Dark
Light
Dark
Light

Membuka Tabu dan Stereotip Persoalan Menstruasi

Membuka Tabu dan Stereotip Persoalan Menstruasi

"Perempuan adalah basis dari masyarakat mana pun. Perempuan lebih kuat. Tapi, mereka tak mengenali diri mereka sendiri. Mereka tak tahu besarnya kekuatannya dan yang bisa mereka lakukan." Period. End of Sentence (2018).

September, Oktober, November, memberi pemahaman baru pada diri saya dalam memandang kehidupan perempuan. Pandangan saya perlahan berubah, dimulai ketika mengikuti sebuah acara diskusi bertajuk Kompleksitas Tubuh dan Pengalaman Menstruasi bagi Perempuan, tepatnya pada pertengahan September, 2024. Kegiatan itu digelar oleh Pusat Kajian Perempuan Solo (PUKAPS).

Sepanjang sesi, saya banyak diam, khusyuk mendengar beragam cerita dari para peserta. Ada yang sedih, menangis, kecewa, dan marah.

Salah satu peserta mengisahkan pengalaman menstruasi pertamanya yang lekat dengan bullying. Orang-orang sekitar, kerap masih menjadikan peristiwa datang bulan sebagai bahan olokan: “Awas bocor!”, “Ih, pasti bau!”, “Jangan dekat-dekat, dia kotor,” dan disusul beragam kalimat lain.

Peserta lainnya mengisahkan krisis produk menstruasi. Ia meceritakan betapa mengerikan dan menegangkannya ketika menstruasi pertama datang saat masih di sekolah. Ia kesulitan untuk mendapatkan pembalut sebab kantin, juga koperasi sekolah tidak menjualnya. Jika pada akhirnya mendapatkan dari teman, hukum tidak tertulis menyatakan harus disembunyikan dari mata siapa pun. Pembalut hampir dirahasiakan nyaris seperti transaksi narkoba.

Orang-orang juga masih banyak mempercayai ribuan mitos yang menyelubungi menstruasi: tidak boleh keramas, darah haid adalah kotor, tidak boleh berenang, tidak boleh minum air dingin, dan beragam narasi lain. Yang lebih pelik, salah seorang peserta juga menceritakan bahwa orang-orang di bagian Timur Indonesia, harus membeli pembalut dengan harga yang tidak murah, dua sampai tiga kali lipat dari harga umum. Stereotip dan kemiskinan menstruasi nyata dialami perempuan.

Oktober, mempertemukan saya dengan tokoh Anne dalam buku Anne of Green Gables (1908) gubahan Lucy Montgomery. Buku itu adalah novel klasik dengan ratusan juta pembaca. Dalam salah satu bagian, dikisahkan sikap Anne ketika menghadapi menstruasi pertamanya. Respon gadis itu ketika celananya berlumuran darah adalah menangis, takut, marah, dan malu. Datang bulan dianggap sebagai peristiwa yang merepotkan dan mengerikan. Normalisasi untuk menganggap peristiwa menstruasi adalah hal yang aneh dan tidak normal terjadi lewat teks sastra.

Simone De Beauvoir melalui bukunya bertajuk Second Sex (1989), juga menuliskan hal serupa terjadi pada gadis-gadis di Perancis akhir abad ke-20. Perempuan di negaranya pada waktu itu sangat menganggap tabu hal-hal menyangkut menstruasi. Bahkan, informasi seputar haid sangat sedikit didapatkan. Dalam bukunya itu, Beauvoir menuliskan salah satu kisah seorang gadis: “Aku Terkejut ketika di usia dua belas tahun aku mengalami menstruasi untuk pertama kalinya. Aku ketakutan, dan setelah ibuku dengan santainya berkata bahwa hal itu akan terjadi setiap bulan, aku menganggapnya sebagai suatu ketidaksenonohan dan menolak untuk mengakui jika itu ternyata tidak dialami oleh laki-laki.”

Kisah disusul dengan beragam cerita dari para gadis yang bernada serupa.

November, membawa saya berkenalan dengan sebuah film dokumenter berjudul Period. End of Sentence (2018) garapan Rayka Zehtabchi. Sinema yang amat apik dan sangat pantas menerima penghargaan Piala Oscar 2019 kategori film dokumenter pendek terbaik. Period. End of Sentence (2018) membuka tabu dan stereotip persoalan menstruasi yang  masih terjadi hingga kini, setelah puluhan tahun buku Anne of Green Gables (1908) dan Second Sex (1989) diterbitkan.

Pertama-tama, film menampilkan gambaran para perempuan yang enggan membicarakan apa pun yang mengarah pada peristiwa menstruasi. Hal-hal seputar haid dianggap tabu, memalukan, dan harus disembunyikan, walaupun yang dibicarakan mengarah pada sisi kesehatan, kebersihan, dan pengetahuan perihal haid.

Lalu, kamera juga menyoroti anggapan dari banyak laki-laki yang masih meyakini haid merupakan suatu penyakit dan hal yang aneh. Pemuka agama juga menyatakan darah menstruasi adalah kotor dan melarang perempuan yang haid untuk pergi ke tempat ibadah, sebab menurutnya Tuhan tidak menengok dan mengabulkan doa perempuan yang menstruasi.

Puncaknya, seorang perempuan memilih untuk berhenti belajar karena minimnya fasilitas di sekolah. Ia mengalami kesulitan menemukan ruang untuk mengganti celananya yang basah dan memperoleh pembalut  yang layak untuk dipakai.  Di sisi lain, perasaan takut menyergap tubuhnya karena khawatir darah yang keluar akan menembus celanan dan berhadapan dengan beragam pasang mata.

Film dokumenter tersebut juga menggambarkan minimnya pengetahuan seputar kesehatan menstruasi. Masih banyak perempuan yang mengunakan kain kotor dan menangani peristiwa datang bulan dengan tidak tepat. Kondisi itu bisa lebih jelas terlihat dalam film yang terkait dengan Period. End of Sentence (2018) yaitu Pad Man (2018) disutradarai R. Balki. 

Sinema itu juga menampilkan persoalan haid. Pad Man (2018) menceritakan perjalanan seorang laki-laki bernama Arunachalam Muruganantham. Ia berupaya menyediakan pembalut aman dan murah bagi kaum perempuan tidak mampu di pedesaan. Perjalanan itu sangat pelik, sebab agama, budaya, bahkan perempuan itu sendiri tidak menyambut gagasan itu dengan tangan terbuka.

Tiga bulan memikirkan persoalan menstruasi, membuat saya menyimpan begitu banyak pertanyaan: kenapa perubahan tubuh dan psikologis pada perempuan lekat dengan bullying, stereotip, mitos, dan akses informasi yang minim? Mengapa perempuan yang sedang datang bulan kerap dihinggapi rasa malu? Mengapa persoalan menstruasi dianggap tabu? Dan mengapa hal demikian tidak terjadi pada laki-laki? 

Di daerah saya, dan mungkin juga daerah lainnya, perubahan tubuh pada laki-laki yang biasanya ditandai dengan acara ‘Sunatan atau Khitan’ biasa disambut dengan kebahagiaan. Orang-orang bersorak dan mengartikan peristiwa itu sebagai berkah. Bahkan, anak laki-laki yang baru dikhitan biasanya dipersilakan duduk padaa tempat khusus untuk menerima ucapan selamat dan dukungan moral dari banyak orang.

Saya membayangkan dan terus berharap, perubahan tubuh pada perempuan juga diperlakukan serupa: penuh kebahagiaan, dukungan, dan rasa bangga. Perempuan yang mengalami perubahan fisik dan psikologis nantinya tidak perlu lagi malu atau menangis di sudut ruangan karena menganggap dirinya tidak normal. Pikirannya tidak lagi dipenuhi oleh setumpuk stereotip, mitos, dan beragam bullying, tetapi berisi pikiran jernih untuk mengembangkan potensi dan kecerdasannya.  

Tapi, mungkinkah harapan itu akan terjadi? Saya yakin mungkin. Kapankah hal itu akan terjadi? Barangkali ketika orang-orang yang bersinggungan dengan agama, budaya, dan kebijakan negara berkenan menyadari kekeliruannya selama ini, dan mau untuk berembug mikirkan permasalahan perempuan yang banyak terjadi akibat budaya partiarki yang terus dilanggengkan.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo