Dark
Light
Dark
Light

Tembok Penghalang Kemajuan Pendidikan adalah ‘Sopan Santun’

Tembok Penghalang Kemajuan Pendidikan adalah ‘Sopan Santun’

Sopan santun itu penting. Tata krama memang dipercayai ampuh dalam menjaga harmoni dan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Tapi, eksistensinya tetap patut dipertanyakan, terutama ketika masuk pada ruang-ruang yang semestinya bebas dari banyak intervensi dan aturan kaku. Misalnya sopan santun dalam dunia pendidikan yang sering menuai polemik.

Beberapa bulan lalu, tulisan Profesor Bagong Suyanto berjudul Gerakan dan Idealisme Mahasiswa terbit di Media Indonesia pada 29 Oktober 2024. Artikel itu mendapat banyak perhatian lantaran berisi pemikiran yang menyoroti pentingnya etika akademik dalam kritik mahasiswa, khususnya penggunaan bahasa yang 'sopan dan berbobot'.

Lalu, Virdika, dalam tulisan yang diunggah oleh Arina.id (1/11/2024) menanggapi bahwa justru dalam sejarah, bahasa satire dan ekspresi tajam telah menjadi cara efektif untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap sistem yang dianggap tidak adil, terutama bagi mahasiswa. Meminta bahasa kritik tersampaikan dalam bentuk yang 'sopan' sama dengan mengabaikan sifat demokratis dari kebebasan berekspresi yang seharusnya didukung oleh setiap institusi pendidikan.

Sebenarnya problem sopan santun tidak hanya menjadi masalah dalam ruang publik kampus, tetapi di internalnya juga masih berbentuk benang kusut. Saya merasa bingung, sejauh mana sopan santun bisa diterapkan dalam ruang pendidikan, terutama ketika proses dialog atau pengujian argumen terjadi di ruang kelas. Batasnya kerap kali kabur karena tidak ada ketentuan yang jelas.

Sepanjang yang saya ingat, sopan santun hampir mendominasi kelas. Banyak mahasiswa enggan atau merasa takut untuk menyampaikan pendapat yang berbeda, tajam, atau kritis. Biasanya karena dua hal: takut dianggap ambisius oleh teman-teman, lalu bisa dilabeli sebagai tindakan tidak sopan kepada yang lebih tua (dosen), lantaran banyak kritik dan tanya.

Hal itu tentu menjadi masalah serius, karena secara tidak langsung kemampuan untuk berpikir terbuka dan mampu mengekspresikan gagasan perlahan ditumpulkan. Akibatnya, bukan hanya membuat individu menjadi pasif, tetapi lambat laun akan menjadikan masyarakat Indonesia ke arah intoleran, konservatif, dan eksklusif. Pikiran dikondisikan untuk tidak bekerja sampai titik terjauh.

Ternyata, masalah itu bukan barang baru. Taufik Abdulah dalam Prisma edisi Maret 1987, melalui tulisan bertajuk Musuh Utama Universitas adalah Kerutinan, menceritakan hal yang nyaris serupa. Ia menuliskan bahwa ada mahasiswa yang bersikap belas kasihan terhadap dosen tertentu. Kalau dosen tersebut mengajar, mahasiswa tidak mau bertanya apalagi mendebat. Kasihan dosennya. Jadi, mahasiswa sengaja menerima apa kata dosen ini supaya sang dosen jangan hancur dan tidak merasa dipermalukan.

Ini bukan iklim yang sehat. Perkembangan pengetahuan tidak akan mungkin terjadi ketika tidak ada dialog di ruang-ruang intelektual. Profesi dosen atau pengajar memang harus mempersiapkan diri untuk diperas atau dihantam dengan ilmu. Tak lain, agar hadir pikiran-pikiran segar, kemungkinan-kemungkinan baru yang semakin memperkaya corak ilmu pengetahuan.

Sayangnya hingga kini, di Indonesia masih ada kecenderungan memukul rata sopan santun yang menyangkut pikiran. Ada hambatan-hambatan hirarkis yang membuat isi tidak dianggap lebih penting dari yang berbicara. Pendapat seseorang bisa dianggap selalu benar dan tidak pernah dibantah, hanya karena ia lebih tua atau memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Padahal, kualitas dari isi pemikiran lebih penting ketimbang siapa yang memikirkannya.

Saya teringat sebuah cerita yang disampaikan oleh Roanne Van Voorst dalam bukunya bertajuk Tempat Terbaik di Dunia (2018). Roanne mengisahkan perihal sopan santun yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Ia menjelaskan bahwa sejak kecil, anak-anak dikondisikan untuk tidak boleh begitu saja membantah (secara argumentatif) orang yang lebih tua, karena dianggap tidak sopan. Mendengarkan, menaati, dan menghormati orang yang lebih tua umumnya dianggap lebih penting ketimbang sikap kritis.

Roane lalu mengkomparasikan peristiwa tersebut dengan iklim yang terbangun di negeri asalnya. Seandainya ia membantah secara argumentatif neneknya yang ada di Belanda, akan terjadi perdebatan yang panas dengan nikmat dan sama-sama puas. Berdebat bukan dianggap sebagai budaya yang tabu apalagi dilarang. Tapi, untuk nenek di Indonesia hal demikian dianggap sebaliknya.

Di Amerika, sejak tahun 90-an awal, sopan santun yang menghambat pemikiran sejak lama berupaya dienyahkan. Film Dead Poet Society (1989) garapan Peter Weir adalah salah satu sinema yang berupaya mendobrak sopan santun dalam ruang akademik. Adegan saat John Keating, guru yang punya pemikiran maju, merobek buku dan naik ke atas meja adalah bentuk serangan untuk iklim pendidikan yang mengandung keseragaman dan keteraturan.

Dalam salah satu dialog, John Keating mengatakan: "Boys, you must strive to find your own voice. Because the longer you wait to begin, the less likely you are to find it at all." Kalimat itu mengandung maksud bahwa setiap anak punya kebebasan untuk menyuarakan pikirannya. Sekali saja kesempatan itu dikubur, maka selamanya kita akan kehilangan suara lainnya. Pink Floyd melalui lagu bertajuk Another Brick in the Wall (1979) juga menyampaikan kritiknya terhadap pendidikan: We don’t need no education/ We don’t need no thought control/ no dark sarcasm in the classroom/teacher, leave them kids alone.

Jika pada akhirnya pendidikan hanya melahirkan orang-orang tanpa kebaruan dan gairah untuk menggali pengetahuan, artinya masa depan akan bermasalah. Pendidikan adalah kompas untuk menentukan arah negara. Salah satu masalah pendidikan yang membutuhkan respon secepatnya adalah budaya menyeragamkan cara berpikir dan melakukan pembatasan-pembatasan baik secara langsung maupun tidak. 

Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Taufik Abdullah dalam salah satu tulisannya: “Rutin dalam Administrasi mungkin bisa berarti keteraturan, tetapi rutin dalam pemikiran dan ilmu pengetahuan tak lebih dan tak kurang artinya stagnasi alias kemandegan.”
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo