Azan Tetulak, menurut catatan Yaser Muhammad Arafat dalam akun facebooknya (20/9/2024) merupakan azan pertanda masuknya waktu sholat jumat yang dikumandangkan oleh lebih dari satu orang secara bersamaan. Azan ini juga merupakan media untuk tolak balak yang datang dari berbagai mata angin. Menurutnya, azan ini merupakan salah satu amaliah ulama Mataraman dan ulama berbagai wilayah yang merujuk kepada amaliah Walisongo.
Yaser mencatat beberapa masjid di wilayah Yogyakarta mengumandangkan azan masuk waktu sholat Jumat dengan 5 muazin bersamaan. Begitu juga di masjid Ciptarasa Cirebon dengan 7 muazin.
Sejarah Islam pernah mencatat bahwa Nabi Muhammad mempunyai dua muazin yakni Bilal bin Rabbah dan Abdullah bin Ummi Maktum. Al-Imam al-Nawawi mencatat dalam kitabnya terkait jumlah muazin dalam satu masjd sebagai berikut:
يُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُوْنَ لِلْمَسْجِدِ مُؤَذِّنَانِ مِنْ فَوَائِدِهِمَا أَنْ يُؤَذِّنَ أَحَدُهُمَا لِلصُّبْحِ قَبْلَ الفَجْرِ وَالآخَرُ بَعْدَهُ وَتَجُوْزُ الزِّيَادَةُ عَلَى اثْنَيْنِ وَالْمُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يُزَادَ عَلَى أَرْبَعَةٍ.
قُلْتُ هَذَا الذِيْ ذَكَرَهُ مِنْ اسْتِحْبَابِ عَدَمِ الزِّيَادَةِ عَلَى أَرْبَعَةٍ قَالَهُ أَبُوْ عَلِي الطَّبَرِيْ وَأَنْكَرَهُ كَثِيْرُوْنَ مِنْ أَصْحَابِنَا وَقَالُوْا إِنَّمَا الضَّبْطُ بِالحَاجَةِ وَرُؤْيَةِ الْمَصْلَحَةِ فَإِنْ رَأَى الِإمَامُ الْمَصْلَحَةَ فِيْ الزِّيَادَةِ عَلَى أَرْبَعَةٍ فَعَلَهُ وَإِنْ رَأَى الاِقْتِصَارَ عَلَى اثْنَيْنِ لَمْ يَزِدْ وَهَذَا هُوَ الأَصَحُّ الْمَنْصُوْصُ والله أعلم.
Artinya: "Sunnah mempunyai dua muazin untuk satu masjid, di antara fungsinya adalah azan subuh sebelum fajar dan setelahnya. Boleh menambah jumlah muazin lebih dari dua meskipun yang disunnahkan tidak melebihi empat. Menurutku (al-Nawawi) pendapat tidak boleh lebih dari empat adalah menurut Abu Ali al-Thabari yang ditentang oleh banyak pakar madzhab Syafi’i, mereka mengatakan standar boleh lebih dari 2 muazin adalah kebutuhan dan kemaslahatan, jika pemerintah melihat adanya kemaslahatan untuk menambah lebih dari empat maka silahkan dilaksanakan, jika hanya cukup dengan dua muazin maka tidak menambah. Kesimpulan pendapat ini adalah yang paling sahih dan teramandemen." (Yahya bin Syarf al-Nawawi, Raudhatut Thalibin, [Damaskus: Darul Faiha, 2001], juz 1, hal. 478-479.).
Terkait teknis azan, apakah dilakukan bergantian atau bersamaan oleh lebih dari satu muazin? Imam al-Syafi’i telah mencatat problematika ini dalam al-Umm-nya sebagai berikut:
وَأُحِبُّ أَنْ يُؤَذِّنَ مُؤَذِّنٌ بَعْدَ مُؤَذِّنٍ وَلَا يُؤَذِّنُ جَمَاعَةٌ مَعاً وَإِنْ كَان َمَسْجِداً كَبِيْراً لَهُ مُؤَذِّنُوْنَ عَدَدٌ فَلَا بَأْسَ أَنْ يُؤَذِّنَ فِيْ كُلِّ مَنَارَةٍ لَهُ مُؤَذِّنٌ فَيَسْمَعُ مَنْ يَلِيْهِ فِيْ وَقْتٍ وَاحِدٍ
Artinya: "Aku lebih suka azan bergantian antar muazin, dan tidak azan bersamaan antar mereka, jika dalam masjid besar yang mempunyai banyak muazin, maka boleh saja setiap muazin mengmandangkan azan di pos menara yang berbeda sehingga orang disekitarnya bisa mendengar azan di waktu yang bersamaan." (Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, [Kairo: Darul Hadits, 2008], juz 1, hal. 309.).
Terkait hukum mengumandangkan azan dengan lebih dari satu orang sebenarnya tidak ada dalil spesifik yang mengharamkannya. Sebab, hukum asal sesuatu adalah boleh kecuali ketika terdapat indikasi dalil terkait keharamannya. Sehingga dari catatan ini bisa disimpulkan kebolehan azan bersamaan oleh beberapa muazin.
Jika azan untuk menunjukkan masuknya waktu sholat dikumandangkan oleh muazin lebih dari satu, maka lebih baik dilakukan bergantian. Catatan al-Syafi’i yang mengatakan lebih baik dan lebih beliau sukai tidak menutup kebolehan untuk dikumandangkan secara bersamaan.
Azan untuk Tolak balak
Perlu diketahui juga bahwa Azan Tetulak ini menurut Yaser dilakukan oleh Ulama Mataraman era dahulu dan beberapa ulama seperti di Cirebon berdasarkan penetrasi untuk menolak balak yang dilestarikan hingga kini.
Terkait azan untuk tolak balak sendiri diperbolehkan bahkan disunnahkan sebagaimana catatan Sayyid Bakri terkait kesunnahan azan ketika menghadapi gangguang makhluk astral atau gaib berikut:
قَوْلُهُ: وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الغِيْلَانِ أَيْ تَصَوُّرِ مَرَدَّةِ الجِنِّ وَالشَّيَاطِيْنِ بَصُوَرٍ مُخْتَلِفَةٍ بِتِلَاوَةِ أَسْمَاءٍ يَعْرِفُوْنَهَا هُمْ، وَإِنَّمَا سُنَّ الاَذَانُ عِنْدَ ذَلِكَ لِاَنَّهُ يَدْفَعُ اللهُ شَرَّهُمْ بِهِ، لِاَنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ الاَذَانَ أَدْبَرَ.
Artinya: "Sunnah azan ketika terjadi gangguan makhluk astral atau gaib yakni gangguan jin dan setan yang menampakkan diri dengan berbagai bentuk dengan menyebut nama-nama yang mereka ketahui. Hal ini disunnahkan karena dengan Azan Allah menetralisasi kejahatan yang mereka timbulkan karena setan akan lari ketika mendengarkan azan." (Sayyid Bakri Syatha, I’anatut Thalibin, [Damaskus: Darul Faiha, 2020], juz 1, hal. 446.).
Azan untuk tujuan tolak balak boleh juga dilakukan ketika memasuki waktu sholat. Bahkan azan yang semula untuk tolak balak juga bisa mencukupi terhadap azan untuk pertanda masuk waktu sholat. Ini catatan Imam al-Syarwani berikut:
وَبَقِيَ مَا لَوْ أَذَّنَ لِدَفْعِ تَغَوُّلِ الْغِيلَانُ مَثَلًا وَصَادَفَ دُخُولَ الْوَقْتِ فَهَلْ يَكْفِي أَمْ لَا ؟ فِيهِ نَظَرٌ ، وَالْأَقْرَبُ الْأَوَّلُ
Artinya: "Jika seseorang azan untuk menetralisasi pengaruh makhluk astral akan tetapi menepati masuknya waktu sholat, apakah cukup untuk azan pertanda waktu sholat atau tidak ?, jawaban yang lebih mendekati benar adalah sudah mencakup." (Abdul Hamid al-Syarwani, Hawasyi al-Syarwani, [Beirut: Darul Fikr, 2019], juz. 1, hal. 505.).
Walhasil, tradisi ulama Mataraman dan Cirebon terkait azan Tetulak tidak melanggar syariat dan hukumnya boleh-boleh saja meskipun tidak sebagaimana semestinya. Tradisi ini dibenarkan atas dasar kemaslahatan kesunnahan azan untuk tolak balak pada era awal munculnya tradisi ini. Untuk era sekarang pun tidak melanggar syariat karena atas dasar untuk melestarikan warisan tradisi. Terlebih, tidak ada dalil yang mengharamkannya sehingga kesimpulan hukumnya adalah boleh-boleh saja. Wallahu a'lam bis shawab.
Editor: Muhammad Faizin


