Dark
Light
Dark
Light

Arahan Mbah Maimoen tentang Bacaan Takbir di Hari Raya

Arahan Mbah Maimoen tentang Bacaan Takbir di Hari Raya

Malam hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha selalu diramaikan dengan suara takbir yang berkumandang di setiap plosok desa dan penjuru kota, dari tempat ibadah mulai dari masjid besar hingga surau-surau kecil. Bahkan banyak yang melestarikan tradisi kirab takbir keliling mulai dari anak-anak hingga orang dewasa yang menandakan hajatan umat Islam global tentang hari kemenangan yang penuh rasa syukur serta khidmat.

Bacaan takbir yang sering dikumandangkan oleh masyarakat adalah sebagaimana berikut:

اللهُ اكبرُ, اللهُ اكبرُ, اللهُ اكبرُ, لا اله الا اللهُ واللهُ اكبرُ, اللهُ اكبرُ وللهِ الحَمْدُ.
الله ُاكبرُ كبيرًا والحمدُ للهِ كثيرًا وسبحانَ اللهِ بُكْرَةً واَصِيْلاً, لا اِلهَ الا اللهُ ولا نَعْبُدُ الَّا اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ولَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ
لا الهَ الَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ
لا الهَ اِلَّا الله ُوَاللهُ اكبرُ, اللهُ اكبرُ وللهِ الحَمْدُ.

Artinya: “Allah maha besar, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar, dan segala puji hanya kepada Allah.

Allah maha besar dengan kebesaran yang nyata, dan segala puji bagi Allah yang sangat banyak, dan maha suci Allah di siang dan sore, tiada tuhan selain Allah, dan kami tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya dengan segala keikhlasan dalam beragama, meskipun orang-orang kafir tidak membenci, tiada tuhan selain Allah, maha esa Allah, benar segala janji-Nya, Dia yang menolong hamba-Nya, Dia yang memuliakan pasukan-Nya, Dia yang menyerang segala musuh dengan diri-Nya sendiri.

Tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar dan segala puji hanya bagi Allah.”

Namun, di masyarakat, ada yang menambahi sighat atau bacaan takbir itu setelah bacaan ولو كره الكافرون. Dari mereka banyak yang menambahkan dua kalimat lagi dan tambahan kalimat ini acap kali terdengar:

ولو كَرِهَ المشركِونَ, ولو كَرِهَ المنَافِقُوْنَ

Artinya: “Dan meskipun orang-orang musyrik membenci, dan meskipun orang-orang munafik membenci”.

Terkait tambahan kalimat ini, Allah Yarham Syaikhana Maimoen Zubair beberapa kali mengingatkan kepada santrinya untuk tidak menambahkan shigat takbir dengan kalimat yang terahir, yakni ولو كَرِهَ المنَافِقُوْنَ, meskipun beliau sendiri tidak mempermasalahkan jika ingin ditambahkan kalimat sebelumnya yakni ولو كَرِهَ المشركِونَ.

Tindakan Syaikhuna itu bukan berarti tanpa alasan, beliau tidak begitu menyukai jika tambahan kata “munafiqun” disebutkan karena pada dasarnya Nabi Muhammad tidak pernah memerangi orang-orang munafik, meskipun Nabi Muhammad memberikan ultimatum kepada mereka tentang ancaman azab bagi orang-orang munafiq.

Syaikhuna mengutip penggalan hadits Rasulullah tentang sikap Rasulullah terhadap orang-orang munafik, yakni:

دَعْهُ لَا يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ اَصْحَابَهُ

Artinya: “biarkan dia, msyarakat tidak mengatakan bahwa Muhammad memerangi kelompoknya sendiri”.

Penggalan kalimat itu diambil dari hadits riwayat Jabir bin Abdillah sebagai berikut:

كُنَّا مع النبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ في غَزَاةٍ، فَكَسَعَ رَجُلٌ مِنَ المُهَاجِرِينَ، رَجُلًا مِنَ الأنْصَارِ، فَقالَ الأنْصَارِيُّ: يا لَلأَنْصَارِ، وَقالَ المُهَاجِرِيُّ: يا لَلْمُهَاجِرِينَ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: ما بَالُ دَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ؟ قالوا: يا رَسولَ اللهِ، كَسَعَ رَجُلٌ مِنَ المُهَاجِرِينَ، رَجُلًا مِنَ الأنْصَارِ، فَقالَ: دَعُوهَا، فإنَّهَا مُنْتِنَةٌ فَسَمِعَهَا عبدُ اللهِ بنُ أُبَيٍّ فَقالَ: قدْ فَعَلُوهَا، وَاللَّهِ لَئِنْ رَجَعْنَا إلى المَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الأعَزُّ منها الأذَلَّ. قالَ عُمَرُ: دَعْنِي أَضْرِبُ عُنُقَ هذا المُنَافِقِ، فَقالَ: دَعْهُ، لا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ.

Artinya: “Ketika kami bersama Nabi Muhammad dalam salah satu peperangan, seorang Muhajirin mengusik seorang Anshar dan seorang Anshar mengatakan “duhai pertolongan dari Anshar, dan seorang Muhajirin membalasnya dengan mengatakan “duhai pertolongan dari Muhajirin”. 

Kemudian Nabi berkata, “kenapa kebiasaan jahiliah bangga dengan pengakuan masih ada disini” 

Mereka mengatakan “seorang muhajirin mengusik seorang dari Anshar”

Kemudian Nabi berkata “jangan lakukan hal itu lagi, karena itu perbuatan yang buruk”. Kemudian hal itu terdengar oleh Abdullah bin Ubai dan dia mengatakan “ mereka telah melakukannya, demi Allah jika kita kembali ke Madinah maka kaum bangsawan akan mengusir kaum rendahan”

Kemudian Umar bin Khattab mengatakan “biarkan aku untuk memotong leher orang munafik ini”

Kemudian Nabi berkata “biarkan saja dia, masyarakat tidak membicarakan bahwa Muhammad memerangi kelompoknya sendiri”. (HR. Muslim no. 2584. Bukhari no. 4905).

Syaikhuna Maimoen sangat meneladani tindakan Rasulullah untuk tidak memerangi kaum munafik secara fisik, karena hal itu bisa berdampak kepada sikap orang-orang kafir menilai bahwa umat Islam tidak bisa bersatu dan saling perang saudara. Meskipun Rasulullah selalu memberikan edukasi dan dakwah kepada kaum munafik tentang azab kelak di akhirat.

Sikap syaikhuna sendiri sekilas pengamatan penulis sangat menghindari perpecahan di antara umat Islam khususnya dan antara sesama masyarakat Indonesia. Tidak heran jika beliau sangat disegani dan dihormati oleh rival-rival politiknya meskipun dari elit politik berbagai partai yang bersebrangan dengan partai beliau yakni Partai Persatuan Pembangunan.

Sikap syaikhuna yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan menjadikan beliau tidak hanya sebagai seorang ulama yang sangat dihormati, akan tetapi juga sebagai seorang negarawan yang disegani serta dihormati oleh seluruh kalangan. Oleh karena kaum munafik saja tidak diperangi oleh Nabi, maka atas dasar itu beliau kurang begitu menyukai jika shighat takbiran harus ditambahi dengan kalimat yang menyebutkan kaum munafik. Wallahu a’lam bisshawab. 


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo