Dark
Light
Dark
Light

Mengapa Mengusap Kepala Anak Yatim Jadi Tradisi Muharram? Ini Dalil dan Hikmahnya

Mengapa Mengusap Kepala Anak Yatim Jadi Tradisi Muharram? Ini Dalil dan Hikmahnya

Arina.id - Bulan Muharram sering disebut sebagai bulan penuh keberkahan. Di berbagai daerah di Indonesia, datangnya Muharram bukan hanya ditandai dengan puasa Asyura atau berbagai kegiatan keagamaan, tetapi juga tradisi menyantuni anak yatim dan mengusap kepala mereka.

Pemandangan itu mudah ditemukan di masjid, mushala, pesantren, hingga lembaga sosial. Seorang anak yatim berdiri di hadapan jamaah, lalu satu per satu orang dewasa mengusap kepalanya sambil memanjatkan doa. Bagi sebagian orang, tradisi ini mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya tersimpan pesan kemanusiaan yang sangat dalam.

Tradisi tersebut tidak lahir tanpa dasar. Dalam berbagai riwayat hadits, Rasulullah SAW mendorong umat Islam untuk menunjukkan kasih sayang kepada anak yatim. Bahkan, mengusap kepala anak yatim disebut sebagai salah satu cara melembutkan hati yang keras.

Diriwayatkan bahwa seseorang pernah mengadu kepada Nabi tentang kerasnya hati yang ia rasakan. Rasulullah kemudian memberikan nasihat yang sederhana namun menyentuh: sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah makan orang miskin. Pesan tersebut menunjukkan bahwa perhatian kepada mereka yang lemah bukan hanya bermanfaat bagi penerimanya, tetapi juga menjadi terapi spiritual bagi pemberinya.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga mengaitkan kepedulian terhadap anak yatim dengan kelembutan hati dan terkabulnya kebutuhan seseorang. Pesannya jelas: semakin besar kasih sayang yang diberikan kepada anak yatim, semakin besar pula peluang tumbuhnya kepekaan sosial dan spiritual dalam diri seorang Muslim.

Dalam kitab Musnad Ahmad, j. VII, h.36, Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits:

 عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَسَحَ رَأْسَ يَتِيمٍ لَمْ يَمْسَحْهُ إِلَّا لِلَّهِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ مَرَّتْ عَلَيْهَا يَدُهُ حَسَنَاتٌ وَمَنْ أَحْسَنَ إِلَى يَتِيمَةٍ أَوْ يَتِيمٍ عِنْدَهُ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ وَفَرَّقَ بَيْنَ أُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى 

Artinya: “Diriwayatkan dari Umamah, sesungguhnya Nabi bersabda, Barangsiapa mengusap kepala anak yatim semata-mata karena Allah, maka setiap rambut yang ia usap memperoleh satu kebaikan. Barangsiapa berbuat baik kepada anak yatim di sekitarnya, maka ia denganku ketika di surga seperti dua jari ini. Nabi menunjukkan dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengahnya.”

Karena itu, para ulama memandang mengusap kepala anak yatim bukan sekadar gerakan fisik. Ia adalah simbol perhatian, penghiburan, dan kasih sayang. Anak yatim kehilangan sosok ayah yang biasanya menjadi sumber perlindungan dan afeksi. Sentuhan lembut di kepala mereka menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengakuan bahwa mereka tidak sendirian.

Dalam tradisi keilmuan Islam, kepala dipandang sebagai bagian tubuh yang mulia. Di sanalah akal dan pikiran manusia berada. Karena itu, mengusap kepala anak yatim memiliki makna simbolik yang kuat: menghadirkan rasa aman, penghargaan, dan cinta kepada mereka yang kehilangan figur ayah dalam hidupnya.

Bulan Muharram, khususnya hari Asyura pada 10 Muharram, kemudian menjadi momentum yang sangat populer untuk menghidupkan amalan tersebut. Sejumlah kitab klasik menyebutkan keutamaan memperbanyak kebaikan kepada anak yatim pada hari itu. Meskipun para ulama berbeda pendapat mengenai kualitas sebagian riwayat yang menjelaskan besarnya pahala, semangat utama yang hendak ditanamkan tetap sama, yakni memperkuat kepedulian sosial kepada mereka yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

Itulah sebabnya Muharram sering dijuluki masyarakat sebagai "bulan anak yatim". Julukan tersebut bukan karena adanya kewajiban khusus yang hanya berlaku pada bulan ini, melainkan karena tradisi berbagi dan menyantuni anak yatim telah mengakar kuat dalam kehidupan umat Islam.

Dalam kitab Manahij al-Imdad, j. I, h. 521 disebutkan:

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلي الله عليه وسلم من صام يوم عاشوراء من المحرم اعطاه الله تعالي ثواب عشرة الاف مللك ومن صام يوم عاشوراء من المحرم اعطي ثواب عشر شهيد ومن مسح يده علي راس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالي له بكل شعرة درجة

Artinya: “Diriwayatkan dari Ibn Abbas RA Ia berkata : Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa puasa pada hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram), Allah memberikan 10.000 pahala malaikat. Barang siapa puasa pada hari ‘Asyura( tanggal10 muharram), Allah memberikan pahala 10.000 para syuhada’. Dan barang siapa mengusap kepala anak yatim pada tanggal10 Muharram, Allah mengangkat derajatnya dengan setiap rambut yang diusap”.

Nilai terpenting dari mengusap kepala anak yatim bukan terletak pada gerakannya semata. Yang lebih penting adalah pesan yang dibawanya. Tradisi ini mengingatkan bahwa ibadah tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan sesama.

Ketika tangan menyentuh kepala seorang anak yatim dengan penuh kasih, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar kebahagiaan bagi seorang anak. Pada saat yang sama, sedang tumbuh pula kelembutan hati, empati, dan rasa kemanusiaan dalam diri orang yang melakukannya.

Dalam sebuah riwayat hadits disebutkan:

ولأحمد من حديث أبي هريرة ان رجلا شكى إلى النبي صلى الله عليه و سلم قسوة قلبه فقال اطعم المسكين وامسح رأس اليتيم وسنده حسن

Artinya: “Dari Imam Ahmad, hadits dari riwayat Abu Hurairah: “Sesungguhnya seorang lelaki mengadu pada Nabi shallallaahu alaihi wasallam tentang kerasnya hatinya, Nabi bersabda ‘Berikan makanan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad, sanadnya Hasan).

Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, mungkin itulah hikmah terbesar yang ingin diwariskan tradisi Muharram kepada umat Islam: menghadirkan kasih sayang sebagai wajah paling nyata dari ajaran agama. Wallahu a'lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo