Manusia tidak luput dari penyakit. Ketika sakit, berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan kesembuhan. Mulai dari pengobatan medis hingga ikhtiar spiritual. Di antara ikhtiar spiritual yang tak kalah penting adalah melakukan amalan yang diajarkan Nabi Saw.
Amalan tersebut sejatinya adalah bentuk doa memohon kesembuhan kepada Allah swt sekaligus penyerahan diri dan pengakuan bahwa hanya Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk kesehatan dan penyakit. Berikut penjelasan amalan Nabi saw agar sembuh dari segala penyakit.
Dalam Islam, ketika Allah swt memberikan penyakit kepada hambanya, pasti juga telah disediakan obatnya. Dengan ini kita sebagai hamba Allah tak perlu khawatir. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Sahih Bukhari:
مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
Artinya: “Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari)
Senada dengan hadits ini, dalam Al Qur’an surah Al Isra’ ayat 82, Allah juga telah berfirman bahwa salah satu obat untuk menyembuhkan penyakit adalah dengan menggunakan ayat-ayat Al Qur’an;
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا
Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur'an itu) hanya akan menambah kerugian.”
Perihal amalan Nabi saw agar sembuh dari segala penyakit, telah disabdakan beliau dalam sebuah hadits yang termuat dalam kitab An-Nawadir karya Imam Ahmad Syihabuddin Bin Salam Al Qalyubi halaman 169 berikut:
فائدة ; روي أنه صلى الله عليه وسلم قال: علمني جبريل دواء لا أحتاج معه إلى دواء ولا طبيب ، فقال أبو بكر وعمر وعثمان وعلي رضي الله عنهم ; وما هو يا رسول الله ؟ إن بنا حاجة إلى هذا الدواء . فقال ; يؤخذ شيئ من ماء المطر وتتلى عليه فاتحة الكتاب ، وسورة الإخلاص ، والفلق ، والناس ، وآية الكرسي ، كل واحدة سبعين مرة ويشرب غدوة وعشية سبعة أيام . فو الذي بعثني بالحق نبيا
Artinya: “Faidah; “Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: ”Jibril telah mengajariku satu obat, yang mana dengannya aku tidak perlu lagi pada obat lain dan dokter. Kemudian Abu Bakar, Umar, Utsman, Dan Ali bertanya:”Apakah obat itu wahai Rasulullah? Kami membutuhkannya”. Rasulullah saw menjawab:”Ambillah air hujan, lalu bacakan surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan Ayat Kursi, masing-masing 70 kali, dan diminum pada waktu pagi dan sore selama 7 hari, maka demi dzat yang mengutusku dengan kebenaran sebagai seorang nabi,"
لقد قال لي جبريل ; إنه من شرب من هذا الماء رفع الله عن جسده كل داء وعافاه من جميع الأمراض والأوجاع ، ومن سقي منه امرأته ونام معها حملت بإذن الله تعالى ". ويشفي العينين ، ويزيل السحر ، يقطع البلغم ، ويزيل وجع الصدر والأسنان والتخم والعطش وحصر البول ، ولا يحتاج إلى حجامة ولا يحصى ما فيه من المنافع إلا الله تعالى
Artinya: "Sungguh Jibril berkata kepadaku: ”Barang siapa minum dari air ini, maka Allah akan mengeluarkan dari tubuhnya segala penyakit dan menyembuhkannya dari segala penyakit dan kepedihan, dan barang siapa memberikan air ini pada istrinya, lalu menidurinya (berjima’), maka akan diberikan kehamilan dengan izin Allah Swt”. Dan juga air tersebut juga bisa menjadi obat mata, menghilangkan sihir, menghilangkan dahak, sakit dada, gigi, makan berlebihan, haus, dan tertahan kencing, tidak perlu berbekam. Dan tidak bisa menghitung manfaat air tersebut melainkan Allah.”
Dari penjelasan ini dapat disimpulkan amalan Nabi saw agar sembuh dari segala penyakit adalah dengan mengambil air hujan kemudian dibacakan surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan Ayat Kursi. Masing-masing dibaca 70 kali dan diminum pada waktu pagi dan sore selama 7 hari.
Selain amalan tersebut dapat menyembuhkan segala penyakit, amalan dari Nabi Saw ini dapat juga digunakan agar segera cepat dikaruniai momongan. Caranya adalah dengan meminum air hujan yang telah dibacakan surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan Ayat Kursi, masing masing 70 kali, lalu melakukan hubungan badan dengan sang istri. Wallahu a’lam bissawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


