Dark
Light
Dark
Light

4 Hadits tentang Anjuran Berpuasa di Bulan Sya’ban

4 Hadits tentang Anjuran Berpuasa di Bulan Sya’ban

Arina.id - Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Minhajul Qawim halaman 264 mengatakan bahwa hukum melaksanakan puasa Sya’ban adalah sunnah. Pasalnya, Rasulullah sering berpuasa di bulan Sya’ban, bahkan Nabi menjalankan puasa di sebagian besar hari-harinya. 

Ibnu Hajar juga menjelaskan setelah bulan-bulan haram, Sya’ban menempati urutan berikutnya dalam hal keutamaan berpuasa sunnah. Alasannya, Rasulullah sering berpuasa pada bulan itu. Pun puasa Sya’ban, bentuk ibadah persiapan menyambut Ramadhan. 

Simak keterangan Ibnu Hajar berikut;

يسن “صوم شعبان” لما صح: “أنه صلى الله عليه وسلم كان يصوم غالبه”٢ “وأفضلها” أي الأشهر الحرم “المحرم” ثم رجب وإن قيل: إن الأخبار فيه ضعيفة أو موضوعة٣ “ثم باقي الحرم” ولو قيل بتفضيل ذي الحجة على ذي القعدة لم يبعد “ثم” بعد الحرم “شعبان” لأنه صلى الله عليه وسلم كان يصوم أكثره ولم يستكمل شهرًا مما عدا رمضان غيره، وهذا لا يقتضي تفضيله على الحرم كما بسطته في بعض

Artinya: "Disunnahkan puasa di bulan Sya’ban berdasarkan hadits shahih yang menyebutkan bahwa Rasulullah sering berpuasa di sebagian besar bulan tersebut. Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan-bulan haram, yang paling utama di antaranya adalah bulan Muharram, kemudian bulan Rajab, meskipun ada pendapat yang menyatakan bahwa hadits-hadits tentang keutamaannya lemah atau bahkan maudhu’ (palsu). Setelah itu, diikuti oleh bulan-bulan haram lainnya. Jika dikatakan bahwa Dzulhijjah lebih utama daripada Dzulqa’dah, maka hal itu tidak jauh dari kebenaran."

Kemudian setelah bulan-bulan haram, puasa di bulan Sya’ban lebih utama, karena Rasulullah sering berpuasa di sebagian besar bulan ini dan tidak pernah menyempurnakan puasa sebulan penuh selain Ramadhan. Namun, hal ini tidak berarti bahwa Sya’ban lebih utama dibandingkan bulan-bulan haram, sebagaimana telah dijelaskan secara lebih luas dalam beberapa tempat lainnya. [Ibnu Hajar al-Haitami, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2000 M], hlm. 264].  

Lebih jauh lagi, dalam riwayat terdapat beberapa hadits Nabi Muhammad yang menjelaskan tentang keutamaan puasa sunnah Sya’ban. Berikut penjelasannya.

1. Hadits Aisyah, Nabi senantiasa Puasa di Bulan Sya’ban

Dalam hadits ini, Aisyah menjelaskan bahwa Rasulullah sering berpuasa hingga para sahabat mengira Nabi tidak berbuka, dan sebaliknya, terkadang berbuka hingga mereka mengira beliau tidak berpuasa. 

Untuk lebih lanjut, Simak sabda Nabi berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Artinya: "Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Rasulullah SAW biasa berpuasa hingga kami mengatakan, ‘Beliau tidak akan berbuka,’ dan beliau berbuka hingga kami mengatakan, ‘Beliau tidak akan berpuasa.’ Aku tidak pernah melihat Rasulullah  menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa selain di bulan Sya’ban.” [HR. Imam Bukhari dan Muslim]

Imam Nawawi dalam kitab Syarah An-Nawawi ala Muslim menjelaskan puasa di bulan Sya’ban merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh Nabi Muhammad. Di antara semua bulan, selain Ramadhan, Nabi paling banyak berpuasa di bulan Sya’ban. 

Pada riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi berpuasa hampir sepanjang bulan Sya’ban, meskipun ada sedikit hari yang Nabi tinggalkan tanpa puasa. Dari hadits-hadits ini, dapat dipahami bahwa disunnahkan untuk tidak melewatkan satu bulan pun tanpa berpuasa. 

Simak penjelasan Imam Nawawi berikut:

 وفي رواية يصوم حتى نقول لا يفطر ويفطر حتى نقول لا يصوم وما رأيته في شهر أكثر منه صياما في شعبان وفي رواية كان يصوم شعبان كله كان يصوم شعبان الا قليلا في هذه الأحاديث أنه يستحب أن لا يخلى شهرا من صيام وفيها أن صوم النفل غير مختص بزمان معين بل كل السنة صالحة له الا رمضان والعيد والتشريق وقولها كان يصوم شعبان كله كان يصومه الا قليلا الثاني تفسير للأول وبيان أن قولها كله أي غالبه وقيل كان يصومه كله في وقت ويصوم بعضه في سنة أخرى وقيل كان يصوم تارة من أوله وتارة من آخره وتارة بينهما وما يخلى منه شيئا بلا صيام لكن في سنين 

Artinya: "Dan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau berpuasa hingga kami berkata, “Beliau tidak berbuka,” dan beliau berbuka hingga kami berkata, “Beliau tidak berpuasa.” Aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa dalam suatu bulan dibandingkan bulan Sya’ban. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berpuasa sepanjang bulan Sya’ban, atau beliau berpuasa di bulan Sya’ban kecuali sedikit saja. Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa dianjurkan untuk tidak membiarkan satu bulan pun tanpa berpuasa. Hadits ini juga menunjukkan bahwa puasa sunnah tidak terbatas pada waktu tertentu, tetapi dapat dilakukan sepanjang tahun, kecuali pada bulan Ramadhan serta hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari Tasyriq. Adapun perkataan bahwa beliau berpuasa sepanjang bulan Sya’ban, maksudnya adalah beliau berpuasa hampir seluruhnya. Ada yang berpendapat bahwa terkadang beliau berpuasa penuh dalam satu tahun, dan di tahun lainnya hanya sebagian. Ada pula yang berpendapat bahwa beliau kadang berpuasa di awal, kadang di akhir, dan kadang di tengah-tengahnya, sehingga tidak ada satu bagian pun dari bulan itu yang benar-benar ditinggalkan tanpa puasa, meskipun hal tersebut terjadi dalam beberapa tahun berbeda." [Imam Nawawi, Syarah An-Nawawi ala Muslim, Jilid VIII, halaman 223].

2. Hadits Anas bin Malik, Puasa Sya’ban untuk Menghormati Ramadhan

Hadits ini diriwayatkan Imam Tirmidzi yang dicatat oleh Imam Tirmidzi. Rasulullah pernah ditanya tentang puasa yang paling utama setelah Ramadhan. Nabi menjawab puasa di bulan Sya’ban adalah yang terbaik karena merupakan bentuk penghormatan terhadap Ramadhan. 

 عن ثابت عن أنس قال سئل النبي صلى الله عليه وسلم أي الصوم أفضل بعد رمضان فقال شعبان لتعظيم رمضان قيل فأي الصدقة أفضل قال صدقة في رمضان

Artinya: "Dari Tsabit, dari Anas, ia berkata: Nabi  pernah ditanya, “Puasa apa yang paling utama setelah Ramadhan?” Beliau menjawab, “Puasa di bulan Sya’ban, karena untuk mengagungkan Ramadhan.” Lalu ditanyakan lagi, “Sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Sedekah di bulan Ramadhan.”

Al-Mubarakfuri, dalam kitab Tuhfatul Ahwazi, mengutip penjelaskan Abu al-Tayyib al-Sindi, menjelaskan bahwa keutamaan puasa Sya’ban tidak bertentangan dengan hadits lain yang menyebutkan bahwa bulan Muharram adalah bulan terbaik untuk berpuasa setelah Ramadhan. 

Menurutnya, puasa Muharram memiliki keutamaan secara umum, sedangkan puasa Sya’ban lebih diutamakan dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan. Dengan membiasakan diri berpuasa di bulan Sya’ban, seorang Muslim dapat melatih jiwanya agar tidak merasa berat ketika menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan dan dapat lebih menjaga adab-adabnya. 

Simak penjelasan berikut:

وقال أبو الطيب السندي : ولا يعارضه حديث : أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم ، لجواز أن يكون أفضل الصيام بعد رمضان عند الإطلاق صيام المحرم وعند تعظيم رمضان صيام شعبان ، ولعل المراد بتعظيم رمضان تعظيم صيامه بأن تتعود النفس له لئلا يثقل على النفس فتكرهه طبعا ، ولئلا تخل بآدابه فجأة الصيام انتهى . ويأتي باقي الكلام في صوم شعبان في كتاب الصيام 

Artinya: "Abu al-Tayyib al-Sindi berkata: “Dan tidak bertentangan dengan hadits: ‘Puasa yang terbaik setelah Ramadhan adalah bulan Allah, Muharram,’ karena bisa saja puasa terbaik setelah Ramadhan secara umum adalah puasa Muharram, sedangkan dalam konteks penghormatan terhadap Ramadhan, puasa terbaik adalah puasa Sya’ban. Mungkin yang dimaksud dengan penghormatan terhadap Ramadhan adalah penghormatan terhadap puasanya, yaitu dengan membiasakan diri untuk berpuasa agar tidak terasa berat bagi jiwa, sehingga jiwa tidak membencinya secara alami, dan agar tidak tiba-tiba melanggar adab puasa. Selesai.” Sisa pembicaraan tentang puasa Sya’ban akan dibahas dalam kitab puasa." [Al-Mubarakfuri, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, tt] Jilid III, hlm, 268].

3. Hadits Imam Nasa’i, Bulan yang Dilupakan dengan Keistimewaan Tersendiri

Dalam hadits ini dijelaskan tentang keutamaan bulan Sya’ban sebagai waktu yang sering dilupakan oleh banyak orang, padahal memiliki keistimewaan tersendiri. 

Rasulullah menegaskan bahwa bulan ini adalah saat diangkatnya amalan kepada Allah, sehingga, dianjurkan memperbanyak puasa di dalamnya. Sejatinya, dengan memperbanyak ibadah di bulan ini, seorang Muslim dapat mempersiapkan diri secara spiritual sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Simak sabda Nabi berikut:

 قلتُ يا رسولَ اللهِ لم أرَك تصومُ من شهرٍ من الشُّهورِ ما تصومُ شعبانَ قال ذاك شهرٌ يغفَلُ النَّاسُ عنه بين رجبَ ورمضانَ وهو شهرٌ تُرفعُ فيه الأعمالُ إلى ربِّ العالمين وأُحِبُّ أن يُرفعَ عملي وأنا صائمٌ

Artinya: "Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa pada bulan apa pun seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban.” Beliau bersabda, “Itu adalah bulan yang dilupakan oleh banyak orang, terletak antara Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah bulan di mana amalan-amalan diangkat kepada Tuhan semesta alam, dan aku suka jika amalku diangkat dalam keadaan berpuasa.”

4. Hadits Aisyah, Keutamaan Puasa Sya’ban 

Hadits ini menunjukkkan bahwa Rasulullah senantiasa puasa bulan Sya’ban, bahkan dikatakan dalam suatu tahun, kadang Nabi puasa sepanjang bulan Sya’ban.  Simak sabda Nabi berikut:

 عن أبي سلمة أن عائشة رضي الله عنها حدثته قالت لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم يصوم شهرا أكثر من شعبان فإنه كان يصوم شعبان كله وكان يقول خذوا من العمل ما تطيقون فإن الله لا يمل حتى تملوا وأحب الصلاة إلى النبي صلى الله عليه وسلم ما دووم عليه وإن قلت وكان إذا صلى صلاة داوم عليها

Artinya: "Dari Abu Salamah, bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan kepadanya, ia berkata: “Nabi SAW tidak pernah berpuasa dalam satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Beliau berpuasa hampir sepanjang bulan Sya’ban. Beliau bersabda, ‘Lakukanlah amal sesuai dengan kemampuan kalian, karena Allah tidak akan merasa bosan hingga kalian sendiri yang bosan.’ Sholat yang paling dicintai oleh Nabi adalah yang dikerjakan secara terus-menerus, meskipun sedikit. Dan apabila beliau melaksanakan suatu sholat, maka beliau senantiasa menjaganya.” [HR. Imam Bukhari dan Muslim]

Sementara itu, Imam Nawawi dalam kitab Syarah Nawawi ala Muslim, menjelaskan bahwa pernyataan Ummul Mukminin ‘Aisyah tentang kebiasaan Nabi berpuasa sepanjang bulan Sya’ban bermakna bahwa Rasulullah berpuasa hampir di seluruh bulan tersebut. 

Lebih jauh lagi, kata “seluruhnya” tidak selalu berarti berpuasa tanpa jeda setiap hari, tetapi lebih menunjukkan bahwa Nabi lebih sering berpuasa di bulan ini dibandingkan bulan lainnya, kecuali Ramadhan. Hal ini menunjukkan keistimewaan bulan Sya’ban, sehingga senantiasa diisi dengan banyak ibadah puasa.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa ada kalanya Nabi berpuasa penuh di bulan Sya’ban dalam satu tahun, sementara di tahun lain beliau hanya berpuasa sebagian besar harinya. Ada juga yang berpendapat bahwa pola puasa beliau tidak selalu sama setiap tahunnya—kadang lebih banyak di awal bulan, kadang di pertengahan, atau di akhir bulan. 

Namun, yang pasti, beliau tidak pernah melewati bulan Sya’ban tanpa berpuasa sama sekali. Perbedaan riwayat ini mencerminkan fleksibilitas dalam ibadah puasa sunnah serta memberikan teladan bahwa konsistensi dalam beribadah, meskipun dengan kadar yang bervariasi, tetap memiliki nilai besar di sisi Allah.

Simak keterangan berikut:

وقولها كان يصوم شعبان كله كان يصومه إلا قليلا، الثاني تفسير للأول وبيان أن قولها كله أي غالبه، وقيل كان يصومه كله في وقت، ويصوم بعضه في سنة أخرى، وقيل كان يصوم تارة من أوله وتارة من آخره وتارة بينهما وما يخلي منه شيئا بلا صيام لكن في سنين

Artinya: "Ucapan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sepanjang bulan Sya’ban, maksudnya adalah beliau berpuasa hampir seluruhnya. Ungkapan kedua merupakan penjelasan bagi yang pertama, yaitu bahwa kata “seluruhnya” bermakna sebagian besarnya.

Ada pula yang berpendapat bahwa beliau pernah berpuasa penuh di bulan Sya’ban pada satu waktu, dan di tahun lain beliau hanya berpuasa sebagian darinya. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau terkadang berpuasa di awal bulan, terkadang di akhirnya, dan terkadang di pertengahannya, sehingga tidak pernah melewati bulan Sya’ban tanpa berpuasa, tetapi dengan pola yang berbeda di setiap tahunnya." [Imam Nawawi, Syarah An-Nawawi ala Muslim, Jilid VIII, halaman 223].

Dengan demikian, dari empat hadits ini, kita dapat menyimpulkan bahwa puasa di bulan Sya’ban memiliki keutamaan yang besar dalam Islam. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berpuasa di bulan ini sebagai bentuk persiapan menghadapi Ramadhan. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo