Dark
Light
Dark
Light

Hukum Memelihara Anjing dalam Islam: Perhatikan Syarat dan Ketentuannya

Hukum Memelihara Anjing dalam Islam: Perhatikan Syarat dan Ketentuannya

Anjing dikenal sebagai hewan yang sangat setia kepada pemiliknya. Bahkan, hewan ini dinilai lebih pintar dan penurut daripada seekor kucing, sehingga banyak sekali yang ingin memeliharanya.

Dikutip dari Halodoc, neuron atau sel saraf di jaringan otak anjing lebih banyak daripada kucing. Anjing memiliki sekitar 530 juta neuron kortikal, sedangkan kucing memiliki sekitar 250 juta. Sebagai perbandingan, manusia memiliki sebanyak 16 miliar neuron di korteks serebral kita, yang sejauh ini merupakan jumlah tertinggi dibandingkan hewan darat mana pun. Semakin banyak neuron yang dimiliki, maka semakin besar kapasitas hewan tersebut untuk berpikir. Hal inilah yang kemudian membuat anjing dinilai lebih pintar karena mudah dilatih serta mampu mengikuti perintah pemiliknya.

Akan tetapi, bagi sebagian umat Islam, anjing dianggap sebagai hewan yang tidak patut didekati karena dikhawatirkan terkena najis air liurnya. Menurut Mazhab Syafi’i, air liur anjing termasuk dalam kategori najis yang paling berat atau najis mughaladzhah. Tidak hanya itu, dalam hadits juga disebutkan bahwa malaikat enggan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat seekor anjing.

‎قال رسول الله لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب

Artinya, “Rasulullah bersabda, ‘Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang ada anjing di dalamnya,’” (HR Bukhari).

Adapun sebab enggannya para malaikat memasuki rumah pemelihara anjing adalah karena hewan tersebut memiliki bau yang tidak sedap, dan para malaikat membenci hal itu.

‎وَسَبَب اِمْتِنَاعهمْ مِنْ بَيْت فِيهِ كَلْب لِكَثْرَةِ أَكْله النَّجَاسَات وَلِقُبْحِ رَائِحَة الْكَلْب وَالْمَلَائِكَة تَكْرَه الرَّائِحَة الْقَبِيحَة ،وَأَمَّا هَؤُلَاءِ الْمَلَائِكَة الَّذِينَ لَا يَدْخُلُونَ بَيْتًا فِيهِ كَلْب أَوْ صُورَة فَهُمْ مَلَائِكَة يَطُوفُونَ بِالرَّحْمَةِ وَالتَّبْرِيك وَالِاسْتِغْفَار

Artinya,“Dan sebab enggannya mereka (para malaikat) dari rumah yang di dalamya terdapat anjing adalah karena anjing memakan makanan yang najis juga karena busuknya bau anjing dan malaikat membenci bau busuk. Adapun malaikat yang tidak masuk ke dalam rumah yang terdapat anjing atau gambar di dalamnya adalah malaikat yang berkeliling membagikan rahmat, berkah serta memintakan ampun untuk mereka (penghuni rumah),” (An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim [Beirut: Dar Ihya Turat Arabi, 2007] juz XIV, halaman 83).

Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, malaikat yang dimaksud adalah malaikat yang bertugas membagikan rahmat, berkah serta memohonkan ampunan bagi para penghuni rumah. Maka, apabila di dalam suatu rumah terdapat seekor anjing, penghuni rumah tidak memperoleh rahmat dan berkah yang diberikan oleh para malaikat, dan para malaikat juga tidak memohonkan ampunan untuk mereka.

Umat Islam Boleh Memelihara Anjing 
Ada beberapa alasan sehingga anjing boleh dipelihara seorang Muslim, yaitu jika anjing peliharaan digunakan untuk berburu, menjaga ternak, dan menjaga kebun. Adapun bunyi dalilnya sebagai berikut:

 

‎وفي رواية لمسلم من اقتنى كلبا ليس بكلب صيد، ولا ماشية ولا أرض، فإنه ينقص من أجرهقيراطان كل يوم

Artinya, “Dalam riwayat Muslim Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang memelihara anjing bukan anjing pemburu, penjaga ternak, atau penjaga kebun, maka pahalanya akan berkurang sebanyak dua qirath setiap hari.’”

Dari hadits di atas, diketahui bahwa seorang muslim boleh memelihara anjing jika hewan tersebut digunakan untuk keperluan-keperluan di atas. Sebaliknya, jika anjing yang dipelihara tidak digunakan seperti yang disebutkan Rasulullah SAW., maka pahala pemelihara akan berkurang sebanyak dua qirath setiap harinya.

Melansir NU Online, para ulama memiliki pendapat yang berbeda mengenai hadits di atas. Menurut Madzhab Imam Syafi’I, seorang Muslim haram memelihara anjing tanpa keperluan tertentu. Akan tetapi, seorang Muslim boleh memelihara anjing jika dibutuhkan untuk beberapa hal, seperti disebutkan di bawah ini:

‎وأما اقتناء الكلاب فمذهبنا أنه يحرم اقتناء الكلب بغير حاجة ويجوز اقتناؤه للصيد وللزرع وللماشية وهل يجوز لحفظ الدور والدروب ونحوها فيه وجهان أحدهما لا يجوز لظواهر الأحاديث فإنها مصرحة بالنهى الا لزرع أو صيد أو ماشية وأصحها يجوز قياسا على الثلاثة عملا بالعلة المفهومة من الاحاديث وهى الحاجة

Artinya, “Adapun memelihara anjing tanpa hajat tertentu dalam madzhab kami adalah haram. Sedangkan memeliharanya untuk berburu, menjaga tanaman, atau menjaga ternak, boleh. Sementara ulama kami berbeda pendapat perihal memelihara anjing untuk jaga rumah, gerbang, atau lainnya. Pendapat pertama menyatakan tidak boleh dengan pertimbangan tekstual hadits. Hadits itu menyatakan larangan itu secara lugas kecuali untuk jaga tanaman, perburuan, dan jaga ternak. Pendapat kedua–ini lebih shahih–membolehkan dengan memakai qiyas atas tiga hajat tadi berdasarkan illat yang dipahami dari hadits tersebut, yaitu hajat tertentu,” (Lihat Al-Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim ibnil Hajjaj, [Kairo, Al-Mathba’ah Al-Mishriyyah: 1929 M/1347 H], cetakan pertama, juz X, halaman 236).

Sementara menurut Madzhab Imam Maliki, dalam keterangan Ibnu Abdil Barr, seorang muslim boleh memelihara anjing dengan beberapa keperluan, di antaranya:

 
‎وأجاز مالك اقتناء الكلاب للزرع والصيد والماشية وكان بن عمر لا يجيز اتخاذ الكلب إلا للصيد والماشية خاصة ووقف عندما سمع ولم يبلغه ما روى أبو هريرة وسفيان بن أبي زهير وبن مغفل وغيرهم في ذلك

Artinya, “Imam Malik membolehkan pemeliharaan anjing untuk jaga tanaman, perburuan, dan jaga hewan ternak. Sahabat Ibnu Umar tidak membolehkan pemeliharaan anjing kecuali untuk berburu dan menjaga hewan ternak. Ia berhenti ketika mendengar dan hadits riwayat Abu Hurairah, Sufyan bin Abu Zuhair, Ibnu Mughaffal, dan selain mereka terkait ini tidak sampai kepadanya” (Lihat Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar Al-Jami‘li Madzahibi Fuqaha’il Amshar, [Halab-Kairo Darul Wagha dan Beirut, Daru Qutaibah: 1993 M/1414 H], cetakan pertama, juz XXVII, halaman 193).

Dalam Madzhab Imam Maliki, hukum memelihara anjing dalam sabda Rasulullah di atas bukanlah haram, melainkan bersifat makruh. Adapun penjelasan mengenai pengurangan pahala bagi pemelihara adalah sebagai bentuk pencegahan dengan keterangan sebagai berikut:
 

‎وفي هذا الحديث دليل على أن اتخاذ الكلاب ليس بمحرم وإن كان ذلك الاتخاذ لغير الزرع والضرع والصيد لأن قوله من اتخذ كلبا - [ أو اقتنى كلبا ] لا يغني عنه زرعا ولا ضرعا ولا اتخذه للصيد نقص من أجره كل يوم قيراط يدل على الإباحة لا على التحريم لأن المحرمات لا يقال فيها من فعل هذا نقص من عمله أو من أجره كذا بل ينهى عنه لئلا يواقع المطيع شيئا منها. وإنما يدل ذلك اللفظ على الكراهة لا على التحريم والله أعلم

Artinya, “Pada hadits ini terdapat dalil bahwa memelihara anjing haram sekalipun bukan untuk kepentingan jaga tanaman, ternak perah, dan berburu. Maksud redaksi hadits ‘Siapa saja yang menjadikan anjing’ atau ‘memelihara anjing’ bukan untuk jaga tanaman, jaga ternak perah, atau berburu maka akan berkurang pahalanya sebanyak satu qirath, menunjukkan kebolehan bukan pengharaman. Pasalnya, pengharaman tidak bisa ditarik dari pernyataan, ‘Siapa yang melakukan ini, maka akan berkurang amalnya atau pahalanya sekian.’ Larangan itu dimaksudkan agar Muslim yang taat tidak jatuh di dalamnya. Lafal ini menunjukkan larangan makruh, bukan haram. Wallahu a‘lam,” (Lihat Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar Al-Jami‘ li Madzahibi Fuqaha’il Amshar, [Halab-Kairo Darul Wagha dan Beirut, Daru Qutaibah: 1993 M/1414 H], cetakan pertama, juz XXVII, halaman 193-194).

Ibnu Abdil Barr juga menjelaskan, sejatinya, kualitas pemeliharaan anjing bergantung pada bagaimana pemelihara memperlakukan hewan peliharaan tersebut setiap harinya. Apabila hewan peliharaan diperlakukan dengan baik, maka Allah akan membalasnya dengan imbalan berupa pahala. Sebaliknya, jika pemelihara tidak mampu berbuat baik pada peliharaannya, maka Allah akan menghitung tindakan tersebut sebagai perbuatan dosa. 


‎وقد يكون في التقصير في الإحسان إلى الكلب لأنه قانع ناظر إلى يد متخذه ففي الإحسان إليه أجر كما قال صلى الله عليه وسلم في كل ذي كبد رطبة أجر وفي الإساءة إليه بتضييقة وزر

Artinya, “Terkadang terjadi kelalaian untuk berbuat baik terhadap anjing. Hal ini cukup dilihat dari tangan orang yang memeliharanya. Berbuat baik terhadap anjing bernilai pahala sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ‘Pada setiap limpa yang basah terdapat pahala.’ Berbuat jahat dengan kezaliman tertentu terhadap anjing bernilai dosa,” (Lihat Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar Al-Jami‘li Madzahibi Fuqaha’il Amshar, [Halab-Kairo Darul Wagha dan Beirut, Daru Qutaibah: 1993 M/1414 H], cetakan pertama, juz XXVII, halaman 194).

Walaupun para ulama memiliki pendapat yang berbeda, tindakan paling bijak dalam menanggapinya adalah menghargai dan menghormati setiap pendapat yang ada. Perihal memelihara seekor anjing bagi Muslim, perlunya mengikuti standar pemeliharaan anjing supaya tidak berlaku semena-mena terhadapnya.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo