memberikan pelajaran yang tetap relevan. Kemandirian tidak lahir dari sikap aman. Kemandirian lahir dari keberanian untuk menolak dominasi, bahkan ketika penolakan itu membawa risiko. Bebas aktif dalam semangat Bandung bukan jalan tengah yang nyaman. Bebas aktif adalah sikap yang menuntut keberanian untuk berkata tidak, sekaligus keberanian untuk menentukan arah sendiri.
Refleksi terhadap peringatan tujuh puluh satu tahun Konferensi Asia-Afrika membuka ruang untuk membaca ulang arah politik luar negeri Indonesia. Prinsip bebas aktif tidak cukup dipertahankan sebagai warisan historis. Prinsip ini harus terus diuji dalam praktik. Tanpa pengujian yang jujur, bebas aktif berisiko berubah menjadi kebiasaan retoris yang tidak lagi memiliki daya arah.
Bandung akan selalu menjadi tonggak penting dalam sejarah diplomasi Indonesia. Nilainya tidak terletak pada masa lalu semata, melainkan pada kemampuannya untuk menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan baru. Politik bebas aktif tidak kehilangan relevansi. Tantangan sesungguhnya terletak pada keberanian untuk mempertahankan inti ideologisnya di tengah tekanan yang semakin kompleks.
Sukarno pernah menegaskan bahwa perjuangan melawan nekolim tidak pernah selesai. Bentuknya berubah, tetapi substansinya tetap sama. Dunia hari ini mungkin tidak lagi mengenal kolonialisme dalam bentuk lama. Dominasi tetap hadir dalam bentuk yang lebih halus, lebih sistemik, dan lebih sulit dilawan. Bebas aktif seharusnya menjadi benteng terhadap dominasi tersebut, bukan pintu masuk yang mempermudahnya.
Tanpa keberanian untuk menjaga jarak dari kekuatan yang berpotensi mendominasi, bebas aktif akan kehilangan maknanya. Tanpa keberanian untuk menolak neokolonialisme dalam segala bentuknya, Indonesia berisiko kembali berada dalam posisi yang ditentukan oleh pihak lain. Bandung tidak mengajarkan untuk sekadar hadir dalam percaturan global. Bandung mengajarkan untuk berdiri tegak dan menentukan arah sendiri, bahkan ketika arah itu tidak selalu mudah dan tidak selalu aman.
Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura
Editor: Muhammad Taufiq


