Dark
Light
Dark
Light

Karakteristik Jemaah Haji Indonesia Komunal, Jangan Sampai Terpisah

Karakteristik Jemaah Haji Indonesia Komunal, Jangan Sampai Terpisah

Arina.id - Menjelang puncak musim haji seperti sekarang ini, suasana Kota Mekkah bakal terlihat sibuk sekali. Jutaan umat Islam dari segala penjuru bumi bakal berduyun-duyun, serasa tumplak di sana. Dan tentu saja, di antara jutaan dhuyufurrahman dari berbagai negara, Indonesia lah pengirim jemaah paling besar ke Kota Suci, 220.000 orang tahun 2025 ini.

Di jalan-jalan tengah kota, pusat perbelanjaan sampai destinasi wisata, wajah-wajah pribumi mudah sekali dijumpai. Ciri khasnya gampang ditebak; selain memakai simbol-simbol jemaah Indonesia, kultur mereka bisa ditandai dengan kegemarannya menggerombol, kongkow-kongkow ngobrol sambil ngudud di sudut-sudut jalan, beribadah dan berbelanja juga berbarengan. Begitulah ciri jemaah kita yang karakternya memang sangat komunal, bukan individual. 

Kultur orang Nusantara yang guyub itu melekat, terbawa sampai ke mana pun mereka pergi. Dalam jajak pendapat yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2009 silam, karakter manusia Indonesia memang terbukti tidak lah individual. Mereka cenderung mementingkan sifat komunalnya di atas kepentingan pribadi, sehingga karakter tersebut membuat ikatan kekeluargaan, perasaan se-Bangsa dan se-Tanah Air mendarah daging dalam dimensi apapun: sosial, budaya, politik, ekonomi, dan seterusnya. 

Secara teori hal tersebut bisa dipahami dari penjelasan Clark & Mills dalam buku: "A Theori of Communal", bahwa dalam spektrum hubungan sosial, relasi komunal memang cenderung lebih menyehatkan secara psikologis bagi individu-individu di dalamnya, ketimbang relasi non-komunal (individual). Dalam relasi itu ada hubungan yang saling menjaga dan menguatkan di antara mereka.

Sehingga benang merahnya, secara naluriah orang-orang kita akan merasa lebih aman dan tenang kalau pola hidupnya bergerombol di mana pun mereka tinggal, ketimbang memilih melakukan segala sesuatu sendiri-sendiri. Apalagi kalau dilihat dari dimensi kesehatan mental (mental health), bahwa hidup bersosial bisa lebih tentram dan menenangkan yang tentunya perasaan tenteram itu akan mendorong kesehatan raga mereka.

Kemudian dalam konteks implementasi pelayanan haji, menjaga kesehatan mental para jemaah menjadi sangat penting, mengingat haji merupakan ibadah fisik yang menguras banyak energi. Jangan sampai situasi atau hambatan-hambatan tertentu memisahkan mereka dari keluarga, koloni, atau kelompoknya, yang dikhawatirkan nanti bisa memengaruhi kesehatan fisik mereka saat menjalankan beratnya ibadah puncak haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) nanti.

Apalagi sebelumnya, terkait profiling karakteristik jemaah haji Indonesia ini, Kementerian Agama juga sempat menyinggung kalau 98 persen lebih jemaah haji kita belum pernah berhaji. Bahkan dari jumlah itu, lebih dari 60 persen dari mereka belum pernah ada yang ke luar negeri. Mayoritas di antara mereka adalah orang-orang daerah, kebanyakan berusia paruh baya sampai lansia, belum pernah naik pesawat, belum pernah perjalanan jauh, apalagi plesiran ke mancanegara.

Oleh sebab itu, ketika dalam penyelenggaraan ibadah haji 2025 ini, dalam pemberangkatan gelombang I muncul masalah banyak jemaah yang terpisah dari kelompoknya akibat dari penerapan layanan Multi Syarikah (8 Syarikah) untuk jemaah haji regular, saya harus mengapresiasi gerak cepat Kementerian Agama mengatasi masalah itu. Paling tidak, jemaah terpisah dari rombongan saat di Kota Madinah yang jumlahnya konon berdasar laporan mencapai 569 orang itu bisa diberangkatkan ke Mekkah.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VIII, Kementerian Agama telah mengambil langkah pas menurut saya. Untuk mengantisipasi masalah jemaah terpisah ini, pada pemberangkatan gelombang II yang sudah mulai berlangsung sekarang, kementerian mengubah skema penerapan multi syarikah dalam satu kelompok terbang (kloter), yang semula satu kloter dilayani lebih dari satu syarikah, maka sekarang diberlakukan satu syarikah untuk satu kloter (one syarikah one kloter) terkecuali dalam kondisi tertentu yang tidak terhindarkan.

Kementerian mengatur lagi jadwal keberangkatan dengan ketentuan harus diserahkan kepada syarikah 48 jam sebelumnya, dengan batas perubahan maksimal 10 persen dalam waktu kurang dari 24 jam. Kemenag juga memastikan data manifest keberangkatan dikirim ke pihak syarikah paling lambat 15 jam sebelum jemaah tiba di Mekkah. Langkah mitigasi untuk menghindari kebingungan akibat ketidaksesuaian data di lapangan juga sudah dibuat. Terlebih, seperti kata Dirjen PHU Hilman Latief, ketepatan dan keakuratan data manifest memang benar-benar krusial.

Senyampang puncak haji masih beberapa hari lagi, masalah-masalah yang mengusik psikologi para jemaah tersebut sebaiknya segera diantisipasi dan segera dibereskan, termasuk kasus jemaah yang terpisah dari keluarga, kelompok atau pendampingnya. Mereka yang terpisah harus ditenangkan, khususnya jemaah lanjut usia. Jangan sampai kemudian kondisi itu memengaruhi kesehatan mental mereka. 

Berikutnya, yang perlu dipahami pula bahwa jemaah haji kita selama ini dikenal sabar, paling ramah dan gampang diatur. Ini seturut dengan pandangan Peter Carey – mengutip AHW Baron De Kock – yang menggambarkan karakter sesungguhnya masyarakat pribumi. Masyarakat Indonesia itu hakikatnya orang-orang yang humanis, bersahaja, rapi, tertib, kreatif dan bangga dengan diri sendiri, punya jiwa nasionalisme tinggi. Pun demikian janganlah menciderai kepercayaan mereka. Karena sejarah mencatat, segala hal yang menciderai orang Indonesia, selalu berakhir tidak baik. Wallahu A'lam...!


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Taufiq
Wakil Pemimpin Redaksi Arina.id


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo