Arina.id - Di akhir bulan Rajab, terdapat sebuah peristiwa istimewa yang dialami Nabi Muhammad, yaitu perjalanan Isra' Mi’raj. Isra' merupakan perjalanan Nabi Muhammad yang didampingi oleh malaikat Jibril dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Sementara itu, Mi’raj adalah saat Nabi Muhammad naik dari Masjid Al-Aqsa hingga Sidratul Muntaha tempat tertinggi yang hanya dapat dicapai atas seizin Allah.
Peristiwa agung ini diabadikan dalam Al-Qur’an:
سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Artinya: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Al-Isra’: 1)
Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah menggunakan kendaraan yang terkenal dengan nama Buraq. Buraq adalah makhluk istimewa dalam tradisi Islam yang diyakini sebagai kendaraan Nabi Muhammad SAW selama melakukan perjalanan Isra Mi’raj.
Berikut ini, penulis rangkum lima hadits yang menjelaskan tentang bentuk fisik dan karakteristik dari kendaraan Buraq:
1. Berpostur Lebih Besar dari Keledai dan Berwarna Putih
Dalam perjalanan luar biasa itu, Rasulullah SAW mengendarai Buraq. Ia memiliki penampilan fisik berwarna putih bersih yang memancarkan keanggunan dan keindahan. Adapun posturnya lebih besar dibandingkan keledai, namun lebih kecil daripada bighal yaitu hewan hasil persilangan antara kuda dan keledai. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam redaksi hadits berikut:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ، وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ
Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Aku didatangi (Jibril) bersama Buraq, ia adalah hewan tunggangan yang berwarna putih, (ukurannya) lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal (keledai), ia menaruh kukunya di ujung (tempat) yang ia lihat.” (H.R. Muslim)
2. Dilengkapi Tali Kendali dan Pelana di Punggungnya
Buraq, makhluk yang menakjubkan ini tidak hanya berpenampilan anggun tetapi juga dilengkapi dengan berbagai fitur menarik. Ia memiliki tali kendali yang memudahkan pengendalian, serta terpasang pelana di punggungnya. Yang lebih mengagumkan lagi, Buraq ini memiliki kecepatan luar biasa ia dapat berlari dengan sangat cepat, melangkah sejauh tempat yang dapat dilihatnya. Keterangan demikian sesuai dengan riwayat hadits yang menyatakan:
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِالبُرَاقِ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ مُلْجَمًا مُسْرَجًا، فَاسْتَصْعَبَ عَلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ جِبْرِيلُ: أَبِمُحَمَّدٍ تَفْعَلُ هَذَا؟ فَمَا رَكِبَكَ أَحَدٌ أَكْرَمُ عَلَى اللهِ مِنْهُ، قَالَ: فَارْفَضَّ عَرَقًا
Artinya: “Dari Qatadah, dari Anas, sesungguhnya Nabi Muhammad didatangkan Buraq yang sudah dipersiapkan pelananya untuk ditunggangi namun Buraq sulit dikendalikan (liar), kemudian Jibril dengan sigap mengendalikannya seraya berkata kepada Buraq: Apa yang menyebabkan engkau bersikap demikian (liar)? Demi Allah, tidak ada orang paling mulia yang akan menunggangi engkau kecuali beliau (Nabi Muhammad). Setelah itu Buraq mengucurkan keringatnya (karena malu).” (H.R. At-Tirmidzi)
3. Dapat Mengangkut Lebih Dari Satu Penumpang
Buraq, memiliki kemampuan untuk mengangkut lebih dari satu penumpang. Ini terbukti dari kisah Rasulullah yang duduk di belakang Malaikat Jibril saat mereka menunggangi Buraq. Keunikan Buraq tidak hanya terletak pada kemampuannya membawa penumpang, akan tetapi juga pada cara ia terbang dan mendarat. Sebelum terbang, Buraq mengangkat kedua kaki belakangnya dan saat akan mendarat (landing) ia mengangkat kedua kaki depannya, mirip dengan sistem roda pendaratan pada pesawat.
Semua ini dijelaskan dalam hadits berikut:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ فَرَكِبْتُ خَلْفَ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَسَارَ بِنَا إِذَا ارْتَفَعَ ارْتَفَعَتْ رِجْلَاهُ، وَإِذَا هَبَطَ ارْتَفَعَتْ يَدَاهُ
Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Aku didatangi (Jibril) bersama Buraq, maka aku menungganginya di belakang Jibril dan berangkatlah kami. Ketika ia (Buraq) hendak naik (terbang) maka ia angkat kedua kakinya (kedua kaki belakangnya) dan ketika hendak turun ia (Buraq) angkat kedua tangannya (kedua kaki depannya).” (H.R. Al-Hakim)
4. Bisa Diikat Layaknya Hewan Tunggangan
Dalam perjalanan yang luar biasa itu, Rasulullah SAW mengikat Buraq di sebelah barat Masjid Al-Aqsa. Tempat bersejarah ini dikenal sebagai Tembok Buraq, yang berfungsi sebagai pengingat bagi umat Islam bahwa kisah Isra' dan Mi’raj bukanlah sekadar cerita melainkan sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi. Jejak tempat di mana Rasulullah mengikat Buraq masih dapat dilihat hingga saat ini. Orang-orang Yahudi dan Kristen kini menyebutnya sebagai Tembok Ratapan (Wailing Wall). Hal tersebut tercantum dalam sebuah hadits:
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ قَالَ جِبْرِيلُ بِإِصْبَعِهِ، فَخَرَقَ بِهِ الحَجَرَ، وَشَدَّ بِهِ البُرَاقَ
Artinya: “Rasulullah bersabda: Ketika kami telah sampai di Baitul Maqdis, Jibril menunjuk dengan tangannya, maka terbakarlah sebuah batu dan ia mengikat Buraq dengannya.” (H.R. Tirmidzi)
5. Mulanya Liar Namun Menjadi Jinak
Pada awalnya, sebelum ditunggangi Buraq menunjukkan sifat liar dan tampak enggan untuk dinaiki oleh Rasulullah. Namun, setelah ia menyadari bahwa dirinya dipilih sebagai kendaraan guna mengantar Nabi Muhammad sikapnya pun berubah menjadi jinak dan penuh penghormatan. Setelah itu, mereka bertiga Rasulullah, Jibril, dan Buraq berangkat bersama menuju Baitul Maqdis:
عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِالْبُرَاقِ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ مُسَرَّجًا مُلَجَّمًا لِيَرْكَبَهُ فَاسْتَصْعَبَ عَلَيْهِ وَقَالَ لَهُ جِبْرِيلُ مَا يَحْمِلُكَ عَلَى هَذَا فَوَاللَّهِ مَا رَكِبَكَ أَحَدٌ قَطُّ أَكْرَمُ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ قَالَ فَارْفَضَّ عَرَقًا
Artinya: “Dari Qatadah, dari Anas, sesungguhnya Nabi Muhammad didatangkan Buraq yang sudah dipersiapkan pelananya untuk ditunggangi namun Buraq sulit dikendalikan (liar), kemudian Jibril dengan sigap mengendalikannya seraya berkata kepada Buraq: Apa yang menyebabkan engkau bersikap demikian (liar)? Demi Allah, tidak ada orang paling mulia yang akan menunggangi engkau kecuali beliau (Nabi Muhammad). Setelah itu Buraq mengucurkan keringatnya (karena malu).” (H.R. At-Tirmidzi)
Dari berbagai riwayat hadits yang telah disebutkan, dapat disimpulkan bahwa Buraq merupakan kendaraan super cepat yang memiliki bentuk mirip dengan hewan tunggangan. Buraq dilengkapi dengan tali kendali dan terdapat pelana di punggungnya. Ukurannya lebih tinggi daripada keledai, tetapi lebih pendek dibandingkan bighal yaitu hewan hasil persilangan antara kuda dan keledai dan berwarna putih.
Ciri lainnya, Buraq dapat ditunggangi oleh lebih dari satu penumpang, langkahnya dapat menjangkau sejauh yang terlihat, dan ia juga dapat diikat seperti hewan tunggangan pada umumnya. Buraq adalah makhluk yang nyata, diciptakan secara khusus oleh Allah untuk Nabi-Nya. Sebagai umat Islam, sudah menjadi kewajiban kita untuk meyakini keberadaan makhluk tersebut. Wallahu a’lam bish shawab.
A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.
Editor: Muhammad Faizin


