Dark
Light
Dark
Light

Di Balik Sambutan Washington untuk Xi Jinping

Di Balik Sambutan Washington untuk Xi Jinping

23 September 2026, Xi Jinping tiba di Washington untuk kunjungan kenegaraan selama tiga hari. Donald Trump menyambut langsung pemimpin China itu di Joint Base Andrews. Sehari kemudian, Gedung Putih menggelar penghormatan militer, pertemuan bilateral, dan jamuan kenegaraan. Pada 25 September, Trump dan Xi minum teh di Gedung Putih lalu mengunjungi National Archives sebelum Xi meninggalkan Washington. Pemandangannya hangat, bahkan sangat hangat untuk dua negara yang selama hampir satu dekade terakhir menjadikan satu sama lain sebagai sumber utama kekhawatiran strategis.

Seremoni itu mudah dibaca sebagai tanda perbaikan hubungan Amerika Serikat dan China. Pembacaan tersebut hanya menangkap permukaan. Kunjungan Xi tidak menunjukkan bahwa Washington telah menjadi lebih nyaman dengan pertumbuhan kekuatan China. Amerika justru sedang belajar memisahkan dua kepentingan yang berjalan bersamaan. Hubungan politik dengan Beijing perlu dijaga agar tetap stabil, sementara risiko dari kemampuan China tetap harus dibatasi. Diplomasi melunak, sedangkan kalkulasi strategis tetap keras.

Hasil pertemuan memperlihatkan jarak tersebut. Amerika dan China memperpanjang gencatan perdagangan selama dua bulan sampai Januari 2027. Tidak muncul penyelesaian besar mengenai tarif, kecerdasan buatan, akses teknologi, maupun Taiwan. Reuters mencatat kunjungan itu penuh simbolisme dengan sedikit terobosan pada persoalan utama kedua negara. Washington tampaknya tidak datang untuk mengubah struktur persaingan. Tujuannya lebih sempit, yakni mencegah persaingan kembali bergerak ke tingkat yang merusak kepentingan Amerika sendiri.

Empat bulan sebelumnya, Trump berkunjung ke Beijing dan memperoleh hasil serupa. Hubungan menjadi lebih stabil tanpa perubahan berarti pada sumber utama ketegangan. Pola yang sama muncul kembali di Washington. Konsistensi itu penting karena memperlihatkan perubahan dalam cara Trump mengelola China. Retorika konfrontatif tidak lagi menjadi satu-satunya cara untuk memperlihatkan ketegasan. Gedung Putih bersedia memberi Xi seluruh kehormatan seorang kepala negara besar sambil mempertahankan kebijakan teknologi, perdagangan, dan pertahanan yang disusun dengan China sebagai pesaing utama.

Sikap tersebut lahir dari perubahan kondisi material. Tekanan ekonomi Amerika tidak menghasilkan China yang lebih mudah dikendalikan. Beijing tetap memiliki basis manufaktur sangat besar, surplus perdagangan yang kuat, posisi penting dalam mineral kritis, serta kemampuan untuk membalas pembatasan Washington. Menjelang pertemuan, ekspor China tetap menjadi salah satu sumber kekuatan Xi dalam menghadapi Trump. Pengalaman perang tarif juga menunjukkan bahwa eskalasi dapat membebani perusahaan dan konsumen Amerika tanpa otomatis memaksa Beijing memenuhi tuntutan Washington.

Washington pun menjadi lebih berhati-hati dalam menggunakan kekuatan yang masih dimilikinya. Amerika tetap unggul dalam sejumlah teknologi mutakhir, pasar keuangan, jaringan aliansi, dan proyeksi militer. Keunggulan tersebut tidak menghapus kerentanan baru. Pembatasan ekspor dapat dibalas dengan kontrol mineral kritis. Tarif dapat memukul perdagangan China sekaligus menaikkan biaya bagi perusahaan Amerika. Tekanan militer dapat memperkuat deterrence sekaligus meningkatkan risiko salah perhitungan. Ruang untuk menekan Beijing masih besar, tetapi biaya penggunaan tekanan semakin sulit diabaikan.

Kehati-hatian itu menjelaskan mengapa seremoni Washington tidak boleh disamakan dengan kepercayaan. State dinner pada 24 September bahkan dipenuhi pemimpin perusahaan teknologi Amerika, termasuk tokoh dari Nvidia, SpaceX, dan perusahaan besar lain. Kehadiran mereka memperlihatkan kepentingan ekonomi Amerika yang masih besar di tengah persaingan strategis. Perusahaan menginginkan pasar, akses, dan kepastian. Pemerintah tetap memikirkan kontrol teknologi, keamanan rantai pasok, dan keunggulan militer. Kebijakan terhadap China bergerak di antara dua tekanan tersebut, sehingga keramahan diplomatik justru menjadi alat untuk menjaga kompetisi agar tidak menutup seluruh ruang ekonomi.

Kehati-hatian Amerika juga terlihat di luar ruang pertemuan Gedung Putih. Tiga hari sebelum Xi diterima Trump, Menteri Luar Negeri Marco Rubio bertemu dengan mitranya dari Jepang dan Korea Selatan di New York. Washington kembali menegaskan komitmen pertahanan kepada kedua sekutu tersebut serta dukungan terhadap perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Sebulan sebelumnya, pejabat senior Pentagon Elbridge Colby juga menegaskan bahwa Amerika tidak meninggalkan Asia dan tetap mengejar keseimbangan kekuatan yang menguntungkan di Indo-Pasifik. Urutan peristiwa ini penting. Washington menyambut Xi dengan protokol tertinggi sambil memastikan sekutu regional bahwa arsitektur deterrence terhadap kemungkinan penggunaan kekuatan China tetap berdiri.

Taiwan memberi bukti paling jelas. Menjelang kunjungan, Beijing kembali menekan Washington untuk menghentikan penjualan senjata kepada Taipei dengan merujuk komunike 1982. Pemerintahan Trump sebelumnya menyetujui paket persenjataan sekitar 11 miliar dollar AS untuk Taiwan pada 2026. Pertemuan di Washington tidak menghasilkan perubahan posisi mendasar. Bagi Beijing, Taiwan tetap menyangkut kepentingan inti dan kedaulatan. Bagi Amerika, kemampuan China di sekitar Selat Taiwan tetap masuk dalam perhitungan keseimbangan militer di Pasifik. Kehangatan personal Trump dan Xi berhenti tepat di depan perbedaan strategis tersebut.

Teknologi menunjukkan pola serupa. Trump menyebut kecerdasan buatan sebagai topik besar dalam pembicaraan dengan Xi. Beberapa hari sebelum pertemuan, Menteri Keuangan Scott Bessent mengusulkan mekanisme notifikasi keselamatan AI kepada Wakil Perdana Menteri He Lifeng. Pada saat bersamaan, kompetisi chip canggih, pusat data, model AI, dan rantai pasok teknologi tetap berjalan. Washington berkepentingan mencegah insiden atau salah perhitungan, sekaligus mempertahankan keunggulan pada teknologi yang dianggap strategis. Dialog muncul justru karena kedua negara semakin mampu saling merugikan.

Di titik itu, karpet merah untuk Xi memperoleh makna lebih penting daripada sekadar keramahan Trump. Washington sedang menyesuaikan diplomasi dengan kenyataan yang semakin sulit dihindari. China terlalu besar untuk dikelola hanya dengan tarif, terlalu terintegrasi dengan ekonomi global untuk dipisahkan tanpa biaya tinggi, dan terlalu kuat secara militer untuk dihadapi tanpa saluran politik yang stabil. Penerimaan atas fakta tersebut tidak berarti Washington menerima preferensi Beijing. Amerika dapat mengakui bobot China sambil tetap berusaha membatasi ruang strategisnya.

Perubahan terbesar dari kunjungan Xi terletak pada cara Amerika mengelola kewaspadaannya sendiri. Washington tidak lagi perlu memilih antara merangkul Beijing atau menekannya setiap saat. Dua pendekatan itu sekarang berjalan bersamaan. Trump dapat menjamu Xi di Gedung Putih, memperpanjang gencatan perdagangan, dan menjaga hubungan personal tetap hangat. Pemerintahannya tetap menjual senjata ke Taiwan, mempertahankan keunggulan teknologi, dan menyiapkan kekuatan militernya di Pasifik. Karpet merah tersebut tidak menandai berkurangnya kekhawatiran Amerika terhadap China. Kunjungan itu justru memperlihatkan seberapa hati-hati Washington kini memperlakukan sebuah kekuatan yang sudah terlalu besar untuk ditekan tanpa konsekuensi.

 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo