Arina.id - Puasa Arafah merupakan salah satu amalan sunah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Puasa ini dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, yakni sehari sebelum Idul Adha (10 Dzulhijjah). Puasa ini memiliki keutamaan besar di antaranya adalah diampuninya dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih riwayat Muslim:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ
Artinya: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”
Namun, muncul pertanyaan di kalangan umat Islam, terutama di Indonesia, bagaimana jika terjadi perbedaan tanggal 9 Dzulhijjah antara Arab Saudi dan Indonesia? Hal ini sering terjadi karena perbedaan metode penetapan awal bulan Hijriah (hisab dan rukyat), serta perbedaan posisi geografis.
Hal ini pernah terjadi pada tahun 2022, di mana saat itu Kementrian Agama Republik Indonesia menetapkan Idul Adha jatuh pada Minggu, 10 Juli, sementara Suadi Arabia menetapkannya pada Sabtu, 9 Juli. Muhammad Adib Machrus yang saat itu menjabat sebagai Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais dan Binsyar) Kementerian Agama menjelaskan bahwa waktu di Indonesia lebih cepat 4 jam dibandingkan dengan Saudi Arabia, maka hilal kemungkinan bisa terlihat di sana yang lebih barat ketimbang Indonesia.
Adib juga menambahkan bahwa semakin ke arah barat dan semakin bertambahnya waktu, posisi hilal akan semakin tinggi dan semakin mudah dilihat.
Berpuasa atau Berbuka Mengikuti Hilal Setempat
Dalam keterangan yang ada pada pada kitab Hasyiyah Jamal karya Syekh Sulaiman al-Jamal, penentuan hari Arafah, Idul Fitri, Idul Adha dan lain sebagainya bergantung pada hasil pengamatan hilal setempat:
وَقَدْ قَالُوا لَيْسَ يَوْمُ الْفِطْرِ أَوَّلَ شَوَّالٍ مُطْلَقًا بَلْ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ وَكَذَا يَوْمُ النَّحْرِ يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ ويوم عرفة الذي يظهر لهم أنه يوم عرفة سواء التاسع والعاشر لخبر الفطر يوم يفطر الناس والأضحى يوم يضحي الناس رواه الترمذي وصححه
Artinya: “Para Ulama berkata: ‘Hari raya fitri itu bukan berarti awal Syawwal secara mutlak, (namun) adalah hari di mana orang-orang sudah tidak berpuasa lagi, demikian halnya hari nahr adalah hari orang-orang menyembelih kurban, dan hari Arafah adalah hari yang menurut orang-orang tampak sebagai hari Arafah, entah itu (pada dasarnya) adalah tanggal 9 dan 10 Dzulhijjah. Hal ini mengacu pada hadits Idul Fitri adalah hari ketika manusia tidak berpuasa (berbuka) dan Idul Adha adalah hari-hari di mana orang menyembelih kurban,’ (HR. Tirmidzi).
وفي رواية للشافعي وعرفة يوم يعرف الناس ومن رأى الهلال وحده أو مع غيره وشهد به فردت شهادته يقف قبلهم لا معهم ويجزيه إذ العبرة في دخول وقت عرفة وخروجه باعتقاده
"Dalam riwayat Imam Syafi’i terdapat hadits, ‘Hari Arafah adalah yang telah diketahui orang-orang’. Barang siapa melihat hilal sendirian atau bersama orang lain dan ia bersaksi dengannya, lalu kesaksiannya ditolak, maka ia harus wukuf sebelumnya tidak bersama mereka dan wukufnya mencukupi (sebagai rukun haji). Sebab yang menjadi pedoman perihal masuk dan keluarnya hari Arafah adalah keyakinannya sendiri,”
Mengacu pada keterangan ini, maka umat Islam di Indonesia hendaknya mengikuti keputusan otoritas resmi (seperti Kementerian Agama) terkait penentuan awal bulan Dzulhijjah. Dengan demikian, puasa Arafah dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah versi kalender Hijriah Indonesia, meskipun berbeda dengan tanggal pelaksanaan wukuf di Arafah.
Perbedaan tanggal 9 Dzulhijjah antara Arab Saudi dan Indonesia adalah hal yang lumrah dan telah menjadi bagian dari dinamika penetapan kalender Hijriah. Puasa Arafah tetap bisa dilaksanakan menurut versi pemerintahan setempat meski beda dengan hari wukuf, dengan niat ibadah yang ikhlas. Hal yang terpenting adalah semangat menjaga ukhuwah Islamiyah dan tidak saling menyalahkan antar umat Islam. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


