Setelah Konferensi Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-28 (United Nations Climate Conference -COP28) di Dubai, komunitas global berada di persimpangan jalan dalam upaya memerangi perubahan iklim. Pertemuan yang bertujuan untuk memperkuat komitmen bersama untuk membatasi kenaikan suhu global ini menggarisbawahi sebuah kebenaran penting: perjuangan melawan perubahan iklim tidak hanya menuntut tindakan pemerintah, tetapi juga keterlibatan semua sektor masyarakat, termasuk organisasi keagamaan.
Dari perspektif Indonesia, peran organisasi Islam, khususnya Nahdlatul Ulama (NU), sangatlah penting. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di dunia, NU memiliki posisi yang unik untuk memobilisasi komunitas Muslim Indonesia dan berkontribusi secara signifikan terhadap upaya lingkungan global.
Sebagai bagian penting dari Global South, Indonesia mengalami dampak terberat dari perubahan iklim dengan naiknya permukaan air laut, penggundulan hutan yang merajalela, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Dalam situasi seperti ini, pengaruh dan otoritas moral NU dapat menjadi sangat penting. Organisasi ini dapat memanfaatkan jaringan akar rumputnya yang luas untuk mendidik dan memobilisasi masyarakat dalam praktik-praktik berkelanjutan, membingkai pengelolaan lingkungan dalam ajaran Islam.
Potensi NU dalam bidang perubahan iklim tidak hanya terbatas di Indonesia. Keterlibatannya dalam forum global seperti COP28 sangatlah penting. Dengan mewakili suara umat Islam Indonesia, NU dapat memastikan bahwa tantangan unik Indonesia dan negara-negara lain tidak terlewatkan dalam kesepakatan iklim global. Partisipasinya dapat memperkuat keprihatinan negara-negara di belahan bumi selatan, mengadvokasi solusi iklim yang adil dan merata.
Selain itu, keterlibatan NU dapat menjembatani kesenjangan antara komitmen global dan aksi lokal. NU dapat mengadvokasi komitmen yang lebih besar dari para pemimpin Indonesia dan dunia, mendorong kebijakan yang selaras dengan pelestarian lingkungan dan nilai-nilai Islam. Dengan melakukan hal tersebut, NU dapat mengubah opini publik, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk perubahan kebijakan yang berdampak.
Pendidikan adalah bidang penting lainnya di mana pengaruh NU dapat menjadi transformatif. Dengan mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam jaringan lembaga pendidikannya yang luas, NU dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan. Menargetkan generasi muda sangat penting, karena mereka akan menanggung konsekuensi masa depan dari keputusan iklim hari ini.
NU dapat menjadi contoh di tingkat akar rumput, mempromosikan praktik-praktik berkelanjutan di lembaganya dan mendorong masyarakat luas untuk mengikutinya. Tindakan sederhana seperti penanaman pohon, konservasi air, dan pengelolaan limbah dapat memberikan dampak kumulatif yang signifikan. Selain itu, NU dapat memperjuangkan energi terbarukan, menjadi contoh bagi tanggung jawab terhadap lingkungan.
Kemitraan sangat penting dalam memperkuat dampak NU dalam memerangi iklim. Berkolaborasi dengan pemerintah Indonesia dan badan-badan internasional dapat memberikan sumber daya, keahlian, dan jangkauan yang lebih luas. Aliansi semacam itu dapat membantu pencapaian Kontribusi Nasional yang Diniatkan (NDC) Indonesia serta memfasilitasi transfer teknologi dan dukungan finansial.
Inovasi dalam pembangunan berkelanjutan adalah arena lain di mana NU dapat membuat tanda. Mendukung inisiatif yang mengawinkan prinsip-prinsip Islam dengan teknologi modern dapat mengarah pada pengembangan solusi ramah lingkungan di bidang energi, pertanian, dan pengelolaan limbah. Pendekatan ini dapat mengatasi masalah lingkungan dan mendorong pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial.
Dalam menghadapi krisis iklim yang semakin parah, keterlibatan Nahdlatul Ulama bukan hanya sebuah kesempatan, tetapi juga sebuah keharusan. Saat COP28 berlangsung, NU berdiri sebagai peserta dan mercusuar harapan dan tindakan. Posisi unik organisasi ini dalam masyarakat Indonesia dan dunia Islam memberdayakannya untuk menjadi katalisator perubahan, melampaui advokasi lingkungan tradisional. Potensi dampak NU lebih dari sekadar implementasi kebijakan atau inisiatif; NU memiliki kemampuan untuk membentuk kembali narasi aksi iklim dalam kerangka kerja Islam.
Dengan memperjuangkan model di mana keyakinan agama dan pengelolaan lingkungan saling terkait, NU dapat mendefinisikan kembali lingkungan hidup sebagai kewajiban moral dan spiritual yang tertanam kuat, bukan hanya keharusan ilmiah atau politik. Pergeseran ini dapat menciptakan efek riak yang jauh melampaui Indonesia, menginspirasi gerakan serupa di seluruh Dunia Selatan. Ketika dunia bergulat dengan realitas perubahan iklim, keterlibatan Nahdlatul Ulama yang kuat dan menggugah pemikiran dapat menjadi kekuatan transformatif yang diperlukan untuk menggembleng masyarakat dan bangsa menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan adil.
Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura
Editor: Muhammad Zunus


