Arina.id - Bulan Rajab kali 1446 H ini spesial karena bersamaan dengan pergantian tahun baru masehi 2025. Sangat tepat jika bulan ini dijadikan momentum berlomba-lomba untuk meningkatkan ibadah.
Rajab merupakan salah satu bulan istimewa yang sering disebut asyhurul hurum atau termasuk dari beberapa bulan yang mulia, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id Ruslan, dalam salah satu kitabnya menjelaskan bahwa bulan Rajab memiliki nama yang unik yaitu bulan asham alias bulan tuli. Mengapa dinamakan bulan tuli?
Alasan penamaan ini karena pada bulan Rajab telinga orang Arab tidak mendengar peperangan. Semua orang Arab pada masa itu menyimpan peralatan perang, dan kembali berdamai dengan musuh-musuh mereka. Bahkan, mereka berkunjung ke rumah orang-orang yang membunuh ayahnya di medan perang untuk menghormati bulan mulia ini (asy-Syahru Rajab, [Maktabah an-Noor], halaman 8).
Ini menujukkan bahwa bulan Rajab memiliki spirit perdamaian yang sangat tinggi sejak zaman dahulu. Peperangan yang dilakukan di bulan-bulan sebelumnya harus terhenti ketika sudah memasuki bulan haram, termasuk bulan Rajab.
Penyebutan Rajab dalam literatur keislaman dapat ditemukan pada bab tentang keutamaan bulan Rajab yang disebutkan oleh Al-Munawi dalam Faidul Qadir 4/113 yang berasal dari riwayat Anas bin Malik, bahwa Rasulullah bersabda:
قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ لِمَ سُمِيَ رَجَبَ؟ قَالَ: لأنَّهُ يُتَرَجَّبُ فِيهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ لِشَعْبَانَ وَرَمَضَانَ
Artinya: "Dikatakan kepada Rasulullah, “Kenapa (bulan Rajab) dinamakan Rajab?” Rasulullah menjawab: “Karena sungguh banyak di dalamnya kebaikan untuk bulan Sya’ban dan Ramadhan.”
فالمعنى أن يهيأ فيه خير كثير عظيم للمتعبدين في شعبان ورمضان
"Maksudnya adalah mempersiapkan diri dalam Rajab, karena terdapat banyak kebaikan diperuntukkan bagi orang yang beribadah dalam bulan Sya’ban dan Ramadan."
Dengan kata lain, di bulan Rajab, Rasulullah mempersiapkan jasmani dan rohani menuju Ramadhan. Sehingga berdoa untuk mendapatkan keberkahan agar bisa berjumpa bulan Sya’ban dan Ramadhan
Terlebih pada malam 1 Rajab, terdapat keutamaan yaitu mustajab bagi doa. Seperti yang dijelaskan oleh Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm berikut:
بَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ: إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ لَيَالٍ: فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى، وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ، وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
Artinya: "Telah sampai berita pada kami bahwa dulu pernah dikatakan: Sesunguhnya doa dikabulkan pada lima malam: malam Jumat, malam hari raya Idul Adlha, malam hari raya Idul Fitri, malam pertama bulan Rajab dan malam Nishfu Sya’ban.”
Keutamaan Bulan Rajab
Banyak literatur yang menjelaskan tentang fadhilah atau keutamaan bulan Rajab. Salah satunya terdapat dalam hadits sebagaimana disadur dalam Jami’ al-Ahadits: 13/109 karya Jalaluddin al-Suyuthi:
رَجَبُ شَهْرُ اللّٰه وَشَعْبَانُ شَهْرِى وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِى (أبو الفتح بن أبى الفوارس فى أماليه عن الحسن مرسلاً . [الديلمى عن أنس]
Artinya: "Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban itu bulanku, dan Ramdhan adalah bulan umatku.” (Dari Abu al-Fath bin Abu al-Fawaris dari al-Hasan dengan status hadis mursal yang diriwayatkan oleh al-Dailami dari Anas).
Ibn Rajab juga menyadur dalam kitabnya Lathaif al-Ma’arif, sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakr al-Warraq al-Bulkhi tentang keutamaan bulan Rajab sebagaimana berikut:
شَهْرُ رَجَبَ مِفْتَاحُ أَشْهُرِ اْلخَيْرِ وَالْبَرَكَةِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ اْلوَرَّاقِ اْلبُلْخِيّ شَهْرُ رَجَبَ شَهْرُ الزَّرْعِ وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ السَّقْيِ لِلزَّرْعِ وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ
Artinya: "Rajab adalah sebaik-sebaik bulan yang didalamnya kunci pembuka kebaikan dan barakah. Abu Bakr al-Warraq al-Bulkhi berkata: Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya’ban adalah bulan untuk menyiram, dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen.” (Lathaif al-Ma’arif, h. 234, Cet. Dar Ibn Katsir)
Meskipun terdapat banyak hadits yang menjelaskan keutamaan bulan Rajab, namun banyak asumsi umat Islam yang menganggap hadits-hadits yang tersebar merupakan hadis dha’if. Hanya saja menurut Al-Hafiz Ibn Hajr al-Asqalani, hadis dha’if masih diperbolehkan untuk dijadikan fadhail al-a’mal.
Bulan Rajab menjadi istimewa karena merupakan waktu yang tepat untuk melatih diri guna persiapan menyambut bulan Sya’ban dan Ramadan. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


