Dark
Light
Dark
Light

Fransiskus, Paus yang Tak Tinggal di Tengah

Fransiskus, Paus yang Tak Tinggal di Tengah

Paus Fransiskus telah wafat. Namun, yang pergi bukan hanya seorang pemimpin Gereja, melainkan seorang penanda zaman. Ia tidak meninggalkan kekuasaan yang bisa diwariskan, melainkan jejak yang hanya bisa diteruskan oleh mereka yang berani berjalan pelan-pelan. Paus Fransiskus adalah jeda dalam hiruk-pikuk religiusitas global, suara pelan yang memotong kebisingan dunia.

Ia datang bukan dari pusat sejarah Gereja, melainkan dari ujung Amerika Latin. Ia tidak membawa warisan bangsawan rohani, tetapi luka-luka kota, lorong-lorong rakyat biasa, dan kegelisahan yang tak selesai terhadap dunia yang menyingkirkan mereka yang tidak sesuai. Jorge Mario Bergoglio bukan paus yang mencari mimbar, ia mencari bangku kosong di pinggir ruang, tempat orang sering tidak diperhatikan.

Dari awal masa kepausannya, kita tahu ia tidak ingin sekadar duduk di atas. Ia memilih tinggal di Wisma Santa Marta, menolak tinggal di istana, mengenakan pakaian sederhana, dan menyapa dunia dengan satu kata yang tak rumit: buonasera. Tapi itu bukan gestur kesahajaan. Itu adalah bentuk awal dari cara baru memimpin Gereja, dari pinggiran dan untuk yang terpinggirkan.

Fransiskus tahu, pusat tidak selalu mendengar. Maka ia mengajak Gereja untuk berjalan, bukan untuk menetap. Ia tahu, banyak luka di dunia tidak bisa disembuhkan dengan dogma, tetapi dengan keberadaan. Ia percaya bahwa kasih sayang bukan teori, melainkan kehadiran. Dalam masa kepemimpinannya, Vatikan lebih sering tampak sebagai rumah singgah bagi mereka yang lelah, bukan benteng kekuasaan.

Ia menyentuh yang sulit disentuh. Menyapa yang sering tak dianggap. Dalam banyak kesempatan, ia bicara bukan pada umat yang taat, tetapi pada mereka yang pergi karena kecewa. Dan kepada mereka, ia tidak menawarkan jawaban, tetapi pelukan. Ketika ia berkata, siapa saya untuk menghakimi, dunia mendengar sesuatu yang belum pernah diucapkan dari mimbar tertinggi Gereja.

Ia tidak mengubah doktrin. Tapi ia mengubah siapa yang merasa boleh mendekat. Ia tidak menjungkirkan ajaran. Tapi ia meletakkan wajah-wajah baru dalam ruang dengar Gereja. Ia tidak menyamakan semua orang, tapi ia mengakui semua orang. Dan dalam dunia yang terlalu sibuk menilai siapa yang benar, sikap seperti itu adalah keberanian.

Kita hidup dalam dunia yang mendefinisikan kepemimpinan dengan suara, dengan keputusan, dengan kekuasaan yang diukir di atas batu. Fransiskus justru memilih kehadiran yang lembut, langkah yang tidak mengagetkan, tapi perlahan mengubah arah. Ia datang bukan dengan gebrakan, tapi dengan konsistensi. Ia membawa Gereja ke luar pagar, menjemput mereka yang bahkan sudah lupa arah pulang.

Dan justru karena itu, ia ditentang. Oleh sebagian besar hierarki yang lebih akrab dengan dogma daripada dengan air mata, oleh mereka yang sudah terlalu nyaman hidup dalam tradisi kekuasaan yang membungkus kesalehan dengan seragam kebesaran. Fransiskus tak berusaha melawan mereka. Ia hanya melengkungkan arah Gereja perlahan-lahan, seperti orang yang menggeser pintu yang sudah lama seret.

Di bawah kepemimpinannya, pernyataan Gereja tentang dunia tak lagi penuh tuntutan. Ia menjadi sapaan, bukan dakwaan. Ia membuka ruang bagi dialog lintas iman, bukan sekadar membangun pagar di sekitar keyakinan sendiri. Ia tidak sekadar mengimbau perdamaian dari jauh, tapi pergi langsung ke zona konflik, dari Myanmar sampai Ukraina, dari Yaman sampai Gaza, dari Afrika Tengah sampai Rohingya yang terpinggirkan. Yang istimewa dari Fransiskus bukan keberaniannya berkata keras, tapi keberaniannya untuk berkata lembut di tengah dunia yang terus berteriak. Ia tahu bahwa ketegasan tidak harus hadir dalam bentuk bentakan. Ia tahu bahwa Gereja akan lebih dipercaya bukan saat ia merasa paling suci, tapi saat ia bersedia duduk bersama yang paling hina.

Dalam salah satu momen yang tak terlupakan, Fransiskus mencuci kaki para narapidana, termasuk perempuan, termasuk yang bukan Katolik. Itu bukan gestur karitatif. Itu adalah deklarasi: bahwa keimanan tidak boleh dipisahkan dari kesetaraan. Ia sadar bahwa simbol-simbol agama terlalu sering menjauhkan, padahal seharusnya merengkuh.

Selama dua belas tahun masa kepausannya, Fransiskus melakukan pembongkaran diam-diam. Ia tidak mengguncang Gereja dari luar, tapi melonggarkan baut-baut kekuasaan dari dalam. Ia desakralisasi kebiasaan lama yang mematikan kreativitas rohani. Ia buka peluang bagi awam, bagi perempuan, bagi suara-suara yang selama ini hanya bergema di luar dinding-dinding sinode.

Namun, dalam semua langkah itu, Fransiskus tahu bahwa ia tidak sedang membangun Gereja baru. Ia hanya sedang mencoba mengingatkan: bahwa Gereja pernah sederhana, pernah rapuh, pernah manusiawi. Ia ingin membawa Gereja kembali ke asalnya. Bukan dengan nostalgia, tetapi dengan tanggung jawab.

Gereja dalam bayangan Fransiskus bukanlah institusi yang bermegah dalam sejarahnya. Tapi yang bersujud dalam luka umatnya hari ini. Ia ingin Gereja lebih mirip rumah sakit lapangan daripada katedral kosong. Ia ingin para pemimpin agama mencium bau domba mereka, bukan duduk terlalu jauh hingga lupa suara umat. Kita bisa melihat, dalam wafatnya, ada kekosongan yang tidak bisa segera diisi. Karena warisan Fransiskus bukan kursi, bukan mahkota, bukan dogma baru. Tapi cara hadir yang tak bisa diajarkan, hanya bisa dijalani. Dan kepemimpinan semacam itu, lebih sering lahir dari luka daripada sekolah.

Kini ia telah tiada. Tapi justru kini, kita bisa benar-benar mulai memahami siapa ia sebenarnya. Karena dalam kepergiannya, yang tertinggal adalah ruang yang ia buka: bagi perbedaan, bagi pertanyaan, bagi kemungkinan bahwa agama tidak harus selalu tahu, tapi harus selalu peduli.

Fransiskus adalah Paus yang tidak pernah mencoba menjadi pusat. Ia berjalan ke pinggiran, dan memilih menetap di sana. Ia membuktikan bahwa Gereja bisa tetap kudus tanpa harus kaku, bisa tetap tegas tanpa menjadi keras, bisa tetap Katolik tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.

Dan barangkali, di akhir segala pencarian spiritual, itu yang paling penting. Bukan tentang kebenaran yang sempurna, tapi tentang keberanian untuk mengakui bahwa cinta selalu lebih dahulu daripada aturan. Fransiskus sudah pergi. Tapi kasih yang ia bawa masih tinggal. Di benak mereka yang pernah merasa diundang kembali. Di hati mereka yang pernah merasa disapa.

Dan di dunia yang semakin ragu apakah pemimpin spiritual masih dibutuhkan, kehadiran Fransiskus menjadi bukti: ya, dibutuhkan. Bukan untuk menjawab, tapi untuk mendengarkan. Bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk menemani. Bukan untuk mengatur langit, tapi untuk duduk bersama yang patah di bumi.

Selamat jalan, Fransiskus. Paus yang mengajarkan bahwa kekuasaan sejati datang dari keberanian untuk tidak menggunakannya. Bahwa kesucian bisa berwujud sederhana. Dan bahwa Gereja, kalau ia ingin hidup, harus kembali belajar berjalan bersama mereka yang selama ini tertinggal di belakang.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo