Dark
Light
Dark
Light

Ciri-ciri Haji Diterima Allah dan Cara Mempertahankannya

Ciri-ciri Haji Diterima Allah dan Cara Mempertahankannya

Arina.id - Melaksanakan ibadah haji merupakan salah satu pencapaian besar dalam kehidupan seorang Muslim. Dengan itu, ia telah menyempurnakan rukun Islam yang kelima.

Namun, yang jauh lebih penting dari sekadar sahnya pelaksanaan ibadah adalah apakah ibadah tersebut diterima oleh Allah SWT dan mendapat rida-Nya? Sebab, sah secara syariat belum tentu cukup jika tidak disertai dengan keikhlasan dan kesungguhan hati beribadah semata-mata karena Allah.

Lantas bagaimana cara mengetahui apakah ibadah haji diterima oleh Allah?

Diterima atau tidaknya ibadah seseorang, terutama ibadah haji, terkadang hanya bisa dirasakan oleh pelakunya sendiri. Ia dapat merenungi, apakah selama menunaikan ibadah haji, dirinya telah memenuhi syarat-syarat sah serta melakukannya dengan penuh keikhlasan semata-mata karena Allah, bukan demi status sosial atau pengakuan dari manusia.

Meski demikian, para ulama memberikan beberapa indikator umum yang bisa menjadi tanda bahwa ibadah haji seseorang diterima oleh Allah SWT. Ciri-ciri tersebut memang tidak disebutkan secara spesifik, tetapi secara umum dapat dikenali dari perubahan diri ke arah yang lebih baik.

Misalnya, seseorang yang sebelum berhaji kerap berkata kotor dan melakukan perbuatan keji, lalu setelah pulang haji ia meninggalkan semua kebiasaan buruk tersebut dan berusaha menjaga akhlaknya.

فَائِدَةٌ قَالَ الْخَوَّاصُ رَحِمَهُ اللَّهُ مِنْ عَلَامَاتِ قَبُولِ حَجِّ الْعَبْدِ وَأَنَّهُ خُلِعَ عَلَيْهِ خِلْعَةُ الرِّضَا عَنْهُ، أَنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الْحَجِّ وَهُوَ مُتَخَلِّقٌ بِالْأَخْلَاقِ الْمُحَمَّدِيَّةِ، لَا يَكَادُ يَقَعُ فِي ذَنْبٍ، وَلَا يَرَى نَفْسَهُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ، وَلَا يُزَاحِمُ عَلَى شَيْءٍ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا حَتَّى يَمُوتَ، وَعَلَامَةُ عَدَمِ قَبُولِ حَجِّهِ أَنْ يَرْجِعَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ قَبْلَ الْحَجِّ

Artinya: ”Menurut Syekh Ibrahim Al-Khawwāṣ, di antara tanda-tanda diterimanya haji seseorang dan bahwa ia telah dikenakan pakaian rida (keridaan Allah) adalah: ia kembali dari haji dengan akhlak yang meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW, hampir tidak lagi jatuh ke dalam dosa, tidak merasa lebih baik dari makhluk Allah yang lain, dan tidak lagi berambisi atau berebut dalam urusan dunia hingga wafat. Adapun tanda bahwa hajinya tidak diterima adalah jika ia kembali kepada keadaan dan kebiasaan buruk seperti sebelum berhaji.” (Bugyah al-Musytarsyidin, hal.237)

Dalam kitab Syarḥus-Suyūṭī li Sunan an-Nasā’ī, juz 5 halaman 112, juga disebutkan bahwa salah satu tanda diterimanya ibadah haji seseorang adalah perubahan dirinya menjadi pribadi yang lebih baik setelah menunaikan ibadah tersebut. 

وَمِنْ عَلَامَةِ الْقَبُولِ أَنْ يَرْجِعَ خَيْرًا مِمَّا كَانَ وَلَا يُعَاوِد الْمَعَاصِي

Artinya: “Dan di antara tanda (bahwa haji) diterima adalah seseorang kembali dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya dan tidak kembali melakukan maksiat.”

Perlu diperhatikan bahwa merasa khawatir apakah ibadah haji diterima atau tidak memang memiliki sisi positif. Kekhawatiran ini bisa menjadi pendorong untuk terus mengintrospeksi diri dan tidak cepat puas, sehingga termotivasi untuk mempertahankannya serta selalu meningkatkan kualitas ibadah.

Namun, jika kekhawatiran itu berlebihan, hingga membuat seseorang merasa ibadah hajinya sia-sia, tidak ada gunanya, bahkan sampai meninggalkan ibadah, maka di sinilah letak bahayanya.

Inilah salah satu tipu daya setan, ia berhasil membuat seseorang putus asa dari rahmat Allah, lalu mendorongnya untuk meninggalkan kebaikan yang telah dibangun. Apalagi jika seseorang menunda ibadah termasuk ibadah haji hanya karena menunggu kondisi yang benar-benar sempurna.

لَوْ قَفَلْنَا الْعِبَادَةَ عَلَى الْكَمَالِ لَتَعَذَّرَ الِاشْتِغَالُ بِالْعِبَادَاتِ، وَذَٰلِكَ يُؤَدِّي إِلَى الْبَطَالَةِ الَّتِي هِيَ أَقْصَى غَرَضِ الشَّيْطَانِ

Artinya: “Jika kita menggantungkan ibadah hanya pada kesempurnaan, niscaya kita akan sulit untuk beribadah. Hal ini justru akan membawa kepada sikap malas beribadah, yang merupakan tujuan utama setan.” (Bugyah al-Musytarsyidin hal.5)

Maka, jangan pernah berhenti beribadah hanya karena merasa belum sempurna. Jika merasa bahwa ibadah haji yang telah dilaksanakan belum layak atau belum sebaik yang seharusnya, maka yang perlu dilakukan adalah memperbaiki diri dengan memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, serta memperbanyak tobat sebagai bentuk penebusan atas kekurangan yang lalu.

Bukan malah larut dalam penyesalan berkepanjangan atau bahkan berhenti beribadah. Justru sebaliknya, kita harus menjadikan perasaan itu sebagai pemicu untuk terus mendekat kepada Allah dengan lebih ikhlas, lebih tekun, dan lebih rendah hati, sembari terus berharap bahwa Allah akan menerima setiap usaha dan memperbaiki kekurangan kita dengan rahmat-Nya. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo