Dark
Light
Dark
Light

Musim Pembunuhan yang Belum Usai: Ihwal Peristiwa 1965-1966

Musim Pembunuhan yang Belum Usai: Ihwal Peristiwa 1965-1966

Geoffrey B. Robinson terakhir kali bertemu Budiardjo di sebuah restoran Cina dekat Piccadilly Circus, London. Mereka berbicara tentang Indonesia, ihwal tahun-tahun yang lewat di penjara, juga perihal keinginan Budiardjo untuk pulang setelah lebih dari lima belas tahun hidup jauh dari tanah air. Beberapa bulan kemudian Budiardjo meninggal. Ia wafat sekitar sepuluh ribu mil dari negeri yang kemerdekaannya pernah ia perjuangkan.

Robinson sengaja membuka The Killing Season: A History of the Indonesian Massacres, 1965-66 (Princeton University Press, 2018) dengan kisah itu. Ia tidak memulai dari Sukarno, Suharto, PKI, tentara, atau intrik diplomatik Perang Dingin. Ia memilih seorang mantan tahanan politik. Pilihan tersebut segera menentukan nada buku.

Budiardjo mendekam selama empat belas tahun tanpa dakwaan dan pengadilan. Bagi Robinson, pengalamannya penting justru karena nasib semacam itu tidak langka. Ia menjadi satu dari begitu banyak orang yang hidupnya berubah setelah Oktober 1965 melalui pembunuhan, penahanan, penyiksaan, pengawasan, atau pengasingan politik (Robinson, 2018, hlm. ix-x).

Robinson lalu membawa pembaca kepada angka yang selama ini mendominasi pembicaraan mengenai 1965. Sekira setengah juta orang yang dianggap anggota PKI, simpatisan, atau terkait dengan organisasi kiri diperkirakan terbunuh dalam rentang sedikit lebih dari enam bulan. Sekira satu juta orang lainnya ditahan. Banyak korban tidak bersenjata. Sebagian besar bergabung dalam organisasi politik dan sosial yang legal sebelum Oktober 1965 (Robinson, 2018, hlm. 3-5).

Namun Robinson tidak membiarkan angka mengambil alih cerita. Statistik memberi ukuran pada kekerasan, tetapi tidak menerangkan bagaimana kekerasan bekerja. Untuk memahami itu, ia kembali kepada pertanyaan tentang manusia. Siapa yang ditangkap? Siapa yang menentukan sasaran? Siapa yang menyediakan penjara dan kendaraan? Siapa yang membunuh? Siapa yang memberi izin? Siapa yang mendapatkan kekuasaan sesudahnya?

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah The Killing Season dibangun.

Angka Tidak Lagi Cukup

Buku ini terdiri atas sebelas bab. Robinson bergerak dari situasi politik sebelum 1965 menuju Gerakan 30 September, Perang Dingin, pembunuhan massal, peran tentara, keterlibatan asing, penahanan besar-besaran, nasib tahanan setelah dibebaskan, lalu persoalan kebenaran, keadilan, dan ingatan.

Susunan itu penting. Judul The Killing Season seolah menunjuk pada periode ketika pembunuhan berlangsung paling intens. Isi bukunya jauh lebih luas. Robinson sebenarnya menelusuri bagaimana penghancuran politik dimulai, dijalankan, lalu dilembagakan setelah pembunuhan mereda.

Ia mengajukan pertanyaan yang terdengar mendasar, tetapi sampai sekarang tidak seluruhnya selesai. Berapa sebenarnya jumlah korban? Siapa mereka? Bagaimana mereka dibunuh? Mengapa tingkat kekerasan berbeda antara Aceh, Jawa, Bali, Sumatra, dan daerah lain? Apa yang terjadi kepada orang-orang yang tidak dibunuh tetapi ditahan? Mengapa upaya mencari kebenaran dan pertanggungjawaban menghadapi hambatan begitu panjang? (Robinson, 2018, hlm. 5-6).

Pertanyaan semacam itu membuat Robinson berhati-hati terhadap satu penjelasan besar yang dianggap dapat menjawab semuanya.

Konflik tanah memang ada. Pertentangan agama dan politik juga nyata. Ketegangan antara PKI dan kelompok antikomunis telah tumbuh sebelum Oktober 1965. Robinson tidak menyangkal semua itu. Ia mempertanyakan kemampuan faktor-faktor tersebut menjelaskan waktu, pola, dan skala pembunuhan.

Jika kebencian lama menjadi sebab utama, mengapa kekerasan tidak meledak pada saat yang sama di seluruh Indonesia? Mengapa ada daerah yang mengalami pembunuhan besar, sementara daerah lain lebih banyak melakukan penahanan? Mengapa Bali mengalami jeda sebelum kekerasan meningkat? Mengapa kampanye penahanan berlangsung teratur selama bertahun-tahun jika semuanya berasal dari kemarahan spontan?

Di situlah Robinson mulai memindahkan perhatian dari suasana menuju mekanisme.

Cerita ihwal Amuk

Salah satu bagian paling kuat dari The Killing Season adalah kritik Robinson terhadap penjelasan yang menggambarkan pembunuhan 1965-1966 sebagai ledakan spontan masyarakat. Salah satu bentuk lama dari penjelasan itu memakai gagasan tentang “amuk”, seakan kekerasan muncul dari karakter budaya yang tiba-tiba lepas kendali.

Robinson menunjukkan kelemahan argumen semacam itu. Kemarahan spontan mungkin menjelaskan kerusuhan singkat. Musykil memakainya untuk menerangkan sistem penangkapan, interogasi, klasifikasi tahanan, pemindahan tahanan, kamp kerja paksa, dan penahanan yang berlangsung bertahun-tahun. Konflik agama dan sosial dapat membantu menjelaskan siapa berhadapan dengan siapa. Konflik itu tidak dengan sendirinya menerangkan mengapa pembunuhan massal terjadi pada waktu tertentu dan tidak pada waktu lain (Robinson, 2018, hlm. 12-14).

Robinson menempatkan tentara di pusat penjelasannya. Menurut dia, kepemimpinan militer mempunyai kemampuan organisasi, jaringan, logistik, serta kekuasaan yang diperlukan untuk mengubah ketegangan politik dan sosial menjadi kampanye kekerasan berskala besar.

Akan tetapi ia tidak melukiskan Indonesia sebagai papan catur yang seluruh bidaknya digerakkan dari Jakarta. Daerah mempunyai dinamika sendiri. Pejabat lokal mempunyai kepentingan sendiri. Organisasi sipil mempunyai sejarah konflik sendiri. Komandan regional pun tidak selalu bertindak dengan cara yang sama.

Perbedaan itu justru memperkuat analisis Robinson. Ia melihat variasi lokal sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan.

Di Bali, misalnya, resistensi dari pejabat daerah dan komandan militer setempat ikut menunda pembunuhan. Di Aceh, keselarasan antara unsur militer dan kelompok sipil antikomunis mempercepat kekerasan. Maka pertanyaan “pusat atau daerah” menjadi kurang berguna. Robinson lebih tertarik melihat bagaimana keputusan pusat bertemu dengan kepentingan lokal. Cara pandang tersebut menyelamatkan buku ini dari penjelasan yang terlalu mudah.

Tentara, Milisi, dan Pembagian Kerja

Kehadiran milisi sipil dalam pembunuhan 1965 sering menjadi dasar untuk menyebut kekerasan sebagai konflik horizontal. Robinson menganggap kesimpulan itu terlalu cepat.

Ia menunjukkan bahwa tentara menggunakan kelompok sipil untuk berbagai pekerjaan. Ada yang membantu mengenali orang yang dianggap kiri. Ada yang menangkap, menjaga, mengangkut, atau membunuh. Organisasi sipil memang memiliki kepentingan politik sendiri. Sebagian melakukan kekerasan tanpa instruksi langsung. Namun Robinson berpendapat bahwa kekerasan dalam skala nasional tidak dapat dijelaskan tanpa melihat dukungan, izin, logistik, dan kekuasaan militer yang menyertainya (Robinson, 2018, hlm. 20-21). Di sinilah The Killing Season menawarkan cara membaca kekerasan yang lebih berguna.

Melihat siapa yang memegang senjata belum cukup. Kita perlu mengikuti rantai tindakan sebelum senjata digunakan. Siapa menentukan bahwa seseorang patut ditangkap? Siapa memiliki daftar nama? Siapa menguasai penjara? Siapa menyediakan kendaraan? Siapa bisa memindahkan tahanan pada malam hari? Siapa mempunyai wewenang menghentikan operasi tetapi tidak melakukannya?

Pertanyaan semacam itu mengubah cara kita memahami tanggung jawab. Seorang algojo tetap bertanggung jawab atas tindakannya. Tetapi sejarah tidak selesai pada tangan yang melakukan pembunuhan. Ada institusi yang memungkinkan tangan itu bekerja.
Itulah salah satu sumbangan penting buku ini.

Pembunuhan dan Penjara

Robinson juga melakukan sesuatu yang kerap hilang dalam pembicaraan mengenai 1965. Ia menempatkan penahanan massal di dalam sejarah kekerasan, bukan sebagai cerita sampingan setelah pembunuhan selesai.

Banyak orang yang kemudian dibunuh terlebih dahulu masuk tahanan. Sebagian lain tetap hidup, tetapi menjalani penjara selama bertahun-tahun tanpa pengadilan. Karena itu Robinson membaca pembunuhan dan penahanan sebagai dua bentuk dari satu kampanye politik.

Ia menemukan pola yang menarik. Di sejumlah wilayah dengan tingkat pembunuhan tinggi, jumlah tahanan jangka panjang relatif lebih rendah. Di daerah lain, pembunuhan lebih sedikit tetapi penahanan lebih luas. Robinson sendiri mengakui bahwa data yang tersedia belum lengkap. Meski demikian, pola tersebut membuatnya menduga bahwa sebagian otoritas daerah menggunakan pembunuhan dan penahanan sebagai cara berbeda untuk mencapai tujuan politik yang sama (Robinson, 2018, hlm. 293-294).

Hal ihwal ini membuat kata “selamat” menjadi problematis.

Orang yang tidak dibunuh belum tentu kembali pada kehidupan sebelumnya. Program penahanan, kerja paksa, interogasi, dan pengawasan berlanjut jauh setelah pembunuhan massal mereda. Sebagian besar tahanan memang telah keluar pada akhir 1970-an. Namun kebebasan mereka datang bersama pembatasan.

Robinson menunjukkan bagaimana mantan tahanan dan keluarganya menghadapi stigma, pengawasan, kesulitan kerja, pembatasan hak politik, dan kecurigaan sosial. Pembebasan dari penjara tidak otomatis berarti pemulihan kehidupan (Robinson, 2018, hlm. 237-238).

Judul buku itu terasa makin ironis. Musim pembunuhan berakhir. Sistem yang lahir darinya tetap bekerja.

Perang Dingin 

Robinson memberi ruang besar kepada konteks internasional, terutama Amerika Serikat dan Inggris. Bagian ini termasuk yang paling sensitif dalam The Killing Season karena sejarah 1965 kerap menjadi lahan subur bagi klaim yang sulit dibuktikan.

Robinson cukup hati-hati menentukan batas argumennya. Ia tidak mengatakan bahwa bukti menunjukkan Amerika Serikat atau Inggris merancang Gerakan 30 September. Ia bahkan menegaskan bahwa bukti yang tersedia tidak mendukung kesimpulan tersebut.

Argumennya terletak di tempat lain.

Menurut Robinson, Amerika Serikat dan negara-negara Barat selama bertahun-tahun berusaha melemahkan Sukarno dan PKI, mendukung unsur antikomunis, memberikan bantuan kepada tentara, dan kemudian menyambut perubahan politik setelah Oktober 1965. Ia berpendapat bahwa dukungan internasional tersebut membantu menyediakan lingkungan yang memungkinkan kampanye kekerasan berlangsung dan rezim yang lahir sesudahnya memperoleh legitimasi luar negeri (Robinson, 2018, hlm. 21-24).

Inilah bagian buku yang perlu dibaca dengan disiplin yang sama seperti yang Robinson tuntut dari sejarah Indonesia.

Dokumen dapat menunjukkan bahwa suatu pemerintah memberikan bantuan. Arsip dapat membuktikan pejabat mengetahui pembunuhan sedang terjadi. Catatan diplomatik dapat memperlihatkan dukungan politik. Tetapi ketika sejarawan mengatakan suatu peristiwa tidak akan terjadi tanpa faktor tertentu, ia telah bergerak dari fakta menuju penafsiran sebab akibat.

Robinson sesekali melakukan lompatan itu ketika menyatakan bahwa tanpa kepemimpinan tentara, dukungan kekuatan asing, dan lingkungan Perang Dingin, konflik domestik tidak akan menghasilkan kekerasan dalam skala yang sama.

Argumen tersebut memiliki dasar yang kuat dalam keseluruhan buku. Namun ia tetap kontrafaktual. Kita tidak bisa membuka arsip dari sejarah yang tidak pernah terjadi.

Justru karena itu pembaca perlu membedakan tiga hal: apa yang dibuktikan dokumen, apa yang ditafsirkan sejarawan, dan apa yang ia perkirakan akan terjadi jika kondisi sejarah berbeda.

Perbedaan itu membuat pembacaan menjadi lebih kritis tanpa harus menolak keseluruhan argumen Robinson.

Siapa yang Menguasai Ingatan

Bagian akhir The Killing Season membawa pembaca kepada pertanyaan yang lebih panjang daripada pembunuhan itu sendiri. Bagaimana sebuah masyarakat mengingat kekerasan setelah pelakunya memperoleh kekuasaan?
Robinson melihat ingatan sebagai bagian dari politik.

Orde Baru memiliki kemampuan menentukan bagaimana 1965 diajarkan dan diperingati. Negara memakai sekolah, film, ritual publik, pengadilan, propaganda, dan gagasan tentang “bahaya laten komunisme” untuk mempertahankan sebuah narasi. Pada saat yang sama, orang yang membawa pengalaman berbeda harus hidup dengan stigma dan risiko.

Oleh karena itu, diam dalam The Killing Season bukan sekadar ketiadaan suara. Diam dapat diciptakan.

Orang bisa diam karena menyangkak bulu. Ada yang memilih diam karena trauma. Ada pula yang tidak ingin membuka kembali pengalaman lama. Sementara itu, institusi dapat menghasilkan kebisuan melalui hukum, pendidikan, sensor, dan tekanan sosial.

Robinson tidak menyederhanakan seluruh persoalan menjadi satu sebab. Ia bahkan mengakui bahwa hubungan antara kekerasan lama dan berbagai masalah sosial kontemporer membutuhkan penelitian tambahan. Sikap seperti ini justru penting. Buku sejarah yang kuat tahu kapan bukti berhenti dan interpretasi dimulai.

Ia juga berhati-hati terhadap kata “rekonsiliasi”. Robinson tidak menolaknya. Ia mempertanyakan rekonsiliasi yang menyingkirkan persoalan keadilan. Bagi dia, permintaan agar korban melupakan masa lalu tanpa proses yang menjelaskan apa yang terjadi hanya mengganti kebisuan lama dengan bahasa baru (Robinson, 2018, hlm. 305-306).

Kekuatan Buku 

The Killing Season mempunyai ambisi yang luas. Robinson menulis pembunuhan, penjara, milisi, tentara, diplomasi, Perang Dingin, propaganda, gender, hak asasi manusia, impunitas, dan politik ingatan dalam satu karya.

Ia membangun buku dari penelitian yang dikerjakan selama beberapa dasawarsa. Ia menggunakan arsip, dokumen yang telah dideklasifikasi, wawancara, serta penelitian para sarjana lain. Pada kata pengantar, ia bahkan tidak berusaha tampil sebagai sejarawan tanpa emosi. Robinson mengatakan secara terbuka bahwa kemarahan terhadap pembunuhan dan impunitas mendorongnya menulis buku ini. Ia ingin mengganggu kebisuan yang mengelilingi 1965 (Robinson, 2018, hlm. ix-x).

Keberpihakan moral semacam itu tidak otomatis merusak sejarah. Masalah baru muncul jika kemarahan menggantikan pembuktian. Robinson sebagian besar berhasil menjaga jarak tersebut. Ia tetap menunjukkan variasi daerah, keterbatasan data, perbedaan pendapat, serta batas klaim yang dapat ditopang bukti.

Walakin ambisi buku ini memiliki harga.

Semakin besar struktur yang dijelaskan Robinson, semakin jauh pula kita kadang bergerak dari manusia yang membuka cerita. Budiardjo terasa dekat pada halaman pertama. Setelah pembahasan memasuki komando militer, diplomasi Amerika, jaringan milisi, dan struktur penahanan, individu seperti dirinya sesekali tenggelam di balik analisis.

Paradoks itu sulit dihindari. Untuk menjelaskan satu kehidupan, kita perlu mendekati manusia. Untuk menjelaskan ratusan ribu kehidupan yang dihancurkan, kita perlu melihat institusi.

Robinson berusaha melakukan keduanya. Tidak selalu seimbang, tetapi usaha itulah yang membuat buku ini bernilai.

Belajar Membaca Sejarah 

The Killing Season menawarkan sesuatu yang dapat dipakai pembaca jauh setelah buku ditutup. Ia memberikan cara untuk membaca sejarah politik yang diperebutkan.

Mulailah dari kronologi. Jangan menganggap dua peristiwa mempunyai hubungan sebab akibat hanya karena terjadi berdekatan. Bandingkan satu daerah dengan daerah lain. Jika sebuah penjelasan diklaim berlaku secara nasional, cari tempat yang tidak cocok dengan penjelasan tersebut.

Lihat siapa yang memiliki kemampuan nyata untuk bertindak. Siapa punya senjata? Siapa memiliki penjara? Siapa menguasai kendaraan? Siapa mempunyai daftar? Siapa dapat memerintahkan orang lain? Siapa memiliki kekuasaan membiarkan sesuatu terjadi?

Baca dokumen resmi dengan pertanyaan yang sama seperti ketika membaca kesaksian korban. Siapa yang membuat dokumen? Untuk kepentingan apa? Apa yang ia catat? Apa yang sengaja tidak ia katakan?

Lalu pisahkan fakta dari interpretasi.

Cara kerja seperti itu terdengar semenjana. Dalam sejarah yang telah dipenuhi propaganda, trauma, kepentingan politik, dan kesetiaan kelompok, ia justru sulit dilakukan.

Robinson tidak selalu memberi jawaban yang tak terbantahkan. Buku sejarah yang baik memang tidak perlu melakukan itu. Ia cukup membuat jawaban sederhana terasa tidak memadai.

Musim yang Belum Selesai

Budiardjo menghabiskan empat belas tahun di penjara tanpa pengadilan. Angka “empat belas” dapat selesai dibaca dalam satu detik. Menjalaninya membutuhkan bagian besar dari hidup seseorang. Di situlah The Killing Season menemukan kekuatan moralnya.

Setengah juta orang terbunuh memberi kita ukuran tragedi. Sekitar satu juta tahanan menunjukkan luasnya represi. Tetapi kehidupan Budiardjo mengingatkan bahwa statistik selalu terdiri atas manusia yang kehilangan pekerjaan, keluarga, kesempatan, kesehatan, nama baik, atau masa depan.

Robinson tidak menutup seluruh perdebatan tentang 1965. Ia justru membuat pembaca melihat berapa banyak pertanyaan yang masih tersisa.
Itu kekuatan utama buku ini.

Ia tidak mengganti satu cerita resmi dengan satu cerita tunggal yang baru. Ia menunjukkan mekanisme, membuka arsip, menghubungkan peristiwa, dan mengajak pembaca memeriksa bagaimana kekuasaan bekerja sebelum, selama, dan sesudah pembunuhan.

Musim pembunuhan itu berlangsung beberapa bulan. Penjara bertahan lebih lama. Stigma berlangsung puluhan tahun. Pertarungan mengenai ingatan bahkan belum selesai.

Arkian, Budiardjo meninggal tanpa sempat pulang ke Indonesia. Robinson membuka bukunya dari sana karena sejarah tidak hanya tercatat dalam pergantian presiden, kemenangan tentara, atau perubahan aliansi internasional. Sejarah juga hidup dalam sesuatu yang jauh lebih sederhana: seseorang yang menunggu pulang, lalu tidak pernah mendapat kesempatan untuk melakukannya.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo