Arina.id - Nama lain bulan Sya’ban adalah Syahrul Qur’an (Bulan Al-Qur’an). Pasalnya, pada bulan ini umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Namun, bukan berarti di bulan selain Sya’ban kita tidak dianjurkan untuk membaca kitab suci ini. Anjuran membaca Al-Qur’an tidak mengenal waktu, hanya saja ketika memasuki bulan Sya’ban, dan bulan setelahnya yaitu Ramadhan, kita lebih dianjurkan.
Dasar anjuran ini adalah penjelasan Ibnu Rajab al-Hambali dalam Lathaiful Ma’arif yang mengutip hadits dha’if berikut:
روينا بإسناد ضعيف عن أنس قال: كان المسلمون إذا دخل شعبان انكبوا على المصاحف فقرؤها وأخرجوا زكاة أموالهم تقوية للضعيف والمسكين على صيام رمضان.
Artinya: “Kami menerima riwayat dengan sanad dhaif dari Anas yang mengatakan bahwa ketika masuk bulan Sya’ban umat Islam tertunduk pada mushaf Al-Qur'an. Mereka menyibukkan diri dengan tadarus dan mengeluarkan harta mereka untuk membantu kelompok dhuafa dan orang-orang miskin dalam menyongsong bulan Ramadhan.” (Ibnu Rajab, tanpa tahun: h. 135)
Dari pernyataan ini dipahami dengan jelas bahwa landasan anjuran memperbanyak baca Al-Qur’an pada bulan Sya’ban adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik yang kualitas haditsnya secara tegas digarisbawahi oleh Ibnu Rajab sebagai hadits yang lemah (dha’if). Meskipun dha’if, hadits ini tetap bisa dijadikan landasan karena sebagai dasar pengamalan ibadah sunah dalam ranah fadha’ilul a’mal (keutamaan beramal), yaitu memperbanyak baca Al-Qur’an.
Etika Membaca Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang sudah barang tentu menjadi bacaan paling mulia dalam Islam. Oleh karena itu, kita juga perlu memperhatikan etika-etika saat membacanya agar pahala yang kita peroleh lebih sempurna. Berikut adalah 3 etika membaca Al-Qur’an yang bisa kita terapkan.
1. Merenungi Maknanya dengan Khusyuk
Ayat-ayat dalam Al-Qur’an mengandung lautan pelajaran yang tak pernah kering. Di dalamnya terdapat janji pahala dan surga bagi hamba yang taat, serta ancaman siksa neraka bagi yang durhaka. Kisah-kisah umat terdahulu dan berbagai hikmah lainnya juga terangkum dalam kitab suci yang terdiri dari 114 surat ini. Oleh karena itu, ketika membacanya, tidak cukup hanya melafalkan, tetapi juga perlu merenungi maknanya dengan penuh kekhusyukan.
Allah SWT berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya: "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad), penuh berkah, agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran." (QS Shad [38]: 29)
Ayat ini menegaskan bahwa salah satu tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an adalah agar umat manusia merenungi kandungannya sehingga dapat menjadi petunjuk hidup yang sejati (hudan linnās). Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Al-Itqan bahkan menyebutkan bahwa kita disunnahkan untuk merenungi ayat-ayat Al-Qur’an hingga meneteskan air mata. Jika belum mampu menangis, hendaknya tetap membaca dengan penuh kekhusyukan dan kesedihan, seolah-olah menangis sebagai bentuk ketundukan dan penghayatan yang mendalam. (As-Suyuthi, 1407: juz 1, h. 297)
Sejalan dengan pendapat as-Suyuthi, Imam al-Ghazali dalam Iḥyā ‘Ulūmiddīn juga menekankan bahwa menangis saat membaca Al-Qur’an merupakan sunnah. Untuk mencapainya, tanamkan perasaan sedih dan takut yang mendalam dengan merenungi ayat-ayat yang berisi ancaman siksa neraka serta kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan oleh seorang Muslim.
Selain itu, kita juga perlu mengakui bahwa selama ini sering kali lalai dalam menaati perintah Allah dan terjerumus dalam dosa. Jika masih belum mampu menangis, maka menangislah atas kekerasan hati yang menghalangi rasa takut dan kesadaran ini, karena hati yang keras adalah musibah besar yang patut ditangisi. (Al-Ghazali, tanpa tahun: juz 1, h. 278).
2. Membaca dengan Merdu
Membaca Al-Qur’an dengan suara merdu dapat memikat hati, menumbuhkan rasa khusyuk, dan mendorong pendengar untuk merenungi maknanya. Oleh karena itu, saat bertadarus, kita dianjurkan untuk memperindah suara dalam membaca Al-Qur’an. Imam Nawawi dalam Al-Adzkar menegaskan bahwa seluruh ulama—baik dari kalangan sahabat Nabi, tabi’in, maupun ulama setelahnya—sepakat bahwa memperindah suara dalam membaca Al-Qur’an hukumnya sunnah.
Namun, ada batasan yang harus diperhatikan. Upaya memperindah suara tidak boleh sampai merusak bacaan, seperti memanjangkan harakat di luar ketentuan, memendekkan harakat yang seharusnya panjang, menambah atau menghilangkan huruf, dan kesalahan lain yang dapat mengubah makna. Jika hal ini terjadi, maka hukumnya haram. (An-Nawawi, tanpa tahun: h. 108)
Anjuran untuk memperindah suara dalam membaca Al-Qur’an didasarkan pada sabda Rasulullah:
زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
Artinya: "Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu." (HR Abu Dawud)
3. Membaca Ta’awwudz dan Basmalah
Salah satu adab dalam membaca Al-Qur’an adalah mengucapkan ta’awwudz, yaitu lafaz a‘ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Anjuran ini ditegaskan dalam firman Allah Ta‘ālā:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Artinya: "Apabila engkau hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." (QS An-Nahl [16]: 98)
Menafsirkan ayat ini, Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa salah satu misi utama setan adalah menggoda orang yang sedang membaca Al-Qur’an. Ketika seorang Muslim membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan niat ibadah serta merenungi kandungan di dalamnya—seperti janji pahala, ancaman siksa, dan kebesaran Allah—maka keimanan dalam dirinya akan semakin kuat. Oleh karena itu, anjuran membaca ta’awwudz sebelum membaca Al-Qur’an bertujuan agar kita terhindar dari tipu daya setan yang dapat menghalangi pemahaman dan penghayatan ayat-ayat suci.
Selain membaca ta’awwudz, dianjurkan pula memulai setiap surat dengan bacaan basmalah, kecuali pada awal surat At-Taubah. Bahkan, banyak ulama yang berpendapat bahwa basmalah termasuk bagian dari ayat Al-Qur’an.
Menurut Anas Ahmad Kurzun dalam Wa Rattilil Qur’āna Tartīlā, dengan membaca ta’awwudz dan basmalah sebelum membaca Al-Qur’an, seorang Muslim memperoleh dua manfaat sekaligus: berlindung dari godaan setan serta memohon limpahan kebaikan dari Allah. Kebaikan tersebut berupa kemampuan untuk memahami dan merenungi ayat-ayat Al-Qur’an dengan lebih mendalam, sehingga kualitas ketakwaannya semakin meningkat. (Kurzun, 1416: h. 28-37)
Mari jadikan bulan Sya’ban sebagai momentum meningkatkan takwa kepada Allah melalui memperbanyak baca Al-Qur’an dan menerapkan adab-adab atau etika membacanya. Semoga pahala yang diraih bisa lebih banyak dan membuat kita menjadi hamba-hamba pilihan Allah SWT. Amin.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Muhammad Faizin


