Arina.id - Sholat Tarawih adalah salah satu rangkaian ibadah khusus yang dilakukan di bulan Ramadan. Sholat Tarawih merupakan sholat yang sunnah dilaksanakan dengan berjamaah yang dilaksanakan setelah sholat Isya hingga terbitnya fajar shadiq atau masuknya waktu Subuh.
Disebut dengan Tarawih karena kata Tarawih dalam Bahasa Arab merupakan bentuk jamak dari kata tarwih yang artinya istirahat. Ini karena umat Islam beristirahat sejenak di setiap empat rakaat dalam prosesinya (Ahmad bin Ali al-Fayyumi, Misbah al-Munir, indeks روح, Muhammad Mahfudz, Termas Hasyiyah al-Turmusi, juz 3, hal. 532.).
Sholat Tarawih disyariatkan sudah sejak zaman Nabi Muhammad. Beliau melakukannya sendiri di masjid yang di hari selanjutnya ada beberapa orang yang mengikuti sholat beliau dan berikutnya banyak orang yang berjamaah dengan beliau di masjid.
Melihat antusias tinggi dari para sahabat, membuat beliau tidak melanjutkan sholat Tarawih di masjid karena beliau khawatir sholat ini akan menjadi wajib bagi umat Islam (Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu, juz 2, hal. 75.).
Kemudian para sahabat tidak pernah melakukan sholat Tarawih dengan berjamaah setelah itu hingga pada masa khalifah Umar bin Khatthab dengan kebijakannya mengumpulkan masyarakat muslim pria untuk berjamaah di masjid bersama Ubay bin Ka’ab, dan yang perempuan bersama Sulaiman bin Abi Hatsmah (Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah Jamal, juz 2, hal. 254.).
Ijtihad Khalifah Umar tersebut berdasarkan kebijakan beliau terhadap kondisi umat Islam di zaman itu. Beliau melihat banyak yang melakukan sholat Tarawih tanpa berjamaah. Menurutnya, sangat lebih baik jika mereka dikumpulkan menjadi satu di masjid dengan imam yang paling bagus bacaan dan hafalan Al-Qur’annya (Muhammad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal. 195.).
Khalifah Umar bukan berarti orang yang memulai untuk melakukan sholat Tarawih sebagaimana yang disalah fahami oleh sebagaian orang. Sholat Tarawih pada dasarnya sudah dilakukan di zaman Nabi masih hidup. Hanya saja Nabi tidak terlalu mengajak para sahabat untuk melakukannya karena khawatir akan memberatkan mereka.
Khalifah Umar hanya merancang tata cara dan model prosesinya saja dengan mengajak masyarakat Muslim untuk melakukannya dengan jamaah dan dengan dua puluh rakaat. Kebijakan yang diambil ini berlandaskan maslahat yang sangat kuat.
Jumlah Rakaat
Sholat Tarawih berjumlah 20 rakaat menurut madzhab Syafi’i yang juga didukung oleh beberapa hadits Nabi yang menyebutkan bahwa beliau melakukannya dengan dua puluh rakaat. Seperti riwayat Malik dari Yazid bin Rouman dan juga riwayat Ibnu Abbas yang ditulis oleh Abu Bakar Abdul Aziz dalam kitabnya yang berjudul al-Syafi.
Jumlah 20 rakaat ini menjadi sebuah pengetahuan universal masyarakat Muslim di zaman khalifah Umar. Bahkan hal ini menjelma sebagai sebuah Ijma’ atau sebuah konsensus hukum yang disepakati oleh seluruh umat Islam yang mempunyai tingkat kebenaran mendekati absolut. Tidak mungkin umat Islam sepakat akan suatu hal yang salah atau sesat (Wahbah al-Zuhaili, hal. 75).
Mayoritas ulama lintas madzhab juga sama berpendapat bahwa jumlah rakaat sholat Tarawih adalah 20 rakaat. Sebagaimana Imam Abu Hanifah dan pengikutnya, Imam Ahmad bin Hambal, Dawud al-Dzahiri dan ulama yang lain.
Hanya saja menurut Imam Malik, jumlah rakaatnya adalah 36 rakaat selain Witir atau terhitung 9 kali istirahat. Pendapat ini berlandaskan tradisi masyarakat Madinah dengan 39 rakaat dengan Witir 3 rakaat.
Pada dasarnya Imam Malik tidak berbeda dengan Imam Madzhab lain. Tradisi masyaraat Madinah tersebut merupakan inisiatif untuk membandingi sholat Tarawih yang dilakukan oleh masyarakat Makkah yang bertawaf di setiap 2 salam dengan jumlah 4 kali tawaf.
Untuk menambahkan keutamaan dan pahala, masyarakat Madinah mengganti setiap tawafan dengan 4 rakaat sehingga mereka menambahkan 16 rakaat terhadap jumlah 20 rakaat dan menjadi 36 rakaat.
Ini hanya khusus terhadap masyarakat Madinah dan tidak boleh dilakukan selain mereka. Pasalnya, nilai lebih masyarakat Madinah yang sangat dekat dengan Rasulullah (Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Majmu’ Syarh Muhadzab, juz, 4, Hal. 38-39.).
Perlu digaris bawahi bahwa tindakan khalifah Umar tersebut bukan berdasarkan murni pemikirannya sendiri. Namun, tindakan itu berdasarkan pengakuan Nabi terhadap tindakan orang-orang yang melakukan sholat tersebut bersama beliau di malam-malam itu.
Setelah Nabi wafat, kekhawatiran itu sirna dan khalifah Umar kembali menghidupkan tradisi sholat Tarawih tersebut dan sangat tidak mungkin jika khalifah Umar membentuk suatu tradisi yang tidak diridhai oleh Nabi (Muhammad Mahfudz Termas, hal. 530.).
Tata Cara sholat Tarawih
Sholat Tarawih dilakukan dengan niat melakukan sholat Sunah Tarawih atau Sunah Qiyam Ramadan. Berikut niatnya:
اصلي سنة التراويح لله تعالى atau اصلي سنة قيام رمضان لله تعالى
Sholat Tarawih dilakukan dengan 2rakaat di setiap salam. Jika dilakukan dengan dua puluh rakaat, maka jumlah salamnya adalah 10 kali salam. Tidak boleh dilakukan dengan lebih dari dua rakaat dengan satu salam atau 4 rakaat dengan satu kali salam (Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyah al-Baijuri ala Ibn Qasim al-Ghazi, juz, 1. Hal. 135.).
Bacaan dalam sholat Tarawih
Tidak ada syarat bacaan surat tertentu dalam setiap rakaat sholat Tarawih, hal ini menyesuaikan kondisi masyarakat yang mengikuti jamaah apakah mereka bersedia untuk durasi sholat jamaah yang panjang atau tidak.
Jika saja sudah menjadi kebiasaan di suatu masjid atau komunitas tertentu untuk memanjangkan bacaan sholat Tarawih sebagaimana yang dilakukan di pesantren Tahfidzul Qur’an dengan membaca satu juz di setiap harinya, maka hal itu sangat dianjurkan. (Wahbah al-Zuhaili, hal. 76.).
Membaca surat-surat pendek di setiap rakaat mulai dari surat al-Takatsur hingga surat al-Masad dan mengulang-ulang bacaan surat al-Ikhlas juga diperbolehkan dan dianjurkan bagi mereka yang tidak menghafal Al-Qur’an atau mereka yang tidak bisa berlama-lama karena faktor fisik yang tidak memadai (Muhammad Mahfudz Termas, hal. 526.).
Pemisah Antar Dua Salam
Sebagaimana bacaan dalam sholat Tarawih yang tidak ada syarat tertentu, begitu juga hal yang dilakukan ketika istirahat di setiap empat rakaat sholat tidak ada syarat tertentu harus melakukan apa.
Bahkan menurut al-Zuhaili tidak menjadi masalah jika seseorang tidak melakukan apa-apa atau tidak beristirhat di setiap empat rakaat, bahkan tidak berdoa. Pasalnya, tidak ada dalil yang menjelaskan hal itu secara jelas. Begitu pula sangat diperbolehkan jika seseorang mengisinya dengan bacaan doa-doa atau dzikir atau bentuk yang lain (Wahbah al-Zuhaili, hal. 77.).
Masyarakat Makkah memisah setiap empat rakaat dengan 7 putaran tawaf, karena mereka dimuliakan dengan adanya ka’bah dan Masjidil Haram, masjid yang paling mulia di muka bumi. Sementara masyarakat Jawa memisahkan setiap salam dengan bacaan shalawat Nabi, ditambah di setiap empat rakaat dengan menyebut para Khulafa’ur Rasyidin dan mendoakan ridha (taradhi) kepada mereka.
Hal ini tidak menjadi sebuah permasalahan yang negatif atau bid’ah dhalalah karena memang tidak ada tuntunan khusus atau dalil yang jelas tentang hal ini. Hanya saja membaca shalawat dan mendoakan ridha kepada para sahabat itu adalah hal yang bisa dilakukan kapan pun dan tidak dibatasi dengan momentum atau waktu tertentu. (Muhammad Mahfudz Termas, hal. 535.).
Tradisi masyarakat Jawa tersebut juga selaras dengan tradisi masyarakat Hadramaut karena jika diruntutkan catatan sejarah, Islamisasi jawa juga dipengaruhi oleh para pendakwah dari Hadramaut Yaman.
Para tetua dari ulama Hadramaut memisahkan dengan berbagai macam dzikir sehingga para jamaah tidak bisa membedakan antara bilangan rakaat yang sudah dilaksanakan. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk berdzikir dengan dzikir yang paling utama yakni membaca shalawat Nabi dan mendoakan ridha kepada para sahabat.
Bahkan Habib Abdullah bin Idrus menambahkan doa ridha kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz setelah 2 rakaat witir yang dilakukan di masjid Segaf di Tarim (Muhammad al-Syathiri, hal. 196.).
Sholat Tarawih Cepat
Pada dasarnya, durasi sholat, baik sholat fardhu atau sholat sunah tidak dibatasi dengan lama atau cepatnya durasi tertentu. Hal ini kembali kepada masing-masing Muslim untuk menikmati sholatnya sesuai dengan kebutuhan dan situasi serta kondisi yang mendukung. Poin penting dalam melakukan sholat adalah sah syarat dan rukunnya.
Di antara rukun sholat yang sangat berpengaruh terhadap kecepatan gerakan sholat adalah tuma’ninah dan bacaan wajib atau rukun qauli meliputi bacaan fatihah dan tahiyat akhir. Tuma’ninah adalah berhenti sejenak dengan durasi bacaan Subhanallah yang ditandai dengan diamnya anggota tubuh di posisinya masing-masing setelah gerakan perpindahan rukun fi’li (Muhammad Nawawi Banten, Nihayatu al-Zain, hal. 84.).
Sedangkan bacaan fatihah dan tahiyat akhir harus dibaca sesuai dengan tajwid dan makhraj yang baik sekiranya tidak dianggap merusak makna.
Sholat dengan cepat sebenarnya tidak menjadi masalah yang fatal jika memang mampu memenuhi syarat dan rukunnya dengan baik dan benar. Hanya saja jika itu dilakukan tanpa berjamaah. Jika dilakukan dengan berjamaah, maka seorang imam yang bijak adalah yang mampu untuk menyesuaikan sholatnya dengan kondisi makmum.
Jika saja makmumnya mayoritas orang tua yang lanjut usia, bahkan yang tidak bisa melakukan sholat dengan cepat, maka imam bisa saja dianggap dzalim dengan tidak menghiraukan keadaan makmukmnya. (Muhammad Mahfudz Termas, hal. 532.).
Sholat Tarawih di Masjid
Pada dasarnya, melakukan sholat sunah lebih utama dilakukan di rumah dari pada di masjid. Jika sholat sunahnya disunnahkan untuk berjamaah, maka lebih utama melakukannya di masjid (Abdurrahman Ba’alawi, Bughyatu al-Musytarsyidin, hal. 62-63.).
Terkhusus untuk sholat Tarawih, lebih utama dilakukan di masjid karena sesuai dengan awal mula disyariatkannya dan disyiarkan kembali oleh Khalifah Umar (Abu Fadhal Senori, Kasyfu al-Tabarih, hal. 4.).
Sebagaimana jamaah pada umumnya, terkadang ada dari beberapa makmum yang masbuq atau telat, maka dia tetap boleh mengikuti jamaah Tarawih hingga nanti jamaahnya selesai di rakaat ke dua puluh kemudian dia mundur dan meneruskan sisa rakaat yang belum dikerjakan.
Witir setelah Tarawih
Problematika Witir setelah Tarawih banyak terjadi di kalangan masyarakat. Padahal sesuai dengan insiatif khalifah Umar, Tarawih dan Witir dilakukan berurutan karena Witir di bulan Ramadan disunahkan untuk berjamaah.
Namun, setelah selesai doa Tarawih dibacakan, terkadang ada makmum atau bahkan imam yang mundur dari posisi sholatnya dan tidak meneruskan witir bersama para jamaah. Hal ini terkadang memunculkan persepsi negatif bagi sebagian masyarakat yang mungkin kurang memahami hukum asal terkait permasalahan ini.
Menurut al-Zuhaili, jika seseorang mempunyai kebiasaan untuk bertahajud, maka sunah untuknya mengakhirkan sholat Witir di Tahajudnya. Jika dia tidak mempunyai kebiasaan untuk bertahajud, maka dia lebih baik untuk melakukan sholat Witir bersama dengan imam untuk mendapatkan fadhilah jamaah.
Jika dia, yang istiqamah bertahajud, ingin berwitir dengan jamaah bersama imam dengan tidak menginggalkan kebiasannnya untuk menutup ibadah malamnya dengan witir, maka dia tetap berwitir dengan imam hingga ketika imam melakukan salam di witirnya yang ganjil, dia berdiri melanjutkan satu rakaat untuk menggenapkan witirnya dan kemudian yang ganjil akan dia lakukan setelah selesai dengan kebiasaan tahajjudnya. (Wahbah al-Zuhaili, hal. 78.).
Editor: Muhammad Faizin


