Arina.id - Tanggal 11 Juni 2025 menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh jutaan penggemar K-Pop di seluruh dunia, terutama para ARMY, sebutan untuk fans BTS. Setelah menyelesaikan masa wajib militer, Jungkook dan Jimin akhirnya resmi kembali, dan kehadiran mereka langsung disambut dengan euforia besar-besaran. Media sosial pun dipenuhi unggahan video penyambutan, foto-foto emosional, hingga tagar yang langsung masuk jajaran trending topic global.
Namun, di balik semaraknya euforia tersebut, muncul pertanyaan perihal hukum mengidolakan artis dan sejauh mana batas wajar dalam mengidolakan mereka menurut pandangan Islam?
Pasalnya, tak sedikit yang akhirnya terjebak dalam fanatisme berlebihan, mengorbankan waktu, uang, bahkan keyakinan demi idolanya. Ada pula yang meniru gaya hidup idola secara buta, melalaikan ibadah, hingga tanpa sadar membandingkan pasangan hidup dengan artis favorit mereka.
Pada dasarnya, dalam Islam, mengidolakan seseorang itu diperbolehkan. Hal tersebut merupakan bagian dari fitrah manusia. Namun, Rasulullah SAW mengingatkan agar tidak mencintai atau mengidolakan seseorang secara berlebihan. Sebab, bisa jadi suatu hari orang yang kita idolakan itu justru menjadi sosok yang paling kita benci.
Sebaliknya, dalam membenci pun beliau menyarankan untuk tidak berlebihan, karena bisa jadi suatu saat orang tersebut menjadi orang yang sangat kita cintai.
أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا، عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا، عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا
Artinya: ”Cintailah orang yang kamu cintai secara wajar, karena bisa jadi suatu hari ia menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci secara wajar pula, karena bisa jadi suatu hari ia menjadi orang yang kamu cintai.” (H.R Tirmidzi, Bahaqi, dan Thabrani)
Betapa sering kita menyaksikan fenomena artis yang viral, dielu-elukan, bahkan dicintai secara berlebihan. Namun, ketika mereka melakukan satu kesalahan kecil, hujatan pun langsung menghujani, seolah-olah semua kebaikannya tak pernah ada. Kecintaan yang berlebihan itu seketika berubah menjadi kebencian yang membabi buta, layaknya anak panah yang dilepaskan tanpa kendali.
Selain itu, pengaruh yang ditimbulkan saat kita mengidolakan seseorang juga sangat penting untuk diperhatikan. Jika tidak disikapi dengan bijak, hal ini dapat membawa dampak negatif yang cukup serius. Mulai dari membuang-buang waktu, boros secara finansial demi mengikuti tren sang idola, mengabaikan tanggung jawab pribadi, hingga yang paling parah, melalaikan bahkan menggadaikan keyakinan demi menuruti idola.
Para ulama telah memberikan nasihat agar berhati-hati dalam memilih pergaulan dan dalam hal mengidolakan seseorang. Sebab, ketika rasa kagum berubah menjadi fanatisme, seseorang bisa rela melakukan apa pun demi idolanya, tanpa lagi mempertimbangkan apakah hal tersebut benar atau salah dalam pandangan agama
وَاحْذَرْ مُصَاحَبَةَ الْأَشْرَارِ وَالْحَمْقَى وَالْحَاسِدِينَ، وَمَنْ يَلْوِي عَلَى الشَّغَبِ، لِمَا أَمَرَ النَّاظِمُ فِيمَا أَمَرَ بِمُصَاحَبَةِ الْأَخْيَارِ وَانْتِخَابِهِمْ، حَذَرًا أَيْضًا مِنْ مُصَاحَبَةِ الْأَشْرَارِ، لِمَا فِيهَا مِنَ الضَّرَرِ الدُّنْيَوِيِّ وَالْأُخْرَوِيِّ، لِأَنَّ مُشَاهَدَتَهُمْ تُهَوِّنُ الشَّرَّ عَلَى الْقَلْبِ، وَتُبْطِلُ نُفُورَهُ عَنْهُ
Artinya: ”Hati-hatilah dalam berteman dengan orang-orang jahat, orang bodoh, orang yang dengki, dan orang yang suka membuat keributan. Karena para penyair menganjurkan agar kita berteman dengan orang-orang baik dan memilih mereka dengan hati-hati, ia juga memperingatkan kita agar tidak berteman dengan orang-orang buruk. Sebab, berteman dengan mereka bisa mendatangkan kerugian, baik di dunia maupun di akhirat. Melihat dan bergaul dengan mereka bisa membuat hati kita jadi terbiasa melihat keburukan, bahkan bisa menghilangkan rasa benci terhadap dosa-dosa.”
Salah satu poin penting yang perlu diperhatikan adalah teks berikut:
وَٱلطَّبْعُ مَجْبُولٌ عَلَى ٱلتَّشَبُّهِ وَٱلِٱقْتِدَاءِ بِٱلْمَجَالِسِ وَٱلْمُصَاحِبِ، بَلِ ٱلطَّبْعُ يَسْرِقُ مِنَ ٱلطَّبْعِ مِنْ حَيْثُ لَا يَدْرِي
Artinya: ”Watak manusia secara alami cenderung meniru dan mengikuti siapa yang sering ia temani atau duduki majelisnya. Bahkan tanpa disadari, sifat seseorang bisa ‘tercuri’ dari sifat orang lain.” (I’laj al-Amrad al-Raddiyyah bi Syarh al-Wasiyyah al-Haddadiyyah, hal. 214)
Dari ulasan ini, dapat disimpulkan bahwa mengidolakan artis, termasuk para bintang K-Pop seperti BTS, pada dasarnya bukanlah hal yang dilarang dalam Islam. Mengagumi seseorang karena bakat, kerja keras, atau ketekunannya adalah bagian dari fitrah manusia.
Namun, jika kecintaan itu sudah melewati batas hingga membawa dampak buruk bagi diri sendiri, seperti mengabaikan ibadah, membuang waktu, menghamburkan harta demi mengikuti tren, atau bahkan melemahkan nilai-nilai keimanan, maka sebaiknya hal tersebut ditinggalkan. Bahkan bisa berubah menjadi haram jika menimbulkan mudarat yang nyata.
Hal ini sejalan dengan kaidah fiqih yang berbunyi:
لِلْوَسَائِلِ حُكْمُ الْمَقَاصِدِ
Artinya: “Segala perantara (sarana) memiliki hukum yang sama dengan tujuannya”
Artinya, jika mengidolakan seseorang justru mengantarkan pada kerusakan akhlak dan jauh dari Allah, maka hukumnya bisa menjadi haram. Wallahu a’lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


