Dark
Light
Dark
Light

Umar bin Khattab dan Pesan untuk Introspeksi Diri

Umar bin Khattab dan Pesan untuk Introspeksi Diri

Arina.id - Allah menciptakan manusia dengan sempurna. Manusia dikaruniai nalar dan akal untuk bisa memilah dan memilih, membedakan baik dan buruk, hak dan batil, sehingga mereka tidak terseret dalam bujuk nafsu yang menjerumuskan ke dalam kesesatan dan melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Peristiwa yang menimpa manusia siapapun itu, dalam beberapa kasus tertentu tidak bisa dilepaskan dari sebab-musabab. Misal, perbuatan memukul itu kadang muncul akibat respon dari situasi yang mengharuskannya membela diri, teraniaya, dan marah yang meluap akibat respon dari ketidakadilan dan lain sebagainya. 

Introspeksi diri dalam istilah Arab dikenal dengan muhasabah. Biasanya kerap muncul saat momen tertentu. Misalnya momen menyambut bulan Ramadan.

Sahabat Umar bin Khattab menyampaikan:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا 

Artinya: "Introspeksilah diri kalian sebelum kalian diintrospeksi, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia." (HR. Tirmidzi)

Introspeksi diri semakna dengan mengevaluasi atau pembenahan diri, bukan pembenaran diri. Introspeksi diri dilakukan sebagai ikhtiar untuk menjadi lebih baik dan tidak terperosok dalam lubang kerugian yang sama. 

Sahabat Umar menganggap bahwa evaluasi diri sangat penting dan akan menguntungkan siapapun di kehidupannya kelak. Mengapa demikian? Karena dengan mengevaluasi diri sendiri, manusia akan mengenali kekurangan, kelemahannya yang diharapkan dapat diperbaiki secepat mungkin. Kondisi ini akan meminimalisir segala bentuk kesalahan yang akan timbul, sehingga tanggung jawab dalam kehidupan di dunia maupun akhirat nanti menjadi sangat ringan.

Rasulullah bersabda:

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ 

Artinya: "Dari Syaddad bin Aus RA, dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang mengevaluasi (introspeksi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT." (HR Tirmidzi, hadits hasan). 

Hadis ini secara tersirat mengungkapkan bahwa akal, nalar memiliki potensi untuk menundukkan nafsu, bukan sebaliknya. Memang, nafsu merupakan perangkat yang membersamai dan memenuhi kebutuhan alamiah manusia, semisal makan, minum, kawin, tidur, atau sejenisnya. Akan tetapi ketika nafsu menguasai akal sehat, maka yang terjadi adalah lupa diri, beringas, dan berbuat sewenang-wenang. Saat itulah muhasabah dibutuhkan untuk memperbaiki diri.

Dari penjelasan ini, setidaknya ada sebuah manfaat penting yang bisa dicatat dari introspeksi diri. Yaitu semangat membenahi diri, bukan membenarkan diri. Introspeksi membuka mata manusia tentang kelemahan dan kekurangannya untuk di kemudian diperbaiki. Selain itu, dari pembenahan ini akan terbiasa berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak dan tidak melakukan kesalahan yang serupa. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo