Dark
Light
Dark
Light

Hadits dan Kriteria Pemimpin yang Adil

Hadits dan Kriteria Pemimpin yang Adil

Ada hadits (perkataan, perbuatan, persetujuan, atau taqrir Nabi Muhammad Saw yang dijadikan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur'an) sahih yang menyatakan, "Apabila seorang pemimpin menjalankan urusan rakyatnya dengan adil, maka itu lebih baik daripada ia melaksanakan shalat sunnah seribu rakaat" (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban). Hadits ini sangat dipercaya sebagai peringatan penting dalam ajaran Islam mengenai tanggung jawab seorang pemimpin. Dalam level apa pun.

Hadits ini menekankan bahwa keadilan dalam memimpin adalah atribut yang sangat ditekankan dan memiliki nilai lebih tinggi daripada ibadah individu, walaupun ibadah tersebut adalah shalat sunnah yang sangat dianjurkan.

Keberadaan seorang pemimpin yang adil sangat krusial di tengah-tengah masyarakat. Keadilan tidak hanya berarti menerapkan hukum secara sama kepada semua orang, tetapi juga memahami konteks dan kebutuhan rakyat. Pemimpin yang adil akan berusaha untuk memutuskan setiap permasalahan dengan bijaksana dan menegakkan kebenaran. Tanpa  pandang bulu.

Hal ini akan menciptakan kepercayaan dari masyarakat terhadap pemimpin dan institusi yang dipimpinnya, yang pada gilirannya dapat menciptakan ketenteraman dan kesejahteraan. Sehingga tidak ada cerita demo bernama "Indonesia Gelap," dan seterusnya.

Di dunia saat ini, terdapat beberapa pemimpin yang bisa dianggap memiliki kriteria keadilan seperti yang dijelaskan dalam hadits ini. 

Sebagai contoh, pemimpin yang berhasil menanggulangi kesenjangan sosial, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan mendorong partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai contoh dari pemimpin yang adil. 

Contoh yang sering disebut adalah Jacinda Ardern, mantan Perdana Menteri Selandia Baru, yang dikenal dengan pendekatannya yang empatik dalam menangani isu-isu sosial dan krisis, termasuk penanganan Covid-19 dan kebijakan imigrasi yang manusiawi.

Namun, keadilan bukanlah sifat yang mudah ditemukan. Banyak negara masih dipimpin oleh otoritarianisme atau sistem pemerintahan yang tidak mendengarkan suara rakyat. Dalam banyak kasus, pemimpin mungkin lebih fokus pada kekuasaan dan keuntungan pribadi dan kelompoknya, daripada mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat. 

Oleh karena itu, tantangan bagi rakyat adalah untuk memilih pemimpin yang dapat bertindak layaknya pelayan publik yang benar-benar menjalankan amanah dengan adil. Sekali lagi, pelayan publik, bukan pelayan partai.

Karenanya, dalam konteks ini, penting bagi masyarakat untuk aktif terlibat dalam proses demokrasi serta memegang dan menciptakan pemimpin yang akuntabel. Dengan menegakkan merit sistem yang terukur. Keadilan dalam kepemimpinan dapat dicapai jika rakyat memberikan suara dan memilih pemimpin yang berkomitmen untuk melayani dengan integritas dan kejujuran. Bahkan kemudian rakyat dibohongi dengan UU dan seterusnya yang telah dicurangi sedemikian rupa, itu di luar kuasa jelata.

Yang pasti, hadits ini sekaligus menunjukkan bahwa keadilan dan kebijaksanaan seorang pemimpin dalam menjalankan urusan rakyatnya memiliki nilai yang sangat tinggi dan dapat dianggap sebagai ibadah yang sangat berharga.

Namun, perlu diingat bahwa hadits ini tidak berarti bahwa shalat sunnah tidak penting atau dapat diabaikan. Shalat sunnah tetap memiliki keutamaan dan manfaat yang besar dalam meningkatkan kualitas spiritual dan hubungan dengan Allah Swt.

Jadi, hadits ini sebenarnya menekankan pentingnya keadilan dan kebijaksanaan dalam kepemimpinan, serta mengingatkan kita bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada ritual-ritual keagamaan, tetapi juga mencakup perilaku dan tindakan kita sehari-hari.

Yang paling utama, hadits ini menekankan pentingnya keadilan dan kepemimpinan yang adil bagi seorang pemimpin. Pesan utamanya bagi para pemimpin dan calon pemimpin adalah bahwa  kebaikan dan kebermanfaatan bagi rakyat jauh lebih utama dan bernilai daripada (sekedar) ibadah ritual semata, meski ibadah tersebut dilakukan secara intensif.

Keadilan dalam memimpin dan mengurus urusan rakyat merupakan kewajiban utama.  Shalat sunnah, meskipun baik, tidak bisa menggantikan tanggung jawab utama seorang pemimpin untuk bertindak adil dan melayani rakyatnya dengan baik.  

Akhirnya, hadits ini mendorong pemimpin untuk memprioritaskan kesejahteraan dan keadilan rakyat di atas kepentingan pribadi atau ibadah ritual semata. Seorang pemimpin yang adil akan mendapatkan ridha Allah Swt, dan itu jauh lebih bernilai daripada sekadar banyaknya ibadah sunnah yang dilakukan.

Sebagai penutup, hadits ini mengingatkan kita bahwa tanggung jawab pemimpin lebih besar daripada sekadar kemampuan beribadah. Keadilan dalam kepemimpinan adalah pondasi bagi masyarakat yang sejahtera. 

Kita harus terus mendukung pemimpin yang berbasis pada prinsip-prinsip keadilan dan mendorong terciptanya lingkungan yang memungkinkan keadilan tersebut dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Benny Benke
Pemerhati persoalan sosial.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo