Dark
Light
Dark
Light

Pedoman Menggunakan AI dalam Surat Al Anbiya’ ayat 7

Pedoman Menggunakan AI dalam Surat Al Anbiya’ ayat 7

Arina.id - Belakangan ini, banyak bermunculan postingan di Instagram yang menampilkan interaksi dengan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Fenomena ini semakin marak dengan hadirnya fitur Meta AI yang hadir di aplikasi WhatsApp dan Instagram.

Banyak pengguna yang mulai bertanya-tanya dengan AI, mulai bertanya seputar tokoh terkenal, informasi umum, hingga hal-hal pribadi seperti arti nama mereka sendiri. Hal ini wajar dan maklum, mengingat kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi AI dalam memberikan jawaban instan. 

Namun, masalah muncul ketika pengguna mulai mempercayai jawaban AI sebagai sumber utama, terutama dalam hal-hal yang lebih kompleks, seperti informasi kesehatan, nasihat, atau keputusan penting lainnya.

Dalam konteks ini, AI dapat memberikan informasi yang mungkin kurang akurat atau bahkan salah, yang berpotensi membahayakan, khususnya dalam hal kesehatan dan keputusan yang berpengaruh pada kehidupan pribadi dan sosial.

Lantas bagaimana seharusnya kita mengguankan AI dengan bijak sesuai dengan panduan Islam?

Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al Anbiya’ ayat 7 memerintahkan kepada hambanya ketika tidak mengetahui terkait sesuatu untuk berkonsultasi kepada ahli yang memiliki keahlian dibidang tersebut.

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: ”Maka, bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui”

Makna Ahl Zikr menurut Ulama Tafsir 

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya Tafsir Al-Munir menjelaskan ayat ini bahwa yang dimaksud Ahl Zikr adalah mereka para ahli kitab (ulama) dari agama agama terdahulu seperti Yahudi, Nasrani dan kelompok lainnya. Sebab ayat tersebut turun akibat keraguan dan keberatan kaum Quraisy yang menolak risalah Nabi Muhammad SAW hanya karena beliau adalah manusia seperti mereka. 

Lantas Allah menjawab bahwa semua rasul sebelumnya juga berasal dari kalangan manusia, bukan malaikat, agar mereka dapat berkomunikasi, memberi teladan, dan menyampaikan risalah dengan cara yang dapat dipahami oleh umatnya.

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ أي: إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ كَوْنِ جَمِيعِ الرُّسُلِ بَشَرًا، فَاسْئَلُوا أَهْلَ الْعِلْمِ مِنَ الْأُمَمِ كَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى وَسَائِرِ الطَّوَائِفِ: هَلْ كَانَ الرُّسُلُ الَّذِينَ أَتَوْهُمْ بَشَرًا أَوْ مَلَائِكَةً؟ فَاللهُ يَأْمُرُهُمْ أَنْ يَسْأَلُوا عُلَمَاءَ الْكُتُبِ السَّابِقَةِ عَنْ حَالِ الرُّسُلِ الْمُتَقَدِّمَةِ، لِتَزُولَ عَنْهُمْ الشُّبْهَةُ، وَلِيَعْلَمُوا أَنَّ رُسُلَ اللهِ الْمُوحَى إِلَيْهِمْ كَانُوا بَشَرًا، وَلَمْ يَكُونُوا مَلَائِكَةً كَمَا اعْتَقَدُوا

Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan (Ahl Zikr), jika kalian tidak mengetahui.” Maksudnya, jika kalian ragu bahwa semua rasul itu adalah manusia, maka tanyakanlah kepada orang-orang berilmu dari berbagai umat, seperti Yahudi, Nasrani, dan kelompok lainnya: Apakah para rasul yang diutus kepada mereka adalah manusia atau malaikat? Allah memerintahkan mereka untuk bertanya kepada para ulama dari kitab-kitab terdahulu mengenai keadaan para rasul sebelumnya, agar keraguan mereka hilang dan mereka mengetahui bahwa para rasul Allah yang menerima wahyu adalah manusia, bukan malaikat sebagaimana yang mereka kira.” (Beirut; Dar Fikr, 1991, juz 17 halaman 19)

Namun, menurut Prof. Quraish Shihab, kata Ahl Zikr memiliki makna yang luas dan tidak terbatas pada ulama agama saja. Dalam tafsirnya, beliau menjelaskan:

“Walaupun penggalan ayat ini turun dalam konteks tertentu, yakni objek pertanyaan, serta siapa yang ditanya tertentu pula, namun karena redaksinya yang bersifat umum, maka ia dapat dipahami pula sebagai perintah bertanya apa saja yang tidak diketahui atau diragukan kebenarannya kepada siapa pun yang tahu dan tidak tertuduh objektivitasnya.” (Tafsir al-Misbah, jilid 7 halaman 236)

Oleh karena itu, Ahl Zikr dapat dipahami sebagai siapa saja yang memiliki ilmu dan keahlian di bidang tertentu, sehingga layak dijadikan rujukan ketika seseorang tidak mengetahui atau meragukan sesuatu.

Dalam konteks zaman sekarang, Ahl Zikr dapat mencakup para ilmuwan, dokter, ekonom, insinyur, dan ahli di berbagai disiplin ilmu, tidak hanya terbatas pada ulama agama. 

Dari penafsiran ulama terkait surat Al Anbiya ayat 7 ini, kita bisa mengkontekstualisakannya dalam menggunakan kecerdasan buatan (AI) dengan menganggap AI sebagai sebagai alat bantu untuk mencari informasi awal. Dalam artian kita tidak menganggapnya sebagai sumber utama yang menggantikan para ahli. 

Terlebih ketika informasi yang diberikan AI menyangkut aspek-aspek krusial seperti agama, kesehatan, atau hukum, kita tetap harus merujuk kepada Ahl Zikr yang memiliki pemahaman mendalam dan bertanggung jawab. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo