Dark
Light
Dark
Light

Riya’ dan ‘Ujub: 2 Penyakit Hati yang Merusak Ibadah

Riya’ dan ‘Ujub: 2 Penyakit Hati yang Merusak Ibadah

Arina.id - Tujuan utama penciptaan manusia di muka bumi adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Dalam menjalankan ibadah itu, setiap insan harus berhati-hati dalam menjaga niat dan kebersihan hati agar amal tidak ternoda oleh penyakit batin. Sebab, ibadah yang tampak baik di mata manusia bisa kehilangan nilainya di hadapan Allah apabila hati tidak terjaga.

Dalam Minhaj al-‘Abidin, Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa ada dua penyakit hati yang paling berbahaya dan menjadi penyebab rusaknya ibadah, yaitu riya’ dan ‘ujub.

1. Bahaya Riya’

Kata riya’ berasal dari akar kata ru’yah, yang berarti “melihat”. Istilah ini menggambarkan perilaku seseorang yang ingin amalnya dilihat dan dipuji oleh orang lain. Riya’ merupakan kebalikan dari keikhlasan, karena ibadah yang dilakukan bukan semata untuk Allah, melainkan demi penilaian manusia.

Padahal, amal yang diterima oleh Allah hanyalah yang dilandasi keikhlasan. Bila seseorang menjaga hatinya dari riya’, maka amalnya akan bernilai pahala. Namun bila tidak, amal itu akan tertolak. Riya’ bahkan dapat menghapus keimanan secara perlahan dan menjauhkan pelakunya dari surga.

Rasulullah SAW menggambarkan dalam sebuah hadits bahwa orang-orang pertama yang dihisab di hari kiamat, yakni qari’, mujahid, dan dermawan, bisa menjadi penghuni neraka karena berbuat riya’: mereka beramal agar dipuji, bukan karena Allah.

Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Abbas ra., Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya api neraka dan penghuninya menjerit karena orang-orang yang berbuat riya’.” Artinya, panasnya api neraka diperuntukkan bagi mereka yang beribadah untuk pencitraan diri, bukan untuk mencari ridha Allah.

2. Bahaya ‘Ujub

Penyakit kedua yang merusak ibadah adalah ‘ujub, yakni merasa bangga dan kagum terhadap amal sendiri. Rasa ‘ujub menutup pintu taufik dari Allah karena seseorang yang membanggakan diri cenderung tidak lagi menyadari bahwa semua kebaikan berasal dari pertolongan-Nya.

Rasulullah SAW mengingatkan, “Tiga hal yang membinasakan: sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.”

‘Ujub bukan hanya menghapus nilai amal, tetapi juga menumbuhkan kesombongan batin. Seharusnya, seseorang menyadari bahwa keberhasilan beribadah adalah anugerah dan bimbingan dari Allah, bukan hasil kekuatan pribadi.

Dengan mengingat hal ini, hati akan tunduk dan terhindar dari rasa bangga diri. Sebaliknya, bila terus memelihara ‘ujub, amal yang baik pun akan menjadi sia-sia.

Cara Mengobati Riya’

Imam al-Ghazali menawarkan empat cara untuk menyingkirkan riya’.

Pertama, menyadari kekuasaan Allah sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ath-Thalaq ayat 12:

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًاࣖ

Artinya: "Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan (menciptakan pula) bumi seperti itu. Perintah-Nya berlaku padanya agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu."

Dengan memahami ayat ini, manusia akan menyadari kelemahannya dan berhenti mencari pengakuan makhluk.

Kedua, merenungi kerugian yang ditimbulkan oleh riya’. Orang yang beramal demi pujian bagaikan seseorang menjual permata berharga seharga satu sen, kehilangan nilai besar demi sesuatu yang remeh.

Ketiga, beramal hanya untuk Allah. Jika seseorang berbuat semata-mata untuk meraih ridha-Nya, Allah akan mencintai, memuliakan, dan mencukupkannya tanpa butuh pengakuan dari manusia.

Keempat, mengingat kebodohan akibat riya’. Imam Hasan al-Bashri pernah menceritakan kisah seorang ahli ibadah yang selama berbulan-bulan melakukan amal agar dikenal manusia. Namun setelah menyadari niatnya salah, ia memperbaikinya dan beramal kembali dengan niat tulus. Ketika itu, orang-orang justru mendoakannya dengan tulus karena melihat perubahan hatinya.

Cara Mengobati ‘Ujub

Ada tiga langkah penting untuk menghindari ‘ujub.

Pertama, menyadari bahwa amal hanya bernilai bila diterima Allah. Tanpa ridha-Nya, ibadah apa pun tak lebih dari pekerjaan sia-sia, sebagaimana buruh yang bekerja keras tanpa mendapat upah layak.

Kedua, menyadari kelemahan amal sendiri. Sering kali kita bangga pada ibadah yang penuh kekurangan, padahal nilainya hanya tinggi karena rahmat Allah, bukan karena kesempurnaan kita.

Ketiga, mengingat bahwa segala kemampuan berasal dari Allah. Ibarat seorang petani miskin yang diizinkan masuk ke istana raja, sangat tidak pantas bila ia kemudian merasa hebat dan melupakan kemurahan sang raja. Begitu pula seorang hamba yang diberi kesempatan beramal, seharusnya tidak berbangga, melainkan bersyukur atas karunia tersebut.

Riya’ dan ‘ujub adalah dua penyakit batin yang mampu menghancurkan nilai ibadah dalam sekejap. Keduanya dapat menghapus amal yang telah dikumpulkan sepanjang hidup. Karena itu, seorang mukmin sejati harus senantiasa mengoreksi niat, menjaga keikhlasan, dan selalu mengingat bahwa semua kebaikan hanya ada karena rahmat Allah semata. Wallahu a'lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo