Arina.id - Dalam kehidupan sehari-hari, menjaga kebersihan dan kesucian merupakan bagian penting dari ajaran agama Islam. Salah satu aspek yang sering dibahas adalah bagaimana cara menyucikan najis, terutama najis mukhaffafah atau najis ringan.
Sayangnya di tengah masyarakat Muslim, banyak yang salah kaprah dalam memahami cara menyucikan jenis najis ini. Banyak beredar pemahaman bahwa menyucikan najis mukhaffafah cukup hanya dengan memercikkan air kepada anggota yang terkena najis. Padahal, pandangan tersebut kurang tepat dan bisa menimbulkan kesalahpahaman dalam menjalankan ajaran agama Islam.
Kendatipun najis mukhaffafah, seperti air kencing bayi laki-laki yang belum makan selain ASI tergolong ringan, tidak berarti cara menyucikannya bisa dilakukan dengan sembarangan. Islam mengajarkan kita untuk teliti dalam hal kesucian, dan meskipun ringan, najis mukhaffafah tetap memerlukan cara pembersihan yang sesuai dengan tuntunan syariat.
Lantas bagaimana cara menyucikan najis mukhaffafah yang benar sesuai syariat Islam?
Dalam literatur fiqih najis mukhaffafah adalah muntahan atau air kencing anak laki-laki yang berumur 2 tahun dan belum mengonsumsi apapun kecuali hanya ASI. Sebagaimana keterangan Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safiinatun Najaa:
فصل النجاسات ثلاث: مغلظة ومخففة ومتوسطةالمغلظة نجاسة الكلب والخنزير وفرع احدهما والمخففة بول الصبي الذي لم يطعم غير اللبن ولم يبلغ الحولين والمتوسطة سائر النجاسات
Artinya: "Fashal, najis dibagi menjadi tiga jenis: najis berat (mughallazah), najis ringan (mukhaffafah), dan najis sedang (mutawassitah). Najis berat adalah najis yang berasal dari anjing dan babi serta keturunan dari keduanya. Najis ringan adalah air kencing bayi laki-laki yang belum makan selain susu dan belum mencapai usia dua tahun. Sedangkan najis sedang mencakup semua jenis najis lainnya di luar dua kategori sebelumnya.”
Salah kaprah perihal cara menyucikan najis mukhaffafah kebanyakan berangkat dari pemahaman yang keliru terhadap hadits Nabi yang diriwayatkan Abu Dawud Dan Nasa’i:
يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ
Artinya: “Air kencing anak perempuan cukup dibasuh dan air kencing anak laki laki cukup dipercikkan air.”
Lalu apakah benar menyucikan najis mukhaffafah cukup hanya dengan memercikkan air kepada sesuatu yang terkena najis?
Dalam kitab Nihayah Az-Zain karangan Imam Nawawi Al-Bantani dijelaskan:
فالمخففة بول الصبي الذي لم يبلغ الحولين ولم يأكل غيراللبن على جهة التغذي بأن لم يأكل غيراللبن أصلا أو أكل غيراللبن على وجه التداوي مثلا فهذا القسم يطهر مصابه برش الماء عليه بأن يغمر بالماء بغير سيلان الماء بشرطين زوال عين النجاسة قبل رشه بحيث لايبقى فيه رطوبة تنفصل وأن لايختلط البول بغيره والاتعين الغسل
Artinya: “Najis mukhaffafah adalah kencingnya anak laki-laki yang belum mencapai usia dua tahun dan hanya mengonsumsi ASI sebagai makanan pokoknya atau mengonsumsi selain ASI namun hanya sebagai pengobatan, maka najis yang demikian bisa disucikan dengan cara dipercikkan air namun dengan dua syarat yakni bentuk najis telah hilang dengan memastikan tidak ada basah-basah yang terpisah serta kencing tidak bercampur dengan yang lainnya. ”
Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa cara menghilangkan najis mukhaffafah dengan hanya memercikkan air pada bagian yang terkena najis tidak sepenuhnya benar. Karena cara menghilangkan najis mukhaffafah yang tepat adalah dengan memercikkan air kepada bagian yang terkena najis setelah terlebih dahulu menghilangkan ainiyyah (bentuk) najisnya dengan cara diusap dengan kain atau kering dengan sendirinya. Wallahu a’lam bis shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


