Oleh: Akh. Muzakki
Jangan pernah menganggap remeh kebajikan walaupun itu kecil. Dan jangan pula menyepelekan keburukan walaupun besarannya seperti kerikil. Karena yang kecil namun baik itu bisa menimbulkan kebajikan besar. Begitu pula dengan yang buruk. Bisa saja tampak kecil di mata kita, tapi bisa besar di mata sesama. Karena itu, mungkin saja kebaikan itu kecil di mata kita, tapi di mata yang lain bisa saja sebuah kebajikan yang besar. Pula, mungkin keburukan itu kecil di mata kita, tapi di mata sesama bisa bermakna besar.
Itulah petuah yang selalu revelan untuk dipegang kuat dalam hidup. Dan, yang terjadi pada kerja pelayanan haji di Makkah, Arab Saudi, juga membuktikan kebenaran petuah di atas.
Alkisah, berdatanganlah jemaah haji Indonesia. Secara bergiliran. Tapi bertubi-tubi. Sesuai dengan penerbangan yang membawa mereka dari embarkasi yang berbeda-beda. Tepatnya sejak 12 Mei 2024, jemaah haji Indonesia sudah mulai terbang ke Arab Saudi. Khususnya, mereka jemaah haji Indonesia yang kebetulan mendapatkan jatah tinggal di berbagai hotel dalam koordinasi Sektor 8, Daerah Kerja (Daker) Makkah.
Semua pelayanan dilakukan sebaik-baiknya. Mulai dari pengecekan dokumen, pembagian kamar, penyerahan kunci kamar, hingga penyerahterimaan konsumsi. Semua terlibat dalam penyambutan baik itu. Tak hanya petugas haji Indonesia di Sektor 8 yang berjibaku dengan pelayanan penyambutan itu. Tapi juga ada perwakilan masyariq. Yakni, perusahaan investasi Arab Saudi yang bekerja untuk pelayanan haji dan umrah. Ada juga pimpinan dan pegawai maktab (kini dikenal dengan nama lain, markaz). Yakni, kantor yang diberi kewenangan Pemerintah Arab Saudi untuk mengurus penyiapan layanan jemaah haji, termasuk asal Indonesia.
Saat Jemaah semua kloter terakhir sudah masuk ke hotel, dan itu artinya semua jemaah haji dari berbagai kloter dari bermacam-macam embarkasi sudah menempati jatah hotel dan kamar masing-masing, kepala Sektor 8 Ahmad Bahir Ghozali sangat cerdas sekali. Tampak dia sangat memahami psikologi para petugas haji yang sudah bekerja keras untuk penyambutan kedatangan Jemaah haji dari Indonesia. Diadakanlah acara tasyakkuran. Isunya syukuran sukses penyambutan kedatangan jemaah haji Indonesia. Tempatnya di lantai kerja piminan Sektor 8 itu.
Dihiaslah ruangan dengan berbagai macam pernik. Ada balon yang tampak sengaja dibuat dalam dua warna: merah dan putih, seperti bisa dilhat di bagian bawah. Ada sejumlah bunga yang diletakkan di ruangan itu. Agar ruangan tampak lebih cantik dan sedap dipandang. Tentu juga ada berbagai jamuan makan dan minum. Tapi, satu yang tak boleh dilupakan: adanya perangkat untuk bernyanyi bersama. Ada TV LED sebesar sekitar 75 inchi. Juga terdapat sound system yang modern. Dilengkapi pula dengan speaker besar namun portable merek JBL. Tentu, suara yang keluar dari perangkat itu sangat bagus dan enak didengar.
Thala’al badru ‘alaina, min tsaniyyatil wada’, wajabasy syukru ‘alaina, ma da’a lillahi da’. Itulah lirik lantunan shalawat yang dinyanyikan bersama-sama oleh semua yang hadir di acara tasyakkuran itu. Semua ikut beryanyi. Para petugas haji Indonesia di Sektor 8 ikut melantunkan shlawat itu. Dipimpin langsung oleh Kepala Sektor 8. Orang menyebut beliau dengan panggilan pada umumnya sesuai namanya, Pak Bahir. Saya menyebut beliau dengan kyai. Lengkapnya Kyai Bahir.
Kepala Sektor 8 itu pribadi yang menarik. Selain tugas formalnya sebagai Kepala Bidang Haji, beliau juga menjadi kyai di pesantren peninggalan kakek moyangnya di daerah Rangkasbitung, Banten. Dia kini menjadi pengasuh utama di pesantren itu. Dia kelahiran Makkah. Kala itu ayahandanya menjadi pengajar di Madrasah Dar al-‘Ulum ad-Diniyyah di Syi‘b ‘Ali Makkah. Dengan bekal tinggal di Makkah dan tekun mutha’laah kitab kuning, dia memiliki kecakapan Bahasa Arab lisan yang sangat bagus sekali.
Seakan dipandu bak paduan suara, semua yang hadir kala tasyakkuran itu berdiri dan bernyanyi bersama. Satu-persatu diberi kesempatan untuk melantunkan shalawat itu. Walau hanya satu bait saja. Semua mendapat gilirannya. Lalu, di tengah suasana riang itu, para keluarga dan pegawai maktab itu menaburkan bunga ke atas. Pertanda mereka sangat bahagia. Seakan sama memilikinya dengan para petugas haji Indonesia atas momen tasyakkuran itu. Betul-betul tampak sekali rasa bahagia di antara mereka.
Taburan bunga oleh para keluarga dan pegawai maktab di atas tentu adalah bentuk apresiasi mereka kepada para petugas haji Indonesia yang telah bertugas luar bisa dalam penyambutan ribuan jemaah di sektor itu. Melihat pemandangan ini, beralihlah kepala Sekor 8 itu dari titik dia berdiri ke samping kiri, dia bergegas ke meja. Lalu dia mengambil setangkai bunga yang ada di meja itu. Diraihnya setangkai bunga itu, lalu diberikannya kepada seorang perempuan keluarga maktab yang sedang duduk riang di kursi.
Melangkahlah Kepala Sektor itu ke perempuan itu. Sejurus kemudian, dia sorongkan setangkai bunga itu ke hadapan perempuan itu. Entah apa yang terjadi, dalam hitungan detik berikutnya, perempuan itu menangis. Sesenggukan. Makin lama sesenggukannya makin menjadi-jadi. Hingga semua yang berada di ruangan itu terhening. Selain karena perempuan itu adalah keluarga pimpinan maktab, dia menangis dengan tiba-tibanya sesaat seusai diberi setangkai bunga oleh Kepala Sektor 8 itu.
Melihat perempuan itu menangis dan para tamu lainnya terhening, Kepala Sektor itu mulai merasa ada yang salah pada tindakannya. Apalagi juga, beberapa detik setelah perempuan itu mulai menangis, datang laki-laki Arab yang tampak lebih dewasa dari perempuan itu. Kepala Sekor 8 itu langsung merasa dag dig dug.
“Waduuuh, apa yang salah dari saya ya?” begitu yang dia pikirkan kala itu. “Wah, jangan-jangan saya telah menyinggung perasaan perempuan itu,” ungkapnya penuh gundah begitu lelaki dewasa itu mendekat ke perempuan itu, lalu sejurus kemudian menghampirinya.
Berada dalam situasi seperti itu, Kepala Sektor 8 itu bergumam dalam hati: “Wah, saya ini bisa-bisa dalam situasi sulit nih!?” Lebih lanjut hatinya berdecak semakin kencang, dan kemudian bertanya lirih: “Jangan-jangan pemberian setangkai bunga saya ke perempuan itu menjadi penyebabnya. Dia mungkn tersinggung. Keluarganya pun juga jadi ikut tersinggung. Hadeeeuuuh.”
Hati Kepala Sektor itu semakin berdetak keras begitu lelaki itu melangkah makin mendekat ke dirinya. “Ya Allah, kenapa akhirnya jadi begini ya?” begitu kira-kira yang dia rasakan kala itu sambil mereka-reka apa yang akan dilakukan lelaki dewasa itu kepadanya usai memastikan perempuan itu menangis usai diberi setangkai bunga.
“Adek saya sudah bercerita. Hingga dia menangis!” Demikian kalimat pembuka pertama yang diucapkan lelaki dewasa itu kepada Kepala Sektor 8 itu. Pada titik ini, hati Kepala Sektor 8 itu makin berdebar. Nyalinya mulai menciut. Tekadnya mulai mengkerut. Pertanda gelisah hebat mulai menjemput. Apalagi terasa sekali kala itu, tak ada seorang pun dari yang hadir ikut-ikut. Seakan semua tak ada yang bisa diurai dan diusut. Pikirannya pun dibuat acak-acakan seperti benang kusut.
“Begini, adek saya sudah bercerita semuanya.” Demikian lelaki itu mulai menyampaikan kalimat-kalimat seriusnya. Tapi, atas pernyataan itu, hati Kepala Sektor 8 itu makin berdetak kencang saja. Seakan-akan musibah akan menimpanya. Dan tak butuh waktu lebih lama, lelaki itu melanjutkan kalimatnya sebagamana berikut: “Oh, begini saja, jika Anda mau dan adek saya setuju, bagaimana kalau Anda saya nikahkan dengan adek saya itu. Dia terpesona sekali dengan cara kamu menghormatinya. Dia tadi menangis karena merasa sangat dihormati. Karena itu, dia jatuh hati padamu.”
Mendapat penjelasan lelaki bos maktab seperti itu, Kepala Sektor 8 itu langsung menimpali: “Oh tidak. Tidak. Tidak.” Kepala Sektor itu langsung menolaknya. Dia lalu menjelaskan bahwa dia memberinya bunga itu mewakili para petugas haji Indonesia di sektor itu. Juga, itu dia lakukan sebagai ungkapan balasan keramahan dan penghormatan yang telah diberikan oleh para pimpinan dan pegawai maktab kepada para petugas haji Indonesia di Sektor 8 itu. Dia menjelaskan bahwa dia harus melakukan itu tak lebih dari bentuk penghormatan yang didapat dari maktab.
Rupanya, dari penjelasan sang kakak itu, Kepala Sektor 8 itu menjadi paham. Bahwa perempuan itu menangis seusai mendapatkan pemberian seuntai bunga darinya. Diceritakan oleh sang kakak: “Baru kali ini, dia merasa ada lelaki yang begitu romantis. Sangat ramah dan baik kepadanya sebagai perempuan.” Dan melihat adeknya merasa terhormat dan langsung jatuh cinta pada Kepala Sektor 8 itu, maka dia pun langsung mengambil langkah lebih maju. Yakni menawari Kepala Sektor 8 itu untuk menikahi adeknya. Itu walaupun Kepala Sektor itu juga harus menolaknya dengan caranya sendiri.
Ternyata, setangkai bunga yang kecil itu mampu meluluhkan hati perempuan, termasuk dari kelas terhormat sekalipun. Dan Kepala Sektor 8 itu baru tersadar bahwa tindakannya yang bisa dibilang kecil oleh banyak orang itu ternyata bisa memberi dampak besar pada kehidupan perempuan dari keluarga berada di Arab Saudi itu. Hingga kakaknya mengambil keputusan untuk menawarkan dan menikahkan adeknya dengan dirinya jika dia sediri setuju dan mau.
Berikutnya, Kepala Sektor 8 itu mendapatkan informasi lebih jauh bagaimana yang terjadi dengan perempuan yang menangis saat diberinya setangkai bunga itu. Sebetulnya perempuan itu sudah dari sejak awal kedatangan petugas haji beserta jemaah haji Indonesia melihat kemulian-kemuliaan yang diperuntukkan kepada dia dan orang-orang Arab Saudi di sekelilingnya. Jiwa melayani petugas haji Indonesia dinilai sangat mengagumkan mereka. Dibopongnya jemaah haji lansia, laki atau perempuan hingga dipandunya mereka dalam menjalani hari-hari di Arab Saudi dinilai mempesona. Dan jiwa melayani beserta perangai baik lainnya ternyata dianggap sebagai sebuah kemuliaan yang besar oleh perempuan-perempuan Arab Saudi itu.
Dan pemberian setangkai bunga itu ternyata menyempurnakan kesan baik perempuan-perempuan Arab Saudi yang ada di maktab itu atas perangai baik para petugas haji Indonesia. Ekspresi menangisnya perempuan itu menandakan kekagumannya pada akhlak para petugas haji Indonesia pada satu sisi, dan kerinduannya pada figur-figur dengan akhlak seperti para petugas haji Indonesia itu. Maka, pelajarannya, biarlah akhlak yang berbicara. Bukan ucapan yang membusa. Dengan begitu, kemuliaan agama akan mewujud padanya.
Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Anggota Tim Monitoring dan Evaluasi Haji 2024
Prof. Akh Muzakki
Penulis adalah Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya
Editor: Muhammad Faizin


