Arina.id – Istilah Generasi Strawberry beberapa tahun terakhir cukup sering digunakan untuk menggambarkan anak muda yang dinilai mudah rapuh ketika berhadapan dengan tekanan dan tantangan kehidupan. Istilah ini sebenarnya pertama kali populer di Taiwan pada dekade 1990-an, kemudian digunakan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Sebutan tersebut mengambil perumpamaan dari buah stroberi yang tampak menarik dan segar dari luar, tetapi relatif mudah memar ketika mendapatkan tekanan.
Di Indonesia, istilah Generasi Strawberry kerap dilekatkan dengan generasi muda, terutama Generasi Z, yang tumbuh dalam situasi sosial dan teknologi yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka hidup dalam era digital, ketika informasi bergerak begitu cepat dan berbagai kebutuhan dapat dipenuhi hanya melalui telepon pintar.
Kondisi tersebut tentu memberikan banyak kemudahan, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan baru dalam pembentukan karakter dan ketahanan mental.
Professor Rhenald Kasali dalam bukunya Strawberry Generation (2017) pernah mengangkat persoalan mengenai kondisi kesehatan mental masyarakat Indonesia. Ia mengutip data riset kesehatan dasar yang menunjukkan adanya jumlah penduduk berusia 15 tahun ke atas yang mengalami gangguan mental emosional maupun depresi.
Data tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa persoalan kesehatan mental bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele, terutama ketika perubahan sosial berlangsung begitu cepat.
Dalam kehidupan sehari-hari, anak muda yang disebut sebagai bagian dari Generasi Strawberry sering digambarkan sebagai kelompok yang mudah merasa tertekan ketika menghadapi tuntutan. Tantangan kecil terkadang dianggap sebagai persoalan besar sehingga membuat mereka cepat frustrasi, kecewa, bahkan memilih menghindar.
Namun, gambaran tersebut tentu tidak boleh digeneralisasi kepada seluruh generasi muda. Setiap generasi memiliki karakter, tantangan, kelebihan, dan kekurangannya masing-masing.
Di sisi lain, generasi muda saat ini justru memiliki kemampuan yang tidak selalu dimiliki generasi sebelumnya. Mereka lebih terbiasa dengan teknologi, cepat mendapatkan informasi, lebih terbuka dalam membicarakan persoalan psikologis, serta relatif berani menyampaikan gagasan dan perasaan.
Keterbukaan terhadap isu kesehatan mental, misalnya, tidak selalu menunjukkan kelemahan. Dalam banyak keadaan, kemampuan seseorang untuk mengakui bahwa dirinya sedang mengalami tekanan justru dapat menjadi langkah awal untuk mencari pertolongan.
Persoalannya kemudian bukan sekadar apakah anak muda saat ini lebih kuat atau lebih rapuh dibandingkan generasi terdahulu. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan pola pendidikan membentuk kemampuan mereka dalam menghadapi kehidupan.
Sebab ketahanan seseorang tidak muncul secara tiba-tiba. Ia dibentuk melalui pengalaman, kebiasaan, tanggung jawab, keteladanan, dan proses menghadapi berbagai persoalan.
Pola asuh menjadi salah satu faktor penting dalam proses tersebut. Orang tua tentu memiliki naluri untuk memberikan yang terbaik kepada anak. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan anak, melindungi dari kesulitan, serta memastikan buah hatinya mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada yang pernah mereka alami.
Sikap tersebut pada dasarnya merupakan bentuk kasih sayang. Namun, kasih sayang yang diberikan secara berlebihan tanpa memberikan ruang kepada anak untuk belajar menghadapi kesulitan justru dapat membuat mereka kurang siap ketika berhadapan dengan realitas kehidupan.
Di sinilah kisah masa kecil Nabi Muhammad SAW menarik untuk direnungkan. Kehidupan beliau sejak kecil tidak berjalan dalam kemewahan dan kenyamanan sebagaimana yang mungkin dibayangkan dari status keluarga beliau. Nabi Muhammad SAW bahkan telah kehilangan ayah sebelum beliau lahir.
Ketika berusia sekitar enam tahun, beliau juga kehilangan ibunda tercinta, Aminah. Setelah itu, beliau berada dalam pengasuhan kakeknya, Abdul Muthalib, hingga sang kakek wafat. Selanjutnya, beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.
Secara nasab, Nabi Muhammad SAW berasal dari keluarga terhormat di tengah masyarakat Quraisy. Kakek beliau, Abdul Muthalib, merupakan tokoh penting di Makkah. Dengan kedudukan tersebut, sebenarnya Muhammad kecil memiliki latar belakang yang memungkinkan beliau mendapatkan kehidupan yang lebih mudah. Namun perjalanan hidup beliau justru memperlihatkan bagaimana seorang anak ditempa melalui pengalaman yang tidak selalu nyaman.
Sejak masih kecil, Muhammad SAW juga menjalani kehidupan di perkampungan Bani Sa'd bersama ibu susuannya, Halimah as-Sa'diyah. Tradisi masyarakat Arab ketika itu memang mengenal kebiasaan menyerahkan bayi kepada ibu susuan yang tinggal di daerah pedesaan.
Selain faktor bahasa dan lingkungan, kehidupan di luar Makkah memberikan suasana yang lebih alami dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Anak-anak juga terbiasa berhadapan dengan lingkungan yang menuntut kemandirian dan ketahanan fisik.
Muhammad kecil tumbuh dalam lingkungan tersebut dan mengalami kehidupan yang sederhana. Salah satu pengalaman yang kemudian dikenal dalam perjalanan hidup beliau adalah menggembala kambing. Pekerjaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi menggembala membutuhkan kesabaran, ketelitian, tanggung jawab, dan kemampuan menjaga sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang.
Seekor penggembala tidak hanya berjalan mengikuti hewan gembalaannya, tetapi harus memastikan semuanya tetap berada dalam pengawasan dan tidak tersesat.
Pengalaman semacam inilah yang dapat menjadi pelajaran penting dalam pendidikan anak. Tanggung jawab tidak cukup hanya diajarkan melalui nasihat. Anak juga perlu diberi kesempatan untuk mengalaminya secara langsung.
Mereka perlu belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ada pekerjaan yang melelahkan, ada keinginan yang harus ditunda, ada kegagalan yang harus diterima, dan ada persoalan yang harus diselesaikan tanpa selalu mendapatkan bantuan orang lain.
Ketika berada dalam pengasuhan Abu Thalib, Muhammad SAW juga hidup dalam keluarga yang sederhana. Abu Thalib memiliki tanggungan keluarga yang cukup besar dan tidak berada dalam kondisi ekonomi yang berlebihan.
Dalam sejumlah riwayat sirah, Nabi Muhammad SAW kemudian dikenal pernah menggembalakan kambing untuk mendapatkan penghasilan. Dari sinilah tampak bahwa proses menuju kemandirian telah dimulai sejak usia muda.
Kehidupan tersebut tentu tidak berarti bahwa anak harus sengaja dibiarkan hidup dalam kesulitan. Islam tidak pernah mengajarkan orang tua untuk menyengsarakan anak. Justru orang tua memiliki kewajiban memberikan kasih sayang, perlindungan, pendidikan, makanan, kesehatan, dan kebutuhan yang layak. Namun memberikan perlindungan bukan berarti menghilangkan seluruh tantangan dari kehidupan anak.
Anak perlu mengenal batas antara kenyamanan dan kemanjaan. Mereka perlu memahami bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi, tidak setiap kegagalan harus disalahkan kepada orang lain, dan tidak semua masalah dapat diselesaikan oleh orang tua. Ada waktunya anak diberi kepercayaan untuk memilih, mengambil keputusan, menyelesaikan tugas, menerima konsekuensi, dan belajar dari kesalahan.
Dalam konteks inilah pembahasan mengenai Generasi Strawberry menjadi relevan. Jika sebagian anak muda hari ini dianggap lebih mudah menyerah ketika menghadapi tekanan, maka salah satu hal yang perlu dievaluasi bukan hanya karakter anak, tetapi juga bagaimana mereka dibesarkan.
Apakah sejak kecil mereka terlalu sering diselamatkan dari persoalan? Apakah setiap kesulitan selalu disingkirkan oleh orang tua? Apakah anak terlalu jarang diberi tanggung jawab? Ataukah mereka justru dibebani tuntutan yang terlalu berat tanpa mendapatkan dukungan emosional yang memadai?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena pola asuh yang sehat bukanlah pola asuh yang membuat anak selalu nyaman, tetapi pola asuh yang mempersiapkan anak menghadapi kehidupan. Anak membutuhkan kasih sayang, tetapi juga membutuhkan batasan.
Mereka membutuhkan perlindungan, tetapi juga membutuhkan kesempatan untuk belajar mandiri. Mereka membutuhkan apresiasi, tetapi juga perlu memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar.
Kisah kehidupan Rasulullah SAW memberikan salah satu teladan bahwa pengalaman hidup dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter. Kehilangan orang tua, hidup bersama keluarga yang sederhana, tinggal di lingkungan pedesaan, menggembala kambing, hingga mengenal aktivitas perdagangan sejak muda menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk pribadi beliau.
Karena itu, istilah Generasi Strawberry sebaiknya tidak digunakan untuk memberi cap negatif kepada anak muda. Label semacam itu justru berpotensi membuat kita melihat generasi muda hanya dari kelemahannya. Padahal, mereka memiliki kemampuan, kreativitas, keberanian, dan cara berpikir yang menjadi modal penting untuk menghadapi masa depan.
Yang diperlukan adalah pola pendidikan yang seimbang. Anak muda perlu dididik agar memiliki kemampuan intelektual sekaligus ketahanan mental. Mereka harus diajarkan untuk memiliki empati tetapi tidak mudah menyerah, berani menyampaikan pendapat tetapi tetap menghormati orang lain, terbuka terhadap perubahan tetapi memiliki prinsip, serta mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan bersosialisasi secara nyata.
Pada akhirnya, membentuk generasi yang kuat bukan berarti menciptakan anak yang tidak pernah menangis, tidak pernah kecewa, atau tidak pernah merasa takut. Generasi yang kuat justru adalah generasi yang mampu bangkit setelah mengalami kegagalan, mampu belajar dari kesalahan, dan tetap memiliki harapan ketika menghadapi kesulitan.
Maka, daripada sibuk menyebut anak muda sebagai Generasi Strawberry, barangkali lebih baik kita bertanya apakah lingkungan keluarga dan pendidikan telah memberikan mereka cukup bekal untuk menghadapi kehidupan. Sebab anak-anak hari ini bukan hanya membutuhkan fasilitas yang nyaman, tetapi juga membutuhkan pengalaman yang membentuk kemandirian, tanggung jawab, kesabaran, dan keberanian.
Belajar dari perjalanan masa kecil Rasulullah SAW, keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang bagi lahirnya pribadi besar. Sebaliknya, pengalaman menghadapi kehidupan dengan bimbingan yang tepat dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter. Karena itu, tugas orang tua bukan sekadar membuat anak hidup nyaman, melainkan mempersiapkan mereka agar mampu menghadapi kehidupan dengan ilmu, iman, akhlak, dan ketangguhan. Wallahu a'lam bis shawab.
Editor: Muhammad Faizin


