Dark
Light
Dark
Light

Setop Dehumanisasi Suami: Ketika 'Mokondo' Menjadi Racun bagi Istri yang Sedang Berjuang

Setop Dehumanisasi Suami: Ketika 'Mokondo' Menjadi Racun bagi Istri yang Sedang Berjuang

Belakangan ini, media sosial banyak dibanjiri dengan istilah suami “Mokondo”, terutama ketika penghasilan istri dianggap lebih besar dibanding pasangan laki-lakinya. Situasi itu semakin terlihat ketika seorang suami, publik figur dari penyanyi terkenal harus membuka mutasi rekening, honor sinetron, hingga pendapatan miliaran rupiah demi membantah tudingan “Mokondo” yang dilontarkan netizen.

Istilah “Mokondo” — singkatan dari “modal kontol doang” (modal kelamin saja) — kini kerap digunakan untuk menghina laki-laki yang dianggap tidak mampu menafkahi istri atau memiliki pendapatan lebih rendah dibanding pasangannya. Padahal, di balik candaan yang dianggap lucu oleh sebagian orang, tersimpan bentuk dehumanisasi yang berbahaya bagi kesehatan mental, harga diri, dan ketahanan keluarga

Penggunaan istilah tersebut tidak bisa lagi dianggap sekadar gurauan internet. Kata-kata memiliki daya rusak yang nyata. Ketika seorang suami terus-menerus dicap tidak berguna hanya karena tidak memenuhi standar maskulinitas tradisional sebagai pencari nafkah utama, tekanan psikologis yang muncul dapat menghancurkan relasi dalam rumah tangga. Lebih buruk lagi, penghinaan itu bukan hanya melukai suami, tetapi juga membebani istri yang sedang berjuang mempertahankan keluarganya. Alih-alih membantu, komentar sinis publik justru menciptakan rasa malu, konflik batin, dan ketegangan emosional di dalam rumah.

Kita perlu mengakui bahwa struktur ekonomi dan sosial masyarakat memang sedang berubah. Fenomena istri sebagai pencari nafkah utama atau female breadwinner kini semakin umum ditemukan. Dalam banyak keluarga, perempuan bekerja lebih keras, memiliki penghasilan lebih tinggi, atau bahkan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Namun perubahan ini tidak selalu diiringi perubahan cara pandang masyarakat. Banyak orang masih terjebak pada norma lama bahwa laki-laki harus selalu menjadi pihak yang paling dominan secara finansial. Ketika realitas ekonomi tidak sesuai dengan ekspektasi budaya tersebut, lahirlah stigma dan penghinaan.

Penelitian Akanle dan Nwaobiala (2020) mengenai female breadwinner dan stabilitas keluarga menunjukkan bahwa kondisi ini sering kali bersifat rapuh, bukan karena perempuan tidak mampu mencari nafkah, tetapi karena tekanan budaya yang terus menilai laki-laki berdasarkan pendapatan mereka. Ketika masyarakat terus mempermalukan suami yang berpenghasilan lebih rendah, relasi rumah tangga menjadi rentan terhadap konflik. Artinya, ancaman terhadap stabilitas keluarga bukan semata-mata masalah ekonomi, melainkan akibat tekanan sosial yang terus memproduksi rasa malu dan inferioritas pada laki-laki.

Temuan serupa juga muncul dalam penelitian Lee (2022) tentang norma male breadwinner. Studi tersebut menunjukkan bahwa keyakinan tradisional bahwa suami harus lebih kaya dibanding istri masih menjadi faktor kuat penyebab ketidakpuasan dalam pernikahan. Banyak pasangan sebenarnya mampu bertahan secara ekonomi, tetapi mengalami tekanan emosional akibat tuntutan sosial yang tidak realistis. Dalam situasi seperti ini, komentar netizen yang merendahkan suami justru menjadi katalisator yang memperburuk kondisi psikologis keluarga.

Ironisnya, banyak orang merasa bahwa dengan menghina suami, mereka sedang membela istri yang bekerja keras. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Nyinyiran publik justru sering menjadi beban tambahan bagi perempuan. Penelitian Parry dan Segalo (2017) mengenai pengalaman perempuan pencari nafkah utama di Afrika Selatan menunjukkan bahwa banyak istri mengalami kelelahan emosional yang berat. Mereka tidak hanya dituntut kuat secara ekonomi, tetapi juga harus menjaga perasaan suami agar tidak merasa kehilangan harga diri. Dalam kondisi seperti itu, hinaan publik terhadap pasangan mereka justru memperbesar tekanan mental yang harus dipikul.

Bayangkan posisi seorang istri yang setiap hari bekerja keras mencari nafkah, lalu harus membaca ribuan komentar yang menyebut suaminya tidak berguna. Ia berada dalam situasi serba salah. Di satu sisi, ia ingin mempertahankan keluarganya dan mendukung suaminya. Di sisi lain, ia dipaksa menyaksikan orang luar merendahkan pasangan yang ia cintai. Alih-alih merasa didukung, perempuan seperti ini justru merasa rumah tangganya dijadikan tontonan publik. Pada titik ini, istilah “Mokondo” bukan hanya penghinaan terhadap laki-laki, tetapi juga bentuk pelecehan terhadap pilihan hidup perempuan itu sendiri.

Kita perlu mulai menggeser fokus dalam memandang rumah tangga. Kontribusi dalam keluarga tidak selalu diukur dari jumlah uang yang dibawa pulang. Ada banyak bentuk dukungan lain yang sama berharganya. Seorang suami mungkin tidak memiliki penghasilan sebesar istrinya, tetapi ia hadir sebagai pendamping emosional yang stabil, membantu mengurus anak, menjaga rumah, atau menjadi tempat pulang yang menenangkan bagi istrinya. Hal-hal seperti ini sering kali tidak terlihat oleh publik, tetapi justru menjadi fondasi penting dalam menjaga keluarga tetap utuh.

Pernikahan bukan kompetisi penghasilan. Pernikahan adalah kerja sama antara dua manusia yang saling menopang dalam berbagai bentuk. Ketika masyarakat hanya mengukur nilai seorang laki-laki dari uang yang ia hasilkan, kita sedang menyederhanakan relasi manusia menjadi sekadar transaksi ekonomi. Cara pandang seperti ini tidak sehat, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Karena itu, sudah saatnya kita menghentikan budaya menghakimi dapur rumah tangga orang lain. Menggunakan istilah seperti “Mokondo” hanya memperpanjang rantai penghinaan berbasis gender dan memperbesar tekanan sosial terhadap keluarga yang sebenarnya sedang berjuang. Yang dibutuhkan keluarga female breadwinner bukanlah ejekan, melainkan dukungan sosial yang lebih manusiawi. Kita perlu mengapresiasi perempuan yang bekerja keras tanpa merendahkan pasangan mereka. Kita juga perlu memberi ruang bagi laki-laki untuk tetap memiliki harga diri meski kondisi ekonomi rumah tangga berubah.

Kasus publik figur yang harus memamerkan saldo rekening demi membuktikan dirinya “layak” sebagai suami adalah cermin betapa sakitnya cara masyarakat memandang peran gender hari ini. Jika seseorang harus membuka privasi finansialnya hanya agar tidak dihina publik, maka ada yang keliru dalam budaya kita. Ketahanan keluarga tidak dibangun semata oleh uang, melainkan oleh rasa hormat, empati, dan kemampuan saling mendukung di tengah perubahan zaman. Karena pada akhirnya, rumah tangga yang kuat bukanlah rumah tangga yang paling kaya, melainkan rumah tangga yang mampu menjaga martabat satu sama lain dari luka yang datang dari luar.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Istiadah
Ketua Forum Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo