Arina.id - Saat tiba di Madinah, jemaah haji Indonesia dianjurkan untuk melaksanakan ibadah Arbain, yaitu melaksanakan sholat secara berjamaah di Masjid Nabawi selama 40 hari berturut-turut. Selesai melaksanakan ibadah tersebut, mereka akan berangkat menuju Makkah dan rangkaian ibadah yang pertama kali dilakukan adalah umrah wajib atau disebut juga Thawaf Qudum. Tentu sebelum melaksanakan umrah, jemaah akan ditempatkan di hotel dan beristirahat terlebih dahulu.
Namun, dalam praktiknya, ada saja jemaah yang mendahulukan sholat di Masjidil Haram sebelum mereka melaksanakan Thawaf Qudum. Hal ini dilakukan atas dasar adanya keutamaan tersendiri melaksanakan sholat di masjid tersebut, yaitu dibalas 1.000 kali sholat. Rasulullah pernah bersabda:
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
Artinya: “Sholat di masjidku ini lebih utama daripada seribu sholat di masjid lain selain Masjidil Haram.” (HR Ibnu Majah)
Dahulukan Thawaf Qudum
Sholat di Masjidil Haram memang memiliki keutamaan tersendiri, akan tetapi etika yang perlu kita lakukan ketika baru tiba di Makkah adalah melaksanakan Thawaf Qudum yang biasanya dilaksanakan di dalam umrah wajib. Hal ini merupakan bentuk penghormatan yang dianjurkan oleh para ulama.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab menjelaskan:
قال أصحابُنا: وَالِابْتِدَاءُ بِالطَّوَافِ مُسْتَحَبٌّ لِكُلِّ دَاخِلٍ؛ سَوَاءٌ كَانَ مُحْرِمًا أَوْ غَيْرَهُ، إِلَّا إِذَا خَافَ فَوْتَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ، أَوْ سُنَّةٍ رَاتِبَةٍ أَوْ مُؤَكَّدَةٍ، أَوْ فَوْتَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَكْتُوبَةِ وَإِنْ كَانَ وَقْتُهَا وَاسِعًا، أَوْ كَانَ عَلَيْهِ فَائِتَةٌ مَكْتُوبَةٌ، فَإِنَّهُ يُقَدِّمُ كُلَّ هَذَا عَلَى الطَّوَافِ، ثُمَّ يَطُوفُ.
Artinya: “Para ulama mazhab kami berkata: Memulai dengan Thawaf disunnahkan bagi siapa saja yang masuk (Masjidil Haram), baik dalam keadaan ihram maupun tidak. Kecuali jika ia khawatir tertinggal sholat fardhu, atau sholat sunah rawatib yang rutin, atau sunah muakkadah, atau tertinggal sholat berjamaah meskipun waktu sholat masih panjang, atau ia masih memiliki sholat wajib yang belum ditunaikan. Maka dalam semua kondisi ini, ia harus mendahulukan sholat tersebut sebelum Thawaf, baru kemudian melakukan Thawaf.” (An-Nawawi, tanpa tahun: juz 8, h. 11)
Hal serupa juga disampaikan oleh Syekh Ibnu Hammam dalam Fathul Qadir sebagai berikut:
قالوا: أَوَّلُ مَا يُبْدَأُ بِهِ دَاخِلُ الْمَسْجِدِ -مُحْرِمًا كَانَ أَوْ لَا- الطَّوَافُ، لَا الصَّلَاةُ، اللَّهُمَّ إِلَّا إِنْ دَخَلَ فِي وَقْتٍ مُنِعَ النَّاسُ فِيهِ مِنَ الطَّوَافِ، أَوْ كَانَ عَلَيْهِ فَائِتَةٌ مَكْتُوبَةٌ، أَوْ خَافَ فَوْتَ الْمَكْتُوبَةِ، أَوِ الْوِتْرِ، أَوْ سُنَّةٍ رَاتِبَةٍ، أَوْ فَوْتَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَكْتُوبَةِ، فَيُقَدِّمُ كُلُّ ذَلِكَ عَلَى الطَّوَافِ، ثُمَّ يَطُوفُ.
Artinya: “Mereka (para ulama) berkata: Hal pertama yang seharusnya dilakukan oleh orang yang masuk ke Masjidil Haram—baik dalam keadaan ihram maupun tidak—adalah Thawaf, bukan sholat. Kecuali jika ia masuk pada waktu yang memang orang-orang dilarang untuk melakukan Thawaf, atau ia memiliki sholat fardhu yang tertinggal, atau khawatir akan tertinggal sholat wajib, sholat witir, sholat sunah rawatib, atau tertinggal sholat berjamaah untuk sholat wajib, maka semua itu harus didahulukan dari Thawaf, dan setelah itu barulah ia melakukan Thawaf.” (Ibnul Hammam, tanpa tahun: juz 2, h. 448)
Dari penjelasan An-Nawawi dan Ibnu Hammam ini dapat dipahami bahwa Thawaf Qudum sebaiknya didahulukan saat memasuki Masjidil Haram sebagai bentuk penghormatan dan sunah bagi jemaah haji atau umrah. Namun, jika ada kekhawatiran tertinggal sholat wajib atau sunah yang penting seperti rawatib dan witir, jemaah dianjurkan mendahulukan sholat terlebih dahulu baru melakukan Thawaf. Dengan demikian, kedua ibadah tersebut harus dijalankan secara berurutan sesuai kondisi jemaah.
Anjuran ini berdasarkan sebuah hadits riwayat Imam Bukhari yang menjelaskan bahwa ketika Rasulullah baru tiba di Makkah, beliau terlebih dahulu melaksanakan Thawaf. Berikut adalah kutipan haditsnya:
عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَدْ حَجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، فَأَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّهُ أَوَّلُ شَيْءٍ بَدَأَ بِهِ -حِينَ قَدِمَ- أَنَّهُ تَوَضَّأَ، ثُمَّ طَافَ بِالْبَيْتِ، ثُمَّ لَمْ تَكُنْ عُمْرَةٌ، ثُمَّ حَجَّ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَكَانَ أَوَّلُ شَيْءٍ بَدَأَ بِهِ الطَّوَافَ بِالْبَيْتِ، ثُمَّ لَمْ تَكُنْ عُمْرَةٌ، ثُمَّ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ حَجَّ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَرَأَيْتُهُ أَوَّلَ شَيْءٍ بَدَأَ بِهِ الطَّوَافَ بِالْبَيْتِ، ثُمَّ لَمْ تَكُنْ عُمْرَةٌ، ثُمَّ مُعَاوِيَةُ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، ثُمَّ حَجَجْتُ مَعَ أَبِي الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ. فَكَانَ أَوَّلُ شَيْءٍ بَدَأَ بِهِ الطَّوَافَ بِالْبَيْتِ، ثُمَّ لَمْ تَكُنْ عُمْرَةٌ، ثُمَّ رَأَيْتُ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارَ يَفْعَلُونَ ذَلِكَ، ثُمَّ لَمْ تَكُنْ عُمْرَةٌ، ثُمَّ آخِرَ مَنْ رَأَيْتُ فَعَلَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ، ثُمَّ لَمْ يَنْقُضْهَا عُمْرَةٌ، وَهَذَا ابْنُ عُمَرَ عِنْدَهُمْ فَلَا يَسْأَلُونَهُ، وَلَا أَحَدٌ مِمَّنْ مَضَى، مَا كَانُوا يَبْدَءُونَ بِشَيْءٍ حَتَّى يَضَعُوا أَقْدَامَهُمْ مِنَ الطَّوَافِ بِالْبَيْتِ، ثُمَّ لَا يُحِلُّونَ، وَقَدْ رَأَيْتُ أُمِّي وَخَالَتِي حِينَ تَقَدَّمَانِ، لَا تَبْتَدِئَانِ بِشَيْءٍ أَوَّلَ مِنَ الْبَيْتِ، تَطُوفَانِ بِهِ، ثُمَّ إِنَّهُمَا لَا تَحِلَّانِ.
Artinya: “Dari ʿUrwah bin az-Zubair RA., ia berkata: “Nabi ﷺ telah menunaikan haji. Lalu ʿAisyah RA menceritakan kepadaku bahwa hal pertama yang beliau lakukan ketika tiba (di Makkah) adalah berwudu, lalu beliau melakukan Thawaf di Ka’bah, dan tidak melaksanakan umrah terlebih dahulu. Kemudian Abu Bakar RA berhaji, dan hal pertama yang beliau lakukan adalah Thawaf di Ka’bah, dan beliau pun tidak mengerjakan umrah terlebih dahulu. Lalu Umar RA juga melakukan hal yang sama. Kemudian Utsman RA berhaji, dan aku melihat bahwa hal pertama yang ia lakukan adalah Thawaf di Ka’bah, dan beliau juga tidak mengerjakan umrah. Setelah itu Muʿawiyah dan Abdullah bin Umar (juga melakukan hal yang sama). Lalu aku berhaji bersama ayahku, az-Zubair bin al-‘Awwām, dan hal pertama yang ia lakukan adalah Thawaf di Ka’bah, dan ia tidak mengerjakan umrah. Aku juga melihat para Muhajirin dan Anshar melakukan hal yang sama, dan tidak ada dari mereka yang mengerjakan umrah terlebih dahulu. Orang terakhir yang aku lihat melakukan itu adalah Ibn Umar, dan beliau tidak membatalkan haji itu dengan umrah. Ibn Umar berada di tengah-tengah mereka, namun tidak ada yang bertanya kepadanya (tentang hal itu), sebagaimana mereka juga tidak bertanya kepada siapa pun dari generasi sebelumnya. Mereka semua tidak memulai sesuatu pun sebelum meletakkan kaki mereka (melakukan Thawaf) di Baitullah, dan mereka juga tidak bertahallul (belum keluar dari ihram). Aku juga melihat ibuku dan bibiku, saat tiba di Makkah, mereka tidak mengawali ibadah dengan apa pun selain Thawaf di Ka’bah, dan mereka pun tidak bertahallul setelah itu.” (HR Bukhari)
Kesimpulannya, Thawaf Qudum sebaiknya didahulukan saat tiba di Makkah sebagai bentuk penghormatan dan mengikuti sunah Nabi. Namun, jika khawatir tertinggal sholat wajib atau sholat sunah yang penting, sholat harus didahulukan sebelum Thawaf. Dengan memahami aturan ini, jemaah dapat menjalankan ibadah haji sesuai dengan sunah Rasul, sehingga mendapatkan keberkahan dan pahala maksimal. Wallahu a'lam bish shawab.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Muhammad Faizin


