Tahun ini jutaan jemaah haji di dunia berkumpul di Kota Suci untuk menunaikan sekaligus menyempurnakan keislamannya. Mereka berbondong-bondong menyeru dan memenuhi panggilan Nabiyullah Ibrahim untuk berhaji.
Kata haji mengandung nilai historis yang sangat dalam. Sebab dalam ibadah haji kita melakukan napak tilas sebuah peristiwa besar di balik jejak-jejak peninggalan nabi Ibrahim as yang akhirnya kita kenal dalam bahasa Al-Qur’an dengan istilah Sya'airillah.
Semua manasik haji di dalamnya seperti tawaf, sa’i, lontar jumrah, wukuf dan sebagainya, menjadi prasasti sejarah bagi umat Islam. Umat Islam melakukan napak tilas untuk menggali dimensi spiritual di balik situs-situs Sya'airillah tersebut.
Aspek Histori
Ka’bah yang merupakan titik sentral umat Islam mengandung nilai historis yang dalam. Kata Ka’bah bila ditinjau dari firman Allah swt yang artinya: "Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia," ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.
Dari ayat ini bisa dipahami bahwa Ka’bah di awal pendiriannya mengingatkan umat Islam pada sejarah nabi Adam yang dibangunkan rumah pertama kali di muka bumi ini karena merindukan suasana seperti yang pernah dialami pada saat di Surga. Sehingga Allah memerintahkannya untuk melakukan putaran seperti yang terjadi di baitul makmur.
Oleh karena itu titik putaran di mana nabi Adam melakukannya dalam al Qur’an disebut sebagai rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia. bangunan itu kini dikenal dengan nama Ka’bah.
Bahkan hingga sekarang, situs sejarah peninggalan dari surga masih tetap dilestarikan yaitu adanya batu surga (Hajar Aswad) yang tertanam di salah satu pojok Ka’bah.
Bangunan Ka’bah ini mengajak kita menapaki jejak Nabi Ibrahim, khususnya saat meninggikan bangunan sakral ini. Allah berfirman yang artinya: "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"
Bangunan sederhana berbentuk segi empat ini mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail dengan bukti artefak adanya maqam Ibrahim dan Hijir Ismail di sekitar Ka’bah. Belum lagi bila melihat situs sya’air lainnya, seperti bukit Shafa dan Marwah, mengajak kita merenungkan ketawakalan dan kegigihan seorang ibu dalam mempertahankan kehidupan putranya di tengah-tengah gurun pasir yang gersang dan tandus, hingga akhirnya 'melahirkan' air Zam-zam yang bisa kita nikmati hingga kini.
Selain itu, situs sya’air seperti Arafah bisa dipahami dari tiga sudut pandang seperti yang diungkapkan oleh syaikh Ibnu Ishak. Pertama, nama Arafah bermakna bertemu atau mengenal yang menjadi titik pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa. Kedua, kata Arafah dipahami sebagai tempat “reuni” umat Manusia. Sebagaimana firman Allah: "Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh". Ayat ini mengandung makna bahwa Arafah menjadi pusat berkumpul dan bertemunya segala etnis dari penjuru dunia yang sekaligus mengingatkan bahwa mereka berawal dari satu leluhur yakni nabi Adam as.
Ketiga, aspek sufistik mengingatkan pada ajaran Islam bahwa Arafah merupakan ruang dimensi spesial bagi jemaah haji untuk menjalin hubungan dengan orang yang sudah meninggal. Sehingga Allah memerintahkan para malaikat untuk menyampaikan pesan bahwa siapapun yang memohonkan ampun pada orang yang sudah meninggal di padang Arafah maka tentu Allah akan mengampuni dosa para arwah tersebut.
Sementara pelaksanaan Jumrah mengingatkan kita pada historisitas keteguhan dan kesabaran nabi Ibrahim dan keluarganya dalam menjalani perintah Allah. Semua ini menunjukkan bahwa pelaksanaan ibadah haji merupakan napak tilas yang semua pelaksanaannya lebih menekankan ibadah jasmaniah untuk menapaki atau mengulang sejarah nabi terdahulu khususnya di titik-titik sya’air tersebut.
Aspek Sosial
Dari aspek sosial, pesan alegoris di balik pelaksanaan haji meminta atau mengajak umat Islam untuk menjadi orang kaya. Mengapa demikian? karena jika kita renungkan secara mendalam, ibadah haji merupakan seruan dari Allah dan menjadi kewajiban bagi seluruh umat Islam.
Dalam ibadah haji umat Islam secara tidak langsung diseru untuk memiliki kemampuan fisik (sehat) dan kemampuan untuk menempuh perjalanan (biaya perjalanan). Bisa menggunakan unta (meskipun kurus), kapal laut, atau yang saat ini sering digunakan yaitu pesawat terbang.
Kemampuan ekonomi untuk berhaji menyiratkan umat Islam “wajib untuk kaya”. Buktinya dengan kemampuan jemaah untuk naik pesawat terbang. Dalam pendekatan ushul fiqh, umat Islam wajib naik pesawat tentunya tujuannya untuk melaksanakan ibadah haji. Hal ini bisa dipahami dari ayat yang mengungkapkan bahwa orang-orang datang memenuhi panggilan Allah dengan berjalan kaki atau mengendarai unta (kala itu).
Tetapi saat ini kata “ضَامِرٍ “ bisa dipahami sebagai pesawat. Artinya bahwa naik pesawat menjadi syarat sah terlaksananya ibadah haji, sebagaimana wudhu menjadi syarat sah dalam mendirikan shalat.
Haji bila dipotret dari kacamata sosial, juga mengandung hikmah yang sangat dalam yakni kesamaan dan kebersamaan. Ini ditandai dengan pakaian ihram yang tidak membedakan status sosial, sekaligus mengenang bahwa manusia asalnya dari Nabi Adam yang bertemu di tempat itu (Jabal Rahmah). Jemaah berkumpul untuk saling mengenal sebagai satu saudara dan seiman. Yang membedakan adalah kualitas ketaqwaannya.
Wukuf di Padang Arafah merupakan inti pelaksanaan ibadah haji yakni untuk tadabbur bahwa ketaqwaan adalah hal yang substantif, bukan kemewahan dan jabatan. Sebenarnya dalam ibadah haji, penekanan nilai ibadah horisontal (hablun minannas) lebih dominan dari pada nilai vertikal (hablun minallah). Termasuk dalam ibadah haji lebih banyak aspek gerakan (fi’liyah) daripada bacaannya. Namun, makna dibalik gerakan-gerakan itu merupakan rekonstruksi spiritual atas peristiwa besar yang pernah terjadi pada penghulu manusia yakni nabi Adam serta rekonstruksi spiritual yang dialami Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il.
Dengan menjelajah jejak-jejak beliau dalam ibadah haji, kita diharapkan bisa meneladani dan memiliki kesamaan bentuk, perilaku, sikap yang sama seperti Nabi Ibrahim. Dengan hal ini kita bisa memahami potret kehidupan sosial beliau dengan mengambil hikmah untuk ditransformasikan ke dalam dimensi sosial masyarakat sepulang dari ibadah haji.
Ketika jemaah haji berada di Mina misalnya, mereka diingatkan kepada jejak nabi Ibrahim yang beribadah dengan menyembelih sekian ratus binatang ternaknya hingga membuat kaget malaikat. Akhirnya beliau berkomitmen untuk menyembelih putranya sebagai bentuk penghambaan dan totalitas kepada Allah. Maka berkurban ini merupakan potret ibadah yang bernilai sosial dan patut untuk kita teladani dari sikap dan perilaku Nabi Ibrahim.
Kurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim, dilandasi dengan perasaan ikhlas yang bertujuan mengembalikan harta melimpah yang dianugerahkan kepada beliau untuk dikembalikan kepada Allah sebagai pemilik yang sebenarnya.
Oleh karena itu, haji mabrur memiliki arti dimensi sosial dan spiritual. Artinya orang yang sudah melakukan haji harus lebih baik dari sebelumnya bukan saja pada aspek ibadah, tetapi juga pada aspek ucapan, sikap, perilaku sosial dalam segala aspek kehidupan.
Penulis adalah Rektor IAI At Taqwa Bondowoso Jawa Timur
Suheri
Ketua STAI At Taqwa Bondowoso, Jawa Timur.
Editor: Muhammad Faizin


